analisis novel mimpi di atas setengah kaki


KRITIK SASTRA II
MIMPI DI ATAS 1½ KAKI
Karya : Luluk KH


Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
Mata Kuliah Kritik Sastra II
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Kadaryati, M.Hum






Disusun Oleh :
Nama
:
panji pradana
NIM
:
092110144
Semester
:
VI D


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012
A.    Identitas Novel
Judul                            : Mimpi Di Atas 1½ Kaki
Penulis                         : Luluk KH
Penerbit                       : Immortal Publisher
Kota Tertib                  : Yogyakarta
Tahun Tertib                : 2011
Edisi                            : Oktober 2011
Jumlah Halaman          : 312 halaman

B.     Bagian Novel
  1. Plengketan (hal. 8-15)
  2. Troides Helena (hal. 16-26)
  3. Ahli Ilmu Pawukon (hal. 27-38)
  4. Numidia Rujita (hal. 39-51)
  5. SMA Negeri Keramat (hal 52-62)
  6. Gemes (hal. 63-71)
  7. Salah Taktik (hal. 72-78)
  8. Cinta Pertama (hal. 79-92)
  9. Katarak (hal. 93-101)
  10. Charlie’s Angel (hal. 102-110)
  11. Walang Kekek (hal. 111-122)
  12. Membangun Cita-Cita (hal. 123-132)
  13. Alexander Supertramp (hal. 133-142)
  14. Migrain (hal. 143-149)
  15. Guru Privatku (hal. 150-161)
  16. Richi Rich (hal. 162-170)
  17. Mantenan (hal. 171-179)
  18. N.R. Tailor (hal. 180-184)
  19. Kenthir (hal. 185-198)
  20. Baksos (hal. 199-208)
  21. Pohon Berlian (hal. 209-228)
  22. Titik Balik (hal. 229-240)
  23. Jogja (hal. 241-256)
  24. Motor Sport (hal. 257-274)
  25. Seribu Tahun Lagi (hal. 275-280)
  26. Kontes Model (hal. 281-298)
  27. Rumah Kecil (hal. 298-308)

1.      Plengketan ( hal 8-15 )
Peristiwa suatu hari disebuah perkebunan satu kelompok anggotanya tersesat (1.1.1). Bingung mencari jalan keluar (1.1.2). Terdengar suara Kang Khamid menyadarkan mereka (1.1.3). Katanya mereka sedang terkena plengketan (1.1.4). Mereka sadar sebelumnya mereka mencuri sebuah tomat (1.1.5). Sampai di perkemahan mereka tertidur (1.1.6). Karena tertidur mereka lupa mengikuti kegiatan pramuka (1.1.7). Mereka dihukum lari keliling lapangan 10 kali (1.1.8). Malam hari saat acara renungan api unggun mereka sadar akan dosa yang pernah mereka lakukan (1.1.9).

2.      Troides Helena ( hal 16-26 )
Peristiwa liburan sekolah yang berbeda (1.2.1). Keluarga hidup dari berdagang dan bertani (1.2.2). Orang tuanya mengajari berdagang (1.2.3). Bercerita sejarah orang tuanya (1.2.4). Kisah cinta orang tua dan kakaknya (1.3.1). Sore mereka berkumpul di ruang tamu, dan suasana (1.4.1). Bapak memulai pembicaraan (1.4.2). Mengeluh akan namanya yang aneh (1.4.3). Keluarganya selalu tertawa saat membicarakan nama Kliwon (1.4.4). Ingin ganti nama namun ditolak (1.4.5). Ia seakan kena sial (1.4.6). Neneknya seorang ahli pawukon (1.5.1).

3.      Ahli Ilmu Pawukon ( hal 27-38 )
Peristiwa orang tuanya ingin Kliwon menjadi penerus mereka berdagang (1.6.1). Kliwon tidak mau (1.6.2). Tiap hari ibu mengajak Kliwon belajar cara berdagang (1.6.3). Kliwon sadar akan perjuangan orang tuanya (1.6.4). Kakaknya menyemangati Kliwon untuk jadi penerus orang tuanya (1.6.5). Bapak dan neneknya menasehati Kliwon (1.6.6).

4.      Numidia Rujita (   hal 39-51 )
Peristiwa tentang Numidia Rujita sahabat Kliwon sejak SMP (1.7.1). Ia tinggal bersama neneknya (1.7.2). Bapaknya tukang becak dan guru mengaji (1.7.3). Numi teringat akan nasehat bapaknya untuk tidak putus asa (1.7.4). Sejak 2 tahun lalu Numi menjadi yatim piatu (1.7.5). Numi galau akan kejadian itu (1.7.6). Keluarga Kliwon selalu membantu keluarga Numi (1.7.7). Numi tak ingin terus bergantung pada orang lain (1.7.8). Ia ikut kursus menjahit (1.7.9).

5.      SMA Negeri Keramat (hal 52-62)
Peristiwa pagi itu Kliwon dan Numi ke sekolah mengambil ijazah SMP. (1.8.1). Mereka yakin akan diterima di SMA favorit (1.8.2). Kliwon memiliki nilai bagus, ibunya bangga (1.8.3). Kakaknya menawari sebuah hadiah (1.8.4). Ibunya memberi tas hasil bonus beli dagangan yang sedikit norak, Kliwon menjadi tidak PD ke sekolah (1.8.5). Mereka masuk di sekolah SMA Negeri Keramat (1.8.6). Mendaftar dan setelah selesai tiba-tiba mereka ditabrak seorang pemuda yang berlari tergesa-gesa (1.8.7). Spontan Kliwon emosi dan memukuli pemuda itu (1.8.8). Pemuda itu minta maaf pada mereka berdua (1.8.9). Mbak Kyati datang, Kliwon senang (1.8.10).

6.      Gemes (hal 63-71)
Peristiwa Mbak Kyati memberi hadiah pada Kliwon (1.8.11). Tiga buah novel membuat Kliwon penasaran ingin membacanya (1.8.12). Kakaknya menerangkan sosok penulis novel itu yang banyak penggemarnya (1.8.13). Hari pertama masuk sekolah (1.9.1). Saat Kliwon dan Numi sedang duduk, tiba-tiba ada pemuda pendek kecil datang (1.9.2). Dikira mereka, pemuda itu anak SD yang tersasar di SMA (1.9.3). Kepala sekolah berpidato di depan siswa-siswa baru (1.9.4). Kliwon senang sekarang sudah SMA (1.9.5).

7.      Salah Taktik (hal 72-78)
Kegiatan MOS dilakukan seminggu (1.10.1). Tugasnya begitu konyol, aneh dan susah (1.10.2). Kliwon memberanikan diri istirahat (1.10.3). Seniornya datang dan Kliwon pura-pura sakit (1.10.3). Numi kaget pmuda kecil yang mereka anggap anak SD ternyata teman SMA mereka, Sarmani namanya (1.10.4). Laila Natakusuma bidadari baru di sekolah itu (1.10.5). Semua pemuda di sekolah itu berebut bersalaman dengan Laila (1.10.6).

8.      Cinta Pertama (hal 79-92)
Sore, Kliwon bersantai sambil membaca novel pemberian kakaknya (1.11.1). Kliwon mulai mencari tahu sosok penulis novel tersebut (1.11.2). Laila menjadi teman baru Kliwon dan Numi (1.10.7). Laila bercerita hidupnya dari kota (1.10.8). Hadirnya Laila munculkan fashion di sekolahnya (1.10.9). Pak Margono sedikit menasehati akan fashion para siswa (1.10.10).

9.      Katarak (hal 93-101)
Sore, Mbah Semi (Nenek Numi) terserempet motor (1.12.1). Si penyerempet minta maaf dan Mbah Semi memaafkan (1.12.2). Sejak kejadian itu Mbah Semi tidak bisa bekerja lagi (1.12.3). Terpaksa kini Numi yang harus bekerja (1.12.4). Numi bekerja dengan becak warisan bapaknya untuk dipakai angkut dagangan warga dari pasar (1.12.5). Hari pertama 15 orang telah memesan jasa Numi (1.12.6).

10.  Charlie’s Angel (hal 102-110)
Kliwon, Numi, Laila menjadi sahabat (1.13.1). Kliwon dan Numi sering menjadi perantara para siswa untuk menyampaikan surat cinta pada Laila (1.13.2). Mas Arif juga menyukai Laila (1.13.4). Kliwon memanfaatkan dengan minta ditraktir makan (1.13.5).

11.  Walang Kekek ( hal 111-122)
 Kliwon mewakili lomba campur sari (1.15.4). Kelas Kliwon juara, namun sebelum pengumuman dibacakan Kliwon mengalami pingsan (1.15.4).

      12.Membangun Cita-Cita (hal 123-132)
Sore, Kliwon mendapatkan cita-citanya (1.14.1). Keluarga kaget karena suara Kliwon yang mengagetkan (1.14.2). Kliwon ingin jadi penulis (1.14.3).Pagi, Kliwon tak sadarkan diri (1.15.2). Seluruh kelas mengikuti HUT Sekolah (1.15.3). Kliwon mewakili lomba campur sari (1.15.4). Kelas Kliwon juara, namun sebelum pengumuman dibacakan Kliwon mengalami pingsan (1.15.4).

      13. Alexander Supertramp (hal 133-142)
Kliwon menemui Mas Syahri (1.16.1). Dia ingin menunggui perpustakaan milik Mas Syahri itu (1.16.1).

      14. Migrain (hal 143-149)
Perpustakaan mulai ramai (1.16.2). Teman Kliwon sering datang (1.16.3). Numi sering curhat pada Kliwon di perpustakan itu (1.16.4).Kliwon masuk jurusan IPA (1.17.1). Ia tidak suka jurusan itu (1.17.2). Hasilnya nilainya kini menurun drastis (1.17.3).

      15. Guru Privatku (hal 150-161)
Kliwon mendapat bantuan yakni guru les privat (1.17.4). Nilainya mulai membaik (1.17.5). Sarmani meminta Numi membuakan baju pengantin kakaknya (1.18.1). Disela perpustakaan Kliwon menulis puisi (1.16.5). Kliwon ingin menulis novel tetapi masih bingung (1.16.6). Kliwon bertanya pada guru bahasa Indonesianya tentang cara membuat novel (1.16.7).

      16. Richi Rich (hal 162-170)
Sarmani mengajak Kliwon dan Numi ke rumahnya (1.18.2). Mereka berdua kaget melihat rumah Sarmani (1.18.3). Mereka berujar Sarmani seperti Richi Rich yang sedang menyamar (1.18.4). Acara pernikahan kakaknya Sarmani berlangsung (1.18.5).

17.  Mantenan (hal 171-179)
Kliwon ingat dengan pernikahan kakaknya Mbak Kyati (1.18.6). Bagaimana ibunya bekerja keras mengurus segala keperluan pernikahan (1.18.7).

18.  NR Tailor (hal 180-184)
Dua hari Kliwon tak melihat Numi (1.19.1). Numi mulai membuka bordiran N.R (Numidia Rujita) Tailor (1.19.2). Kliwon mulai ingin bersemangat mengejar cita-citanya setelah melihat Numi kini telah membuat usaha baru (1.19.3).

19.  Kenthir (hal 185-198)
Kliwon senang, sang pujaan hati Anggoro Kasih seorang penulis novel yang ia baca (1.11.2). Kliwon selaku mencari tahu perkembangan berita pujaannya itu (1.11.3). Kliwon minta tolong pada kakak iparnya Mas Seno yang tak lain juga teman dari Anggoro Kasih (1.11.4). Kliwon mendapat foto Anggoro kasih dari Mas Seno (1.11.5). Acara dimulai pukul 2 siang, Kliwon bergegas berangkat (1.11.6). Di jalan angkot yang mereka tumpangi mogok (1.11.7). Sampai di kampus sore hari, Kliwon senang karena telah sampai (1.11.8). Kini Kliwon mencari Anggoro Kasih namun tak menemukannya (1.11.9).

20.  Baksos (hal 199-208)
Kliwon masih kecewa (1.11.10). Guntoro mengajak Kliwon rekreasi sekaligus bakti sosial (1.10.11).

21.  Pohon Berlian (hal 209-228)
Ibu Kliwon menanam investasi (1.20.1). Hasilnya untuk mendirikan peternakan (1.20.1). Komputer sudah bisa dipakai lagi, Kliwon mencari berita akan pujaan hatinya (1.10.12). Kliwon kaget mendengar berita Anggoro Kasih ingin menikah (1.10.13). Kliwon telah masuk menjadi penggemar level akut (1.10.14). Kliwon mengurung diri di kamar (1.10.15). Pagi Kliwon membuka inbox di komputernya akan berita pernikahan Anggoro Kasih (1.10.16). Untuk menghilangkan kesedihan Kliwon ikut rombongan pecinta alam di sekolahnya mendaki gunung Semeru (1.10.17). Kliwon tak menyangka kesedihannya membawa dia mendaki gunung Semeru (1.10.18).

22.  Titik Balik (hal 229-240)
Kliwon masih sedih (1.10.19). Kyati menasehati Kliwon (1.10.20). Keluarga Kliwon diterpa musibah karena pohon berlian ternyata investasi penipu (1.20.2). Semua barang dijual untuk mengganti uang nasabah (1.20.3). Disinilah titik balik Kliwon, dia berusaha membantu orang tuanya berdagang (1.20.4). Impian kuliah di Jogja sirna (1.20.5). Numi mendapat jalur khusus dalam ujian karena keterbatasan fisik (1.21.1).

23.  Jogja (hal 241-256)
Kliwon dan teman-temannya lulus ujian (1.21.2). Numi menjadi siswi terbaik dia juga diterima di salah satu perguruan tinggi (1.21.3). Penyandang beasiswa untuk Numi adalah Mas Syahri (1.21.4). Saat wisuda sekolah Kliwon menjadi bahan perhatian (1.21.5). Penampilan Kliwon seperti ondel-ondel (1.21.6). Kliwon menjadi malu dan tidak PD lagi (1.21.7). Mereka diacara itu berjanji 6 tahun lagi akan reunian bersama (1.21.8).

24.  Motor Sport (hal 257-274)
Kliwon melanjutkan kuliah (1.21.9). Bapaknya memberi sebuah motor tahun 70’an (1.21.10). Kyati menyuruh Kliwon untuk tinggal di rumahnya namun ditolaknya (1.21.11). Sore saat Kliwon menuju depan pintu rumah Kyati tiba-tiba ia mual dan muntah-muntah (1.21.12). Ia lalu dibawa ke dokter (1.21.13). Setelah menjalani berbagai tes di rumah sakit dokter mengatakan penyait yang diderita Kliwon (1.21.13). Semua keluarga kaget mendengar penyakit itu, namun Kliwon belum tahu penyakitnya (1.21.14).

25.  Seribu Tahun Lagi (hal 275-280)
Numi dan Mbah Semi datang menjenguk Kliwon (1.21.15). Kliwon dibawa bapaknya ke pengobatan alternatif (1.21.16). Disinilah Kliwon mengetahui apa penyakitnya (1.21.17). Kliwon langsung ke kamar dan mengurung diri (1.21.18). Kliwon menjalani kemoterapi, kondisinya mulai membaik (1.21.19). Kliwon berusaha tenang akan penyakitnya (1.21.20).

Lima Tahun Kemudian
26.  Kontes Model (hal 281-298)
Laila datang untuk acara reunian (1.22.1). Semua pangling akan penampilan Laila (1.22.2). Di kantor desa terjadi demo menolak hadirnya pasar modern di desa itu (1.23.1). Bapak Kliwon lantang menjadi pemimpin demo itu (1.23.2). Kyati terpilih menjadi kepala desa yang baru di desa itu (1.23.3). Mas Shahri menjadi donatur program Kyati (1.23.4).

27.  Rumah Kecil (hal 298-308)
Sarmani datang untuk reuni (1.22.3). Hari dinanti tiba, semua telah berkumpul dirumah Kliwon (1.22.4). Sarmani langsung mencari Kliwon (1.22.5). Numi berlari ke belakang dengan menangis (1.22.6). Sarmani kaget Numi menikah dengan Syahri (1.22.7). Ibu Kliwon mengajak mereka ke tempat Kliwon (1.22.8). Setelah sampai mereka diam seribu bahasa (1.22.9). Anggoro Kasih juga hadir disitu (1.22.10). Sarmani baru tahu, kanker merenggut nyawa Kliwon 4 tahun lalu (1.22.11). Semua mendoakan, dan sekitar satu jam di samping nisan Kliwon, mereka kembali pulang dengan kesedihan (1.22.12).






Jalinan Struktur Plot
Peristiwa suatu hari disebuah perkebunan satu kelompok anggotanya tersesat (1.1.1). Bingung mencari jalan keluar (1.1.2). Terdengar suara Kang Khamid menyadarkan mereka (1.1.3). Katanya mereka sedang terkena plengketan (1.1.4). Mereka sadar sebelumnya mereka mencuri sebuah tomat (1.1.5). Sampai di perkemahan mereka tertidur (1.1.6). Karena tertidur mereka lupa mengikuti kegiatan pramuka (1.1.7). Mereka dihukum lari keliling lapangan 10 kali (1.1.8). Malam hari saat acara renungan api unggun mereka sadar akan dosa yang pernah mereka lakukan (1.1.9).
Peristiwa liburan sekolah yang berbeda (1.2.1). Keluarga hidup dari berdagang dan bertani (1.2.2). Orang tuanya mengajari berdagang (1.2.3). Bercerita sejarah orang tuanya (1.2.4). Kisah cinta orang tua dan kakaknya (1.3.1). Sore mereka berkumpul di ruang tamu, dan suasana (1.4.1). Bapak memulai pembicaraan (1.4.2). Mengeluh akan namanya yang aneh (1.4.3). Keluarganya selalu tertawa saat membicarakan nama Kliwon (1.4.4). Ingin ganti nama namun ditolak (1.4.5). Ia seakan kena sial (1.4.6). Neneknya seorang ahli pawukon (1.5.1).
Peristiwa orang tuanya ingin Kliwon menjadi penerus mereka berdagang (1.6.1). Kliwon tidak mau (1.6.2). Tiap hari ibu mengajak Kliwon belajar cara berdagang (1.6.3). Kliwon sadar akan perjuangan orang tuanya (1.6.4). Kakaknya menyemangati Kliwon untuk jadi penerus orang tuanya (1.6.5). Bapak dan neneknya menasehati Kliwon (1.6.6).
Peristiwa tentang Numidia Rujita sahabat Kliwon sejak SMP (1.7.1). Ia tinggal bersama neneknya (1.7.2). Bapaknya tukang becak dan guru mengaji (1.7.3). Numi teringat akan nasehat bapaknya untuk tidak putus asa (1.7.4). Sejak 2 tahun lalu Numi menjadi yatim piatu (1.7.5). Numi galau akan kejadian itu (1.7.6). Keluarga Kliwon selalu membantu keluarga Numi (1.7.7). Numi tak ingin terus bergantung pada orang lain (1.7.8). Ia ikut kursus menjahit (1.7.9).
Peristiwa pagi itu Kliwon dan Numi ke sekolah mengambil ijazah SMP. (1.8.1). Mereka yakin akan diterima di SMA favorit (1.8.2). Kliwon memiliki nilai bagus, ibunya bangga (1.8.3). Kakaknya menawari sebuah hadiah (1.8.4). Ibunya memberi tas hasil bonus beli dagangan yang sedikit norak, Kliwon menjadi tidak PD ke sekolah (1.8.5). Mereka masuk di sekolah SMA Negeri Keramat (1.8.6). Mendaftar dan setelah selesai tiba-tiba mereka ditabrak seorang pemuda yang berlari tergesa-gesa (1.8.7). Spontan Kliwon emosi dan memukuli pemuda itu (1.8.8). Pemuda itu minta maaf pada mereka berdua (1.8.9). Mbak Kyati datang, Kliwon senang (1.8.10).
Peristiwa Mbak Kyati memberi hadiah pada Kliwon (1.8.11). Tiga buah novel membuat Kliwon penasaran ingin membacanya (1.8.12). Kakaknya menerangkan sosok penulis novel itu yang banyak penggemarnya (1.8.13). Hari pertama masuk sekolah (1.9.1). Saat Kliwon dan Numi sedang duduk, tiba-tiba ada pemuda pendek kecil datang (1.9.2). Dikira mereka, pemuda itu anak SD yang tersasar di SMA (1.9.3). Kepala sekolah berpidato di depan siswa-siswa baru (1.9.4). Kliwon senang sekarang sudah SMA (1.9.5).
Kegiatan MOS dilakukan seminggu (1.10.1). Tugasnya begitu konyol, aneh dan susah (1.10.2). Kliwon memberanikan diri istirahat (1.10.3). Seniornya datang dan Kliwon pura-pura sakit (1.10.3). Numi kaget pmuda kecil yang mereka anggap anak SD ternyata teman SMA mereka, Sarmani namanya (1.10.4). Laila Natakusuma bidadari baru di sekolah itu (1.10.5). Semua pemuda di sekolah itu berebut bersalaman dengan Laila (1.10.6).
Sore, Kliwon bersantai sambil membaca novel pemberian kakaknya (1.11.1). Kliwon mulai mencari tahu sosok penulis novel tersebut (1.11.2). Laila menjadi teman baru Kliwon dan Numi (1.10.7). Laila bercerita hidupnya dari kota (1.10.8). Hadirnya Laila munculkan fashion di sekolahnya (1.10.9). Pak Margono sedikit menasehati akan fashion para siswa (1.10.10).
Sore, Mbah Semi (Nenek Numi) terserempet motor (1.12.1). Si penyerempet minta maaf dan Mbah Semi memaafkan (1.12.2). Sejak kejadian itu Mbah Semi tidak bisa bekerja lagi (1.12.3). Terpaksa kini Numi yang harus bekerja (1.12.4). Numi bekerja dengan becak warisan bapaknya untuk dipakai angkut dagangan warga dari pasar (1.12.5). Hari pertama 15 orang telah memesan jasa Numi (1.12.6).
Kliwon, Numi, Laila menjadi sahabat (1.13.1). Kliwon dan Numi sering menjadi perantara para siswa untuk menyampaikan surat cinta pada Laila (1.13.2). Mas Arif juga menyukai Laila (1.13.4). Kliwon memanfaatkan dengan minta ditraktir makan (1.13.5). Sore, Kliwon mendapatkan cita-citanya (1.14.1). Keluarga kaget karena suara Kliwon yang mengagetkan (1.14.2). Kliwon ingin jadi penulis (1.14.3).
Pagi, Kliwon tak sadarkan diri (1.15.2). Seluruh kelas mengikuti HUT Sekolah (1.15.3). Kliwon mewakili lomba campur sari (1.15.4). Kelas Kliwon juara, namun sebelum pengumuman dibacakan Kliwon mengalami pingsan (1.15.4). Kliwon menemui Mas Syahri (1.16.1). Dia ingin menunggui perpustakaan milik Mas Syahri itu (1.16.1). Perpustakaan mulai ramai (1.16.2). Teman Kliwon sering datang (1.16.3). Numi sering curhat pada Kliwon di perpustakan itu (1.16.4).
Kliwon masuk jurusan IPA (1.17.1). Ia tidak suka jurusan itu (1.17.2). Hasilnya nilainya kini menurun drastis (1.17.3). Kliwon mendapat bantuan yakni guru les privat (1.17.4). Nilainya mulai membaik (1.17.5). Sarmani meminta Numi membuakan baju pengantin kakaknya (1.18.1). Disela perpustakaan Kliwon menulis puisi (1.16.5). Kliwon ingin menulis novel tetapi masih bingung (1.16.6). Kliwon bertanya pada guru bahasa Indonesianya tentang cara membuat novel (1.16.7).
Sarmani mengajak Kliwon dan Numi ke rumahnya (1.18.2). Mereka berdua kaget melihat rumah Sarmani (1.18.3). Mereka berujar Sarmani seperti Richi Rich yang sedang menyamar (1.18.4). Acara pernikahan kakaknya Sarmani berlangsung (1.18.5). Kliwon ingat dengan pernikahan kakaknya Mbak Kyati (1.18.6). Bagaimana ibunya bekerja keras mengurus segala keperluan pernikahan (1.18.7).
Dua hari Kliwon tak melihat Numi (1.19.1). Numi mulai membuka bordiran N.R (Numidia Rujita) Tailor (1.19.2). Kliwon mulai ingin bersemangat mengejar cita-citanya setelah melihat Numi kini telah membuat usaha baru (1.19.3).
Kliwon senang, sang pujaan hati Anggoro Kasih seorang penulis novel yang ia baca (1.11.2). Kliwon selaku mencari tahu perkembangan berita pujaannya itu (1.11.3). Kliwon minta tolong pada kakak iparnya Mas Seno yang tak lain juga teman dari Anggoro Kasih (1.11.4). Kliwon mendapat foto Anggoro kasih dari Mas Seno (1.11.5). Acara dimulai pukul 2 siang, Kliwon bergegas berangkat (1.11.6). Di jalan angkot yang mereka tumpangi mogok (1.11.7). Sampai di kampus sore hari, Kliwon senang karena telah sampai (1.11.8). Kini Kliwon mencari Anggoro Kasih namun tak menemukannya (1.11.9).
Kliwon masih kecewa (1.11.10). Guntoro mengajak Kliwon rekreasi sekaligus bakti sosial (1.10.11). Ibu Kliwon menanam investasi (1.20.1). Hasilnya untuk mendirikan peternakan (1.20.1). Komputer sudah bisa dipakai lagi, Kliwon mencari berita akan pujaan hatinya (1.10.12). Kliwon kaget mendengar berita Anggoro Kasih ingin menikah (1.10.13). Kliwon telah masuk menjadi penggemar level akut (1.10.14). Kliwon mengurung diri di kamar (1.10.15). Pagi Kliwon membuka inbox di komputernya akan berita pernikahan Anggoro Kasih (1.10.16). Untuk menghilangkan kesedihan Kliwon ikut rombongan pecinta alam di sekolahnya mendaki gunung Semeru (1.10.17). Kliwon tak menyangka kesedihannya membawa dia mendaki gunung Semeru (1.10.18).
Kliwon masih sedih (1.10.19). Kyati menasehati Kliwon (1.10.20). Keluarga Kliwon diterpa musibah karena pohon berlian ternyata investasi penipu (1.20.2).
Semua barang dijual untuk mengganti uang nasabah (1.20.3). Disinilah titik balik Kliwon, dia berusaha membantu orang tuanya berdagang (1.20.4). Impian kuliah di Jogja sirna (1.20.5). Numi mendapat jalur khusus dalam ujian karena keterbatasan fisik (1.21.1). Kliwon dan teman-temannya lulus ujian (1.21.2). Numi menjadi siswi terbaik dia juga diterima di salah satu perguruan tinggi (1.21.3). Penyandang beasiswa untuk Numi adalah Mas Syahri (1.21.4). Saat wisuda sekolah Kliwon menjadi bahan perhatian (1.21.5). Penampilan Kliwon seperti ondel-ondel (1.21.6). Kliwon menjadi malu dan tidak PD lagi (1.21.7). Mereka diacara itu berjanji 6 tahun lagi akan reunian bersama (1.21.8).
Kliwon melanjutkan kuliah (1.21.9). Bapaknya memberi sebuah motor tahun 70’an (1.21.10). Kyati menyuruh Kliwon untuk tinggal di rumahnya namun ditolaknya (1.21.11). Sore saat Kliwon menuju depan pintu rumah Kyati tiba-tiba ia mual dan muntah-muntah (1.21.12). Ia lalu dibawa ke dokter (1.21.13). Setelah menjalani berbagai tes di rumah sakit dokter mengatakan penyait yang diderita Kliwon (1.21.13). Semua keluarga kaget mendengar penyakit itu, namun Kliwon belum tahu penyakitnya (1.21.14).
Numi dan Mbah Semi datang menjenguk Kliwon (1.21.15). Kliwon dibawa bapaknya ke pengobatan alternatif (1.21.16). Disinilah Kliwon mengetahui apa penyakitnya (1.21.17). Kliwon langsung ke kamar dan mengurung diri (1.21.18). Kliwon menjalani kemoterapi, kondisinya mulai membaik (1.21.19). Kliwon berusaha tenang akan penyakitnya (1.21.20).

Lima Tahun Kemudian
Laila datang untuk acara reunian (1.22.1). Semua pangling akan penampilan Laila (1.22.2). Di kantor desa terjadi demo menolak hadirnya pasar modern di desa itu (1.23.1). Bapak Kliwon lantang menjadi pemimpin demo itu (1.23.2). Kyati terpilih menjadi kepala desa yang baru di desa itu (1.23.3). Mas Shahri menjadi donatur program Kyati (1.23.4).
Sarmani datang untuk reuni (1.22.3). Hari dinanti tiba, semua telah berkumpul dirumah Kliwon (1.22.4). Sarmani langsung mencari Kliwon (1.22.5). Numi berlari ke belakang dengan menangis (1.22.6). Sarmani kaget Numi menikah dengan Syahri (1.22.7). Ibu Kliwon mengajak mereka ke tempat Kliwon (1.22.8). Setelah sampai mereka diam seribu bahasa (1.22.9). Anggoro Kasih juga hadir disitu (1.22.10). Sarmani baru tahu, kanker merenggut nyawa Kliwon 4 tahun lalu (1.22.11). Semua mendoakan, dan sekitar satu jam di samping nisan Kliwon, mereka kembali pulang dengan kesedihan (1.22.12).




C.    Teknik Pengeplotan
  1. Konflik (Conflict)
Konflik merupakan peristiwa pertentangan yang menumbuh kembangkan plot. Staton (1965: 16) membagi konflik menjadi 2 yaitu internal dan eksternal. Konflik internal adalah konflik yang terjadi di dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita, misalnya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-konflik eksternal merujuk pada konflik antara tokoh dengan sesuatu di luar dirinya (fisik dan sosial).
Fisik    : adanya benturan antara tokoh dalam lingkugnan alam
Sosial : disebabkan antar manusia.
Di dalam novel “Mimpi di Atas 1½ Kaki” konflik eksternal terjadi saat Kliwon tengah berjalan tiba-tiba ditabark oleh pemuda yang lari tergesa-gesa, spontan Kliwon emosi dan memukuli pemuda itu.
“Tapi belum sempat kaki kami menginjak lantai ruangan itu, dari sebuah tikungan meluncur manusia dengan kecepatan tinggi. Cepat dan tak terduga seperti cahaya blitz kamera. Gedubragh ….jatuhlah kami bertiga. Map kami berhamburan ke udara. Gara-gara itu aku terpental ke selokan yang ada di dekat gedung itu. Air kotor yang penuh lumut itu membasahi bajuku. Aku segera sadar langsung berdiri dan menggebuki pemuda tak tahu diri itu. Jalan tanpa mata dan membuat kami berdua cedera” (hal. 56)
Konflik sosial saat Kliwon kaget karena mengetahui Anggoro Kasih akan melangsungkan pernikahan.
“Nduk … sudah tahu informasi? Anggoro akan menikah sebulan lagi, kata kakakku yang membuat sukmaku seakan tiba-tiba tercabut dari ragaku. Tubuhku serasa dingin dan kepalaku seketika pusing jantungkupun sepertinya tiba-tiba berhenti. Aku hanya terdiam mendengar kakakku bercerita” (hal. 213).
Sedangkan konflik internal dalam novel “Mimpi di Atas 1½ Kaki” terjadi saat Kliwon mengetahui apa penyakit yang dia derita saat itu yang membuatnya mengurung diri di kamar.
“Banyak pertanyaan tiba-tiba hadir di kepala. Mengapa harus terjadi? Kenapa harus aku? Apa yang salah dengan diriku? Kenapa Tuhan memilihku? Bukan malah memilih orang-orang yang menghisap rokok seperti cerobong asap/orang yang minum-minuman keras seperti ikan pestu itu saja. Semua pertanyaan itu menggema di dalam hati dan memantul kesana kemari. Suatu kondisi yang tidak akan bisa diceritakan. Begitu semrawut dan kacau balau.” (hal. 272)

  1. Tegangan (Suspense)
Ketegangan yang membangkitkan rasa ingin tahu pembaca muncul dalam berbagai peristiwa. Dalam novel “Mimpi di Atas 1½ Kaki” karya Luluk KH. Ketegangan ini dapat dilihat dalam beberapa kutipan, misal pertama, saat Kliwon tak sadarkan diri:
“Hari itu, pukul sembilan, setengah pagi setengah siang. Bagai kesetrum. Tubuhku lemas tak berdaya. Tulang ini seakan tak mampu menopang otot-ototku. Dan darah yang ada seakan beku seketika. Aroma amoniak bercampur minyak angin menusuk hidung. Sepoi angin terasa dari buku yang dikibas-kibaskan kemuka. Ada rasa sakit yang tak tahu dimana pusatnya seolah-olah merobek seluruh raga”. (hal. 111).
Kedua saat dokter ingin memberitahu tentang sakit yang diderita Kliwon:
“Setelah Prof. Adinata menutup pintu ruangannya, beliaupun menuju tempat duduknya. Di depannya sudah menunggu dua wanita yang tidak lain ibu dan kakakku. Harap-harap cemas tergambar jelas di muka mereka karena sedang menanti kata-kata yang akan dikeluarkan mulut dokter itu”. (hal. 263).
Ketiga, saat Bu Rahmat (Ibu Kliwon) mengajak mereka ke tempat Kliwon yang membuat mereka penasaran ingin segera menemui Kliwon.
“Tidak lama setelah itu, bu Rahmat mengajak kami berjalan menuju tempat Kliwon yang katanya tidak jauh dari sini. Kaki-kaki ini hanya mengikuti saja saat harus melewati jalan berbatu dan penuh debu. Semakin banyak pertanyaan di kepala. Ada-ada saja Kliwon membuat rumah saja kok begitu jauh dari pemukiman. Memang harus seperti ini untuk bisa mendapatkan inspirasi? Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan. Kami semua terdiam dengan rasa penasaran kangen, ingin bertemu dan keanehan.







Perkembangan Plot
1.      Situation
Pada bagian pertama digambarkan bahwa saat Kliwon dan kelompok pramukanya tersesat di suatu kebun/hutan dan sedangn bingung campur kesal.
“Dalam kefrustasian, kami berlima duduk sambil bersandar ke pohon kelapa yang sudah lima kali kami lewati. Aar-akarnya kuat menghujam bumi. Membuatnya kekar menahan tubuh-tubuh kecil ini. Tak terbayangkan andai saja ada buahnya yang sudah tak kuat lagi berpegangan pada tangkainya dan menimpa kepala. Tapi kami sudah tida peduli. Kekesalan ditambah kebingungan diantara kami membuat masing-masing emosi. Lirikan mereka kearahku seakan menyatakan betapa tidak becusnya aku menjadi ketua regu. Seorang pemimpin gagal yang telah membuat kelompoknya kelelahan”. (hal. 9)
Pada bagian kedua digambarkan bahwa saat Kliwon tak sadarkan diri di sekolahnya.
“Hari itu pukul sembilan setengah pagi setengah siang. Bagai kesetrum tubuhku lemas tanpa daya. Tulang ini seakan tak mampu menopang otot-ototku. Dan darah yang ada seakan beku seketika. Aroma amoniak bercampur minyak angin menusuk hidung. Sepoi angin terasa dari buku yang dikibas-kibaskan ke muka. Ada rasa sakit yang tak tahu di mana pusatnya seolah merobek-robek seluruh raga. Gara-gara ini aku telah kehilangan moment berharga berpotret bersama kepala sekolah. Saat kelopak mata terbuka tampak Numi sahabatku, didekatku. Laila juga berdiri tidak jauh dariku. Muka-muka teman sekelasku satu persatu mulai kukenali. “Kamu pingsan cukup lama … mana yang sakit?” katanya pelan penuh kekhawatiran. (hal. 111).
Pada bagian ketiga digambarkan bahwa saat Kliwon dan Numi membicarakan Sarmani yang ternyata diluar dugaan mereka selama ini.
“Kalau seluruh sekolah tahu cerita ini, pastilah gempar dan Sarmani bisa menjadi laki-laki yang paling dicari. Minimal para wanita akan jatuh cinta dengan apa yang dimilikinya”. (hal. 170)

2.      Generating Circumtances
Dalam subklimaks ini menggambarkan saat Kliwon kembali mempermasalahkan namanya yang begitu singkat juga aneh.
“Hal sepele saja yang sering membuatku kesal adalah pemberian nama kakakku memiliki nama yang begitu cantik. Sementara aku hanya diberi nama yang terdiri dari enam huruf, singkat, padat dan jelas-jelas tidak komersil KLIWON. Tanpa embel-embel wati atau sari yang menunjukkan keperempuanku. Tak terbayang kalau harus bersanding dengan kata JUMAT didepannya pasti keramat” (hal. 30)
Akibat peristiwa tersebut sang bapak menasehati Kliwon akan namanya itu hasil ciptaan neneknya.
“Jangan kau mengecewakan nenekmu yang sudah susah-susah memilihkan nama itu. Nenekmu sampai bermusyawarah sama bidan untuk nama indahmu,” tambah bapakku yang mukanya sudah seperti kepiting rebus karena sejak tadi tertawa tak henti-henti” (hal. 31)
Pada bagian kedua saat Kliwon tahu akan berita tentang Anggoro Kasih pujaan hatinya akan melangsungkan pernikahan.
“Nduk … sudah tahu informasi? Anggoro akan menikah sebulan lagi,” kata kakakku yang membuat sukmaku seakan tiba-tiba tercabut dari ragaku” (hal. 213)
Akibat peristiwa tersebut Kliwon menjadi sedih, kesal dan sakit hati bercampur menjadi satu.
“Saat itu buku yang sejak tadi kubawa kemana-mana kubanting begitu saja. Entah mental kemana. Aku telungkupkan mukaku dibantal sambil menyembunyikan airmataku yang deras mengalir. Ingin rasanya kututup mata dan berharap ini semuanya hanya mimpi belaka. Tak pernah menyangka begitu menyakitkan kehilangan cinta. Haruskah angan-anganku bertemu Anggoro Kasih berakhir sampai di sini? Dia sudah banyak merubahku. Adakalanya kenyataan itu menyakitkan dan inilah yang sedang kurasakan.” (hal. 214)

3.      Rising Action
Keadaan ini menceritakan saat Kliwon mulai menulis sebuah novel dengan berdampingan dengan penyakit kanker yang dia derita.
“Kanker … aku ingin bersahabat denganmu. Aku mungkin tidak bisa mengusirmu dari tubuh ini, tapi kumohon jadilah sahabatku! Jangan sering menyakitiku agar aku bisa menyelesaikan buku yang sudah lama kuimpikan. Semoga suatu saat nanti Anggoro membacanya!” kataku sambil kubayangkan semua yang kukatakan menjadi nyata” (hal. 277).
Karena kejadian ini Kliwon menjadi lebih bersemangat dalam sisa-sisa hidupnya.
“Hari-hariku ini terasa berharga. Yang jelas aku akan berjuang selalu diantara kepasrahanku pada Tuhan. DIA-lah pemilik semua. Dan tak akan ada satupun manusia yang bisa menghindari ketentuannya (hal. 279).

4.      Climax
Pemaparan klimaks novel “Mimpi di Atas 1½ Kaki” dalam peristiwa Sarmani yang datang untuk meliput berita novel milik Kliwon.
“Aku sudah mendapatkan tugas peliputan berita untuk majalah edisi bulan depan. Berita hangat tentang sebuah novel yang terinspirasi dari seorang gadis cacat kaki sedang menjadi pembicaraan. Sekuat tenaga agar akulah yang mendapat tugas peliputan ini. Telah kupertaruhkan pekerjaanku. Aku bersedia di pecat jika hasil beritaku tidak sesuai dengan janjiku. Kuyakinkah aku pasti mendapatkan foto-foto dan wawancara eksklusif yang diinginkan pembaca. Pasti tidak ada yang pernah menyangka bahwa penulis dan gadis yang ada dalam cerita itu adalah sahabatku. Aku yakin sekali nama Kliwon di novel itu adalah gadis bengal teman SMAku. Dan aku yakin publik belum tahu kalau Numidia Rujita, pengusaha muda wanita yang jadi perbincangan itulah tokoh utamanya. Aku sangat bangga menuliskan namaku sebagai pencari berita. Aku kutulis nama singkatku di bawah judul tulisanku.” (hal. 298).
Kejadian ini membuat Sarmani kagum dan ingat akan sosok seorang Kliwon yang membuatnya tak akan pernah melupakannya.
“Gadis yang dulu mengusirku dari SMA karena dikiranya aku masih SD itu memang suka seenaknya memberi nama. Tapi kini dia jadi penulis. Tak pernah disangka. Selama tujuh bulan ini novelnya sudah mulai tersebar bahkan dia membuat sebuah sensasi dengan tidak menunjukkan batang hidungnya sampai kini. Acara talk show beberapa waktu lalu di Jakarta yang mengulas novelnya tidak dihadirinya. Ternyata gadis itu tetap menyebalkan seperti dulu. Entah seperti apa mukanya kini. Apa dia masih akan meledekku meski kini aku sudah mulai menjadi wartawan suatu majalah terkenal?” (hal. 299-300)

5.      Denoument
Dalam peristiwa ini terjadi peristiwa yang menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk akan sosok Kliwon yang tidak terlihat lagi.
“Baru kutahu ternyata kanker telah merenggutnya, hampir empat tahu lalu dia masih bisa bertahan sembilan belas bulan lebih lama dari perkiraan dokter. Dalam senyuman dia menyerahkan sebuah buku yang ingin diberikannya kepada kami. Guntoro tampak terpukul dalam kepedihan tanpa suara. Dielus-elusnya batu nisan di depannya. Tanpa peduli terhadap kami yang ada disekitarnya. Seakan dia asyik dengan pikiran tentang ingatannya terhadap Kliwon enam tahun lalu. Ada suatu penyesalan, kenapa dia tidak pernah tahu yang terjadi terhadap gadis yang dicintainya ini. Surprise yang ingin diberikannya ke Kliwon karena dia sebentar lagi menjadi notaris, kini sudah tak ada gunanya lagi. Kini, sahabat kami itu telah tiada (hal. 307-308).

Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger