Analisis Novel Hitam dan Putih Karya Mushtofa Acmad


KRITIK SASRA II OBJEKTIF NOVEL “HITAM DAN PUTIH”
Karya  : Mushtofa Acmad
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kritik Sastra II
Doseh Pengampu : Dra. Hj. Kadaryati, M.Hum






Disusun oleh :
Panji Pradana (092110144)
Semester VI D


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012

BAB I
TEMA DAN MASALAH
Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan.Tema merupakan persoalan utama yang diungkapkan oleh seorang pengarang dalam sebuah karya sastra, seperti cerpen, novel, ataupun suatu karya tulis.Tema juga dapat dikatakan sebagai suatu gagasan pokok atau ide dalam membuat suatu tulisan.Beberapa sumber mengatakan, pengertian tema dalam karang-mengarang dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut karangan yang telah selesai dan dari proses penyusunan karangan itu sendiri.
Dilihat dari sudut karangan yang telah selesai, tema adalah suatu amanat yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Sedangkan dari segi proses penulisan, tema adalah suatu perumusan dari topic yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topic tadi. Hasil perumusan tema bisa dinyatakan dalah sebuah kalimat singkat, tetapi dapat pula mengambil bentuk berupa sebuah alinea, ikhtisar-ikhtisar, dan kadang-kadang ringkasan.Panjang tema tergantung dari berapa banyak hal yang akan disampaikan sebagai perincian dari tujuan utama. Perbandingan antara tema dengan karangan dapat disamakan dengan hubungan antara sebuah kalimat dan gagasan utama kalimat yang terdiri dari subjek dan predikat.Begitu juga kedudukan tema secara konkrit dapat dilihat dalama hubungan antara kalimat topic dan alinea. Kalimat topic merupakan tema dari alinea itu, sedangkan kalimat lain hanya berfungsi untuk memperjelas kalimat topic atau tema alinea tersebut. Tama dalam novel Kehormatan di Balik kerudung adalah cinta suciperjuangan cinta kembali dan jalinan.
Menentukan tema pokok sebuah cerita pada hakekatnya merupakan proses penggabungan masalah dan menilai masalah yang terdapat dalam novel. Hanif  merupakan tokoh utama yang sering memunculkan konflik dengan tokoh lain. Diantara masalah perkelahian Hanif dengan Vega, masalah percintaan Hanif dan Sinta, masalah meninggalnya Ibu Hanif, masalah Religi semakin tersesatnya Hanif, masalah salah paham cinta Hanif dan Wanda.
Berdasarkan paparan diatas dapat tentukan bahwa tema dari  novel Hitam dan Putih  karya Musthofa Achmad adalah lika-liku kehidupan seorang santri yang harus menghadapi kenyataan pahitnya hidup untuk berjuang menafkahi adiknya sekolah yang pada akhirnya sukses meraih kehidupan duniawi, namun lupa akan apa yang sudah didapatkannya.
1.      Tema dan Masalah-masalah
 Dalam novel Hitam Dan Putih terdapat masalah-masalah sebagai berikut :
a)      Awal Percintaan
Pada masalah percintaan, Hanif terbayang-bayang dengan murid baru yang bernama Sinta.
Berikut kutipannya
“Hanif tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.Pikirannya selalu digeluti rasa hatinya terhadap Sinta.  Seiring ia melirik ke arah murid baru itu yang kini duduk di sebelah kiri depannya. Sejujurnya Hanif ingin sangat ingin mendekati Sinta”. (Hitam dan putih 2012 : 31)

“Ketika pelajaran dimulai kembali, Hanif mulai melancarkan aksinya.Ia tak menghiraukan Bu Fatimah yang sedang menjelaskan teori optik. Hanif lebih sibuk menggoda Sinta.Ia melukiskan sebuah kalimat pada selembar kertas, melipatnya menjadi sebuah pesawat, kemudian menerbangkan tepat ke meja Sinta”. (Hitam dan Putih 2012 : 38)

b)      Perkelahian
Pada masalah perkelahian Mirza (teman Hanif) didatangi preman.Karena Mirza merebut pacar preman tersebut, mereka berantem tak kecuali Hanif pun ikut turun tangan.
Berikut kutipannya:
“Hanif sudah berdiri di depan warung. Sementara itu Mirza mencari perlindungan ke dalam.Orang-orang di sekitar hanya memandangi mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.Mereka tahu akan terjadi sebuah perkelahian, namun memilih untuk tidak terlibat”.  (Hitam dan Putih 2012 : 58)

pinter ngomong arek iki, yo wes nek ngono. Kamu juga pantas untuk dihajar.Vega semakin emosi.Ia melancarkan pukulan lurus ke arah muka Hanif dengan tangan kanan. Hanif melompat ke samping kirinya, kemudian menendang wajah Vega dengan tendangan lurus yang cukup telak”. (Hitam dan Putih 2012: 58)




c)      Tuduhan
Pada masalah ini, Hanif tekena tudahan bahwa Hanif telah menghamiliLestari, bahkan Sinta pun ikut percaya dengan kabar yang salah itu.
Berikkut kutipannya :
“Celakanya , berita itu telah berkembang menjadi beberapa versi. Versi pertama adalah Hanif dan Mirza sama-sama telah berhubungan dengan Lestari.Versi kedua menyebutkan bahwa Haniflah yang bercinta dengan Lestari sedangkan Mirza sebagai penolongnya.Versi ketiga Hanif telah bersekongkol dengan pacar Lestari untuk mengeroyok Mirza”. (Hitam dan Putih 2012 : 70)
“Kontan saja, Sinta curiga dengan sikap Hanif yang mendadak menjadi pendiem seperti pemain catur.Tak ada lelucon keluar dari mulut Hanif yang biasanya selalu membuat Sinta tertawa”. (Hitam dan Putih 2012 : 71)

d)     Kematian orang yang disayangi
Pada masalah ini, ibu Hanif meninggal dunia.
Berikut kutipannya:
“Ibu Mas, ibu…kalimat thohir terhenti. Ada apa dengan ibu? Tanya Hanif setengah berteriak yang membuat perhatian teman sekamarnya yang lain ikut tertuju padanya. Ibu….., meninggal Mas.” (Hitam dan Putih 2012 : 184)
“Hati Hanif perih tiada terkira.Air matanya menetes semakin deras. Didekatnya jenazah sang ibu, lalu dipeluknya erat-erat. Sedu dan tangisnya seketika berubah menjadi histeria.Hanif berteriak-teriak memanggil ibunya”. (Hitam dan Putih 2012 : 186)

e)      Karir
Pada masalah ini Hanif memulainya berkarir dengan aktingnya.
Berikut kutipannya:
“oke sekarang coba tunjukan akting anda sesuai dengan naskah itu, pinta Erin sambil menunjuk Hanif dengan pulpennya. Hanif menghela nafas sejenak untuk menghilangkan rasa grogi.Lalu ia pun melafalkan dialog sesuai dengan yang tertulis di naskah”. (Hitam dan Putih 2012 : 219)

“Sutradara itu terkesan dengan gaya bertarung Hanif yang berbeda dari yang biasa ia lihat.Sangat original.Kerena itulah, Hanif pantas mendapatkan peran utama”. (Hitam dan Putih 2012: 226)

f)       Semakin tersesat
Pada masalah ini Hanif mulai tersesat dalam melakukan perbuatan, bahkan Hanif telah berhubungan badan dengan Wanda.
Berikut kutipannya :
“Keduanya lalu berciuman.Pelukan pun semakin erat.Wanda tenggelam dalam kehangatan yang Hanif berikan, seakan dunia hanya milik mereka berdua”. (Hitam dan Putih 2012 : 305)

“Lagi-lagi setan ikut berpartisipasi dalam kesempatan yang menjajikan itu, mengakibatkan syahwat Hanif dan Wanda yang kini hanya tinggal berdua di dalam kamar.Keduanya saling berpandangan.Cukup lama.Hanif tersenyum.Wanda pun ikut tersenyum”. (Hitam dan Putih 2012 : 308)

“Tapi, kalau kamu hamil gimana?Wanda emosi mendengar pertanyaan Hanif yang dirasanya begitu konyol.Memangnya kamu nggak mau aku mengandung anak kita?Ini buah cinta kita sayang”. (Hitam dan Putih 2012 : 309)

g)      Taubat
Dalam masalah ini menjelaskan bahwa Hanif sudah menikahi Sinta dan mempunyai anak bernama Wanda Musyaffa’.Dan atas kemauan Sinta, Hanif sudah tidak lagi menjadi seorang public figure, dia lebih berkarir dengan sastranya.
                        Berikut kutipannya :
“Atas keinginan Sinta, Hanif meninggalkan dunia acting yang telah  membesarkan namanya. Kini, ia lebih memilih berkarir di dunia sastra. Hanif juga akan menjadi seorang seorang santri lagi di sebuah pesantren di Jawa Barat untuk memperdalam ilmu agamanya”. (Hitam dan Putih 2012 : 373)
“Keduanya mendekati boks bayi yang berhias pernak-pernik merah jambu. Bayi perempuan cantik tergeletak, menangis.Bayi mungil yang menemani hari-hari mereka. Wanda Musyaffa”. (Hitam dan Putih 2012 : 376)

BAB II
FAKTA CERITA
a.      Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah menurut kepada orangnya, pelaku ceita, yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Abraham 1981: 20)
Penokohan adalah pelukisan watak dari tokoh cerita itu sendiri.
a.       Jenis Tokoh
Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan
         Pembagian tokoh utama dan tokoh tambahan ini dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh di dalam sebuah cerita. (Nurgiyantoro, 1998:176)
Dibandingkan dengan tokoh utama, tokoh tambahan dalam novel “Hitam dan Putih” ini lebih banyak, beberapa diantaranya bernama Umar, Mirza,Vega, Nia, Winda, Gilang, Gus Manaf, Bu Nyai, Pak Fuad, Thohir, Bu Ratna, Fitri, Ibu Hanif, Pak jasman, Bu Tyas, Bu Faridah, Richard, Pak Sujud, Pak Junaidi, Bu Fatimah, Pak Jalal.
a.      Tokoh Protagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan dalam cerita. Tokoh ini merupakan tokoh yang paling tinggi intensitas keterlibatan didalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita dan waktu yang digunakan tokoh protagonis berhubungan dengan semua tokoh yang ada dalam cerita dan tokoh protagonis menjadi pusat sorotan di dalam cerita.
Dalam penentuan tokoh protagonis di dalam novel Hitam dan putih ini lebih tepat menyebut Hanif, Kiai Ali, Wanda, Sinta, Raziq, Rudi, Syarif. Tokoh-tokoh ini menempati sebagai tokoh protagonis dengan alasan tokoh ini lebih banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang ada. Selain itu di dalam novel ini banyak diungkapkan perasaan dan pikiran tokoh-tokoh ini terhadap masalah-masalah  yang dihadapai serta tokoh ini hadir dari awal sampai akhir cerita dan mempengaruhi jalan cerita.

b.      Tokoh Antagonis
Tokoh antagonis merupakan tokoh yang beroposisi dengan tokoh protagonis. Tokoh antagonis dalam novel Hitam dan Putih diantaranya Gilang, karena gilang sering beroposisi dengan Hanif musyafa.

                        Jenis Watak
Forster (1970:75) membagi watak tokoh ke dalam dua jenis, yaitu tokoh yang berwatak bulat, datar atau sederhana. Kedua jenis watak terdapat dalam satu peristiwa di bawah ini.   
 Tokoh Berwatak Bulat Dan Datar
Nurgiyantoro (1998:183) mengatakan tokoh bulat atau kompleks sebagai tokoh yang memiliki dan disebut berbagai kemungkinan sisi kehidupannnya, sisi kepribadiannya dan jati dirinya. Abrams (1981:20-21) bahwa tokoh bulat atau tokoh kompleks dikatakan lebih mempunyai kehidupan manusia yang sesungguhnya karena disamping sebagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberi kebutuhan. Sedangkan tokoh berwatak datar atau sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu. (Nurgiyantoro: 1998:182)
 Teknik Pelukisan Tokoh
Dalam novel Hitam dan Putih ini tokoh-tokoh bulat dan datar tampak jelas pada masing-masing tokohnya.


a.      Hanif Musyafa
Hanif Musyafa adalah sosok yang baik, rajin beribadah, suka menolong, namun juga terkadang ia lupa diri dengan perbuataannya. Dan suka merenung untuk membandingkan dirinya dengan sesuatu kejadian, hal ini dilihat dalam kutipan:
“Di dalam hatinya, Hanif berrkata, tekadqu untuk tidak lagi berpacaran telah kuingkari. Mungkin keretakan hubunganku dengan Sintaadalah sebagai peringatan dari Allah agar aku bisa istiqamah dalam kebulatan niatku itu. Semoga aku tak lagi mengulanginya. (Hitam dan Putih, 2012:90)

Dari dialog yang ditampilkan dalam novel Hitam dan Putih dapat diketahui bahwa Hanif memiliki sifat baik hati, hal ini dapat dilihat dalam kutipan :
“Sebungkus besar kue gethuk dan rujak cingur khas Surabaya dpandangi Raziq dengan sorot mata penuh nafsu. “Nah ini baru namanya oleh-oleh, “ujarnya setengah berteriak. “Hoi kawan-kawan. Ada sasaran empuk!” Tak sampai sepuluh detik, kedua makanan itu sudah habis. Tandas. Mereka berebut seakan belum makan selama dua hari. (Hitam  dan Putih, 2012;166)

b.      Sinta
Sinta adalah anak yang baik, mudah bergaul  dan rendah hati, dikelas ia menjadi primadona setiap pria, dan ia pun termasuk siswi yang pandai di dalam kelas. Hal tersebut dilihat dalam peristiwa berikut:
“Hanif bertanya pada Rudi yang duduk di sampingnya. “jadi, dia murid baru yang kamu ceritaan?” Iya. Cakep banget kan?” jawab Rudi sambil nyengir. Hanif hanya diam. Ingin sebenarnya ia mengakui kecantikan siswi baru itu. Nanun ia enggan mengungkapkannya. Ia takut akan jatuh cinta lagi. (Hitam dan Putih, 2012;29)

Sinta juga mempunyai watak rajin, sehingga Hanif kagum di buatnya, di sisi lain juga Sinta cepat menguasai materi meskipun ia tergolong siswi baru. Hal ini dapat di lihat pada kutipan berikut :

“Hanif melirik kitab berbahasa Arab itu. Sinta mampu mengartikannya tanpa bantuan seorang pun meski sesekali harus membuka kamus. Terlihat beberapa kata dalam bahasa Inggris tertulis di kitab. Sinta tidak mengartikannya dalam bahasa jawa seperti layaknya santri lain. Hanif membatin, rupanya Sinta sudah menguasai Bahasa Arab. Entah makan apa dia selama liburan hingga bisa berkembang secepat ini. (Hitam dan Putih, 2012;173)
c.       Raziq
Raziq adalah sosok anak yang periang, suka menolong teman-temannya dan berpenampilan sederhana meskipun ia dari golongan anak pengusaha  kaya, hal ini dapat dilihat dalam kutipan :
“Hanif memperhatikan seragam putih yang dikenakan Raziq. Seragam itu terlihat kumal dengan sedikit lubang di bagian ketiaknya. Sepatunya juga sudah tidak berwarna jelas. Putih tidak, kuning juga tidak. “Ziq, bajumu belum dikasih makan ya?” Hanif menyindir. Raziq mengerti maksud Hanif. Ia mengangkat lengannya. “Ooo . . ., ini bukannya lapar, Nif, tapi kangen sana pacarnya. Jadinya bebgong sampai melongo kayak gini,” jawab Raziq santai, ia melangkahkan kakinya kembali. (Hitam dan Putih;2012;95)
Dilain itu juga terkadang Raziq ceroboh, sehingga membuat celaka dirinya sendiri dan orang lain, yitu kekasihnya, dapat dilihat dalam kutipan ini :
“sementara itu, si sopir truk kaget bukan kepalang. Mulutnya terbuka lebar. Matanya membelalak. Ia menghentikan truknya. Bersama temannya, sopir itu turun dan menatap lekat tubuh Raziq dan Nia yang tergeletak tak bergerak. (Hitam dan Putih;2012;153)

d.      Kiai Ali
Kiai Ali adalah pengasuh dari Pesantren Darul Fikri, beliau memegang peranan penting dalam semua kegiatan di Pesantren Darul Fikri, wataknya yang baik, sabar, beliau juga ahli dalam bidang ilmu filsafat dan tafsir, semua itu membuat Bu Nyai jatuh cinta dan menerima lamaran Kiai, hal ini dapat dilihat pada kutipan :
“Kiai Ali terkenal keahliannya dalam ilmu filsafat dan tafsir, dilain itu juga Kiai menguasai tujuh Bahasa ini juga ahli dalam pengobatan tradisional, tak jarang orang-orang yang berobat datang dari luar kota, bahkan luar Jawa, semua keahlian itulah yang membuat Bu Nyai jatuh cinta dan mau menerima lamaran Kiai Ali, walaupun pwebedaan usia keduanya terlampau jauh. Yaitu tiga puluh lima tahun sedangkan Bu Nyai masih berusia tujuh belas tahun, saying mereka belum dikaruniai anak sampai kini. (Hitam dan Putih;2012;27)

Dilain itu juga Kiai Ali bijak dalam menanggapi dan memutuskan ketika santrinya mengalami musibah perkelahian di dalam pesantren yang pada akhirnya santri yang bersalah dikeluarkan dari pesantren.
“Sayangnya, seorang Kiai tak bisa menjilat ludahnya sendiri. Keputusan Kiai Ali sudah bulat. Ia tak ingin nama Pesantren tercemar lantaran harus menpertahankan seorang santri yang telah melakukan dosa besar. Tak sampai hati sebenarnya Kiai Ali mengeluarkan Mirza dari pesantrennya. Ia terlanjur menyayangi Mirza seperti anaknya sendiri. Namun, peraturan harus di tegakkan. Ia harus bisa bersikap tegas. (Hitam dan Putih;2012;68)

Secara garis besar, ada dua teknik pelukisan tokoh, yaitu teknik uraian (telling) dan teknik ragaan (showing) (Abrams, 1981:21) atau oleh Altenbernd dam Lewis (1966:56) disebut teknik penjelasan, ekspositori (Expositori) dan teknik dramatic (dramatic).






b.      Alur Cerita
1.      IDENTITAS NOVEL

Judul                           : Hitam dan Putih
Pengarang                   : Mushtofa Achmad
Penerbit                       : DIVA Press
Tempat Penerbit          : Jl. Wonosari, Baturetno Jogjakarta
Edisi                            : Februari 2012
Jumalah Halaman        : 377

2.      BAGIAN – BAGIAN NOVEL
1)      Mukadimah ( 9 – 16 )
2)      Hari Yang Cerah ( 17 – 42 )
3)      Perkelahian di Hari Jumat ( 43 – 69 )
4)      Putus Cinta ( 70 -91 )
5)      Air Mata Hanif (92 – 114 )
6)      Mencontek dan Menembak ( 115 – 135 )
7)      Kisah di Bus Kota ( 136 – 150 )
8)      Pernikahan (151 – 163 )
9)      Back To School ( 164 – 180 )
10)  Berita Duka ( 181 – 194 )
11)  Awal Sebuah Langkah ( 195 – 210 )
12)  Casting ( 211 – 226 )
13)  Ia Bernama Gus Manaf ( 227 – 236 )
14)  Perasaan yang Sama ( 237 – 255 )
15)  Naik Daun ( 256 – 271 )
16)  Terkenal ( 272 – 285 )
17)  Pacar Baru Hanif ( 286 – 300 )
18)  Semakin Tersesat ( 301 – 314 )
19)  Setelah Kelulusan ( 315 – 334 )
20)  Surat Dari Kiai ( 335 – 352 )
21)  Dialog Membawa Cinta ( 353 – 372 )
22)  Akhir Sebuah Kisah ( 373 – 376 )

3.      MASALAH – MASALAH / PERISTIWA DALAM NOVEL HITAM PUTUH
1)      Mukadimah ( 9 – 16 )
Pada bagian ini menceritan tentang
3.1.1 Suasana Pesanten yang tenang menjadi terusik akibat seorang santri yang asyik dengan handphone-nya berbincang mesra dengan sang pujaan hati.
3.1.2 Hnif teringat pada masa lalunya yaitu kepada Winda. Pada saat itu    hanif senang sekali dan cintanya diterima oleh Winda. Dan saat itu juga Hanif bertekad unruk belajar menjahui cinta. Karena Hanif putus dengan Winda.
3.1.3 Suasana Pesanteren beranjak sunyi hanya terdengar gumam beberapa santri yang sedang mengaji di Masjid maupun asrama.


2)      Hari Yang Cerah (17 – 42)
Pada bab ini menceritakan tentang
3.2.1        Aktifitas di sekeliling pesantren dan pasar Cikrak pukul 05.30, para petani beriring-iringan ke sawah dan warung-warung kopi di sekitar pasar telah buka.
3.2.2        Ada murid baru ke Pesantren dan Madrasah dari Surabaya,namanya Sinta. Sinta juga sekelas dengan Hanif, Hanifpun terpesona dengan kecantikannya Sinta.
3.2.3        Teman-temanyapun ingin menjodohkan Hanif dengan Sinta, karena mereka cocok dan berasal dari kota yang sama, tetapi usaha teman-teman Hanif nihil, karena Hanif sudah tak ingin lagi membahas cewe apalagi pacaran.
3.2.4         Teman – teman Hanif tetap berusaha agar Sinta tidak dengan orang lain. Dan akhirnya Hanif pun mau mendekati Sinta karena Hanif tidak ingin Sinta dekat dengan Gilang, kakak kelas yang sekaligus pelatih silat yang pernah mencederai kaki Hanif hingga patah. Ketika pelajaran kembali dimulai Hanif melancarkan aksinya dengan menggoda Sinta, dan akhirnya Hanif mendapatkan nomor HP Sinta.

3)      Perkelahian Di Hari Jum’at (43 – 69)

            Pada bab ini menceritakan tentang
            3.3.1     Pada hari jumat Hanif ingin pergi berjalan-jalan ke Kota karena hari itu bebas (libur).Sesampai di kota, Hanif mampir ke warung kopi, dan ia membeli kopi dan sebungkus sarapan.
            3.3.2     Tiba – tiba Mirza datang menghampiri Hanif, dan selang beberapa menit datang pemuda berkumis tipis dan memakai topi bisbol, namanya Vega. Vega mencari Mirza lantaran Mirza merebut Lestari darinya.Dan akhirnya mereka bertengkar, Hanif juga ikut berpartisipasi.Perkelahian tersebut terhenti saat ada polisi yang datang dan menangkap mereka semua yang terlibat.
            3.3.3  Mereka dibawa ke kantor polisi dan beberapa jam kemudian Pak Kiai Ali datang untuk menjemput Hanif dan Mirza. Sesampainya di rumah, mereka dinasihati untuk tidak seperti itu lagi dan akhirnya Mirza pun dikembalikan keorang tuanya karena ia sudah mencemarkan nama baik pesantren dan bahkan sampai ML.


4)      Putus Cinta ( 70 – 91 )
Pada bab ini menceritakan tentang
3.4.1     Setelah Mirza pulang ke Bojonegoro, para warga dan orang-orang               luar pesantern sudah mendengar berita tidak sedap itu, bahkan ada yang menganggap Hanif lah yang berhungan dengan Lestari.
3.4.2     Bahkan Sinta si pacar Hanifpun sudah dengar berita itu dan Sinta juga menganggap Haniflah yang telah berhubungan dengan Lestari.
3.4.3     Dan pada saat itu Hanif mengaku kepada Sinta walaupun berita itu tidak benar sama sekali, dan akhirnya mereka berdua putus.

5)      Air mata Hanif ( 92 – 114 )
 Pada bab ini menceritakan tentang
      3.5.1     Hanif sakit karena terlalu lama terkena hawa dingin dan kurang tidur. Pada hari itu Hanif tidak berangkat sekolah.
      3.5.2     Pada saat itu Ibu Hanif telepon dan Hanifpun segera mengangkat telepon itu. Ibu hanif meminta Hanif cepat pulang karena Fitri adik Hanif mau menikah.
      3.5.3     Pada saat itu ibu Ratna memanggil Hanif, dan teman-temennya bilang bahwa Hanif tidak enak badan.
      3.5.4     Sinta bingung dan pusing karena banyak materi yang harus ia kuasai.
      3.5.5 Sinta akan membayar adsministrasi, sesampainya di loket pembayaran ternyata antreannya panjang. Dan tiba-tiba Gilang datang dan membantu agar Sinta tidak susah-susah mengantri.
      3.5.6     Sinta masih memikirkan kembali perasaannya terhadap Hanif. Ia harus mengakui bahwa rasa cinta itu masih dalam meski Hanif telah melukainya.
      3.5.7     Rasiq memberi informasi pada Hanif tentang apa yang dia liat dalam perjalanan pulang yaitu Sinta sedang dekat sama Gilang. Teman-teman Hanif tidak setuju Sinta dekat dengan Gilang.
      3.5.8     Hanif mendekam di dalam kamar mandi, berdiri tanpa melakukan apapun. Hanif tak dapat menahan perih ketika mendengar Sinta di dekati pria lain. Rasa cemburu telah sukses membuat hatinya terkoyak.

6)      Mencontek dan Menembak (115 – 135)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.6.1     Hanif kebingungan karena Hanif tidak bisa mengerjakan soal ujian. Lalu Hanif mencontek kepada Rudi dan akhirnya Rudi ketahuan dan terpaksa menyelesaikan soal ujian di ruang kepala sekolah.
      3.6.2     Raziq akan menembak seorang cewe yang bernama Nia, keduanya akan kencan menonton konser Peterpan.
      3.6.3     Sesudah itu Raziq membawa Nia ke kafe. Di kafe itu Raziq menembak Nia, tetapi Nia diam saja karna malu dilihat orang-orang banyak.
      3.6.4     Akhirnya Nia menerima Raziq saat perjalan pulang dari kafe.Dan pada saat itu Raziq dan Nia tertabrak truk dan mereka terjatuh dan dibawa ke rumah sakit.

7)      Kisah di Bus Kota (136 – 150)
Pada bab ini menceritakan tentang

            3.7.1     Pulangnya Hanif ke Kampung halamanya. Pada saat itu Hanif naik bus, dan di dalam bus ada seorang gadis muda yang menyapa, ia bernama Wanda. Mereka bertuakr cerita dan Wanda sempat meminta nomor HP hanif.
8)      Pernikahan (151 -163)
            Pada bab ini menceritakan tentang
            3.8.1     pernikahan Fitri adik Hanif. Pada saat itu Hanif menerima telepon dari Sinta, ternyata Sinta ingin bertemu dengan Hanif.Pagi harinya Sinta dating ke rumah Hanif dan sempat pula berkenalan dengan ibu Hanif.Tetapi Sinta tidak lama di rumah Hanif karena Sinta diajak ibunya pergi ke Malang.
                                    3.8.2     Siang berlalu, malampun datang, malam itu Wanda datang untuk menemui Hanif dan mengunjungi hajatannya Fitri.
                                    3.8.3     Hanif menyanyi di pernukahan Fitri. Wanda terkesima dengan kemerduan suara Hanif, hingga lupa untuk minum es sirup yang sudah ada di tangannya.
                                    3.8.4     Pikiran Wanda melayang dibayangkan jika takdir menggariskannya untuk dapat memiliki cinta lelaki yang telah mencuri hatinya, yaitu Hanif.


9)      Back To School (164 – 180)

            Dalam bab ini menceritakan tentang

                                    3.9.1     Kembalinya Hanf ke Pesanten, perubahan pesantren begitu pesat.Yaitu dinding pembatasnya telah dipasangi kawat berduri, dagangan di kopersi lebih komplit dan sebuah wartel dan tempat fotokopi dibangun di sampingnya.
                                    3.9.2     Hanif membawa oleh-oleh dari kampungnya kepada Raziq dan teman teman lainnya.Sarung tinju untuk Raziq dan sebungkus kue getuk dan rujak cingur untuk teman-teman lainnya.
                                    3.9.3     Seusai shalat isa para santri dikumpulkan di Masjid dan Kiai Ali memberikan ceramah. Ditengah-tengah ceramah itu tiba-tiba HP Hanif berbunyi, ternyata Wandalah yang menelpon.Wanda sedang sedih karena calon suaminya telah membohonginya, ternyata calon suaminya itu sudah mempunyai istri.Wanda ingin bertemu dengan Hanif.
                                    3.9.4     Pukul empat sore Hanif menuju Stasiun Radio Gita Pati FM tempat Wanda bekerja. Ketika Hanif datang Wanda masih siaran, beberapa menit kemudian Wanda keluar menemui Hanif. Wanda pun curhat, dan ia juga akan pergi ke Jakarta.
10)  Berita Duka (181 – 194)

Pada bab ini menceritakan tentang

            3.10.1   Meninggalya ibu Hanif. Sewaktu hanif tengah duduk di teras asrama, tiba-tiba HPnya berdering dan Thohir yang memelpon mengabarkan bahwa ibunya meninggal.
            3.10.2   Hanif beserta Kiai Ali dan teman-teman pesantrennya berangkat ke rumah Hanif untuk melayat. Sesampai disana tubuh Hanif lemas dan pucat.Seusai dimakamkan rombongan pesatren menginap di rumah Hanif.
            3.10.3   Di sekolah bu Tyas meminta Sinta untuk mengelola lembaganya yaitu kursus bahasa inggris. Karena Sinta pandai dan mahir dalam bahasa inggrisnya.

11)  Awal Sebuah Langkah (195 – 210)

Pada bab ini menceritakan tentang

            3.11.1 Hanif yang akhirnya memilih keluar dari pesantrennya dan akanbekerja di Surabaya. Akhirnya Hanif mendapat kerja disebuah toko pakaian milik Bu Yanti.
            3.11.2    Sementara itu Sinta menjalani hari pertamanya berdiri mengajar di depan kelas milik Bu Tyas. Sinta selalu teringat dengan Hanif begitu juga dengan empat kawannya.
            3.11.3    Sepulang Hanif pulang kerja Thohir memberi tahu bahwa ada lowongan iklan casting di Jakarta.
            3.11.4    Hanifpun segera bergegas mengambil keputusannya yang siap ke Jakarta dengan segala resikonya.

12)  Casting (211 – 226)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.12.1   Hanif yang sudah di Jakarta dan siap untuk mengikuti casting.                                      Di Jakarta Hanif tinggal bersama pamannya yaitu pak Yasman.
      3.12.2   Pada suatu hari Hanif datang ke kantor E-sis Production dan mengikuti casting.
      3.12.3   Setelah casting, Hanifpun pulang dengan psimis karena tidak yakin akan diterima castingnya. Paman terus memberi semangat agar Hanif tetap semangat dan optimis lagi.
      3.12.4   Keesokan harinya Hanif dan Pamannya ke kantor E-sis Production untuk mendengar pengumaman casting. Setelah beberapa lama, nomor antrian Hanif tidak dipanggil-panggil.
      3.12.5   Hanif hampir putus asa dan siap melangkah pulang, lalu panitia mengatakan “oke, berikutnya adalah nomor 21 sebagai peran utama” Hanif menghentikan langkahnya, Allahuakbar teriak Hanif dalam hati. Hanif diterima sebagai peran utama dalam casting tersebut.

13)  Ia Bernama Gus Manaf (227 – 236)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.13.1   Gus Manaf adalah keponakan dari Kiai Ali yang baru saja melanjutkan study di Al-Azhar, Kairo.
      3.13.2   Gus Manaf ditugaskan untuk mengajar di Pesantrennya Kiai Ali, yaitu mengajar mahfuzhat pada para satriwati.
      3.13.3   Gus Manaf terpesona dengan Sinta, yang cantik dan pintar karena ia mengajar les di tempat Bu Tyas.

14)   Perasaan Yang Sama (237 – 255)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.14.1   Hanif kurang berbobot dan sang sutradara meminta Hanif untuk jangan telat makan.
      3.14.2   Di Pesantren Sinta dikasih hadiah berupa kerudung oleh Gus Manaf. Gus manaf akan mendekati Sinta dengan cara yang yang diajarkan oleh pak de.
      3.14.3   Sementara itu waktu Hanif sedang break, Hanif melihat Wanda. Wanda semakin kagum dan jatuh cinta pada Hanif.

15)   Naik Daun (226 – 271)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.15.1   Gus Manaf ingin menikahi Sinta, tetapi Sinta masih ragu, Sinta masih cinta dengan Hanif dan Sintapun sekarang tidak cinta sama sekali dengan Gus Manaf.
      3.15.2   Pada suatu hari teman-teman Sinta membawa surat kabar yang isinya kesuksesan Hanif. Sinta dan teman-temannya      bangga melihat itu, sementara itu rasa cinta Sinta kepada Hanif tumbuh lagi.

16)   Terkenal (272 – 285)
Pada bab ini menceritakan tentang

      .3.16.1  Keberhasilan Sinta dan Hanif.Sinta yang terkenal lantaran sudah pintar mengajar murid lesnya dan sekarang Sinta sering mengisi ceramah-ceramah di Masjid sekitar pesantren.Sementara itu Hanif yang terkenal dipublik figure.
      3.16.2   Masyarakat telah mengenal Sinta, kalau dulu Sinta pernah menjadi pacar Hanif sang public figure yang terkenal itu.

17)   Pacar Baru Hanif (286 – 300)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.17.1   Winda yang menembak Hanif. Seusai mereka berdua menghadiri pesta pernikahan anak pejabat daerah, mereka berdua duduk disuatu taman.
      3.17.2   Winda menyatakan perasaan yang sebenarnya bahwa ia cinta kepada Hanif.
      3.17.3    Hanif menerima cintanya Winda walaupun Hanif masih sering teringat sama Sinta sang mantannya itu.

18)   Senakin Tersesat (301 – 314)
Pada bab ini menceritakn tentang

      3.18.1   Semakin tersesatnya Hanif.
      3.18.2   Hanif banyak minum minuman keras.
      3.18.3   Hanif tak mampu berdansa lagi.
      3.18.4   Hanif tak sadarkan diri.
      3.18.5   Hanif melakukannya dengan wanda, wandapun pasrah karena Wanda sangat cinta dengan Hanif.

19)   Setelah kelulusan (315 – 334)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.19.1   Adik Hanif naik ke kelas 3.
      3.19.2   Teman-temannyapun yang dari pesantren juga lulus.
      3.19.3   Teman-temannya Hanif ada yang meneruskan kuliah, ada juga yang pulang ke kampung halaman masing-masing.
      3.19.4   Hanif selingkung dengan penggemarnya.
      3.19.5  Wanda marah habis-habisan kepada Hanif.
      3.19.6   Wanda menghentikan amarahnya, karena Wanda sangat cinta dengan Hanif.
      3.19.7   Hanif ingin memutus hubungan dengan Wanda, karena rasa cintanya kepada Wanda belum ada.
      3.19.8   Teman-teman pesantrennya Hanif datang untuk berbincang-bincang.
      3.19.9   Teman-teman Hanif tak menyangka bahwa Hanif telah berubah.
      3.19.10 Hanif suka merokok dan minum-minuman keras.

20)   Surat dari Kia (335 – 353)
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.20.1   Sinta bermimpi Kia Ali berpakaian Jawa.
      3.20.2   Sinta mengajak Hanif ke Pesantren karena perasaannya tidak enak.
      3.20.3   Sesampainya di Pesantren ternyata kia Ali sudah meninggal.
      3.20.4   Beliau berpesan supaya tidak mementingkan nafsu duniawi, melainkan berpedoman pada jalan yang lurus, karena kesuksesan bukanah segalanya.

21)   Dialog membawa cinta (253 – 273 )
Pada bab ini menceritakan tentang

      3.21.1   Rencana Hanif ingin melamar Sinta, tetapi hubungan Hanif denagn Wanda belum berakhir.
      3.21.2   Hanif menemui Wanda di ruang radionya.
      3.21.3   Hanif berbicara langsung kepada Wanda, bahwa hubungan mereka sudah tidak cocok lagi.
      3.21.4   Wanda terkejut dengan alasan Hanif.
      3.21.5   Tiba-tiba telepon Hanif berdering, telepon dari Sinta rupanya.
      3.21.6   Mendengar Hanif sedang telepon dengan Sinta, Wanda shok, diangkatnya equalizer untuk menghantam Hanif.
      3.21.7   Seketika Hanif pingsan.
      3.21.8   Datanglah Sinta melihat Hanif tergeletak pingsan Sinta shok.
      3.21.9   Sinta dan Wanda berantem.
      3.21.10 Wanda melompat dari jendela.Wanda meninggal.

22)   Akhir sebuah kisah ( 273 – 276 )
Pada bab ini menceritakan tentang
      3.22.1   Setelah satu tahun Hanif Dan Sinta menikah dan mempunyai anak bernama Wanda Mussaffa.
      3.22.2   Kini Hanif tidak lagi menjadi artis melainkan melainkan menjadi penulis buku dan novel.
      3.22.3   Berkat kerja kerasnya Hanif sudah mempunyai rumah di pinggir Jakarta.
      3.22.4   Hanif ingin menyantri lagi.
      3.22.5   Mereka hidup bahagia.                       




4.      JALINAN PERISTIWA
(bagian 3.1.1) Suasana Pesanten yang tenang menjadi terusik akibat seorang santri yang asyik dengan handphone-nya berbincang mesra dengan sang pujaan hati. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.1.2) Hanif teringat pada masa lalunya yaitu kepada Winda.Pada saat itu hanif senang sekali dan cintanya diterima oleh Winda.Dan saat itu juga Hanif bertekad unruk belajar menjahui cinta.Karena Hanif putus dengan Winda. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.1.2 ) Suasana Pesanteren beranjak sunyi hanya terdengar gumam beberapa santri yang sedang mengaji di Masjid maupun asrama.
(bagian 3.2.2) Ada murid baru ke Pesantren dan Madrasah dari Surabaya,namanya Sinta. Sinta juga sekelas dengan Hanif, Hanifpun terpesona dengan kecantikannya Sinta.Mengakibatkan peristiwa (bagian3.2.3) Teman-temanyapun ingin menjodohkan Hanif dengan Sinta, karena mereka cocok dan berasal dari kota yang sama, tetapi usaha teman-teman Hanif nihil, karena Hanif sudah tak ingin lagi membahas cewe apalagi pacaran. Mengakibatkan perisriwa (bagian 3.2.4)  Teman – teman Hanif tetap berusaha agar Sinta tidak dengan orang lain. Dan akhirnya Hanif pun mau mendekati Sinta karena Hanif tidak ingin Sinta dekat dengan Gilang, kakak kelas yang sekaligus pelatih silat yang pernah mencederai kaki Hanif hingga patah.Ketika pelajaran kembali dimulai Hanif melancarkan aksinya dengan menggoda Sinta, dan akhirnya Hanif mendapatkan nomor HP Sinta.
(bagian 3.3.1) Pada hari jumat Hanif ingin pergi berjalan-jalan ke Kota karena hari itu bebas (libur). Sesampai di kota, Hanif mampir ke warung kopi, dan ia membeli kopi dan sebungkus sarapan.  Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.3.2) Tiba – tiba Mirza datang menghampiri Hanif, dan selang beberapa menit datang pemuda berkumis tipis dan memakai topi bisbol, namanya Vega.Vega mencari Mirza lantaran Mirza merebut Lestari darinya.Dan akhirnya mereka bertengkar, Hanif juga ikut berpartisipasi.Perkelahian tersebut terhenti saat ada polisi yang datang dan menangkap mereka semua yang terlibat. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.3.3)  Mereka dibawa ke kantor polisi dan beberapa jam kemudian Pak Kiai Ali datang untuk menjemput Hanif dan Mirza. Sesampainya di rumah, mereka dinasihati untuk tidak seperti itu lagi dan akhirnya Mirza pun dikembalikan keorang tuanya karena ia sudah mencemarkan nama baik pesantren dan bahkan sampai ML.
(bagian 3.4.1) Setelah Mirza pulang ke Bojonegoro, para warga dan orang-orang luar pesantern sudah mendengar berita tidak sedap itu, bahkan ada yang menganggap Hanif lah yang berhungan dengan Lestari.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.4.2) Bahkan Sinta si pacar Hanifpun sudah dengar berita itu dan Sinta juga menganggap Haniflah yang telah berhubungan dengan Lestari. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.4.3) Dan pada saat itu Hanif mengaku kepada Sinta walaupun berita itu tidak benar sama sekali, dan akhirnya mereka berdua putus.
(bagian 3.5.1) Hanif sakit karena terlalu lama terkena hawa dingin dan kurang tidur.Pada hari itu Hanif tidak berangkat sekolah.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.5.3) Pada saat itu ibu Ratna memanggil Hanif, dan teman-temennya bilang bahwa Hanif tidak enak badan. (bagian 3.5.2) Pada saat itu Ibu Hanif telepon dan Hanifpun segera mengangkat telepon itu.Ibu hanif meminta Hanif cepat pulang karena Fitri adik Hanif mau menikah. (bagian 3.5.4) Sinta bingung dan pusing karena banyak materi yang harus ia kuasai. (bagian 3.5.5) Sinta akan membayar adsministrasi, sesampainya di loket pembayaran ternyata antreannya panjang. Dan tiba-tiba Gilang datang dan membantu agar Sinta tidak susah-susah mengantri. (bagian 3.5.6) Sinta masih memikirkan kembali perasaannya terhadap Hanif.Ia harus mengakui bahwa rasa cinta itu masih dalam meski Hanif telah melukainya. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.5.7) Rasiq memberi informasi pada Hanif tentang apa yang dia liat dalam perjalanan pulang yaitu Sinta sedang dekat sama Gilang. Teman-teman Hanif tidak setuju Sinta dekat dengan Gilang.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.5.8) Hanif mendekam di dalam kamar mandi, berdiri tanpa melakukan apapun. Hanif tak dapat menahan perih ketika mendengar Sinta di dekati pria lain. Rasa cemburu telah sukses membuat hatinya terkoyak.
(bagian 3.6.1) Hanif kebingungan karena Hanif tidak bisa mengerjakan soal ujian.Lalu Hanif mencontek kepada Rudi dan akhirnya Rudi ketahuan dan terpaksa menyelesaikan soal ujian di ruang kepala sekolah. (bagian 3.6.2) Raziq akan menembak seorang cewe yang bernama Nia, keduanya akan kencan menonton konser Peterpan. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.6.3) Sesudah itu Raziq membawa Nia ke kafe.Di kafe itu Raziq menembak Nia, tetapi Nia diam saja karna malu dilihat orang-orang banyak.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.6.4) Akhirnya Nia menerima Raziq saat perjalan pulang dari kafe.Dan pada saat itu Raziq dan Nia tertabrak truk dan mereka terjatuh dan dibawa ke rumah sakit.
(bagian 3.7.1) Pulangnya Hanif ke Kampung halamanya. Pada saat itu Hanif naik bus, dan di dalam bus ada seorang gadis muda yang menyapa, ia bernama Wanda. Mereka bertuakr cerita dan Wanda sempat meminta nomor HP hanif. (bagian 3.8.1) pernikahan Fitri adik Hanif. Pada saat itu Hanif menerima telepon dari Sinta, ternyata Sinta ingin bertemu dengan Hanif.Pagi harinya Sinta dating ke rumah Hanif dan sempat pula berkenalan dengan ibu Hanif.Tetapi Sinta tidak lama di rumah Hanif karena Sinta diajak ibunya pergi ke Malang.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.8.2) Siang berlalu, malampun datang, malam itu Wanda datang untuk menemui Hanif dan mengunjungi hajatannya Fitri.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.8.3) Hanif menyanyi di pernukahan Fitri.Wanda terkesima dengan kemerduan suara Hanif, hingga lupa untuk minum es sirup yang sudah ada di tangannya.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.8.4) Pikiran Wanda melayang dibayangkan jika takdir menggariskannya untuk dapat memiliki cinta lelaki yang telah mencuri hatinya, yaitu Hanif.
(bagian 3.9.1) Kembalinya Hanf ke Pesanten, perubahan pesantren begitu pesat.Yaitu dinding pembatasnya telah dipasangi kawat berduri, dagangan di kopersi lebih komplit dan sebuah wartel dan tempat fotokopi dibangun di sampingnya.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.9.2) Hanif membawa oleh-oleh dari kampungnya kepada Raziq dan teman teman lainnya.Sarung tinju untuk Raziq dan sebungkus kue getuk dan rujak cingur untuk teman-teman lainnya.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.9.3) Seusai shalat isa para santri dikumpulkan di Masjid dan Kiai Ali memberikan ceramah.Ditengah-tengah ceramah itu tiba-tiba HP Hanif berbunyi, ternyata Wandalah yang menelpon.Wanda sedang sedih karena calon suaminya telah membohonginya, ternyata calon suaminya itu sudah mempunyai istri.Wanda ingin bertemu dengan Hanif.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.9.4) Pukul empat sore Hanif menuju Stasiun Radio Gita Pati FM tempat Wanda bekerja.Ketika Hanif datang Wanda masih siaran, beberapa menit kemudian Wanda keluar menemui Hanif. Wanda pun curhat, dan ia juga akan pergi ke Jakarta.
(bagian 3.10.1) Meninggalya ibu Hanif.Sewaktu hanif tengah duduk di teras asrama, tiba-tiba HPnya berdering dan Thohir yang memelpon mengabarkan bahwa ibunya meninggal.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.10.2) Hanif beserta Kiai Ali dan teman-teman pesantrennya berangkat ke rumah Hanif untuk melayat.Sesampai disana tubuh Hanif lemas dan pucat.Seusai dimakamkan rombongan pesatren menginap di rumah Hanif. (bagian 3.10.3) Di sekolah bu Tyas meminta Sinta untuk mengelola lembaganya yaitu kursus bahasa inggris.Karena Sinta pandai dan mahir dalam bahasa inggrisnya.
(bagian 3.11.1) Hanif yang akhirnya memilih keluar dari pesantrennya dan akanbekerja di Surabaya.Akhirnya Hanif mendapat kerja disebuah toko pakaian milik Bu Yanti.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.11.3) Sepulang Hanif pulang kerja Thohir memberi tahu bahwa ada lowongan iklan casting di Jakarta.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.11.4) Hanifpun segera bergegas mengambil keputusannya yang siap ke Jakarta dengan segala resikonya.  (bagian 3.11.2) Sementara itu Sinta menjalani hari pertamanya berdiri mengajar di depan kelas milik Bu Tyas. Sinta selalu teringat dengan Hanif begitu juga dengan empat kawannya.
(bagian 3.12.1) Hanif yang sudah di Jakarta dan siap untuk mengikuti casting.Di Jakarta Hanif tinggal bersama pamannya yaitu pak Yasman. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.12.2) Pada suatu hari Hanif datang ke kantor E-sis Production dan mengikuti casting. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.12.3) Setelah casting, Hanifpun pulang dengan psimis karena tidak yakin akan diterima castingnya. Paman terus memberi semangat agar Hanif tetap semangat dan optimis lagi. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.12.4) Keesokan harinya Hanif dan Pamannya ke kantor E-sis Production untuk mendengar pengumaman casting. Setelah beberapa lama, nomor antrian Hanif tidak dipanggil-panggil.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.12.5) Hanif hampir putus asa dan siap melangkah pulang, lalu panitia mengatakan “oke, berikutnya adalah nomor 21 sebagai peran utama” Hanif menghentikan langkahnya, Allahuakbar teriak Hanif dalam hati.Hanif diterima sebagai peran utama dalam casting tersebut. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.14.1) Hanif kurang berbobot dan sang sutradara meminta Hanif untuk jangan telat makan. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.14.3) Sementara itu waktu Hanif sedang break, Hanif melihat Wanda. Wanda semakin kagum dan jatuh cinta pada Hanif.mengakibatkan peristiwa (bagian 3.15.2) Pada suatu hari teman-teman Sinta membawa surat kabar yang isinya kesuksesan Hanif. Sinta dan teman-temannya       bangga melihat itu, sementara itu rasa cinta Sinta kepada Hanif tumbuh lagi.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.16.1) Keberhasilan Sinta dan Hanif.Sinta yang terkenal lantaran sudah pintar mengajar murid lesnya dan sekarang Sinta sering mengisi ceramah-ceramah di Masjid sekitar pesantren.Sementara itu Hanif yang terkenal dipublik figure. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.16.2) Masyarakat telah mengenal Sinta, kalau dulu Sinta pernah menjadi pacar Hanif sang public figure yang terkenal itu.
(bagian 3.13.1) Gus Manaf adalah keponakan dari Kiai Ali yang baru saja melanjutkan study di Al-Azhar, Kairo. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.13.2) Gus Manaf ditugaskan untuk mengajar di Pesantrennya Kiai Ali, yaitu mengajar mahfuzhat pada para satriwati. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.13.3) Gus Manaf terpesona dengan Sinta, yang cantik dan pintar karena ia mengajar les di tempat Bu Tyas.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.14.2) Di Pesantren Sinta dikasih hadiah berupa kerudung oleh Gus Manaf. Gus manaf akan mendekati Sinta dengan cara yang yang diajarkan oleh pak de. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.15.1) Gus Manaf ingin menikahi Sinta, tetapi Sinta masih ragu, Sinta masih cinta dengan Hanif dan Sintapun sekarang tidak cinta sama sekali dengan Gus Manaf.
(bagian 3.17.1) Winda yang menembak Hanif. Seusai mereka berdua menghadiri pesta pernikahan anak pejabat daerah, mereka berdua duduk disuatu taman. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.17.2) Winda menyatakan perasaan yang sebenarnya bahwa ia cinta kepada Hanif. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.17.3) Hanif menerima cintanya Winda walaupun Hanif masih sering teringat sama Sinta sang mantannya itu.
(bagian 3.18.1) Semakin tersesatnya Hanif.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.18.2) Hanif banyak minum minuman keras.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.18.3)      Hanif tak mampu berdansa lagi.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.18.4) Hanif tak sadarkan diri.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.18.5) Hanif melakukannya dengan wanda, wandapun pasrah karena Wanda sangat cinta dengan Hanif.
(bagian 3.19.1) Adik Hanif naik ke kelas 3.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.2) Teman-temannyapun yang dari pesantren juga lulus.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.3) Teman-temannya Hanif ada yang meneruskan kuliah, ada juga yang pulang ke kampung halaman masing-masing. (bagian 3.19.4) Hanif selingkung dengan penggemarnya.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.5) Wanda marah habis-habisan kepada Hanif.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.6) Wanda menghentikan amarahnya, karena Wanda sangat cinta dengan Hanif.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.7) Hanif ingin memutus hubungan dengan Wanda, karena rasa cintanya kepada Wanda belum ada. (bagian 3.19.8) Teman-teman pesantrennya Hanif datang untuk berbincang-bincang.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.9) Teman-teman Hanif tak menyangka bahwa Hanif telah berubah.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.19.10) Hanif suka merokok dan minum-minuman keras.
(bagian 3.20.1)      Sinta bermimpi Kia Ali berpakaian Jawa.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.20.2) Sinta mengajak Hanif ke Pesantren karena perasaannya tidak enak. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.20.3) Sesampainya di Pesantren ternyata kia Ali sudah meninggal. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.20.3) Beliau berpesan supaya tidak mementingkan nafsu duniawi, melainkan berpedoman pada jalan yang lurus, karena kesuksesan bukanah segalanya.
(bagian 3.21.1) Rencana Hanif ingin melamar Sinta, tetapi hubungan Hanif denagn Wanda belum berakhir.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.2) Hanif menemui Wanda di ruang radionya.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.3) Hanif berbicara langsung kepada Wanda, bahwa hubungan mereka sudah tidak cocok lagi.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.4) Wanda terkejut dengan alasan Hanif.mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.5) Tiba-tiba telepon Hanif berdering, telepon dari Sinta rupanya. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.6) Mendengar Hanif sedang telepon dengan Sinta, Wanda shok, diangkatnya equalizer untuk menghantam Hanif.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.7) Seketika Hanif pingsan.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.8) Datanglah Sinta melihat Hanif tergeletak pingsan Sinta shok. Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.9)  Sinta dan Wanda berantem.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.21.10) Wanda melompat dari jendela.Wanda meninggal.
(bagian 3.22.1) Setelah satu tahun Hanif Dan Sinta menikah dan mempunyai anak bernama Wanda Mussaffa.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.22.2) Kini Hanif tidak lagi menjadi artis melainkan melainkan menjadi penulis buku dan novel.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.22.3) Berkat kerja kerasnya Hanif sudah mempunyai rumah di pinggir Jakarta.Mengakibatkan peristiwa (bagian 3.22.4) Hanif ingin menyantri lagi.Mengakibatkan peristiwa (3.22.5) Mereka hidup bahagia.
5.      TEKNIK PENGEPLOTAN
1.      Konflik (Conflict)
Konflik merupakan peristiwa pertentangan yang menumbuh kembangkan plot. Staton (1965: 16) membagi konflik menjadi 2 yaitu internal dan eksternal. Konflik internal adalah konflik yang terjadi di dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita, misalnya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-konflik eksternal merujuk pada konflik antara tokoh dengan sesuatu di luar dirinya (fisik dan sosial).
Fisik    : adanya benturan antara tokoh dalam lingkugnan alam
Sosial : disebabkan antar manusia.
            Di dalam novel “Hitam dan Putih” konflik eksternal terjadi saat Hanif dan Mirza sedang berbincang di warung kopi pinggir jalan, selang bebebrapa menit datang pemuda berkumis tipis dan memakai topi besbol  menghampiri Hanif dan Mirza, pria itu ingin menemui Mirza karena pacarnya direbut oleh Mirza. Dan akhirnya mereka berantem, hanif juga ikut berpartisipasi.
            “…Hanif sudah berdiri di depan warung. Sementara itu, Mirza mencari perlindungan ke dalam. Orang-orang disekitar hanya memandangi mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka tahu akan terjadi sebuah perkelahian, namun memelih untuk tidak terlibat. Pinter ngomong arek iki. Yo wes nek ngono. Kamu juga pantas untuk dihajar. Vega semakin emosi. Ia melancarkan pukulannya lurus ke arah muka Hanif dengan tangan kanan. Hanif melompat ke samping kirinya, kemudian menendang wajah Vega dengan tendangan lurus yang cukup lekak. Vega terpelanting. Keseimbangannya hilang. Tubuhnya roboh menimpa sebuah tong sampah di samping warung. Topinya terlepas dari kepalanya yang sedikit botak. Pemilik warung hanya melihat perkelahian mereka dengan tenang. Ia sudah terbiasa mengalaminya sewaktu muda dulu. Kedua teman Vega yang masih sehat wal’afiat gantian menyerang Hanif. Mereka melancarkan pukulan secara bersamaan. Hanif menghindar ke belakang hingga pukulan mereka tidak sampai mengenainya, kemudian, Hanif membalas serangan itu dengan memukulkan dengan kedua tangannyaa ke arah muka mereka…” (Hitam dan Putih, 2012: 58-59)

Konflik sosial saat Hanif sudah merasa tidak cocok lagi sama Wanda
            “…Kamu kok kelihatan serius banget. Duduk dulu deh. Biar lebih rileks. Keduanya beranjak ke sofa di sudut ruangan. Ada apa sayang? Tanya Wanda setelah setelah keduanya duduk berdampingan. Mata Wanda memandangai ekspresi dingin wajah Hanif.
            Wanda …., Hanif mulai angkat bicara, sepertinya kita udah nggak bisa lagi jalani cinta kita.
            Apa maksudmu?
            Maksudku…, kita harus berpisah. Putus
            Wanda mersakan hatinya digerayangi kekalutan dan kebimbangan yang menyesakkan…” (Hitam dan Putih, 2012 : 364)

Sdangkan konflik internal dalam novel “Hitam dan Putih” terjadi pada saat Hanif meriang.
“Hah? Sekolah? Oh, aku hari ini nggak masuk dulu. Lagi sakit. Tolong mintakan surat ijin ke kantor, ya, pinta Hanif. Ia mengusap mulutnya yang basah itu dengan sarung. Karena terlalu lama terkena hawa dingin dan kurang tidur, Hanif meriang. Setelah shalat subuh ia langsung merebahkan diri dan pada Umar untuk tidak ikut pengajian kitab Al-Adzkar yang selalu diisi oleh kiai Ali setiap pagi. Beberapa saat kemudian, Hanif sudah tertidur dengan nyenyak. Saking nyenyak tidurnya, ia tak merasakan gigitan di kaki dan wajahnya. Bahkan deru mesin diesel yang selalu dinyalakan setian pagi di samping kamar mandi dekat asramanya seakan tak sampai masuk telinga.Padahal bunyi diesel itu terdengar hingga ke asrama putri. Hanif sudah seperti dalam keadaan koma, sampai Raziq membangunkannya…” (Hitam dan Putih, 2012 : 95)
6.      TENGAHAN (SUSPENSE)
Ketengahan yang membangkitkan rasa ingin tahu pembaca muncul dalam berbagai peristiwa.Dalam novel “Hitam dan Putih” karya Mushtofa Achmad.Ketengahan ini dapat dilihat dalam beberapa kitipan, misal pertama saat ada murid baru ke Madrasah dan ke pondok pesantren.
“oh, iya. Denger-denger, ada santri baru lho di asrama putri, sela Rudi.
Semuanya mengalihkan pandangan ke arah Rudi kecuali Hanif.Ia sudah bosan membicarakan perempuan. Cewek lagi….., cewek lagi. Begitu pikirnya.Hanif justru sibuk mengaduk-aduk es the dihadapannya. Sesekali ia menyapa santri yang lewat..”. (Hitam dan Putih, 2012 :24)
            Kedua saat Hanif kagum dengan pimpinan Pesantern yaitu Kiai Ali.
“Hanif memandang pimpinan pesantrennya itu dengan penuh kekaguman. Kiai Ali adalah sosok kiai tawadhu’ yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya. Tubuhnya kurus karena rajin berpuasa terutama puasa Daud. Kiai itu selalu makan apa yang dimakan para santrinya. Bila menu santrinya sayur asem dan tempe goreng, ia makan-makanan yang sama. Bila menu santrinya sambal dan kerupuk saja, ia pun makan-makanan yang sama”. (Hitam dan Putih, 2012:27)




7.      PERKEMBANGAN PLOT

1.      Situasion (pengarang mulai melukiskan keadaan)
Pada bagian pertama saat Hanif teringat kepada Wanda.
“Mata Hanif menerawang ke atas, berkaca-kaca.Semilir angin menyapa tubuhnya. Tapi tak ia rasakan dingin itu. Hanif mencoba menghadirkan kembali seraut wajah cantik Wanda dalam gumpalan otaknya.Tak butuh waktu lama, segala kenangan indah bersama mantan kekasihnya kembali tersirat.” (Hitam dan Putih, 2012 : 11)

            Pada bagian kedua saat Hanif pulang ke kmpung halaman dan di bus bertemu dengan gadis cantik, ia bernama Wanda.
“Setelah satu jam membaca, Hanif menutup bukunya. Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah pemandangan di balik jendela. Bus berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang.Kemudian melaju lagi.Seorang gadis muda berpakaian santun menyapa Hanif, lalu duduk di sampingnya.Cantik wajahnya yang bagaikan foto model mempesona Hanif.Hanif membalas sapaannya dengan kikuk tanpa mampu mengajaknya bicara.Ia merasakan sungkan. Tiba-tiba saja gadis itu melirik buku di pangkuan Hanif. Itu…, karangan Ernest Hemingway, kan? Hanif mengangguk sembari tersenyum.Mbak tau ya?Ia dong. Gini-gini , aku pecinta sastra, lho. Hehehee ….
Tiba-tiba, gadis itu langsung menjulurkan tangannya, oh, ia nama mas siapa? Hanif bingung ia tak tahu harus menerima uluran tangan itu atau tidak. Ia memang bukanlah santri yang tak seperti umar. Namun Hanif sadar jika paling tidak tidak ia harus menjaga nama baik pesantrennya. Hanif lalu menelungkupkan tangannya, saja Hanif. Gadis itu terkejut buru buru ia menelungkupkan tangannya seperti yang dilakukan Hanif, saya Wanda…” (Hitam dan Putih, 2012 :143-144)
2.      Generating circumtanses
Dalam subklimaks ini menggambarkan saat Hanif keluar dari pesantren.
“Kiai ali menghela nafas. Ia sedikit marah karena Hanif tidak mau menerima tawarannya. Lantas apa yang akan kamu lakukan? Saya akan mencari kerja di Surabaya, Hanif menjawab mantap sembari menatap tajam mata Kiai Ali. Dilihatnya kiai Ali kurang setuju dengan keputusannya.(Hitam dan Putih, 2012 :196)
                        Akibat peristiwa tersebut Hanif akhirnya bekerja di Surabaya di tempat bu Yanti.
“Baik.Kamu diterima kerja di sini. Besok, kamu kamu harus datang jam tujuh tepat dan sudah memajang seluruh pakaian di depan toko, ujar Bu Yanti, si pemilik toko pakaian. Baik, Bu, Insya Allah saya akan datang tepat waktu. Hanif mengangguk paham. (Hitam dan Putih, 2012 :197-198)
Akibat peristiwa tersebut  Hanif sepulang kerja di toko Bu Yanti setelah bekerja beberapa hari, Hanif diberi tahu oleh adiknya yaitu Thohir bahwa di jakarta ada cesting.
“Eh Mas, coba lihat ini.Ada iklan casting pemeran utama film terbarunya Edi Suswanto. Syarat-syaratnya tinggi badan minimal seratus enam puluh lima untk pria, usia di atas tujuh belas tahun, dan memiliki kemampuan bela diri. Sampaian memiliki semua syarat itu, Mas. Thohir menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari koran.
Di mana tempat castingnya?
Di sini tulisannya di kantor E-sis Production, Jakarta Pusat.
Jakarta? Wahh, itu yang sulit.
……………
Tak lama kemudian, Hanif sampai pada suatu keyakinan bahwa semua tindakan pasti ada resikonya dan orang yang berani mengambil keputusan berarti tengah berjalan menuju kesuksesan.Hanifpun memilih untuk menantang resiki itu. Ia hanya berkeyakinan bahwa tak ada kesuksesan tanpa keberanian..” (Hitam dan Putih, 2012 : 209-210)
3.      Rising Action.
Keadaan ini menceritakan Gus Manaf yang ingin menikahi Sinta
“Sampai di sana, Sinta melihat Gus Manaf berdandan rapi dengan baju koko warna putih dan peci kain berwarna hitam.Sinta masuk dan duduk bersebrangan dengan Gus Manaf.Diantara mereka, Kiai Ali dan Bu Nyai telah menempatkan diri.
Ada apa kiai memanggil saya? Sinta bertanya sambil tertunduk malu.Di hadapannya, Gus Manaf terus saja menikmati keindahan wajah Sinta.
Begini Sinta. Kiai Cuma ingin menyampaikan sebuah keinginan Gus Manaf.Kiai membuka pembicaraan. Keinginan apa Kiai .Gus Manaf ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Kiai ali menjawab tanpa basa-basi.
Sinta terkejut bukan kepalang. Pandangannya langsung menuju Gus Manaf..” (Hitam dan Putih, 2012:263)

4.      Climax
Pemaparan Climax pada novel Hitam dan putih ditandai dengan rencana Hanif yang ingin menikahi Sinta, tetapi Hasih berhubungan dengan Wanda.
            “…Kamu kok kelihatan serius banget. Duduk dulu deh. Biar lebih rileks. Keduanya beranjak ke sofa di sudut ruangan. Ada apa sayang? Tanya Wanda setelah setelah keduanya duduk berdampingan. Mata Wanda memandangai ekspresi dingin wajah Hanif.
            Wanda …., Hanif mulai angkat bicara, sepertinya kita udah nggak bisa lagi jalani cinta kita.
            Apa maksudmu?
            Maksudku…, kita harus berpisah. Putus
Wanda mersakan hatinya digerayangi kekalutan dan kebimbangan yang menyesakkan…” (Hitam dan Putih, 2012 : 364)
………….
Kejadian ini membuat Wanda kesal dan sedih kepada Hanif, dan Hanif sempat menampar Wanda dengan cukup keras, Wanda terkejut bukan main. Hanif tersadar ditatapnya Wanda dengan penuh iba.
Lalu tiba-tiba hp Hanif berdering

“..Hanif membalikkan badan seraya meninggalkan Wanda. Seketika hpnya berdering, assalamualaikun, Sinta. Kok telepon malam-malam gini?
Mendengar nama Sinta disebut, Wanda kalap. Diangkatnya sebuah equalizer sebesar koper dengan sekuat tenaga. Dipanggilnya Hanif dengan lembut. Hanif……..
Hanif menoleh dengan hp masih menempel di telinganya. “Ya?”
Duak!!! Hanif jatuh tersungkur. Keningnya bersimbah darah hpnya hancur berantakan. Ia pingsan (Hitam dan Putih 2012 : 366)
Kejadian tersebut mengakibatkan peristiwa yang sangat besar, ketika telepon mati, Sinta mondar-mandir kebingungan mw menyusul Hanif kemana.Tetapi Sinta ingat bahwa Hanif pernah mengatakan tempat kerjanya Wanda. Sinta langsung menyusul ke Studio tempat kerjanya  Wanda. Sementara itu Wanda terengah-engah kelelahan.Tiba-tiba Sinta datang dengan terkejut melihat pemandangan di hadapannya.Wanda dan Sinta terlibat perkelahian, saling dorong dan tarik hingga keluar studio, setelah perkelahian cukup lama, Wanda meloncat melewati jendela, hingga akhirnya Wanda meninggal.


5.      Denovmen.
Dari peristiwa ini adalah akkhr sebuah cerita, menjawab semua yang ada dalam novel Hitam dan Putih.Setelah satu tahun berlalu, Hanif dan Sinta akhirnya menikah dan mempunyai rumah di pinggir Jakarta.Dan mempunyai anak bernama Wanda Musyaffa. Hanif sudah tidak lagi menjadi artis melainkan menjadi penulis buku novel dan kumpulan cerpen
“Satu tahun kemudian… Atas keinginan Sinta, Hanif meninggalkan dunia akting, kini ia lebih memilih berkarier di dunia sastra. Hanif juga akan menjadi seorang santri lagi di sebuah pesantren di Jawa Barat untuk memperdalam ilmu agamanya. Otomatis, wartawan media cetak maupun elektronik jarang meliputnya.Ia bisa bernapas lega sekarang.
Tiga buah novel dan sebuah kumpulan cerpen telah bertengger di hampir semua toko buku. Semuanya Best Sellerdi berbagai kota, khususnya di Jombang. Dari royalti hasil karyanya, ia bisa membeli sebuah rumah di pinggiran Jakarta yang kini dijadikan sebagai “sarang cinta”-nya dengan Sinta” (Hitam dan Putih, 2012 : 373-374).

Teknik ekspositori
Teknik ekspositori ini di kenal juga dengan istilah teknik analitis merupakan pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian atau penjelasan secara langsung mengenai sifat, watak, tingkah, laku dan juga ciri fisiknya (Nurgiyantoro, 1988:195)
Di dalam novel ini teknik ekspositori yang digunakan pengarang adalah analisis secara langsung (direct auther analysis). Disebut teknik analisis pengarang secara langsung apabila pengarang secara langsung menyebutkan watak tokoh yang dianalisis. Pembaca tidak perlu mengira-ngira watak seorang tokoh karena pengarang sudah menyebutkannya secara jelas.
Untuk melukiskan bahwa Hanif adalah anak yang ramah. Suka berkhayal dan memikirkan, dengan kenyataan hidup, digambarkannya dalam beberapa kalimat yang dapat langsung dimengerti bagaimana sifat tokoh tersebut.
“Nif, hidup itu nggak akan lepas dari masalah. Orang yang berani hidup berarti berani pula menghadapi masalah. Itu sudah ketentuan Allah. Bukannya tadi sudah kukatakan kalau ibadah itu nggak hanya sekadar shalat, dzikir, atau puasa saja? Sabar dalam menghadapi masalah juga memiliki nilai pahalanya sendiri, Nif. Insya allah, Allah akan meninggikan derajat manusia beberapa tingkat bagi yang mampu bersabar, apalagi bisa memecahkan masalahnya.” “Ooo. . .” Hanif mengangguk sekali lagi. Sorst mata matanya menerawang berusaha mencerna kata-kata Umar. (Hitam dan Putih;2012;22)

Penggunaan teknik ini dalam sebuah novel membuat pembaca lebih santai membaca cerita yang dibacanya karena dia tidak perlu berfikir keras untuk mengetahui kepribadian tokoh-tokoh yang ada dan sekaligus dapat menghindari terjadinya kasalahan dalam penyimpulan watak tokoh. Hal tersebut merupakan keutamaan atau kelebihan dari teknik ini. Akan tetapi, pengganbaran watak tokoh yang secara langsungini dapat pula menimbulkan kebosanan atau kejengkelan karena pembaca diperlakukan seperti anak kecil yang ditujukan, tanpa dapat berpikir sendiri. Walaupun demikian pada saat-saat tertentu teknik ini perlu dilakukan, di saat penggunaan teknik ini dapat mengurangi sebuah nilai karya sastra.

  Teknik Dramatik
Pelukisan tokoh melalui dramatic adalah pendeskripsian tokoh cerita dengan menunjukan kediriannya sendiri melalui aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata-kata maupun non verbal lewattindakan atau tingakah laku, dan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi (Nurgiyantoro, 1998:198) teknik ini mencakup beberapa macam.
Pelukisan Pikiran dan Perasaan ini menyatakan bahwa keadaaan dan jalan pikiran, serta perasaan, apa yang melintas dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh, dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya juga (Nurgiyantoro, 1998:204).
“Hanif tengah mengepak barang-barangnya, ia akan kembali ke Surabaya sore harinya. Tak sabar Hanif menghadiri pernikahan Fitri yang rencananya akan digelar lusa. Pikiran Hanif dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai penampilan Fitri saat di pelaminan juga tentang calon suami Fitri. (Hitam dan Putih;2012;140)
Dari kutipan diatas dapat dilihat bahwa jalan pikiran Hanif penuh dengan tanda Tanya, karena kepergiannya selalu terlintas akan keadaan di rumahnya.
 Reaksi Tokoh ( Reaction to event)
Nurgiyantoro (1998:209) menyebut teknik reaksi tokoh lain sebagai reaksi yang diberikan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh-tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain sebagainya.
“Kiai Ali menghela napas. Ia sedikit marah karena Hanif tidak menerima tawarannya. “Lantas, apa yang akan kamu lakukan?” “saya akan cari kerja di Surabaya,” Hanif manjawab mantap sembari menatap tajam mata Kiai Ali. Dilihatnya Kiai Ali kurang setuju dengan keputusannya. “kalau itu memang keputusanmu, aku nggak bisa berkata apa-apa lagi.” Hanif menganggut-nganggut. ‘kalau begitu saya pamit, Kiai.” (Hitam dan Putih;2012;196)
Reaksi Hanif sangat jelas ketika Kiai Ali mencegahnya untuk tidak keluar, untuk pamit bekerja. Hanif sudah bertekad untuk keputusan ini. Agar bisa bekerja membiayai adiknya.

Cakapan (Conversation of outher about character)
Teknik cakapan ini dimaksudkan untuk menunjuk pada tingkah laku verbal terwujud kata-kata para tokoh. Kata-kata yang dimaksud menggambarkan sifat atau perwatakan dari tokoh yang mengucapkannya (Nurgiyantoro, 1998:203).

“Allahu akbar. . .Allahu akbar . . .” Suara adzan mengema dimasjid jami’. Hanif berdiri di shaf ketiga dari belakang sembari menunggu adzan usai dikumandangkan. “Alhamdulilah, aku kira kamu sudah lupadengan shalat, Hanif.” Seseorang menyindir Hanif dari belakang. Hanif menoleh. “R. . .Ru-di.”dilihatnya Rudi tersenyum. “Maafkan sikapku saat itu. Aku . . . , aku khilaf, Rud,” pinta Hanif seraya mengulurkan tangannya. (Hitam dan Putih;2012:347)
 Nama Tokoh (The name of character)
Stanton menyatakan bahwa teknik nama tokoh merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan watak tokoh (1965:17). Melalui teknik ini, dipilih nama tokoh yang disesuaikan dengan watak yang dimilikinya.
Dalam novel Hitam dan Putih, teknik ini digunakan pengarang untuk totkoh Kyai. Nama Kyai, Nyai, Haji, Syikh dapat menggambarkan sifat dari tokoh ini. Nama-nama ini merupakan sebutan sebutan yang diberikan seorang yang alim-ulama Islam dan senantiasa mendalami ilmu agama.


c.       LATAR ATAU SETTING
Latar merupakan tempat terjadinya peristiwa di dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku di dalam cerita (Stanton, 1995:18).Abrams (1981:175) menyatakan bahwa latar menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan social tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Sejalan dengan Abrams, Nurgiantoro menyatakan bahwa novel sebagai sebuah imajinasi yang tidak hanya membutuhkan tokoh sebagai penghuni beserta permasalahan yang dihadapinya, tetapi juga membutuhkan ruang, tempat dan waktu bagi tokoh tersebut “hidup”.Ruang, tempat, dan waktu itu dikenal sebagai latar (1998:227).

a.      Latar Tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 1998:227). Di dalam novel Hitam dan Putih disebutkan secara eksplisit nama tempat, kota, Negara, desa tempat peristiwa-peristiwa berlangsung.
Secara garis besar di  dalam Hitam dan Putih, latar berkisar pada dua tempat. Latar pertama, pengarang menyatakan adanya kota Jakarta, Surabaya, Jombang, Secara detailnya Pesantren Darul Fikri, Pasar Cikrak, Asrama, Kelas, kantor polisi, Rumah kiai, kafe, Terminal Mojokerto, Kantor E-sis Production, Apartemen Hanif, Masjid Jami’, dan lain sebagainya.
Pukul Sembilan malam di Masjid Jami’ Pesantren Darul Fikri. Suasana tenang menyelimuti seorang pemuda yang sedang membaca buku pelajaran Bahasa Inggris dengan tekun. (Hitam dan Putih, 2012:9).

Hanif bangkit dan bergegas memakai sandalnya. Ia berjalan menuju asrama untuk menikmati malam dengan berselimut mimpi. (Hitam dan Putih, 2012: 15)

Di depan Pasar Cikrak, hanif menunggu mikrolet. Para santri putra dan putriterlihat bertebaran disekitar pasar. Tiba-tiba, dua orang santriwati datang menghampiri Hanif. (Hitam dan Putih, 2012: 44)

Di kantor kepolisian. Ruangan begitu pengap lantaran dipenuhi para polisi dan orang-orang bermasalah. (Hitam dan Putih, 2012: 60)

Rumah Kiai Ali begitu sederhana. Ukurannya kecil dengan perabot rumah tangga yang sudah terlihat using. (Hitam dan Putih, 2012: 64)

Mirza pulang ke Rumahnya di Bojonegoro tadi malam. Umar tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong adiknya. Ia memahami jika kesemuanya adalah kesalahan Mirza. (Hitam dan Putih, 2012: 70).

Sesampainya  di lapangan yang letaknya di tengah madrasah, kedua santri itu melihat Gilang sedang asyik mengobrol dengan seseorang lewat HP-nya. (Hitam dan Putih, 2012: 77).

Kafe itu berukuran sedang dengan model gubug yang terkesan artistik. Sebuah panggung kecil berdiri di ujung ruangan menghadap pintu masuk, lengkap dengan seperangkat drum, dua gitar elektrik, bass, dan keyboard. (Hitam dan Putih, 2012:127).

Kepulangan Raziq dan Nia setelah menginap di Rumah Sakit sempat diwarnai adu mulut orang tua keduanya. Kedua belah pihak saling menyalahkan. (Hitam dan Putih, 2012: 136).

Hanif melangkah menuju stasiun Radio Gita Pati FM yang letaknya hanya tujuh ratus meter dari Pesantren Darul Fikri. Disapanya seorang karyawan yang sedang duduk-duduk di teras. (Hitam dan Putih, 2012: 175).

Kantor E-sis Prodaction. “Permisi Mas.” Hanif menyapa beberapa orang, lalu beranjak duduk di salah satu deretan kursi yang tertata rapi. (Hitam dan Putih, 2012: 213).

Di Rumah Bu Faridah yang besar, ibu- ibuterlihat sudah berkumpul dan duduk diatas tikar. (Hitam dan Putih, 2012: 275).

“selamat datang. Kok terlambat, sih?” sambut Pak Sujud ketika Hanif dan Wanda masuk. (Hitam dan Putih, 2012: 288).
Ditemani senja, Hanif dan Wanda tengah melakoni wawancara dengan sebuah majalah remaja di kedai kopi terkenal di pusat kota Jakarta. (Hitam dan Putih, 2012: 301).

Satu menit berlalu. Seseorang mengetuk pintu kamar apartemen Hanif. Ketika ia membukanya, didapatinya seorang gadis berpakaian seksi  menyapa ramah. (Hitam dan Putih, 2012: 318).

Sementara itu, di Winnetou FM, Wanda terengah-engah kelelahan. Di pandangnya cukup lama tubuh Hanif yang terbaring lemah tak berdaya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekati. (Hitam dan Putih, 2012: 367).

Hanif juga akan menjadi seorang santri lagi di sebuah pesantren di Jawa Barat untuk memperdalam ilmu agamanya. (Hitam dan Putih, 2012: 373).

8.2 Latar Waktu
Nurgiyantoro berpendapat (1998:230) bahwa latar waktu berhubungan dengan masalah “Kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah fiksi.
Latar waktu yang digunakan di dalam novel Hitam dan Putih berikut ini:

Tak berapa kemudian, ketenangannya terusik dengan kehadiran seorang santri yang sedang asyik dengan handphone-nya.(Hitam dan Putih, 2012: 9)

Kenangan itu membawa Hanif ke suatu masa ketika pertama kali bertemu dengan sang Juliet di sekolah. (Hitam dan Putih, 2012: 11)

Malam itu menjadi malam paling indah bagi kedua sejoli yang tengah dirundung asmara. Malam yang tak ingin mereka sia-siakan. Malam dimana dua hati menyatu dalam sebuah pertemuan yang memabukkan. (Hitam dan Putih, 2012: 13)

Pukul 05.30, fajar menyingsing di ufuk timur. Sinarnya yang kemerahan tercurah bagai lentera raksasa di balik tegaknya pegunungan yang menjulang di timur kampung Mojotresno. (Hitam dan putih, 2012: 17)

Di tengah kesendirian Hanif, umar datang menghampiri. “ngelamun Nif?” (Hitam dan Putih, 2012: 19).

Tak lama kemudian, bel sarapan pagi berbunyi dengan suaranya yang hampirbmirip sirine mobil pemadam kebakaran. “makan yuk!”  ajak Umar seraya beranjak dari lantai ia duduk. (Hitam dan Putih, 2012: 22).

Ketika mereka berjalan  keluar gerbang pesantren, keduanya melihat Kiai Ali Mahfuzh sedang melihat-lihat suasana jalan sembari mulutnya komat-kamit mengucapkan tasbih dan tahmid. (Hitam dan Putih, 2012: 26).

Selang beberapa menit, Pak Fuad, guru Bahasa Arab, datang bersama dengan seorang siswi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. (Hitam dan Putih, 2012: 29).

Hanif diam beberapa saat sambil memikirkan ajakan Rudi. Pada akhirnya, ia menolaknya. Ia lebih memilih untuk tetap berada di dalam kelas sambil membaca buku. (Hitam dan Putih, 2012:32).

Ketika pelajaran dimulai kembali, hanif mulai melancarkan aksinya. Ia tidak menghiraukan Bu Fatimah yang sedang menjelaskan teori optik. Hanif lebih sibuk menggoda Sinta. (Hitam dan Putih, 2012: 38).

Hari jum’at adalah hari libur bagi Pesantren Darul Fikri. Itu artinya, para santri bebas melakukan aktivitas pribadi yang mereka sukai. (Hitam dan Putih, 2012:43).

Sesampainya di kota, hanif turun di depan stasiun. Sopir tersebut masih saja memberikan perhatiaannya sebelum melajukan mikroletnya kembali, khawatir akan kesehatan Hanif. (Hitam dan Putih, 2012:49).

Beberapa menit kemudian, Kiai Ali datang dengan didampingi oleh istrinya. Hanif tak tahu jika kepolisian telah menghubungi pesantren satu jam yang lalu. (Hitam dan Putih, 2012:63).

Hari itu adalah hari terakhir kebersamaan mererka. Meskipun sering terjadi cek-cok, bukam berarti keduanya saling menaruh benci. Justru mereka semakin dekat dan saling memahami. (Hitam dan Putih, 2012: 69).

Malam menyapa. Hanif bergegas keluar dari masjid setelah menunaikan shalat maghrib. Ia harus bersiap-siap untuk latihan bela diri yang diadakan setiap Rabu dan Sabtu di lapangan madrasah. (Hitam dan Putih, 2012:76).

Lima belas menit berlalu. Pak Sunardi benar-benar tidak datang. Sebagai anggota ekskul pencak silat, gilang akhirnya maju menggantikan pelatih mereka. (Hitam dan Putih, 2012: 78).

Beberapa saat kemudian, Hanif sudah tertidur dengan nyenyak. Saking nyenyak tidurnya, ia tak merasakan gigitan nyamuk di kaki dan wajahnya. (Hitam dan Putih, 2012: 95).

Raziq menghentikan sejenak kalimatnya untuk menyendok sebutir bakso, mengunyahnya sebentar, lalu menelannya. (Hitam dan Putih, 2012: 108).

Pagi itu, suasana di sekolah begitu tegang. Hangat sinar mentari dan kicau burung pipit tak mampu mencairkan ketegangannya. Siswa kelas satu dan dua tersebar di berbagai sudut. (Hitam dan Putih, 2012: 115).

Nia telah menuggu di depan rumahnya ketika Raziq datang. Ia tampak anggun dengan baju merah jambu motif bunga-bunga. (Hitam dan Putih, 2012: 124).

Suasana diantara keduanya kembali ceria. Percakapan sendu dan mengharukan telah berganti dengan tawa dan canda yang membuat mereka berdua terlena hingga tak menyadari jika bus yang mereka tumpangi sudah memasuki terminal Bungurasih. (Hitam dan Putih, 2012: 150).


Ketika kembali ke ruang tamu, dilihatnya sinta sedang memandangi seisi rumahnya. Hanif tersenyum, lalu mencoba membuka obrolan lagi? “ gimana Sin? Apa kamu sudah pnya pacar lagi?”. (Hitam dan Putih, 2012: 156).

Beberapa saat kemudian, hanif melangkah menghampiri grup kasidah yang masih setia menghibur para tamu. (Hitam dan Putih, 2012: 161).

Sejuk angina sore menenggelamkan Hanif dalam ketenangan shalatnya. Berkali-kali Hanif mengucap syukur dalam hati atas kuasa Allah memperindah hari-harinya selama ini. (Hitam dan Putih, 2012: 167).

Ketika mata Wanda menangkap sosok Hanif, ia melambaikan tangannya dengan riang. Hanif pun membalasnya dengan senyuman. (Hitam dan Putih, 2012: 177).

Perjalanan dari jombang ke Surabaya ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Pukul tujuh lebih sepuluh menit mereka sampai di rumah Hanif. (Hitam dan Putih, 2012: 185).

Seusai shalat Ashar, sinta langsung bersiap ke tempat kursus bahasa inggris milik Bu Tyas. Hari itu adalah hari pertamanya mengajar. (Hitam dan Putih, 2012: 200).

Dua hari sudah Hanif tiba di Ibu Kota. Dua hari pula, ia telah meninggalkan adik dan pekerjaannya di took pakaian Bu Yanti. (Hitam dan Putih, 2012: 211).

Keesokan harinya, hanif datang ke Kantor E-sis Production ditemani pak Jasman. (Hitam dan Putih, 2012: 223).

Seminggu sudah ia tinggal di kos yang berlokasi di Jakarta Pusat itu, meninggalkan Thohir dan pekerjaannya sebagai penjaga took pakaian. (Hitam dan Putih, 2012: 239).

Sejenak Sinta mengingat sosok Gus Manf. Ketika mengetahui Gus Manaf menaruh hati padanya, ia terkejut tak percaya. (Hitam dan Putih, 2012: 246).

Esoknya, Sinta menceritakan permintaan Gus Manf pasa teman-teman sekamar. “Udahlah, Sin,terima saja. Gus Manaf kan orangnya pinter, baik, ahli agama lagi, “ (Hitam dan Putih, 2012:265).

Setelah menyalami dan berbincang sejenak dengan kedua mempelai, hanif memilih menyendiri di luar karena tak tahan dengan suasana yang berlalui ramai. (Hitam dan Putih, 2012: 289).

Selang seperempat jam, Hanif tak kuat lagi berdansa. Kakinya tak lagi bisa menopang tubuhnya dengan tegak. Hanif benar-benar telah mabuk. (Hitam dan Putih, 2012: 306).

Hari beranjak tua, remang sinar mentari diterpa semilir angina sepoi-sepoi, mengisyaratkan bulan yang hendak menuju tahtanya menggantikan sang surya. (Hitam dan Putih, 2012: 315).

Selang lima belas menit, hanif mulai patah arang. Ia berkesimpulan jika ketiga sahabatnya telah naik taksi atau angkutan umum menuju suatu tempat. (Hitam dan Putih, 2012: 330).

“sampai kapan kamu bakal nutupin wjahmu pake bulu tebal itu?” Tanya Sinta sambil memandanh wajah Hanif yang dibalut dengan kumis palsu. (Hitam dan Putih, 2012: 337).

“setelah kurang lebih setengah jam, Ibu melihat Kiai masih saja sujud. Lalu, aiabu goyang-goyangkan agar bangun. (Hitam dan Putih, 2012: 343).

Hanif kembali terhanyut dalam lamunannya. Ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa Kiai Ali telah benar-benar meninggal. (Hitam dan Putih, 2012: 351).

Selang bebrapa detik, Wanda tersenyum getir. Ia mengepalkan tangannya sambil berkata, “ inilah jalan nasibku. (Hitam dan Putih, 2012: 369).
“satu tahu kemudian, atas keinginan Sinta, Hanif meninggalkan acting yang telah membesarkan namanya. (Hitam dan Putih, 2012: 373).





8.3 Latar Sosial
Nurgiyantoro (1998:233) menyatakan bahwa latar sosial adalah hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat, yang diceritakan dalam karya fiksi.
Tata cara kehidupan sosial mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, misalnya berupa kebebasan hidup, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual. Nurgiyantoro menyatakan bahwa sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
Latar sosial yang diceritakan dalam novel Hitam dan Putih adalah masyarakat jawa, sebuah masyarakat tepatnya di Jombang. Di dalam novel ini di jumpai nama-nama Kiai Ali, Bu Nyai, Umar, Gus Manaf yang dianggap sebagai orang jawa.
Dibandingkan dengan kedua latar sebelumnya, latar sosial lebih menonjol dan fungsional di dalam penggarapan novel ini. Adat-istiadat atau kebiasaan yang dianut dan dipercaya masyarakat jawa. Diolah sedemikian rupa di dalam cerita sehingga pembaca mendapat gambaran yang cukup lengkap tentanh kehidupan masyarakat jawa. Tidak itu saja, penggambaran latar sosial ini  membuat persoalan-persoalan dan pemecahan yang dilakukan terasa lebih logis.

Latar sosial dalam novel Hitam dan Putih antara lain :
a.      Seorang santri Pesantren Darul Fikri
Seorang santri yang ada dalam tokoh Hanif. Yang sedang memperdebatkan hakikat tujuan hidup.
“Itulah hakikat hidup. Mengabdikan diri hanya untuk beribadah kepada  Allah adalah tujuan hidup kita.” (Hitam dan Putih, 2012: 21).

b.      Seorang pimpinan pesantren
Seorang pimpinan pesantren ini adalah Kiai Ali, yang tengah melihat-lihat suasana jalan, Kiai Ali yang berpenampilan apa adanya dan selalu mengingatkan santrinya bila salah dan terjerumus dalam kekhilafan.
“ Kiai ali adalah sosok Kiai tawadhu yang selalu berpenampilan apa adanya. Tubuhnya kurus karena rajin berpuasa, terutama puasa Daud. Kiai itu selalu makan apa yang dimakan santrinya. (Hitam dan Putih, 2012: 26).

Kiai Ali itu lalu memberikan nasihat terakhir untuk Mirza. “Mir, kuharap kamu bisa menerima keputusan ini dengan arif. Kudoakan semoga di luar sana kamu bisa menjadi orang yang lebih baik. Semoga Allah selalu menerangi jalanmu. (Hitam dan Putih, 2012: 68)

 Seluruh santri Darul Fikri dikumpulkan di Masjid. Kiai Ali berdiri dibelakng mimbar, memberikan ceramah. Para mudabbir dan mudabbirah berkeliling untuk tak ada santri yang tertidur. (Hitam dan Putih, 2012: 167).

c.       Seorang Ibu Rumah tangga
Seorang Ibu yang berhati mulia menyekolan anak-anaknya hingga akhir hayatnya.
Hanif berbincang dengan ibu dan kedua adiknya di ruang tamu yang sempit dengan perabotan yang berkesan using. Namun kondisi itu tidak menghilangkan keceriaan diantara mereka. (Hitam dan Putih, 2012: 151).

“Maaf lho, Mbak Sinta, Kalau rumahnya kayak gini. Maklum bukan orang gedongan. Hehehe. . .” ujarnya sedikit bercanda. “Ya sudah. Ibu mau masak dulu, ya. Nif suguhin minuman sana!. (Hitam dan Putih, 2012: 157).


d.      Seorang Sutradara film
Seorang sutradara film yaitu Edi Siswanto, tengah melakukan audisi casting untuk para calon aktor.
“Oke-oke. . .,”sela Edi Siswanto, “kali ini, coba tunjukan keahlian bela diri Anda.” Hanif tersenyum lebar. Untuk yang satu ini, ia tak merasa lagi kesulitan. Diperagakannya jurus-jurus yang telah ia pelajari di madarasah dulu. Pukulan, tangkisan khas pencak silat, hingga tendangan berputar yang menjadi jurus andalannya dilakukan dengan gesit dan lincah. (Hitam dan Putih, 2012: 220).

e.       Seorang Pengajar
Seorang pengajar ada dalam tokoh Gus Manaf, ia adalah anak dari putra Kiai Ahmad Dahlan adik dari Kiai Ali, yang mendapat tugas mengajar para santri.
“Thayyib, assalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh,” sapa Gus Manaf pada murid-murid di kelas, “perkenalkan. Saya Gus Manaf . saya di sini untuk menggantikan Pak Muklis mengajar ilmu syaraf. (Hitam dan Putih, 2012: 232).

Siang yang terik. Gus Manaf hendak memberi Sinta minuman dingin. Tak lupa, ia membawa minuman ekstra untuk teman-teman Sinta agar apa yang dilakukannya tidak terlalu menarik perhatian. (Hitam dan Putih, 2012: 249).

f.       Seorang Penyiar Radio
Seorang penyiar Radio yang tengah naik mikrolet, dalam tokoh ini ia bernama Wanda.
“Oh, jadi Mba ini penyiar Radio Gita Pati FM yang terkenal itu, to?” Tanya Hanif. Kebetulan, Hanif pendenagar setia radio di mana Wanda bekerja. “Tapi kok tidak pernah mendengar nama Mbak tiap kali siaran. (Hitam dan Putih, 2012: 145).

g.      Seorang artis
Seorang artis dalam tokoh ini adalah Hanif dan Wanda, mereka adalah  sebagai pasangan kekasih.
“Oke. Shooting sore ini kita cukupkan sampai disini. Jangan lupa besok pagi harus sudah standby di lokasi jam tujuh! Jangan ada yang ngaret!” Edi  mengingatkan krunya yang sudah kelelahan. (Hitam dan Putih, 2012: 237).

Kabar hubungan Hanif dan Wanda terpublikasikan di berbagai media. Keduanya kini sepasang kekasih yang hampir selalu jalan bersama disetiap kesempatan. (Hitam dan Putih, 2012: 296).

Dari uraian di atas, diketahui bagaimana latar sosial yang melingkupi masyarakat jawa sentralnya di Jombang dalam novel Hitam dan Putih. Latar ini dapat  menjelaskan berbagai aspek  yang mempengaruhi masyarakat tersebut dalam bertindak dan mereaksi sesuatu yang mereka temui sehari-hari, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Latar sosial inimenjelaskan pula kebiasaan dan adat-istiadat sebagai wujud tradisional yang masih kental dalam masyarakat.












BAB III
 SARANA SATRA
Stanton ( 1965 : 23 ) menyatakan sarana sastra sebagai cara pengarang untuk menyeleksi dan menyusun bagian-bagian cerita sehingga tercipta karya yang bermakna. Tujuan sarana sastra adalah agar pembaca dapat melihat fakta-fakta cerita melalui sudut pandang pengarang, melihat arti fakta cerita sehingga dapat bertukar pendapat tentang pengalaman yang terlukiskan. Pembahasan mengenai sarana sastra melipiti judul, pusat pengisahan, gaya bahasa, nada dan ironi. Di bawah ini kelima sarana sastra itu dibahas satu persatu.
Dalam bab ini pembahasan mengenai sarana sastra meliputi judul, pusat pengisahan, gaya bahasa, nada, dan ironi. Di bawah ini kelima sarana sastra itu dibahas satu persatu.
a.      Judul
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi buku atau bab itu (Depdiknas, 2007:479). Judul biasanya mengacu pada tema, konflik, tokoh, simbol cerita, alur cerita dan sebagainya.
Menurut Stanton (1965 : 25), judul suatu cerita biasanya memberikan gambaran akan makna suatu cerita. Oleh karena itu hubungan judul itu sendiri terhadap keseluruhan cerita dapat didefinisikan sebagai berikut
Judul Hitam dan Putih Karya  Mushtofa Achmad merupakan makna kiasan. Menunjuk pada tokoh utama yaitu Hanif yang dulunya adalah seorang santri yang taat beribadah itu menunjukkan nilai atau sukap yang positif. Nilai positif identik dengan warna “Putih”. Lalu setelah Ibu Hanif meninggal, Hanif keluar dari pesantren dan Hanif menjadi seorang public figure ( artis ). Disaat menjadi artis itulah Hanif mulai goyah imannya. Suka mabok-mabokan, merokok, bahkan sampai melakukan hubungan sek dengan Wanda. Perilaku Hanif tersebut merupakan perbuatan yang tidak terpuji, bahkan perbuatan dosa. Perbuatan dosa biasanya identik dengan warna “Hitam”. Lalu Hanif insaf dan menjauhi dunia akting. Hanif akhirnya mempunyai istri yang bernama Sinta dan dikaruniai akan yang bernama Wanda Musyafa. Perilaku Hanif tersebut merupakan perbuatan yang positif. Jadi kembali lagi pada sifat yang semula. Jadi makna dari Hitam dan Putih pada novel karya Mushtofa Achmad adalah menunjuk pada tokoh utama yaitu Hanif.

b.      Pusat Pengisahan (point of view)
Di dalam sebuah cerita, pengarang memilih posisi atau hubungan dengan setiap peristiwa atau tokoh yang diceritakan, apakah secara emosional pengarang ikut terlibat atau tidak. Posisi yang merupakan dasar berpijak untuk melihat peristiwa dalam cerita itulah yang disebut sudut pandang (point of view) (Stanton, 1965 :26).
Adapun Abrams (1981:142) menyatakan bahwa sudut pandang adalah cara yang dipergunakan pengarang, sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fisik kepada pembaca.
Pengarang menggunakan pusat pengisahan persona ketiga atau Warren da Wellek (1989:296) menyebutnya sebagai metode naratif yang salah satu cirinya adalah pengarang menggunakan pesona ketiga mahatahu di dalam novel Hitam dan Putih. Pengarang menjadi narrator, yaitu sesorang yang berada di laur cerita yang menampilkan tokoh-tokoh certia dengan nama atau gantinya, ia, dia dan mereka (Nurgiyantoro, 1998:256). Di dalam teknik ini nama-nama tokoh sering disebut, terutama tokoh utama.
Pusat pengisahan pesona ketiga, oleh Wellek dan Warren di bagi atas dua jenis yaitu metode romatic-ironik dan metode objektif. Metode romatic-ironik memungkinkan pengarang mengetahuhi sehala macam hal menganai peristiwa tokoh, juga diperbolehkan mengomentari peristiwa dan menasehati tokoh-tokoh yang ada  di dalam cerita.
Adapun metode objektif mempuyai ciri, tidak hadirya pengarang yang memandang orang ketiga mahatahu, dengan mengombinasikan metode aromatic-ironic dengan metode objektif.Pegombinasian ini mengakibatakan pencerita maha tahu segala hal menganai peristiwa, sikap, pikiran dan perasana tokoh, tetapi dia tidak mengomentari hal tersebut sehingga sudut pandang tetepa terkonterol dan certia tidak diganggu dengan berbagai komentar atau nasihat pengarang.
“Hanif melirik kitab berbahasa Arab itu. Sinta mampu mengartikannya tanpa bantuan seorang pun meski sesekali harus membuka kamus. Terlihat beberapa kata dalam bahasa Inggris tertulis di kitab. Sinta tidak mengartikannya dalam bahasa Jawa seperti layaknya santri lain. Hanif membatin, rupanya Sinta sudah menguasai bahasa Arab. Entah makan apa dia selamanliburan hingga bias berkembang sepesat itu”. (Hitam dan Putih, 2012 : 173)

c.       Gaya Bahasa dan Nada
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Kreaf, 1990:113).
Menurut Nurgiyantoro, (2005:296) pemajasan merupakan salah satu bentuk retorika. Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa, yang maknanya tidak menunjukkan makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada yang ditambahkan, makna yang tersirat.
Penggunaan gaya bahasa di dalam novel Hitam dan Putih dapat dibagi atas gaya bahasa umum dan gaya bahasa khusus.
Gaya Bahasa Umum
Yang dimaksud dengan gaya bahasa umum adalah gaya bahasa yang dapat dikatagorikan pada gaya bahasa yang sudah sering digunakan oleh pengarang lain. Gaya bahasa yang biasa digunakan tersebut dapat dibagi atas dua macam, yaitu bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.
Gaya Bahasa Retoris
Gaya bahasa ini merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu (Keraf, 1990:129) atau oleh Altenbernd (1970:22) disebut sebagai kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Gaya bahasa ini dibuat pengarang untuk menarik perhatiandan pikiran sehingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan pengarang. Gaya bahasa retoris yang dipergunakan di dalam Novel Hitam dan Putih adalah sebagai berikut:
a.      Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan terhadap suatu hal atau keadaan. Penggunaan gaya bahasa ini memberikan kesan menyangkatkan intensitas, dan juga ekspresitas terhadap hal dan keadaan (Pradopo, 1990:98).

“Raut wajahnya yang kuning langsat itu memerah”. (Hitam dan Putih, 2012:65).

“Jantung Hanif berdegup semakin kencang. Pertanyaan yang ia khawatirkan akhirnya muncul juga”. (Hitam dan Putih, 2012:66)

“Hanif masih terduduk di sofa. Pandangannya tertuju pada iklan kecil itu. Hatinya mulai tergoda”. (Hitam dan Putih, 2012:209)

“Kesurupan setan mana kamu? Senyum-senyum sendiri, goda Hanif sambil beranjak duduk di samping Raziq”. (Hitam dan Putih, 2012:83)

            Kuning langsat, berdegup semakin kencang, hatinya mulai tergoda, kesurupan setan mana adalah contoh-contoh hiperbola di dalam Novel Hitam dan Putih. Penggunaan hiperbola di dalam kalimat-kalimat ini mengandung pengertian yang menyatakan sehingga menimbulkan suasana menegangkan.



Bahasa Kiasan
Menurut Keraf, bahasa kiasan adalah bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna kata-kata yang telah membentuknya. (Nurgiyantoro, 2008:298).
Menurut (Pradopo, 1990:61-62), bahasa kiasan dibentuk dengan mengiaskan atau mempersamakan suatu hal dengan yang lain. Berfungsi untuk menarik perhatian, menimbulkan kesegaran kejelasan gambar
a.      Simile
Menurut Nurgiantoro (2005:298), simile menyarankan pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan mempergunakan penanda keeksplisitan seperti : seperti, bagaikan, sebagai, laksana, mirip dan sebagainya. Fungsi dari simile adalah dapat memahami dengan baik lewat konteks wacana bersangkutan.
“Jadi kita harus senantiasa beribadah tanpa perlu melakukan kegiatan yang lain, seperti bekerja, bermain atau menikah”. (Hitam dan Putih, 2012: 21).

d.      Nada Ironi atau Ironi Verbal
            Nada merupakan kualitas gaya yang memaparkan sikap pengarang terhadap pembaca karyanya. Suasana dapat berkisar pada suasana yang religius, romantis, melankolis, menegangkan, mencekam, tragis, mengharukan dan sebagainya.
            Menurut Kenny, nada merupakan ekspresi sikap-sikap pengarang terhadap masalah yang di kemukakan terhadap pembaca. Stile adalah sarana untuk membangkitkan nada (Nurgiyantoro, 2005:284-285).
            Ironi dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan. Menurut Stanton (1965:34), membagi ironi yang ada di dalam karya sastra menjadi dua macam, yaitu ironi dramatik dan nada ironi.
Ironi Dramatis
            Menurut Stanton (1965:45), ironi dramatis atau sering dikenal pula sebagai ironi plot atau ironi situasi secara mendasar tergantung pada pertentangan yang sangat kontras antara penampilan dan kenyataan antara perhatian tokoh dengan apa yang nyata-nyata terjadi. Seringkali unsur-unsur yang dikontraskan itu dihubungkan secara logis atau sebagai hubungan sebab akibat.
Dalam novel Hitam dan putih ironi dramatis terdapat pada adegan berikut :
“..Hanif membalikkan badan seraya meninggalkan Wanda. Seketika hpnya berdering, assalamualaikun, Sinta. Kok telepon malam-malam gini?
Mendengar nama Sinta disebut, Wanda kalap. Diangkatnya sebuah equalizer sebesar koper dengan sekuat tenaga. Dipanggilnya Hanif dengan lembut. Hanif……..
Hanif menoleh dengan hp masih menempel di telinganya. “Ya?”
Duak!!! Hanif jatuh tersungkur. Keningnya bersimbah darah hpnya hancur berantakan. Ia pingsan (Hitam dan Putih, 2012 : 366)
Nada Ironi atau Verbal          
Menurut Stanton (1965:46), nada verbal muncul ketika seseorang menyampekan maksudnya dengan mengatakan sebaliknya. Nada ironis diucapkan oleh Kiai Ali saat berbicara dengan Hanif.
“Putuskan dia ! suara Kiai Ali tenang dan datar. Sebuah perintah yang tidak membuat Hanif heran. Hubungannya dengan Winda memang sudah lama putus. Aku tak ingi kamu mengikuti jejejak temanmu ini. Kiai Ali mengatakannya sambil menoleh kearah Mirza. Dan terpaksa kamu harus dikeluarkan dari pesantern. Perbuatanmu itu tergolong pelanggaran berat”. (Hitam dan Putih, 2012 : 67).

e.       Penggunaan Kata dan Bahasa Daerah atau Bahasa Asing
Banyak ditemui bahasa atau kata-kata daerah dan kata-kata asing yang sering di gunakan oleh Mushtofa Ahmad berasal dari novel Hitam dan Putih.
Bahasa Asing
“Sure, What cake? kerudungnya motif dan warna apa”. ( Hitam dan Putih, 2012:44)
“So I have to learn it quickly”. (Hitam dan Putih, 2012:173)
“Thanks’ a lot, everyone”. (Hitam dan Putih, 2012:253)
“Okay, I’d like to introduce myself. My name is Sinta Scott Bradley”. (Hitam dan Putih, 2012 : 30)
“My dad is an American and my mom dari Cianjur. Now, my family tinggal di Surabaya”. (Hitam dan Putih, 2012 : 30)
“You’re so beautiful. Cold I have a smile?”. (Hitam dan Putih, 2012 : 39)





Bahasa daerah
“ Oh, iki areke”. ( Hitam dan Putih, 2012:57)
“Pinter ngomong arek iki. Yow wes nek ngono”. (Hitam dan Putih, 2012:58)
“Yo’opo, Nif, pedekatenya? Sukses?”. (Hitam dan Putih, 2012: 42)
“Wong koyo ngono pantese oleh mbok rondo. Dudu Sinta”. (Hitam dan Putih, 2012:38)
Penggunaan bahasa asing dan daerah ini memberikan kesan menarik bagi pembaca novel, di samping menambah pengetahuan bahasa tugas merangsang pembaca untuk mengetahui keseluruhan cerita. Keinginan mendapatkan pengetahuan bahasa atau kata-kata daerah dan asing.
Selain itu penggunaan bahasa dan kata-kata jawa juga mendukung dan memperkuat latar masyarakat Jawa yang ditonjolkan pengarang di dalam novel Hitam dan Putih. Penggunaan bahasa asing dan daerah menjadikan suasana lebih lebih indah.

BAB IV
HUBUNGAN ANTARUNSUR DALAM CERITA
                        Pada bab-bab sebelumnya, penelitian unsur-unsur novel dilakukan secara terpisah satu sama lain. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti unsur-unsur novel secara lebih detail. Akan tetapi, penelitian unsur-unsur novel yang terpisah, harus diikuti dengan penelitian hubungan antar unsur novel, karena sesungguhnya unsur-unsur novel tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling terkait satu sama lain.
Dalam bab ini, keterkaitan atau hubungan antarunsur di dalam novel Hitam dan Putih ini dibahas satu-persatu, yaitu hubangan tama dengan fakta cerita (plot) , hubungan tokoh dan penokohan dengan latar , fakta cerita dengan sarana sastra, dan juga hubungan tema dengan sarana sastra.


a.      Hubungan Tema dengan Fakta Cerita (Plot)
Tema adalah ide pokok atau gagasan utama yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca.Untuk menyampaikan ide atau gagasan pengarang harus menciptakan cerita yang terdiri dari berbagai peristiwa yang terjalin dalam hubuangan sebab-akibat (plot). Adanya peristiwa sebab-akibat tersebut harus mutlak, supaya cerita lebih jelas dan tema daapt ditemukan. Sebaliknya untuk menentukan tema dapat dilihat melalui konfelik-konfelik yang menonjol yang termasuk bagian dari plot.
Berdasarkan paparan di atas dapat tentukan bahwa tema dari  novel Hitam dan Putih  karya Musthofa Achmad adalah lika-liku kehidupan seorang santri yang harus menghadapi kenyataan pahitnya hidup untuk berjuang menafkahi adiknya sekolah yang pada akhirnya sukses meraih kehidupan duniawi, namun lupa akan apa yang sudah didapatkannya.
Konflik di dalam novel Hitam dan Putih berawal dari Hanif yang ingin menikahi Sinta. Tetapi Hanif masih mempunyai pacar yaitu Wanda. Ketika Hanif menemui Wanda di ruang kerjanya. Hanif bicara serius dengan Wanda yang itinya Hanif sudah tidak sayang lagi sama Wanda. Dalam percakapan tersebut Hanif menerima telepon dari Sinta. Mendengar nama Sinta disebut, Wanda kalap. Diangkatnya sebuah equalizer sebesar koper dengan sekuat tenaga. Dipanggilnya Hanif dengan lembut.
Kejadian tersebut mengakibatkan peristiwa yang sangat besar, ketika telepon mati, Sinta mondar-mandir kebingungan mw menyusul Hanif kemana.Tetapi Sinta ingat bahwa Hanif pernah mengatakan tempat kerjanya Wanda. Sinta langsung menyusul ke Studio tempat kerjanya  Wanda. Sementara itu Wanda terengah-engah kelelahan.Tiba-tiba Sinta datang dengan terkejut melihat pemandangan di hadapannya.Wanda dan Sinta terlibat perkelahian, saling dorong dan tarik hingga keluar studio, setelah perkelahian cukup lama, Wanda meloncat melewati jendela, hingga akhirnya Wanda meninggal.

b.       Hubungan Tokoh dan Penokohan dengan Latar
Tokoh-tokoh di dalam sebuah cerita memerukan ruang, saat, dan keadaan sosial temapat mereka melakukan atau memerlukan sesuatu. Ruang, saat, dan keadaan tersebut berpengaruh pula pada terhadap tokoh dan penokohan.`
Tokoh-tokoh di dalam novel Hitam dan Putih adalah Secara garis besar  pengarang menyatakan adanya kota Jakarta, Surabaya, Jombang, Secara detailnya Pesantren Darul Fikri, Pasar Cikrak, Asrama, Kelas, kantor polisi, Rumah kiai, kafe, Terminal Mojokerto, Kantor E-sis Production, Apartemen Hanif, Masjid Jami’, dan lain sebagainya.  Selain itu pola pikir peran utama yaitu Hanif sangat berbeda. Yang pertama pola pikirnya sangat sederhana waktu Hanif masih di pesantern Darul Fikri. Sedangkan waktu sudah keluar dari pondok pesantren, yaitu waktu Hanif sudah menjadi publik figure, pola pikir Hanif sudah jauh berbeda. Jadi pola pikir seseorang sangat berpengaruh dengan tempat yang yang ia tempati.

c.       Hubungan tema dengan Latar.
Latar merupakan tempat, saat, dan keadaan social yang menjadi tempat tokoh melakukan dan dikenai suatu kejadian.Latar bersifat memberikan “aturan” permainan terhadap tokoh. Latar akan mempengaruhi pemilihan tema. Sebaliknya, tema yang dipilih akan menuntut latar yang sesuai yang mampu mendukung (Nurginyantoro, 1998:75)
 Dari  novel Hitam dan Putih  karya Musthofa Achmad yang bertema adalah lika-liku kehidupan seorang santri yang harus menghadapi kenyataan pahitnya hidup untuk berjuang menafkahi adiknya sekolah yang pada akhirnya sukses meraih kehidupan duniawi, namun lupa akan apa yang sudah didapatkannya.
Bagaimanapun caranya harus diperthanakan latar dalam tema ini menujukan tampat yaitu kota Jakarta.Selain latar tempat tersebut, latar social yang berupa arti menghadapi kenyataan pahitnya hidup untuk berjuang menafkahi adiknya sekolah yang pada akhirnya sukses meraih kehidupan duniawi, namun lupa akan apa yang sudah didapatkannya. Sedangkan latar waktu di dalam novel Hitam dan Putih juga tidak kalah pentingya seperti latar yang lainya.

d.      Hubungan Tema dengan Judul
Dilihat dari sudut karangan yang telah selesai, tema adalah suatu amanat yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Sedangkan dari segi proses penulisan, tema adalah suatu perumusan dari topic yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topic tadi. Hasil perumusan tema bisa dinyatakan dalah sebuah kalimat singkat, tetapi dapat pula mengambil bentuk berupa sebuah alinea, ikhtisar-ikhtisar, dan kadang-kadang ringkasan.Panjang tema tergantung dari berapa banyak hal yang akan disampaikan sebagai perincian dari tujuan utama
Pada  novel Hitam dan Putih  karya Musthofa Achmad yang bertema adalah lika-liku kehidupan seorang santri yang harus menghadapi kenyataan pahitnya hidup untuk berjuang menafkahi adiknya sekolah yang pada akhirnya sukses meraih kehidupan duniawi, namun lupa akan apa yang sudah didapatkannya.
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi buku atau bab itu (Depdiknas, 2007:479). Judul biasanya mengacu pada tema, konflik, tokoh, simbol cerita, alur cerita dan sebagainya.
Menurut Stanton (1965 : 25), judul suatu cerita biasanya memberikan gambaran akan makna suatu cerita. Oleh karena itu hubungan judul itu sendiri terhadap keseluruhan cerita dapat didefinisikan sebagai berikut
Judul Hitam dan Putih Karya  Mushtofa Achmad merupakan makna kiasan. Menunjuk pada tokoh utama yaitu Hanif yang dulunya adalah seorang santri yang taat beribadah itu menunjukkan nilai atau sukap yang positif. Nilai positif identik dengan warna “Putih”. Lalu setelah Ibu Hanif meninggal, Hanif keluar dari pesantren dan Hanif menjadi seorang public figure ( artis ). Disaat menjadi artis itulah Hanif mulai goyah imannya. Suka mabok-mabokan, merokok, bahkan sampai melakukan hubungan sek dengan Wanda. Perilaku Hanif tersebut merupakan perbuatan yang tidak terpuji, bahkan perbuatan dosa. Perbuatan dosa biasanya identik dengan warna “Hitam”. Lalu Hanif insaf dan menjauhi dunia akting. Hanif akhirnya mempunyai istri yang bernama Sinta dan dikaruniai akan yang bernama Wanda Musyafa. Perilaku Hanif tersebut merupakan perbuatan yang positif. Jadi kembali lagi pada sifat yang semula. Jadi makna dari Hitam dan Putih pada novel karya Mushtofa Achmad adalah menunjuk pada tokoh utama yaitu Hanif.


LAMPIRAN

SINOPSIS NOVEL HITAM DAN PUTIH
Hanif adalah seorang santri di Pesantren Darul Fikri. Hanif adalah seorang yang rajin beribadah dan mengaji. Ada murid baru ke Pesantren dan Madrasah dari Surabaya,namanya Sinta. Sinta juga sekelas dengan Hanif, Hanifpun terpesona dengan kecantikannya Sinta. Teman – teman Hanif tetap berusaha agar Sinta tidak dengan orang lain. Dan akhirnya Hanif pun mau mendekati Sinta karena Hanif tidak ingin Sinta dekat dengan Gilang, kakak kelas yang sekaligus pelatih silat yang pernah mencederai kaki Hanif hingga patah. Ketika pelajaran kembali dimulai Hanif melancarkan aksinya dengan menggoda Sinta, dan akhirnya Hanif mendapatkan nomor HP Sinta.
Pada hari jumat Hanif ingin pergi berjalan-jalan ke Kota karena hari itu bebas (libur).Sesampai di kota, Hanif mampir ke warung kopi, dan ia membeli kopi dan sebungkus sarapan. Tiba – tiba Mirza datang menghampiri Hanif, dan selang beberapa menit datang pemuda berkumis tipis dan memakai topi bisbol, namanya Vega. Vega mencari Mirza lantaran Mirza merebut Lestari darinya.Dan akhirnya mereka bertengkar, Hanif juga ikut berpartisipasi. Perkelahian tersebut terhenti saat ada polisi yang datang dan menangkap mereka semua yang terlibat. Mereka dibawa ke kantor polisi dan beberapa jam kemudian Pak Kiai Ali datang untuk menjemput Hanif dan Mirza. Sesampainya di rumah, mereka dinasihati untuk tidak seperti itu lagi dan akhirnya Mirza pun dikembalikan keorang tuanya karena ia sudah mencemarkan nama baik pesantren dan bahkan sampai ML.
 Setelah Mirza pulang ke Bojonegoro, para warga dan orang-orang luar pesantren sudah mendengar berita tidak sedap itu, bahkan ada yang menganggap Hanif lah yang berhungan dengan Lestari. Dan pada saat itu Hanif mengaku kepada Sinta walaupun berita itu tidak benar sama sekali, dan akhirnya mereka berdua putus. Bahkan Sinta si pacar Hanifpun sudah dengar berita itu dan Sinta juga menganggap Haniflah yang telah berhubungan dengan Lestari.
Pada suatu hari Hanif pulang ke kampung halamannya karena adik perempuannya akan menikah. Pada saat itu Hanif naik bus, dan di dalam bus ada seorang gadis muda yang menyapa, ia bernama Wanda. Mereka bertukar cerita dan Wanda sempat meminta nomor HP hanif. Pada saat pernikahan Fitri (adik Hanif) Wanda datang. Waktu itu Wanda sudah merasakan kenyamanan dekat dengan Hanif.
Pada saat Hanif sudah kembali ke Pesantren, perubahan pesantren begitu pesat.Yaitu dinding pembatasnya telah dipasangi kawat berduri, dagangan di kopersi lebih komplit dan sebuah wartel dan tempat fotokopi dibangun di sampingnya. Seusai shalat isa para santri dikumpulkan di Masjid dan Kiai Ali memberikan ceramah. Ditengah-tengah ceramah itu tiba-tiba HP Hanif berbunyi, ternyata Wandalah yang menelpon.Wanda sedang sedih karena calon suaminya telah membohonginya, ternyata calon suaminya itu sudah mempunyai istri.Wanda ingin bertemu dengan Hanif. Pukul empat sore Hanif menuju Stasiun Radio Gita Pati FM tempat Wanda bekerja. Ketika Hanif datang Wanda masih siaran, beberapa menit kemudian Wanda keluar menemui Hanif. Wanda pun curhat, dan ia juga akan pergi ke Jakarta.
Sewaktu Hanif tengah duduk di teras asrama, tiba-tiba HPnya berdering dan Thohir yang memelpon mengabarkan bahwa ibunya meninggal. Hanif beserta Kiai Ali dan teman-teman pesantrennya berangkat ke rumah Hanif untuk melayat. Sesampai disana tubuh Hanif lemas dan pucat.Seusai dimakamkan rombongan pesatren menginap di rumah Hanif.
Hanif yang akhirnya memilih keluar dari pesantrennya dan akanbekerja di Surabaya. Akhirnya Hanif mendapat kerja disebuah toko pakaian milik Bu Yanti. Sepulang Hanif pulang kerja Thohir memberi tahu bahwa ada lowongan iklan casting di Jakarta. Hanifpun segera bergegas mengambil keputusannya yang siap ke Jakarta dengan segala resikonya. Hanif yang sudah di Jakarta dan siap untuk mengikuti casting. Di Jakarta Hanif tinggal bersama pamannya yaitu pak Yasman. Pada suatu hari Hanif datang ke kantor E-sis Production dan mengikuti casting. Dan akhirnya Hanif terpilih menjadi peran utama.
Hari berganti, seiring berjalannya waktu Wanda suka sama Hanif. Wandapun menembak Hanif. Hanif menerima cintanya Winda walaupun Hanif masih sering teringat sama Sinta sang mantannya itu. Setelah beberapa lama menjalin hubungan dengan Wanda, Hanif semakin tersesat. Hanif sering mabuk-mabukan dan Hanif juga berhungan intim dengan Wanda. Wandapun meminta agar Hanif  tidak meningalkannya.
Dari pesantren Sinta dimimpiin kiai Ali memakai pakaian adat Jawa. Sinta mengajak Hanif ke pesantren tersebut. Sesampainya di Pesantren ternyata kia Ali sudah meninggal. Beliau berpesan supaya tidak mementingkan nafsu duniawi, melainkan berpedoman pada jalan yang lurus, karena kesuksesan bukanah segalanya. Rencana Hanif ingin melamar Sinta, tetapi hubungan Hanif denagn Wanda belum berakhir. Hanif berbicara langsung kepada Wanda, bahwa hubungan mereka sudah tidak cocok lagi. Tiba-tiba telepon Hanif berdering, telepon dari Sinta rupanya. Mendengar Hanif sedang telepon dengan Sinta, Wanda shok, diangkatnya equalizer untuk menghantam Hanif. Seketika Hanif pingsan. Datanglah Sinta melihat Hanif tergeletak pingsan Sinta shok. Sinta dan Wanda berantem yang mengakibatkan Wanda melompat dari jendala, wanda meninggal.
Setelah satu tahun Hanif Dan Sinta menikah dan mempunyai anak bernama Wanda Mussaffa. Kini Hanif tidak lagi menjadi artis melainkan melainkan menjadi penulis buku dan novel.















DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H.1981. A Glossory of Literary Terms New York : Holt, Rinchart, and Wisnston.
Altenbernd. Lynn and Leslie L. Lewis. 1996. A Handback for the Study of Fiction. London: The Macmillan Company.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Foster, E.M. 197. Aspect of the Novel Harmondswort: Penguin Book.
Kenny, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York : Monarch Press.
Keraf, Gorys. 1990. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia.
Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.
Stantom, Robert. 1965. An Introdction to Fiction. New York: Holf, Rinchart, and Winston.
Welleck, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta; Gramesia.























Share this article :
 

+ komentar + 1 komentar

20 Oktober 2013 17.06

Perfect... aku suka novelnya,,, sampai terbawa perasaan,,So many kata-kata yang buat kita bisa intropeksi diri....

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger