kesalahan berbahasa dan bahasa yang baik dan benar dalam BAHASA INDONESIA


1. ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

1. Pengertian
            Pembelajaran bahasa pada dasarnya adalah proses mempelajari bahasa. Dalam mempelajari bahasa tentu tidak luput dari kesalahan. Corder (1990:62) menyatakan bahwa semua orang yang belajar bahasa pasti tidak luput dari kesalahan. Ingatlah bahwa kesalahan itu sumber inspirasi untuk menjadi benar.
            Studi mengenai kesalahan dan hubungannya dengan pengajaran bahasa perlu digalakkan sebab melalui kegiatan kajian kesalahan itu dapat diungkapkan berbagai hal berkaitan dengan kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh siswa atau pembelajar. Apabila kesalahan-kesalahan itu telah diketahui, dapat dugunakan sebagai umpan balik dalam penyempurnaan pengajaran bahasa.
            Hubungan antara pengajaran bahasa dengan kesalahan berbahasa itu sangat erat. Bahkan Tarigan (1990: 67) mengatakan bahwa hubungan keduanya ibarat air dengan ikan. Sebagaimana ikan hanya dapat hidup dan berada di dalam air, begitu juga kesalahan berbahasa sering terjadi dalam pembelajaran bahasa.
            Para pakar linguistik dan para guru bahasa Indonesia sependapat bahwa kesalahan berbahasa itu mengganggu pencapaian tujuan pengajaran bahasa. Oleh sebab itu, kesalahan berbahasa yang sering dibuat siswa harus dikurangi dan dihapuskan.
            Kesalahan berbahasa merupakan suatu proses yang didasarkan pada analisis kesalahan siswa atau seseorang yang sedang mempelajari sesuatu, misalnya, bahasa. Bahasa itu bisa bahasa daerah, bahasa Indonesia, bisa juga bahasa asing.
            Kemampuan menguasai bahasa secara baik dapat dilakukan seseorang dengan cara mempelajarinya, yaitu berlatih berulang-ulang dengan pembetulan di sana-sini. Proses pembelajaran ini tentunya menggunakan strategi yang tepat agar dapat memperoleh hasil yang positif.
            Analisis kesalahan berbahasa, ditujukan kepada bahasa yang sedang dipelajari atau ditargetkan sebab analisis kesalahan dapat membantu dan bahkan sangat berguna sebagai kelancaran program pengajaran yang sedang dilaksanakan. Maksudnya, dengan analisis kesalahan para guru dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa.
            Kesalahan itu biasanya ditentukan berdasarkan kaidah atau aturan yang berlaku dalam bahasa yang sedang dipelajari. Jika kata atau kalimat  yang digunakan siswa atau pembelajar tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku, maka pembelajar bahasa dikatakan membuat kesalahan.
            Dalam kaitannya dengan pengertian analisis kesalahan, Crystal (dalam Pateda,1989:32) mengatakan bahwa analisis kesalahan adalah suatu teknik untuk mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan secara sistematis kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa yang sedang belajar bahasa kedua atau bahasa asing dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur berdasarkan linguistik.
            Tarigan (1990:68) juga mengatakan bahwa analisis kesalahan berbahasa adalah suatu proses kerja yang digunakan oleh para guru dan peneliti bahasa dengan langkah-langkah pengumpulan data, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat di dalam data, penjelasan kesalahan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan itu.     
            Kesalahan berbahasa itu bisa terjadi disebabkan oleh kemampuan pemahaman siswa atau pembelajar bahasa. Artinya, siswa memang belum memahami sistem bahasa yang digunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara sistematis. Kesalahan jenis ini dapat berlangsung lama bila tidak diperbaiki. Perbaikannya biasanya dilakukan oleh guru. Misalnya, melalui pengajaran remidial, pelatihan, praktik, dan sebagainya. Kadangkala sering dikatakan bahwa kesalahan merupakan gambaran terhadap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang sedang dipelajari. Bila tahap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang dipelajari ternyata kurang, kesalahan akan sering terjadi. Kesalahan akan berkurang bila tahap pemahamannya semakin baik.     









2. BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

Bahasa Indonesia yang Baik
            Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi, seperti dalam kuliah, dalam seminar, dalam sidang DPR, dan dalam pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi, yang selalu memperhatikan norma bahasa.

Bahasa Indonesia yang Benar
            Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata diperhatikan dengan saksama, dan penataan penalaran ditaati dengan konsisten, pemakaian bahasa Indonesia dikatakan benar. Sebaliknya, jika kaidah-kaidah bahasa itu kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar.

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
                  Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken bukanlah lafal bahasa Indonesia.
            Pemakaian lafal asing sama saja salahnya dengan pemakaian lafal daerah. Ada orang yang sudah biasa mengucapkan kata logis  dan sosiologi menjadi lohis dan sosiolohi. Jika demikian, bagaiman dengan kata gigi? Apa dilafalkan hihi?



3. KESALAHAN PENERAPAN KAIDAH EJAAN

            Pada bagian ini dibahas tentang kesalahan-kesalahan penerapan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang sering kita jumpai dalam pemakaian bahasa Indonesia. Setelah disajikan bentuk-bentuk yang salah (nonbaku), disajikan pula bentuk-bentuk yang benar (baku) sebagai perbaikanya. Mudah-mudahan bentuk-bentuk perbaikan itu akan mengingatkan kita semua, pemakai bahasa, selalu berhati-hati dalam menerapkan kaidah ejaan ini. Hal ini disajikan secara rinci di bawah ini.

1. Pelafalan
1. Memuaskan 
            Dalam bahadasa Indonesia terdapat akhiran –kan, bukan –ken. Sesuai dengan tulisannya, akhiran itu tetap dilafalkan dengan [-kan], bukan [-ken]. Sementara ini memang ada orang yang melafalkan kata seperti  memuaskan dengan [memuasken],  diharapkan dengan [diharapken], diperhatikan dengan [diperhatiken]. Akan tetapi, pelafalan seperti itu jelas tidak tepat karena dalam bahasa Indonesia apa yang ditulis itulah yang dilafalkan.
            Timbulnya pelafalan yang tidak tepat itu di samping dipengaruhi oleh idiolek seseorang, juga besar kemungkinan dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah. Sungguhpun demikian, pemakai bahasa yang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia tentu tidak akan mengikuti cara pelafalan yang tidak tepat. Sebaliknya akan terus berusaha meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia, termasuk dalam pelafalannya.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar memang tidak semudah yang diduga orang. Kendati demikian, dalam berbahasa, terutama dalam situasi yang resmi, lazimnya orang selalu berusaha menggunakan bahasa sebaik-baiknya, baik dalam penggunaan kaidah tata bahasa maupun pelafalannya.
            Masyarakat kita yang berlatar belakang bahasa pertama bahasa daerah tampaknya memang sering mengalami kesulitan dalam menghilangkan pengaruh bahasa daerahnya ketika berbahasa Indonesia. Pengaruh itu terutama terlihat jelas dalam pelafalannya. “Penyakit” itu agaknya tidak hanya terjadi pada masyarakat awam, tetapi juga pada orang tertentu yang kebetulan menjadi pejabat pemerintah. Contohnya tidak hanya pada kata tersebut di atas, tetapi juga pada kata lain, seperti makin, malam, kedudukan. Menurut aturan lafal bahasa Indonesia, kata-kata itu seharusnya dilafalkan dengan [makin],  [malam], [kedudukan], bukan dengan [mangkin], [malem], [kedudu’an].  Lafal yang terpengaruh bahasa daerah itu dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik harus kita hindari karena lafal bahasa Indonesia yang baik adalah lafal yang tidak menampakkan pengaruh atau atau ciri-ciri lafal daerah atau dialek tertentu.  

2. Energi
            Kata energi sering dilafalkan dengan  [energi], [enerkhi], dan [enerji]. Kata energi dalam bahasa Indonesia diserap dari kata asing energie (Belanda) atau energy (Inggris). Sesuai dengan nama huruf di dalam abjad bahasa Indonesia, huruf g  tetap dilafalkan dengan [g], bukan [kh] atau [j], begitu pula halnya dengan huruf g  yang terdapat pada kata energi. Oleh karena itu, pelafalan yang baku untuk kata energi adalah [energi], bukan [enerkhi] atau [enerji].
            Pelafalan g dengan [kh] diduga merupakan pengaruh dari lafal bahasa Belanda, sedangkan dengan [j] diduga merupakan pengaruh dari lafal bahasa Inggris. Dalam berbahasa Indonesia yang baik, pelafalan yang terpengaruh bahasa asing itu patut kita hindari karena lafal bahasa Indonesia yang baik adalah lafal yang tidak menampakkan pengaruh dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.
            Beberapa contoh pelafalan kata yang serupa dapat diperhatikan di bawah ini.
Kata                            Lafal Baku                   Lafal Tidak Baku
biologi                         [biologi]                       [biolokhi], [bioloji]
teknologi                     [teknologi]                   [tehnolokhi], [tehnoloji], [teknoloji]
filologi                         [filologi]                      [filolokhi], [filoloji]
sosiologi                      [sosiologi]                    [sosiolokhi], [sosioloji]
fonologi                       [fonologi]                    [fonolokhi], [fonoloji]

3. Huruf e
            Huruf e dalam bahasa Indonesia mempunyai tiga macam bunyi, yaitu [e], [ ], dan [ ]. Ktiga bunyi itu penulisannya tidak dibdakan dan dilambangkan dengan satu huruf, yaitu e. Oleh sebab itu, kemungkinan para pemakai bahasa melafalkan huruf itu secara tidak tepat sudah merupakan suatu hal yang dapat diduga.
            Kesalahan yang banyak kita dengar dewasa ini adalah bercampuraduknya bunyi e pepet
[ ] dan e benar [e] . Kata-kata yang seharusnya dilafalkan dengan e pepet dilafalkan orang dengan e benar, demikian juga sebaliknya. 
Pada kata teras  huruf e dapat dilafalkan dengan e benar/taling) [e] atau e pepet [ ]  dengan makna yang berbeda. Jika dilafalkan dengan dengan e taling, kata teras berarti serambi atau emper, sedangkan jika dilafalkan dengan e pepet kata teras berarti ‘inti’, misalnya pejabat teras berarti ‘pejabat inti’.
Kata-kata seperti pegang, kemana, mengapa yang seharusnya dilafalkan dengan e pepet,  sering dilafalkan dengan e keras/taling. Sebaliknya, kata-kata seperti lengah, ide yang semestinya dilafalkan dengan e keras, dilafalkan dengan e pepet.
Kata esa pada Tuhan Yang Maha Esa sering dilafalkan dengan orang dengan e benar. Lafal yang benar adalah dengan bunyi e pepet karena e pada awal kata itu lemah bunyinya. Bunyi e itu lama kelamaan hilang lalu esa menjadi sa. Dalam bahasa Indonesia sa itu berubah menjadi se dan karena terdiri atas satu suka kata, dittuliskan sebagai awalan seperti kita lihat pada kata-kata sebatang, sebuah, semalam, sehari; artinya ‘satu’.

 4. Pasca dan Civitas academika
            Kata pasca dan civitas academica berasal dari bahasa yang berbeda. Kata pasca berasal dari bahasa Sansekerta, sedangkan civitas academica dari bahasaLatin. Oleh karena asalnya berbeda, cara melafalkannya pun tidak sama.
            Huruf c  pada kata pasca, sesuai dengan bahasa asalnya, dilafalkan [c], bukan [k]. Sejalan dengan itu, kata pasca pun dalam bahasa kita dilafalkan dengan [pasca], bukan [paska], misalnya pada pascapanen [pascapanen] dan pascasarjana [pascasarjana]. Di dalam kamus pun tidak ada keterangan yang memberi petunjuk bahwa pasca harus dibaca dengan [paska]. Oleh karena itu, pascapanen dan pascasarjana tidak dilafalkan dengan [paskapanen] dan [paskasarjana], tetapi dilafalkan dengan [pascapanen] dan [pascasarjana]. Bandingkan pelafalan pasca dengan panca, yang juga merupakan unsur serapan dari bahasa yang sama, yaitu Sansekerta. Dalam hal ini panca pun dilafalkan dengan [panca], bukan [panka], misalnya pada kata pancasila dan pancakrida.
            Huruf c dari bahasa  Latin, seperti halnya dari bahasa Inggris, tidak dolafalkan dengan {c], tetapi di satu pihak huruf itu dapat dilafalkan dengan [s], dan di pihak lain dapat pula dilafalkan dengan [k]. Huruf c asing, sesuai dengan penyerapannya, dilafalkan dengan [s] jika huruf itu terdapat di muka e, i, oe, dan y. 
Misalnya:
            cent     ------                sen
            central             --------             sentral
            circulation -----            sirkulasi
            coelom --------              selom
            cylinder--------             silinder
Adapun c asing dilafalkan dengan [k] jika huruf itu terletak di muka a, u, o dan konsonan.
            corelation        ----------            korelasi
            calculation       ----------            kalkulasi
            cubic                ----------            kubik
            construction    ----------            konstruksi
            classification   ----------            klasifikasi
Sejalan dengan keterangan itu, huruf c pada civitas pun dilafalkan dengan [s] karena terletak di muka i, tetapi pada academica c dilafalkan dengan [k] karena terletak di muka a. Dengan demikian, civitas academica dilafalkan dengan [sivitas akademika], bukan [civitas academica].


5. Singkatan cm dan ca
            Cm dan ca merupakan singkatan dari centimeter dan calcium. Kedua istilah itu telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi sentimeter dan kalsium. Sungguhpun demikian, singkatannya tetap dipertahankan sesuai dengan singkatan asingnya karena pemakaian singkatan itu sudah bersifat internasional. Jadi, dalam bahasa Indonesia pun bentuk singkatan itu tetap cm dan ca, tidak diubah menjadi sm dan ka.
            Dalam kaitannya dengan pelafalan perlu diketahui bahwa singkatan lazimnya dilafalkan dengan dua cara, yaitu ada yang dilafalkan denga huruf demi huruf, misal SD dengan [es-de], dan ada pula yang dilafalkan dengan mengikuti bentuk lengkapnya, misalnya, dsb., dan a.n. Yang dilafalkan dengan [dan sebagainya] dan [atas nama], bukan [de-es,be] dan [a-en]. Sejalan dengan itu, cm dan ca termasuk singkatan yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Oleh karena itu, cm dan ca tidak dilafalkan dengan [ce-em] dan [ce-a], tetapi dengan mengikuti bentuk lengkapnya yang telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia, yaitu [sentimeter] dan [kalsium].
            Singkatan lain, yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya seperti di bawah ini.
            Singkatan                                            Pelafalannya
            Sdr.                                                     [saudara]
            dst.                                                      [dan seterusnya]
            ybs.                                                      [yang bersangkutan]
            tsb.                                                      [tersebut]
            d.a.                                                      [dengan alamat]
            dll.                                                       [dan lain-lain]


6. Singkatan dan Akronim Asing
            Singkatan dan akronim asing pelafalannya diperlakukan agak berbeda dengan singkatan dan akronin bahasa Indonesia. Sebagai singkatan, huruf dari bahasa mana pun dilafalkan menurut  abjad bahasa Indonesia. Oleh karena itu, singkatan asing pun dilafalkan seperti halnya lafal bahasa Indonesia.
Misalnya:
            Singkatan                    Lafal Baku                  Lafal Tidak Baku
            FAO                            [ef-a-o]                        [ef-ey-ow]
            IGGI                           [i-ge-ge-i]                    [ay-ji-ji-ay]
            DO                              [de-o]                          [di-ow]
            BBC                            [be-be-ce]                    [bi-bi-si], [be-be-se]
            AC                              [a-ce]                           [ey-si], [a-se]
            WC                              [we-ce]                        [we-se], [dablyu-si]
            TV                               [te-ve]                          [ti-vi]
            TVRI                           [te-ve-er-i]                   [ti-vi-er-i]
            Dahulu, ketika bahasa Indonesia masih menggunakan ejaan lama, singkatan BBC, AC, dan WC, pelafalannya [be-be-se], [a-se], dan [we-se] karena pelafalan itu sesuai dengan nama huruf  c dalam ejaan lama, yaitu se. Akan tetapi, sejak EYD diresmikan dan nama huruf c diubah menjadi [ce]. Dengan demikian, BBC, AC, dan WC, pelafalannya yang baku adalah [be-be-ce].[a-ce], dan [we-ce] karena disesuaikan dengan nama hurf c yaitu ce, sedangkan [be-be-se], [a-se], dan [we-se] dipandang sebagai lafal yang tidak baku.
            Dalam hubungan itu, singkatan asing tidak dilafalkan dengan lafal asingnya karena dapat menyulitkan para pemakai bahasa Indonesia. Jika singkatan dari bahasa Inggris harus dilafalkan menurut huruf dalam bahasa Inggris, misalnya, bagaimana kalau kita dihadapkan pada singkatan dari bahasa asing yang lain, seperti Prancis, Rusia, Jerman, dan Jepang? Berapa banyak masyarakat kita yang mengenal nama huruf di dalam bahasa-bahasa itu? Bagaimana pula melafalkan huruf dalam bahasa-bahasa itu, tentu tidak banyak yang tahu.
            Dengan pertimbangan bahwa orang Indonesia yang paham bahasa Indonesia dengan abjadnya lebih banyak daripada jumlah orang yang mengenal bahasa asing dengan abjadnya, sebaiknyalah singkatan dari bahasa mana pun, demi kejelasan informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat luas, dilafalkan menurut nama huruf yang terdapat dalam abjad bahasa Indonesia.  Jadi, singkatan asing yang terdapat dalam bahasa Indonesia tetap dilafalkan sesuai dengan lafal bahasa Indonesia.
            Berbeda halnya dengan singkatan, akronim lazimnya dipandang seperti kata biasa. Dalam hal ini, akronim asing pun dipandang identik dengan kata asing.  Kalau kata asing dilafalkan mengikuti lafal aslinya, akronim asing pun dilafalkan sesuai dengan lafal akronim itu dalam bahasa asalnya. Dengan demikian, akronim asing yang digunakan dalam bahasa Indonesia, terutama yang pemakaiannya sudah bersifat internasional, dilafalkan sesuai dengan lafal bahasa aslinya.
Misalnya”
            Akronim                      Lafal Baku                  Lafal Tidak Baku
            Unesco                        [yunesko]                    [unesko]
            Unicep                         [yunisyep]                   [unicep]
            Di samping  akronim dan kata asing, unsur serapan yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, yang masih ditulis dengan ejaan asing pelafalannya pun disesuaikan dengan lafal bahasa asingnya.
Misalnya:
            reshufle tetap dilafalkan [riesafel]
            shuttlecock tetap dilafalkan  [syatelkak]

7. Angka Tahun dan Angka 0
            Sampai saat ini pelafalan angka tahun dan angka memang cukup bervariasi. Tahun 1989, misalnya, ada yang melafalkan dengan [satu-sembilan-delapan-sembilan] atau angka demi angka, tetapi ada pula yang melafalkannya dengan [sembilan belas-delapan sembilan]. Di samping itu, juga tidak sedikit yang melafalkannya dengan [seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan]. Dari berbagai variasi itu, pelafalan yang dipandang resmi adalah yang terakhir, yaitu seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Pelafalan itu pulalah yang sebaiknya digunakan, sedangkan dua pelafalan lainnya dipandang tidak baku.
            Angka 0 berarti ‘kosong’ atau ‘tidak ada apa-apanya’. Dalam bahasa kita pelafalan angka itu yang sebaiknya digunakan adalah [nol], bukan [kosong]. Misalnya, nomor telepon 306039 dilafalkan dengan [tiga-nol-enam-nol-tiga-sembilan], bukan [tiga-kosong-enam-kosong-tiga-sembilan].
            Pelafalan angka 0 dengan [kosong] kemungkinan dipengaruhi oleh bahasa Inggris zero, yang dalam bahasa kita memang sering diterjemahkan dengan kosong.

8. Bank
            Kata bank  termasuk kata atau istilah asing yang telah diserap ke dalanm bahasa Indonesia. Namun ejaan asingnya masih dipertahankan untuk membedakannya dnegan kata Indonesia bang atau abang yang merupakan kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan.
            Kata bank dilafalkan dengan [bang] atau [bangk]. Bunyi [k] pada akhir kata itu sering tidak begitu jelas. Akan tetapi, apabila kata itu mendapat imbuhan per-an, bunyi [k] akan muncul kembali sehingga menjadi [perbangkan].

9. Masalah
            Kata masalah diserap dari bahasa Arab, Dalam bahasa Indonesia konsonan yang diapit oleh vokal, dilafalkan mengikuti vokal berikutnya. Oleh sebab itu, pelafalan kata masalah yang sesuai dengan lafal bahasa Indonesia adalah [ma-sa-lah], sedangkan [mas-a-lah] merupakan lafal dipengaruhi oleh bahasa asalnya, yaitu Arab.


2. Penulisan
1. Sudahkah anda membayar PBB?
            Penulisan kata anda di atas tidak sesuai dengan kaidah penulisan huruf kapital. Menurut aturan yang berlaku, kata tersebut mesti diawali dengan huruf kapital A sehingga menjadi Anda karena kata tersebut termasuk kata sapaan. Beberapa kaidah penulisan huruf kapital adalah sebagai berikut.
  1. Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kalimat yang berupa petikan langsung. Marilah kita lihat dahulu contoh yang salah.
Bentuk Salah
(1)   Adik bertanya, “kapan kakak pulang?”
(2)   Guru mereka menasihatkan,”rajin-rajinlah kamu belajar agar lulus dalam ujian.”
Huruf-huruf yang dicetak miring di atas (k pada kapan, r pada rajin) jelas tidak sesuai dengan kaidah ejaan karena huruf-huruf itu mengawali petikan langsunb. Perbaikannya adalah seperti di bawah ini.
Bentuk Benar
(1a) Adik bertanya, “Kapan Kakak pulang?”
(2a) Guru mereka menasihatkan, rajin-rajinlah kamu belajar agar lulus dalam ujian.”
Catatan:
Tanda baca sebelum tanda petik awal adalah tanda koma(,) bukan titik dua (:)












4. BENTUK BAKU DAN TIDAK BAKU
           
Bahasa yang mantap mengenal satu kata untuk konsep tertentu. Artinya, satu pengertian dinyatakan oleh satu kata atau satu bentuk tertentu, tidak boleh beberapa bentuk yang mirip. Haruslah ditentukan mana bentuk yang baku dan mana bentuk yang nonbaku, sehingga di dalam tuturan resmi, hanya bentuk baku itulah yang digunakan. Beberapa bentuk kembar disajikan sebagai berikut.

1. analisa dan analisis
Dewasa ini masih tetap dipertanyakan orang tentang bentuk kata yang berbunyi akhir –a atau –is seperti analisa dan analisis. Sampai sekarang ini masih tetap kita lihat dua bentuk itu dipakai orang secara bergantian. Ada orang yang menggunakan bentuk analisa, tetapi ada juga orang yang menggunakan analisis.
Secara historis, kata itu dahulu diserap dari bahasa Belanda: analyse. Karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/,  maka /e/ pada akhir kata itu diganti dengan bunyi /a/, lalu kedua patah kata itu dijadikan analisa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebuah lembaga di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Depetemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang “mengurus” bahasa dan pekerjaannya antara lain membentuk istilah, menetapkan : 1) sebaiknya dalam membentuk istilah yang mengambil dari bahasa asing, kita mendahulukan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama dalam pendidikan di Indonesia; 2) sebaiknya dalam mengindonesiakan kata asing (bila tidak ditemukan padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah) diusahakan agar ejaannya dekat dengan ejaan bahasa asalnya, artinya, yang diganti hanyalah yang perlu saja.  Pada saat ini ditetapkan bahwa yang digunakan sebagai acuan  adalah bahasa bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris terdapat bentuk analysis.  Oleh karena itu, bentuk analysis-lah yang diserap dan dindonesiakan menjadi analisis.
Alasan mengacu kepada bahasa Inggris ini didasarkan kepada pendirian bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sifatnya internasional dan dekat kepada generasi seakarang maupun generasi yang akan datang. Bahasa Belanda tidak lagi dikenal oleh generasi muda dan agar pembentukan kata-kata Indonesia nanti tidak menjadi bersifat mendua, lebih baik kita mengacu kepada satu bahasa saja, yaitu bahasa Inggris. Pendirian ini memang tidak selalu bertaat asas secara ketat sebab dalam kenyataannya banyak kata yang berasal dari bahasa Belanda tidak diubah lagi karena kata-kata itu sudah melembaga dalam bahasa Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang diubah.
Mengubah sesuatu yang sudah melembaga dan sudah sangat biasa digunakan oleh pemakai bahasa memang tidak mudah. Buktinya dapat kita lihat pada kedua patah kata yang sudah kita bicarakan itu. Bentuk analisis sudah tinggi kekerapan pemakaiannya di kalangan perguruan tinggi, tetapi di luar itu masih lebih banyak digunakan bentuk analisa. Jika bentuk analisis yang kita gunakan sebagai bentuk dasarnya, maka kata bentukannya dengan imbuhan bahasa Indonesia (awalan, akhiran) harus pula sejalan dengan bentuk dasar itu. Jadi, menganalisis, dianalisis, penganalisisan, bukan menganalisa, dianalisa, penganalisaan. Penggunaan bentuk baru yang sudah ditetapkan ini tentu perlu dipatuhi dan melalui pembiasaan, lama kelamaan kita akan terbiasa menggunakan bentuk yang baru itu.

2. anarkis dan anakistis
            Dalam berbahasa, kata anarkis tampaknya lebih banyak digunakan daripada anarkistis. Kedua kata itu sering digunakan dalam pengertian yang tertukar. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut.
1. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkis.
            Kata anarkis pada kalimat itu tidak tepat. Untuk mengetahui hal itu, kita perlu memahami pengertian kata anarkis.
            Kata anarkis (anarchist) berkelas nomina dan bermakna’penganjur (penganut) paham anarkisme’ atau’ orang yang melakukan tindakan anarki’. Dari pengertian tersebut ternyata anarkis bermakna ‘pelaku’, bukan ‘sifat anarki’. Padahal, kata yang diperlukan dalam kalimat tersebut adalah kata sifat untuk melambangkan konsep ‘bersifat anarki’. Dalam hal ini, kata yang menyatakan ‘sifat anarki’ adalah anarkistis, bukan anarkis. Kata anarkis sejalan dengan linguis ‘ahli bahasa’ atau pianis ‘pemain piano’, sedangkan anarkistis sejalan dengan optimistis ‘bersifat optimis’ dan pesimistis ‘bersifat pesimis’ Dengan demikian, kata anarkis pada kalimat tersebut lebih baik diganti dengan anarkistis sehingga kalimatnya menjadi sebagai berikut.
1a. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkistis. 


3. antri dan antre
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), kata yang baku adalah antre (dengan e) yang berarti ‘berdiri berderet-deret menunggu giliran. Penulisan antri’ (dengan i) adalah bentuk yang tidak baku.

4. anutan dan panutan
            Akhiran –an yang melekat pada kata kerja mengandung arti antara lain, ‘hasil atau ‘yang di’, seperti tampak pada kata tulisan ‘hasil menulis’ atau ‘yang ditulis’; karangan ‘hasil mengarang’ atau ‘yang dikarang’; rangkuman ‘hasil merangkum’ atau ‘yang dirangkum’; simpulan ‘hasil menyimpulkan’ atau ‘yang disimpulkan’. Kata anutan, bukan panutan sebab berasal dari kata anut yang mendapat akhiran –an, yang berarti ‘hasil menganut’ atau ‘yang dianut’. Dengan demikian, bentukan panutan merupakan bentukan yang salah kaprah.

5. ahli dan akhli
            Kata ahli merupakan serapan dari kata bahasa Arab. Kata akhli tidak baku karena mengandung konsonan k. Padahal dalam kata sumbernya tidak berhuruf konsonan k. Kata ahli berrati ‘orang yang mahir’ atau paham sekali dalam suatu ilmu.  

6. akta dan akte
            Kata akta merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu act. Penyerapannya dengan cara mengganti huruf  konsonan c dengan huruf konsonan k dan membubuhkan huruf vokal a pada akhir kata itu sehingga terbentuklah akta. Hal itu mengingatkan kita pada proses pembakuan sejumlah kata yang setipe, misalnya kata legenda sebagai kata baku merupakan serapan dari kata legend (Inggris), kata norma sebagai kata baku merupakan serapan dari kata norm (Inggris), sketsa sebagai kata baku merupakan serapan dari kata scats (Inggris).
            Kita ketahui bahwa kata akte merupakan serapan dari kata bahasa Belanda, yaitu akte. Dalam hal ini, yang dikembangkan pemakaiannya adalah akta, seperti halnya kata legenda. Padahal, dalam bahasa Belanda ditemukan kata legende. Atas dasar pertimbangan itu, diketahui bahwa kata yang baku ialah akta, sedangkan kata yang tidak baku adalah akte. Kata akta berrati ‘surat tanda bukti berisi pernyataan resmi yang dibuat menurut peraturan yang berlaku’.

7. cedera dan cidera
            Bentuk cedera merupakan kata bahasa Indonesia dan pemakaiannya sangat lazim. Oleh karena itu, kata yang baku ialah cedera. Kata cidera termasuk kata yang tidak baku karena tingkat kelazimannya di bawah kata cedera. Kata cedera berarti ‘cacat sedikit’.

8. colok pada menyolok dan mencolok
            Fonem /c/ pada kata dasar banyak yang menjadi luluh apabila mendapat awalan meN-, seperti pada bentuk menyolok. Padahal, fonem ini tidak luluh apabila mendapat awalan meN-, seperti kita juga tidak pernah mengatakan menyukur atau menyari, tetapi mencukur atau mencari.
            Dalam bahasa lisan yang tidak resmi memang sering digunakan bentuk-bentuk seperti itu. Akan tetapi, dalam ragam tulis baku, bentuk bentuk itu mencolok,mencuci, mencicil.

9. darma dan dharma  
            Kata darma merupakan kata yang diserap dari bahasa Sansekerta dharma. Kata ini disesuaikan ejaannya dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bentuk yang baku ialah darma. Sebaliknya, kata dharma tidak baku karena ejaannya belum sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Kata darma mengandung arti ’kewajiban’, ‘tugas hidup’, dan ‘kebajikan’. 

10. darmabakti, darma bakti, dan dharma bhakti
            Kebakuan dan ketidakbakuan pasangan kata itu terletak pada ejaannya. Karena merupakan sebuah kata, bentuk darma harus digabungkan dengan bentuk bakti. Oleh krena itu, kata yang baku ialah darmabakti. Sedikitnya ada dua alasan yang menyebabkan bentuk dharma bhakti bukan merupakan bentuk baku, yaitu (1) ejaannya belum benar dan (2) bentuk dharma dipisahkan dengan bentuk bhakti. Kata darmabakti mengandung arti ‘perbuatan untuk berbakti (kepada negara, agama)’.
            Dengan beranalogi pada  hal di atas, dapat diketahui bahwa darmasiswa, darmawisata, merupakan kata baku, sedangkan darma siswa, darma wisata ialah kata tidak baku. Kata darmasiswa mengandung arti ‘uang yang disediakan untuk mebiayai pelajar atau mahasiswa’. Kata darmawisata mengandung arti ‘perjalanan singkat dengan tujuan bersenang-senang’.

11. daya guna dan dayaguna
            Bentuk daya guna merupakan kata gabung. Oleh karena itu, penulisan bentuk daya harus dipisahkan dengan bentuk guna. Kata itu setipe dengan kata-kata hasil guna, tanda tangan, tepuk tangan, tumpang tindih, dan tanggung jawab (dalam arti sebagai gabungan yang unsur-unsurnya harus dipisahkan penulisannya). Dengan demikian, kata yang baku ialah daya guna. Jika dua bentuk itu mendapatkan awalan dan akhiran, maka penulisannya digabungkan. Misalnya mendayagunakan, didayagunakan. Kata dayaguna (digabungkan) merupakan kata yang tidak baku. Kata daya guna mengandung arti ‘kemampuan yang mendatangkan hasil dan manfaat’, ‘efisien’, dan ‘tepat guna’.

12. deskriptip dan deskriptif
            Anda mungkin bertanya? Manakah bentuk yang betul atau bentuk yang baku di antara kedua bentuk di atas. Bentuk dengan akhir /p/ atau /f/? Mari kita teliti bunyi ketentuan yang terdapat dalam  buku Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan.
            ive, ief menjadi if
            descriptive,                  descriptief        à deskriptif
            demonstrative,             demonstratief  à demonstratif
maksudnya, kata dari bahasa Inggris yang berakhir –ive, yang semakna dan mirip bentuknya dengan kata bahasa Belanda yang berakhir dengan –ief, dalam bahasa Indonesia menjadi kata dengan akhir –if. Jadi, v dan f yang dilafalkan dengan /f/. Itu ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf f. Jangan dijadikan atau diganti dengan p. Bentuk-bentuk aktip, positip, demonstratip, produktip, eksekutip, legislatip bukanlah bentuk-bentuk yang baku. Semua kata yang sudah disebutkan itu haruslah berakhir dengan –if, bukan –ip. Jadi, yang baku ialah aktif, positif, demonstratif, produktif, eksekutif, legislatif.

13. dukacita dan duka cita
            Kata dukacita merupakan sebuah kata. Oleh karena merupakan sebuah kata, penulisan bentuk duka harus digabungkan dengan bentuk cita. Dengan demikian, kata yang baku ialah dukacita. Bentuk duka yang dipisahkan penulisannya dengan bentuk cita merupakan bentuk yang tidak baku. Kata dukacita mengandung arti ‘kesedihan’ atau ‘kesusahan’
14. efektif dan efektip  
            Kata efektif merupakan serapan dari kata bahasa Belanda effectief atau dari kata bahasa Inggris effective. Di samping perubahan yang lain, yang perlu diperhatikan ialah bahwa bunyi -ief atau -ive pada kata asing itu menjadi –if setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah efektif, sedangkan  kata efektip merupakan kata yang tidak baku. Kata efektif mengandung arti ‘ada efeknya’, manjur tau mujarab, dan ‘berhasil guna’.

15. eksklusif dan exclusif
            Kata eksklusif merupakan serapan dari kata kata bahasa Inggris exclusive. Penyerapan dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabungan huruf ks, huruf konsona c dengan huruf konsonan k, dan mengganti bunyi ive dengan bunyi if. Karena ejaannya sudah benar, bentuk eksklusif merupakan kata baku, sedangkan exclusif merupakan kata yang tidak baku karena ejaannya masih salah. Kata eksklisif berarti ‘terpisah dari yang lain’ atau ‘tidak termasuk’.

16. ekspor dan eksport  
            Kata ekspor merupakan serapan dari kata bahasa Inggris export. Penyerapannya dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabunagn huruf konsonan ks dan menghilangkan konsonan t pada akhir kata itu. Benrtuk ekspor merupakan kata baku karena ejaannya sudah benar. Oleh karena pada kata eksport masih  mengandung huruf konsonan t, maka kata eksport tidak baku. Kata ekspor berarti ‘pengiriman barang ke luar negeri’.

17. eksporter dan eksportir  
            Kata eksporter merupakan serapan dari kata exporter (Inggris). Penyerapannya dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabungan huruf ks. Oleh karena itu, bentuk ekporter merupakan kata baku. Kata eksportir merupakan serapan dari kata exporteur (Belanda). Kita ketahui bahwa kata yang dikembangkan pemakaiannya ialah kata yang diserap dari bahasa Inggris, yaitu exporter. Dengan demikian, kata yang baku ialah eksporter, sedangkan kata  eksportir merupakan kata yang tidak baku. Kata eksporter mengandung arti ‘pengekspor’.



18. ekstrem  dan ekstrim
            Kata ekstrem merupakan serapan dari kata extreem (Belanda) atau serapan dari kata extreme (inggris). Di samping perubahan yang lain (misalnya huruf konsonan x berubah menjadi bagungan huruf konsonan ks), yang perlu diperhatikan bahwa deret huruf vokan ee atau vokal e yang mengikuti huruf konsonan r tetap menjadi e (bukan i) setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah ekstrem, sedangkan ekstrim merupakan kata yang tidak baku. Kata ekstrem mengandung arti ‘fanatik’, atau ‘sangat keras dan teguh’.

19. hipotesa dan hipotesis
Secara historis, kata-kata itu dahulu diserap dari bahasa Belanda: hypothese. Karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/,  maka /e/ pada akhir kata itu diganti dengan bunyi /a/, lalu kedua patah kata itu dijadikan hipotesa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebuah lembaga di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Depetemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang “mengurus” bahasa dan pekerjaannya antara lain membentuk istilah, menetapkan : 1) sebaiknya dalam membentuk istilah yang mengambil dari bahasa asing, kita mendahulukan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama dalam pendidikan di Indonesia; 2) sebaiknya dalam mengindonesiakan kata asing (bila tidak ditemukan padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah) diusahakan agar ejaannya dekat dengan ejaan bahasa asalnya, artinya, yang diganti hanyalah yang perlu saja.  Demikian juga halnya dengan kata hypothesis. Kata itu lalu diindonesiakan menjadi hipotesis.
Alasan mengacu kepada bahasa Inggris ini didasarkan kepada pendirian bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sifatnya internasional dan dekat kepada generasi seakarang maupun generasi yang akan datang. Bahasa Belanda tidak lagi dikenal oleh generasi muda dan agar pembentukan kata-kata Indonesia nanti tidak menjadi bersifat mendua, lebih baik kita mengacu kepada satu bahasa saja, yaitu bahasa Inggris. Pendirian ini memang tidak selalu bertaat asas secara ketat sebab dalam kenyataannya banyak kata yang berasal dari bahasa Belanda tidak diubah lagi karena kata-kata itu sudah melembaga dalam bahasa Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang diubah.
Mengubah sesuatu yang sudah melembaga dan sudah sangat biasa digunakan oleh pemakai bahasa memang tidak mudah. Buktinya dapat kita lihat pada kedua patah kata yang sudah kita bicarakan itu. Bentuk hipotesis dan analisis sudah tinggi kekerapan pemakaiannya di kalangan perguruan tinggi, tetapi di luar itu masih lebih banyak digunakan bentuk hipotesa dan analisa. Jika bentuk analisis yang kita gunakan sebagai bentuk dasarnya, maka kata bentukannya dengan imbuhan bahasa Indonesia (awalan, akhiran) harus pula sejalan dengan bentuk dasar itu. Jadi, menganalisis, dianalisis, penganalisisan, bukan menganalisa, dianalisa, penganalisaan. Penggunaan bentuk baru yang sudah ditetapkan ini tentu perlu dipatuhi dan melalui pembiasaan, lama kelamaan kita akan terbiasa menggunakan bentuk yang baru itu.

20. izin dan ijin
            Di dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari kita sering menemukan tulisan kata tertrtentu secara berbeda. Ambillah contoh kata izin I dan ijin. Kita tentu bertanya tulisan man yang baku di atara keduanya itu. Untuk menjawab pertanyaanitu, kita harus kembali pada aturan pengindonesiaan kata asing.
            Di dalam Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dinyatakan bahwa ejaan kata yang erasal dari bahasa asing hanya diubah seperlunya agar ejaannya dalam bahasa Indonesia masih dapat dibandingkan dengan ejaan bahasa asalnya. Kata itu di dalam bahasa asalnya, yaitu Arab dituliss dengan huruf <zal>   yang diindonesiakan menjadi <z> . Dengan demikian, penulisan yang benar adalah izin bukan ijin.  

21. jadual dan jadwal
            Ada orang beranggapan bahwa yang baku adalah kata jadual karena mereka beranalogi pada kualitas  atau pada kuitansi. Jalan pikiran seperti itu sepintas lalu benar, tetapi sayang sekali analogi itu tidak tepat. Kata kualitas dan kuitansi berasal dari bahasa Inggris yang memang menggunakan u bukan w, yakni quality dan quitance, sedangkan jadwal tidak dapat disejajarkan dengan kedua kata itu karena tidak seasal. Jadwal berasal dari bahasa Arab. Perhatikan pemakaian yang salah berikut ini.
Bentuk salah
  1. Sesuai dengan jadual, perkuliahan semester ganjil akan dimulai tanggal 10 Oktober 1998.
  2. Bersama ini kami kirimkan jadual kuliah semester ganjil tahun akademik 1998/1999.


Bentuk Baku
  1. Sesuai dengan jadwal, perkuliahan semester ganjil akan dimulai tanggal 10 Oktober 1998.
  2. Bersama ini kami kirimkan jadwal kuliah semester ganjil tahun akademik 1998/1999. 

22. komoditas dan komoditi  
            Kata komoditas merupakan serapan dari bahasa Inggris comodity. Penyerapannya dengan mengganti huruf konsonan c dengan huruf konsonan k, menyederhanakan gugus konsonan mm memjadi m, mengubah bunyi –ty menjadi tas, sehingga terbentuklah kata komoditas. Kata itu dapat mengingatkan kita pada beberapa kata yang setipe, misalnya universitas merupakan serapan dari kata university, kapasitas merupakan serapan dari kata kapacity, dan loyalitas merupakan serapan dari kata loyality. Oleh karena itu, kata yang baku ialah komoditas, sedangkan kata yang tidak baku ialah komoditi. Kata komoditas berarti ‘barang dagangan utama’, ‘benda niaga’.

23. kompleks dan komplek  
            Kata kompleks merupakan serapan dari kata bahasa Belanda complex atau dari bahasa Inggris complex. Penyerapannya dengan cara mengganti konsonan c dengan k dan konsonan x dengan gabungan huruf konsonan ks, sehingga terbentuklah kompleks. Oleh karena itu, kata yang baku ialah kompleks. Kata kompleks berarti ‘ mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit, dan saling berhubungan’.

24. konkret, kongkret,  konkrit, dan kongkrit   
            Kata konkret merupakan serapan dari bahasa Inggris concrete. Di samping perubahan konsonan c menjadi k, yang perlu diperhatikan juga adalah  huruf konsonan n pada kata asing itu tetap n atau tidak menjadi ng setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah konkret. Kata koncret berati ‘nyata’, ‘benar’, dan ‘benar ada’.

25. kontroversial dan kontraversial  
            Kata kontroversial merupakan serapan dari kata bahasa Inggris contovercial. Penyeranannya dengan mengganti huruf konsonan c dengan huruf huruf konsonan k, sehingga terbentuklah kata kontroversial. Dengan demikian, kata yang baku ialah kontroversial. Kata kontraversial merupakan kata yang tidak baku. Kata kontroversial berarti ‘bersifat menimbulkan pertentangan’. 

26. kualitas dan kwalitas
            Kata kualitas merupakan serapan dari kata bahasa Inggris quality. Penyerapan dengan cara mungubah qua menjadi kua dan –ty menjadi tas, sehingga terbentuklah kualitas. Oleh karena itu, bentuk yang baku ialah kualitas. Bentuk kwalitas ialah bentuk yang tidak baku. Kata kualitas berarti ’tingkat baik buruknya sesuatu’.

27. linguis dan lingguis
            Kata linguis merupakan serapan dari kata bahasa Belanda linguist atau dari bahasa Inggris linguist. Di samping penghilangan huruf konsonan t pada akhir kata itu, yang perlu diperhatikan ialah bahwa gusus huruf konsonan ngg tidak terkandung pada kata asing itu. Oleh karena itu, kata yang baku ialah linguis, sedangkan kata lingguis tidak baku. Kata linguis berarti ‘ahli ilmu bahasa’.

28. linguistik dan lingguistik  
            Kata linguistik merupakan serapan dari kata bahasa Belanda linguistie atau dari kata bahasa Inggris linguistic. Oleh karena itu, kata yang baku ialah linguistik, sedangkan lingguistik merupakan kata yang tidak baku. Kata linguistik berarti ‘ilmu tentang bahasa’ atau telaah bahasa secara ilmiah’.

29. lokakarya dan loka karya
            Kata lokakarya merupakan sebuah kata. Oleh karena itu, penulisan bentuk loka harus digabungkan dengan karya. Dengan demikian, kata yang baku ialah lokakarya. Karena penulisan bentuk loka dipisahkan dengan bentuk karya, kata loka karya tidak baku. Kata lokakarya berarti ‘pertemuan antarpara ahli untuk membahas suatu masalah dalam bidang keahliannya’, ‘sanggar kerja’.


30. mancanegara dan manca negara  
            Bentuk mancanegara merupakan sebuah kata. Oleh sebab itu, bentuk manca harus digabungkan dengan bentuk negara. Dengan demikian, kata yang baku ialah mencanegara. Bentuk manca negara merupakan bentuk yang tidak baku karena ejaannya salah. Kata mencanegara berarti ‘negara asing’

31. multibahasa dan multi bahasa
            Satuan multi merupakan bentuk terikat. Oleh kerena bentuk multi merupakan bentuk terikat, maka penulisannya harus digabungkan dengan bentuk yang mengikutinya, yaitu bahasa. Dengan demikian multibahasa merupakan bentuk yang baku. Bentuk multi bahasa merupakan bentuk yang tidak baku karena penulisannya salah. Kata multibahasa berarti ‘mengandung lebih dari satu bahasa’ atau ‘mampu menggunakan lebih dari satu bahasa’. 

32. pascasarjana, pasca sarjana dan paskasarjana
            Bentuk pasca- merupakan awalan yang artinya ialah ‘sesudah’. Ucapannya ialah /pasca/, bukan /paska/ karena diserap dari bahasa Sanskerta. Oleh karena itu kata yang baku ialah pascasarjana. Pascasarjan berarti ‘pengetahuan sesudah sarjana’.

33. penatar dan petatar
            Penatar ialah ‘orang yang menatar’; kata tatar – menatar diserap dari bahasa daerah. Kata bahasa Inggrisnya up grading  yang dipadankan dengan penataran, yaitu kata kerjanya menatar. Petatar artinya ‘orang yang ditatar’. Bentuk ini beranalogi kepada bentuk yang sudah ada.
Dalam bahasa Indonesia dikenal bentuk penyuruh dan pesuruh. Penyuruh ialah ‘orang yang menyuruh’, sedangkan pesuruh ialah ‘orang yang disuruh’.Berdasarkan bentuk itulah dibentuk kata penatar dan petatar yang berarti ‘orang yang menatar’dan ‘orang yang ditatar’. Dewasa ini dijumpai pula bentuk–bentuk yang beranalogi kepada bentuk-bentuk itu, yaitu penyuluh dan pesuluh. Penyuluh ialah ‘orang yang menyuluhi, sedangkan pesuluh ialah  ‘orang yang disuluhi’.

34. perajin dan pengrajin
            Kata dasar berfonem awal /r/ jika diberi awalan pe-, bentuk awalan itu tetap pe-, seperti pada kata perawat, peramal. Bila kata dasar berupa kata sifat diberi awalan pe- maka awalan pe- mengandung makna ‘orang yang sifatnya seperti yang disebutkan kata dasar itu’.; Misalnya, pemalas ‘orang yang sifatnya malas, pemarah ‘orang yang sifatnya suka marah’. Beranalogi kepada bentukan itu maka perajin ialah ‘orang yang sifatnya rajin, (walaupun kata ini jarang dipakai dalam tuturan).
Kata pengrajin tidak berarti ‘orang yang sifatnya rajin’, tetapi ‘orang yang mengerjakan pekerjaan industri rumah seperti membuat keranjang, membuat tikar, membuat sepatu, dan sebagainya.

35. pimpinan dan pemimpin  
            Sekarang ini kata pemimpin dan pimpinan digunakan seolah-olah dengan fungsi yang sama . Misalnya dalam frase pimpinan proyek dan pemimpin proyek. Singkatan yang biasa digunakan di departemen dewasa ini ialah pimpro (pimpinan proyek). Yang ditanyakan sebagian orang ialah “Benarkah makna pimpinan proyek sama dengan pemimpin proyek?”
            Mari kita bahas makna kedua bentukan itu dengan menentukan arti imbuhan awalan pem- dengan akhiran –an pada bentuk dasar pimpin. Kita tahu bahwa awalan pe-, pem, pen-, peng-, atau peny- seperti pada kata perawat, pembeli, penjual, penggali ialah 1) ‘orang yang meng-‘; dan 2) ‘alat untuk meng-‘. Jadi, perawat ‘orang yang merawat’, pembeli ‘orang yang membeli’, penggali ‘orang yang menggali’ atau alat untuk menggali. Berdasarkan analogi bentukan itu, kita dapat mengatakan bahwa pemimpin artinya ‘orang yang memimpin.
            Akhiran –an pada bentuk dasar kata kerja seperti kata tulisan mempunyai arti ‘hasil menulis’ atau ‘yang ditulis’, karangan  ‘hasil mengarang’, atau ‘yang dikarang’.
            Agar bahasa Indonesia yang kita gunakan dapat memberikan makna yang lebih tepat, sebaiknya kita membedakan kedua bentuk itu. Jadi, pemimpin ialah’ orang yang memimpin’, sedangkan pimpinan ialah ‘hasil kerja memimpin’. Dalam kalimat:
  1. Sudah dua tahun beliau memimpin partai itu.
  2. Pemimpin yang jujur sangat dibutuhkan bagi pembangunan bangsa dan negara.
  3. Karana pimpinannya yang baik, perusahaan itu maju.
Pimpinan proyek yang teratur dimungkinkan berkat rencana yang matang.

36. pirsawan dan pemirsa
            Sekarang ini kita dengar dua bentuk yang digunakan orang. Mana di antara kedua bentuk itu yang betul?
            Kita menyerap akhiran darai bahasa sanskerta –wan dan –man. Mulanya dipakai pada ata-kata seperti hartawan , bangsawan, yang mengandung arti ‘yang memiliki’. Jadi, hartawan  berarti ‘yang memiliki harta’.
            Dalam bahasa Indonesia, makna akhiran itu meluas. Dapat berarti ‘orang yang ahli tentang’ misalnya ilmuwan sastrawan; dapat berarti ‘orang yang pekerjaannya atau orang yang sering melakukan pekerjaan itu, misalnya wartawan. Umumnya bentuk dasar kata-kata yang berakhiran –wan itu ialah kata benda. Tetapi ada juga beberapa kata sifat seperti setiawan’ yang memiliki sifat setia, sukarelawan ‘yang memiliki sifat sukarela.
            Kita kembali pada pertanyaan di atas. Bentuk dasarnya adalah pirsa yang dipungut dari bahasa Jawa dan kata itu adalah kata kerja. Bentuk aktifnya dalam bahasa Jawa mirsa (baca: mirso). Jika kata itu kita bentuk menurut aturan bahasa Indonesia, maka kata kerja bentuk aktifnya ialah memirsa yang artinya’ melihat serta memperhatikan’. Jadi, orang yang memirsa itu mengikuti dengan aktif dengan jiwanya apa yang dilihatnya, lebih besar perhatiannya daripada orang yang menonton.
            Kalau kata kerjanya memirasa seperti keterangan di atas, maka orang yang memirsa ialah pemirsa, bukan pirsawan. Berdasarkan makna akhiran - wan seperti yang dijelaskan di atas tadi, maka pirsawan  dapat berarti ‘orang yang ahli pirsa) atau ‘yang memiliki pirsa’ (tidak mungkin). Dengan alasan itu, maka bentuk pirsawan yang sering   digunakan orang itu bentuk yang kurang tepat.

37. proklamsi dan proklamir   
            Kata diproklamasikan merupakan bentukan dari kata dasar proklamasi dan imbuhan di-kan. Kata prokalmasi merupakan serapan dari bahasa Belanda proclamtie atau dari bahasa Inggris proclamation. Kata diprokalmirkan merupakan bentukan dari kata dasar proklamir  dan imbuhan di-kan. Kata proklamir merupakan serapan dari kata bahasa Belanda poclameren yang berarti ‘mengumumkan’. Oleh karena proklamir sudah berkategori verba (kata kerja), maka pembubuhan imbuhan di–kan pada kata itu tidak tepat karena artinya ‘dimengumumkan’ Bentuk ini merupakan merupakan bentuk yang  tidak logis. Atas dasar itu, dapat diketahui bahwa kata yang baku ialah diprokalmasikan dan diprokalmirkan merupakan kata yang tidak baku. Kata diproklamsikan berarti ‘diumumkan’.

38. prosen dan persen
            Kata persen berasal dari bahasa Inggris percent. Seperti unsur serapan yang lain, kata percent atau percentage ini hanya diubah seperlunya agar bentuk serapannya masih bisa dibandingkan dengan bentuk aslinya. Serapan yanmg dimaksud adalah persen atau persentase. Jadi, yang diubah hanyalah /c/ menjadi /s/ dan huruf /t/ di akhir kata dibuang, dan age diubah menjadi  ase.

39. rohaniwan dan rohaniawan
            Kata rohani dan rohaniah semuanya diserap dari bahasa Arab. Rohani ialah kata benda lawan jasmani  dan rohaniah berarti ‘yang bersifat rohani’. Demikian juga dapat dibandingkan dengann ilmu dan ilmiah. Ilmu bersinonim dengan kata pengetahuan, sedangkan ilmiah berarti ‘yang bersifat ilmu’. Rohaniwan berarti ‘orang yang ahli tentang (ilmu) rohani, atau ilmu agama’. Itu sebabnya pendeta, pastur, nabi dan penghulu disebut rohaniwan.
            Kalau bentuk rohaniawan itu diterima, itu berarti bahwa bentuk itu diambil dari rohaniah yang ditambah dengan akhiran –wan. Dari segi makna, bentuk itu tak dapat dipertangungjawabkan sebab rohaniah dalam bahasa Arab (diserap juga dalam bahasa Indonesia) yang berarti ‘yang bersifat rohani’. Oleh karena kata itu berarti seperti itu, maka tak dapat kita tambahkan akhiran –wan di belakangnya sebab arti kata bentukan itu tidak tepat; rohaniawan berarti ‘orang yang memiliki bersifat rohani’. Apa maksudnya itu? Berdasarkan alasan inilah, maka bentukan rohaniawan bukanlan bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan.

40 relawan dan sukarelawan 
            Dalam pemakaian bahasa Indonesia sering kita temukan penggunaan kata relawan dan sukarelawan.  Penggunaan kedua kata itu menyebabkan sebagian pemakai bahasa mempertanyakan bentuk manakah yang benar dari kedua kata itu?
            Dalam hal ini, kita perlu memahami bahwa imbuhan –wan itu berasal dari bahasa Sankerta. Imbuhan itu digunakan bersama kata benda (nomina) seperti pada kata
            bangsa + -wan -----      bangsaawan
            harta    + -wan -----      hartawan
            rupa     + -wan  -----     rupawan
Imbuhan itu menyatakan tentang ‘orang yang memiliki seperti yang disebukan pada kata dasar’. Jadi, bangsawan berrati ‘orang yang memiliki bangsa’ atau ‘keturunan raja dan atau kerabatnya’; hartawan ‘oarng yang memiliki harta; rupawan ‘orang yang memiliki rupa yang elok’ atau ‘orang yang elok rupa’.
            Dalam perkembangannya, arti imbuhan meluas. Pada kata ilmuwan, negarawan, sastrawan, misalnya, imbuhan –wan menyatakan ‘orang yang ahli dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya. Dengan demikian, ilmuwan berarti ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu tertentu; negarawan ‘orang yang ahli dalam bidang kenegaraan; sastrawan ‘orang yang ahli dalam bidang sastra’.
            Pada kata seperti olahragawan, usahawan, imbuhan –wan berarti orang yang berprofesi dalam bidang yang disebutkan pada kata dasar’. Jadi, olahragawan berarti’ orang yang memiliki profesi dalam bidang olah raga, usahawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang usaha (tertentu)’.
            Pada contoh itu terlihat bahwa imbuhan –wan pada umumnya dilekatkan pada kata benda (nomina), seperti bangsa, harta, ilmu, olah raga, dan usaha. Imbuhan-wan tidak pernah dilekatkan pada kata kerja (verba).
Berdasarkan kenyataan itu, penggunaan imbuhan –wan pada kata relawan dipandang tidak tepat. Hal ini sama kasusnya dengan penambahan –wan pada kata kerja pirsa yang menjadi pirsawan. Dalam hal ini pilihan bentuk kata yang benar adalah pemirsa, yaitu orang yang melihat dan memperhatikan atau menonton siaran televisi.
            Kata sukarelawan mengandung pengertian orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa. Kata sukarela ini berasal dari kata dasar sukarela dan imbuhan –wan.
Dalam kamus Besar bahasa Indonesia (1996;070) pun, bentukan kata yang ada adalah sukarelawan, sedangkan kata relawan tidak ada. Oleh karena itu, kata yang sebaiknya kita gunakan adalah sukarelawan, bukan relawan.    



41. semena-mena dan tidak semena-mena
            Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta dicantumkan sebagai berikut.
mena, tidak semena-mena: tidak dengan kira-kira, semau-maunya, sewenang-wenang, tidak beralasan yang patut.
            Melihat yang tercetak di dalam kamus itu, Anda tahu bahwa ungkapan yang benar bukan semena-mena, melainkan tidak semena-mena. Kata tidak di depan kata semena-mena sama sekali tidak boleh dihilangkan, seperti pemakaiannya dalam kalimat kutipan dari surat kabar: Semua tamu sama di mata kami, kata karyawati yang telah berpengalaman tadi. “ Ada yang baik dan sopan, ada pula yang seme-mena dan kurang ajar, baik tamu domestik maupun tamu asing”. Ungkapan yang sama artinya dengan sewenang-wenang ialah tidak semena-mena bukan semena-mena. Berbuat sewenang-wenang terhadap seseorang sama artinya dengan’berbuat tidak semena-mena terhadap seseorang’. Kata tidak dalam ungkapan itu berfungsi menentukan arti ungkapan itu. Oleh karena itu kata tidak jangan dihilangkan. Tentu saja tidak pandai tidak sama dengan pandai saja tanpa tidak; tidak berwibawa tidak sama artinya dengan berwibawa. Yang pertama bersifat ingkar, sedangkan yang ke dua justru sebaliknya.
            Sengaja ungkapan tidak semena-mena ini dibicarakan di sini karena pemakaiannya kacau. Kadang-kadang orang mengatakan atau menulis tidak semena-mena, tetapi kadang-kadang juga hanya semena-mena. Ungkapan yang benar ialah yang menggunakan kata tidak dengan arti yang sama dengan sewenang-wenang, yaitu tidak semena-mena.

42. sistim dan sistem
            Kata systeem (Belanda) dan system (Inggris). Dahulu, kata Indonesianya sistim karena kita mengindonesiakan kata bahasa Belanda  systeem. Bunyi teem dekat dengan bunyi tim. Itu sebabnya kata itu dijadikan sistim. Pada saat ini ditetapkan bahwa yang digunakan sebagai acuan  adalah bahasa bahasa Inggris. Oleh karena itu, kata system-lah yang diambil dan diindonesiakan menjadi sistem.

43. standard dan standar
            Kata–kata di atas berasal dari bahasa asing bahasa Inggris. Ada dua pendirian yang kita pegang dalam mengindonesiakan kata asing: 1) bentuk yang dipungut itu disesuaikan dengan bentuk bahasa Indonesia (sistem fonologi dan morfologinya); 2) sedapat-dapatnya ejaannya dekat dengan ejaan aslinya (visual). Mari kita teliti kata yang ditanyakan di atas?
            Dalam bahasa Inggris ada kata standard. Kata itu diserap  dan diindonesiakan menjadi standar. Mungkin Anda bertanya, “Mengapa /d/ pada akhir kata itu dihilangkan?” jawabnya< “Bunyi itu tidak berfungsi dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dibuang saja. Contoh seperti itu dapat dilihat pada kata lain seperti impor dan ekspor yang berasal dari bahasa Inggris import dan export (sama dengan bahasa Belanda). Bunyi /t/ pada akhir kata dihilangkan karena tidak berfungsi” . Kalau bunyi akhir yang tidak berfungsi itu diambil, maka akan timbul kesulitan bila memberi akhiran pada kata itu. Misalnya, kata standard yang diserap, bila diberi imbuhan pen-an, maka hasilnya ialah penstandardan, padahal bila bentuk standar yang diambil, maka hasilnya ialah penstandaran. Bentuk ini lebih sesuai karena sama dengan bentuk lain dalam bahasa Indonesia: penggambaran, pelemparan. Bentuk menstandarkan lebih mudah diucapkan dibandingkan dengan menstandardkan karena terdapat tiga konsonan berurutan /rdk/. 

44. standardisasi dan standarisasi
            Sekarang kita beralih pada bentuk  standardisasi dan standarisasi. Mana yang betul atau baku? Kata itu diserap dari bahasa Inggris standardization. Dalam bahasa Indonesia, bunyi –ion pada akhir kata Inggris dijadikan –si. Hal ini terjadi karena banyak kata yang telah diserap dahulu dari bahasa Belanda yang berakhir –tie (ucapannya /si/ dan sama dengan –tion dalam bahasa Inggris itu). Bahasa Belanda untuk kata itu standardsatie. Bunyi /z/ dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Belanda /s/ dijadikan /s/ dalam bahasa Indonesia. Yang lain tidak diubah karena prinsip yang dipegang ” sedekat mungkin dengan ejaan bahasa asalnya”. Hasilnya standardisasi.

 45.Ubah pada  Merubah dan Mengubah
            Kata mengubah kata dasarnya adalah ubah.  Jadi, bila kata dasarnya ubah, maka bentuk awalan yang muncul ialah meng-, bukan mer-, sehingga bentukan yang betul ialah mengubah, bukan merubah..
            Hasil pekerjaan mengubah ialah pengubahan. Kata merubah mungkin timbul karena orang mengacaukannya dengan bentuk dengan berawalan ber- yaitu berubah. Bentuk berubah dibentuk dari kata dasar ubah yang mendapat awalam ber-, bukan kata dasar rubah dengan awalan be-. Hal, hasil atau cara berubah ialah perubahan.

46. zaman dan jaman
            Kata zaman merupakan serapan dari bahasa Arab.  Kata ini ini diserap secara utuh. Kata zaman berarti ‘jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu’ atau ‘masa’ dan ‘kala’ atau ‘waktu’. Kata jaman termasuk kata yang tidak baku. 
























6. KONTAMINASI
           
            Kontaminasi berasal dari bahasa Inggris contamination  yang dapat diberi arti ‘pencemaran’. Dalam bidang bahasa, kontaminasi dipadankan dengan kerancuan. Kata kerancuan diturunkan dari kata dasar rancu yang mendapat simulfiks ke-an; rancu bersinonim dengan kacau. Jadi, kerancuan berarti kekacauan . Bentuk-bentuk yang rancu atau kacau dianggap sebagai bentuk yang salah.
            Apa yang rancu atau dirancukan itu? Yang dirancukan orang adalah susunan dua unsur bahasa, entah unsur itu imbuhan, kata, atau kalimat. Oleh sebab itu, kontaminasi bahasa dapat dibedakan atas:
1. kontaminasi bentuk kata
2. kontaminasi bentuk frase
3. kontaminasi bentuk kalimat
            Dalam kontaminasi, selalu terjadi paduan dua unsur yang kacau, artinya kedua unsur itu tidak seharusnya berpasangan. Misalnya, unsur A pasangannya unsur B, sedangkan unsur C pasangannnya unsur D. Jadi, A – B dan C – D. Apabila yang muncul bukan pasangan yang seharusnya, misalnya A – D atau C – B, maka gabungan ini disebut rancu atau kacau. Bentuk gabungan yang rancu atau kacau itulah yang disebut kontaminasi  dan bentuk kontaminasi di dalam bahasa dianggap sebahgai bentuk yang salah.

1. Kontaminasi Bentuk Kata
            Dalam sebuah pameran pernah ditulis orang pada  kain rentang sebagai berikut.
            DI SEKOLAH KAMI DIPELAJARKAN BERBAGAI KEPANDAIAN WANITA
             Dengan memperhatikan tulisan itu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin ada bentuk dipelajarkan?
            Dalam deretan bentuk dengan kata dasar ajar terdapat bentuk-bentuk :
            mengajar  - mengajarkan  - mengajari
            diajar        - diajarkan        - diajari
            belajar      - mempelajari   - dipelajari
            pelajar      - pelajaran        - terpelajar
            terajar       -terajarkan        - terajari
            ajaran       - pengajaran
            Tidak terdapat bentuk dipelajarkan.  Jika diperhatikan baik-baik, akan terungkap bahwa bentuk dipelajarkan merupakan bentuk  kontaminasi dari dua bentuk asal: dipelajari dan diajarkan. Kalimat yang rancu di atas kain rentang itu dapat dikembalikan pada dua bentuk asalnya yang betul.
  1. Di sekolah kami diajarkan berbagai kepandaian wanita.
  2. Di sekolah kami dapat dipelajari berbagai kepandaian wanita.
 Gejala kontaminasi pada kata bentukan lainnya, yaitu bentuk mengenyampingkan . Mari kita tinjau bagaimana proses pembentukannya. Kalau diambil bentuk dasarnya samping, kemudian kata ini diberi imbuhan di  - kan, maka bentuknya disampingkan. Bila bentuk ini diubah menjadi bentuk me-, maka hasilnya ialah menyampingkan. Kata dasar yang dimulai dengan /s/ memunculkan bentuk meny- dan fonem /s/ itu sendiri luluh di dalam bunyi nasal /ny/ itu. Bila bentuk dasar ke samping yang diambil, kemudian diberi imbuhan di- kan, hasilnya dikesampingkan (ditulis serangkai karena diapit oleh di- dan –kan sekaligus). Bila bentuk dikesampingkan diubah menjadi bentuk dengan imbuhan me – kan, maka hasilnya mengesampingkan,  bukan mengenyampingkan  karena bentuk dasarnya dimulai dengan /k/. Bila bentuk dasar berfonem awal /k/ diberi awalan me-, maka muncullah bentuk meng;  sedangkan /k/ luluh di dalam bunyi nasal /ng/ itu. Fonem /s/ pada bentuk dasar ke samping terletak di tengah kata. Oleh karena itu, tidak terpengaruh dengan pemberian awalan me-.
Bandingkan dengan contoh-contoh berikut.
      kosong        -       mengosongkan  
            kotor           -       mengotorkan
Perhatikan bentuk-bentuk di atas. Yang mengalami peluluhan hanyalah fonem awal  bentuk dasar, yaitu /k/. Fonem yang terletak di tengah kata  /s/, dan /t/ tidak mengalami peluluhan.  Tetapi, bila fonem-fonem ini terletak di depan bentuk dasar, pastilah fonem itu mengalami peluluhan. Misalnya.
tangkap   -  menangkap       ( /t/ ---à/n/ )
potong     -  memotong         (/p/ ---à/m/ )
susul        -  menyusul          ( /s/ ---à /ny/ )
            Bandingkan bentukan kata mengesampingkan dengan kata-kata bentukan di bawah ini. Cara pembentukannya sejalan. 
            tengah    -   ke tengah    -  mengetengahkan
            tepi        -   ke tepi         -  mengetepikan
            bumi       -   ke bumi      -   mengebumikan
Imbuhan me – kan seperti pada kata-kata itu mengandung makna ‘ membawa ke...’; misalnya mengetengahkan artinya ‘membawa ke tengah’; arti kiasannya ‘mengemukakan, mengutarakan, menyampaikan’ (pendapat, pikiran, saran, usul).
Bentuk mengenyampingkan yang rancu dapat dikembalikan pada dua bentuk asalnya yang betul, yaitu menyampingkan dan mengesampingkan.

2. Kontaminasi Bentuk Frase
 Kontaminasi bentuk frase sering juga terjadi dalam pemakaian bahasa Indonesia seperti bentuk berulang kali. Dilihat dari segi penggabungan kata, ungkapan itu memperlihatkan bentuk yang rancu. Bentuk asalnya ialah berulang-ulang dan  berkali-kali. Kedua ungkapan tu dijadikan orang menjadi satu ungkapan baru dengan mengambil berulang dari ungkapan pertama dan kali dari ungkapan ke dua, sehingga lahirlah gabungan yang rancu  itu. Berulang-ulang sama artinya dengan berkali-kali.
            Di samping itu, orang sering mengatakan mengajar bahasa Inggris, mengajar ilmu pengetahuan alam, dsb. Kalau dikatakan Saya mengajar bahasa Inggris, tentu dapat dikatakan Bahasa Inggris saya ajar. Benarkah itu? Jawabnya, tidak, karena bahasa Inggris tidak bisa diajar. Yang bisa diajar hanyalah orang, binatang, ikan (misalnya ikan lumba-lumba). Mata pelajaran, mata kuliah tidak dapat diajar tetapi diajarkan. Jadi, seharusnya dikatakan Saya mengajarkan bahasa Inggris di sekolah itu. Kebalikannya ialah Bahasa Inggris saya ajarkan di sekolah itu.
            Perhatikan penggunaan kata mengajar, mengajari, diajarkan, diajari, dalam kalimat-kalimat berikut.
            Guru Zain mengajar murid-murid bernyanyi.
            Guru Zain mengajari murid-murid bernyanyi.
            Murid-murid diajar bernyanyi oleh Guru Zain.
            Murid-murid diajari bernyanyi oleh Guru Zain.
            Guru Zain mengajarkan nyanyian kerpada murid-murid.
            Nyanyian diajarkan oleh Guru Zain kepada murid-murid.
            Seorang Ibu Guru memimpin sekelompok anak dalam sebuah acara siaran di TVRI. Ibu Guru itu berkata kepada anak-anak asuhannya, “Anak-anak, tentu di sekolah engkau telah diajarkan mendeklamasikan sajak.”
            Kacau benar kalimat Ibu Guru itu. Ini sebuah kontaminasi pula, hasil gabungan dua buah frase yaitu 1) engkau telah diajar atau diajari; dan 2) kepadamu telah diajarkan.
            Dalam kalimat lengkap:
  1. Anak-anak, di sekolah engkau tentu telah diajar (i) cara mendeklamasikan sajak.
  2. Anak-anak, di sekolah, kepadamu tentu telah diajarkan bagaimana cara mendeklamasikan sajak.
Jika dibalikkan susunan kata-katanya, kalimat( b) itu tentu menjadi:
  1. Bagaimana cara mendeklamasikan sajak, tentu telah diajarkan guru kepadamu di sekolah.
Jelas kepada kita yang telah dirancukan dalam kalimat di atas ialah susunan kata-kata engkau telah diajar dan kepadamu telah diajarkan.
Dalam salah satu harian ibu kota ditulis tentang kasus perampokan di Bali sebagai berikut.
Terus terang saja perampokan itu dilakukan oleh lima orang tak dikenal dengan terlebih dahulu melempari batu, kemudian menyerbu dua rumah yang berdampingan itu.
            Susunan kata melempari batu  dalam kalimat di atas jelas tidak tepat karena yang dilempari oleh lima orang itu bukan batu, melainkan rumah. Rumah yang berdampingan itu mula-mula dilempari mereka dengan batu, kemudian diserbunya. Jadi, yang dirancukan di dalam kalimat itu ialah melempari rumah dengan batu dan melemparkan batu ke rumah itu. Dengan demikian, kalimat yang rancu di atas dapat dikembalikan ke dalam dua kalimat yang betul sebagai berikut.
  1. Terus terang saja perampokan itu dilakukan oleh lima orang tak dikenal dengan terlebih dahulu melempari rumah dengan batu, kemudian menyerbu dua rumah yang berdampingan itu.
  2. Terus terang saja perampokan itu dilakukan oleh lima orang tak dikenal dengan terlebih dahulu melemparkan batu ke rumah itu, kemudian menyerbu dua rumah yang berdampingan itu.

3. Kontaminasi Kalimat
            Dalam penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini, sangat sering dijumpai kontaminasi dalam bentuk kalimat. Perhatikan contoh-contoh berikut.
            Bantuan itu diharapkan dapat meringankan para korban bencana alam.
            Dalam kalimat di atas telah terjadi kerancuan pengertian. Sepintas lalu terasa kalimat di atas itu susunannya betul. Namun, kalau diperhatikan secara teliti akan diketahui bahwa bantuan itu akan meringankan para korban bukanlah ungkapan yang tepat. Kalau dikatakan para korban yang diringankan, maka yang berat itu adalah para korban. Padahal, yang dimaksud untuk diringankan ialah penderitaan para korban. Penderitaan mereka berat karena itu perlu diringankan. Bukan mereka sendiri yang mau diringankan . Jadi, telah terjadi kerancuan antara:
menolong para korban yang tertimpa bencana, dengan meringankan beban penderitaan para korban.
            Bandingkan dengan kalimat Untuk meringankan kapal itu, sebagian muatannya dibuang ke laut. Kapal itu dibuat menjadi ringan dengan membuang sebagian muatannya ke laut karena ombak besar. Kalau kapal tidak diringankan ada kemungkinan kapal itu tenggelam.
            Kalimat yang rancu di atas dapat dikembalikan pada kalimat  yang betul sebagai berikut.
a)      Bantuan itu diharapkan dapat menolong para korban yang ditimpa bencana alam.
b)      Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban penderitaan para korban yang ditimpa bencana alam.
Kalau kedua kalimat itu disatukan, maka hasilnya sebagai berikut.
c)      Bantuan itu diharapkan dapat menolong meringankan beban penderitaan para korban yang ditimpa bencana alam.
Contoh lain:
            Di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu bermandikan cahaya lampu-lampu neon.
            Orang yang pernah mempelajari tata bahasa pasti tahu yang disebut dengan pokok kalimat (subjek) dan sebutan kalimat (predikat). Tiap-tiap kalimat tentu mempunyai subjek (S) dan predikat (P) sebab tak ada kalimat tanpa kedua unsur bahasa tersebut. Bila kita bertutur, kita mengetengahkan sesuatu kepada lawan bicara kita. Yang kita ketengahkan itulah yang disebut dengan subjek kalimat dan keterangan tentang subjek itu disebut dengan predikat.
Susunan kata-kata anak yang sakit tidak bisa disebut kalimat karena tidak mengandung unsur subjek dan predikat. Susunan kata-kata  anak itu sakit  sudah merupakan kalimat karena  Anak itu sebagai subjek kalimat (sesuatu yang diterangkan/ diketengahkan) dan sakit sebagai predikat (keterangan tentang subjek anak itu).
            Bila penutur hanya mengucapkan anak itu, kemudian ia berhenti berbicara, tentu pendengar akan bertanya, “ Mengapa anak itu?” atau “Diapakan anak itu?” atau “Bagaimana anak itu?”  Jawaban atas pertanyaan itulah predikat kalimat yang dimaksud. Jika hanya dikatakan sakit,  orang akan bertanya, “Siapa yang sakit?’ atau “Apa yang sakit?” Jawaban atas pertanyaan itulah yang disebut subjek.
            Sekarang mari kta kembali pada kalimat contoh tadi. Jika kita bertanya,”Apakah yang bermadikan cahaya lampu-lampu neon?” Jawabnya tentu tidak mungkin “di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh lampu-lampu neon itu” sebab bagian kalimat yang dimulai dengan kata depan di  menunjuk pada keterangan tempat. Pertanyaan untuk jawaban itu haruslah di mana.
            Misalnya:
            Di mana kaubeli buku itu?  Jawabnya: di toko Guna Agung.
            Di mana kendaraan hilir mudik ?  jawabnya : di jalan-jalan di kota itu.
            Jawaban yang tepat untuk pertanyaan “Apakah yang bermadikan cahaya lampu-lampu neon?” ialah “jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu”. Jawaban ini merupakan subjek kalimat itu dan bermadikan cahaya lampu-lampu neon adalah predikatnya.
            Kalimat di atas  jelas sebuah kalimat yang rancu. Kalimat yang betul sebagai berikut.
  1. Jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu bermandikan cahaya lampu-lampu neon.
  2. Di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu tampak berpancaran cahaya lampu-lampu neon.
Jadi, di sini terlihat bahwa kalimat yang rancu, selalu dapat dikembalikan pada bentuknya yang betul, yaitu dua kalimat asalnya.
Mungkin Anda bertanya,  “Mengapa timbul kalimat-kalimat yang rancu sepertii itu?” Jawabnya ialah sebagai berikut.
a)      Pemakai bahasa tidak menguasai benar struktur bahasa Indonesia yang baku, yang baik dan benar.
b)      Pemakai bahasa tidak memiliki cita rasa bahasa yang baik, sehingga tidak dapat merasakan kesalahan bahasa yang dibuatnya.
c)      Dapat juga kesalahan itu terjadi tidak dengan sengaja karena ketika ia akan menuturkan suatu kalimat tertentu, muncul dalam pikirannya kalimat yang hampir sama struktur dan maknanya dengan kalimat yang akan dituturkan itu.




























6. PLEONASME
            Gejala bahasa pleonasme kita jumpai dalam pemakaian bahasa sehari-hari dalam berbagai bentuk. Kata itu berasal dari bahasa Latin pleonasmus  yang berarti ’kata yang berlebih-lebihan‘. Gejala bahasa ini memperlihatkan pemakaian kata yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan. Pleonasme ada beberapa macam, yaitu:
  1. Dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan.
  2. Dalam suatu ungkapan yang terdiri tas dua patah kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan lagi sebab maknanya sudah terkandung dalam kata yang pertama.
  3. Bentuk kata yang dipakai mengandung makna yang sama dengan kata lain yang dipakai bersama-sama dalam ungkapan itu.
Supaya jelas, marilah kita bicarakan satu per satu. Kita mulai dengan bentuk yang pertama.  
            Dalam buku cerita terutama dalam satra klasik, sering sebuah cerita atau dongeng dimulai dengan ungkapan pada zaman dahulu kala.  Mungkin, karena sudah terlalu biasa membacanya atau menggunakannya, tidak terasa lagi kepada kita bahwa ungkapan itu mengandung pernyataan yang berlebihan.
            Perhatikanlah! Kata zaman   yang dipungut dari bahasa Arab sama maknanya dengan kata kala  yang berasal dari bahasa Sanskerta. Kata-kata itu bersinonim pula dengan masa (Sanskerta) dan waktu  (Arab). Kalau kita alihkan ungkapan pada zaman dahulu kala  dengan memakai dua kata yang sama bentuk dan maknanya, maka ungkapan itu akan berubah menjadi pada masa dahulu masa  atau pada waktu dahulu waktu  atau pada kala dahulu kala.  Penggunaan seperti itu belebih-lebihan , bukan?
            Kalimat dengan menggunakan salah satu ungkapan yang tepat sebagai berikut.
  1. Pada zaman dahulu, dalam sebuah kerajaan, memerintah seorang ratu yang sangat arif.
  2. Dahulu kala, dalam sebuah kerajaan, memerintah seorang ratu yang sangat arif.
Ungkapan pada zaman dahulu = pada waktu dahulu = zaman purba = dahulu kala. Tiga ungkapan yang disebut mula-mula susunannya menurut Hukum DM, yaitu kata yang diterangkan terletak di depan kata yang menerangkan, sedangkan ungkapan dahulu kala  susunannya MD karena kata kala terletak di belakang kata yang menerangkannya. Sama dengan ungkapan pada zaman dahulu kala, ungkapan pada zaman purba kala pun memperlihatkan gejala pleonasme.
Contoh lain:
            Mulai sejak waktu itu, kelakuannya berubah.
            Penggunaan kata mulai sekaligus dengan kata sejak memperlihatkan pula gejala bahasa pleonasme  karena kata mulai sama artinya dengan sejak. Cukuplah dikatakan:
            Mulai waktu itu, kelakuannya berubah.
            Sejak waktu itu, kelakuannya berubah.
            Adakalanya orang menggunakan juga ungkapan dari sejak waktu itu. Di sini pun terlihat gejala bahasa pleonasme karena sejak waktu itu = dari waktu itu.
            Ungkapan yang sering juga kita jumpai adalah sebagai berikut: saling pukul-memuukul atau saling berpukul-pukuanl. Bentuik pukul-memukul   dan berpukul-pukulan sudah mengandung pengertian bahwa pekerjaan itu dilakukan timbal balik atau secara berbalasan oleh kedua belah pihak. Walaupun begitu, kata bentukan itu masih juga didahului oleh kata saling yang artinya juga menyatakan ‘pekerjaan itu dilakukan oleh dua belah pihak’. Oleh sebab itu, di sini telah terjadi gejala bahasa pleonasme. Seharusnya dipilih saja satu, pukul-memukul, berpukul-pukulan ,atau saling memmukul  Jadi, janganlah mengatakan saling pukul-memukul  atau saling berpukul-pukulan, melainkan  pukul-memukul, berpukul-pukulan, atau saling memukul. Demikian juga dengan bentuk : saling saing-menyaingi atau saling bersaing-saingan, melainkan saling menyaingi. Supaya tidak terjadi pleonasme, kita pilih salah satu bentuk, yaitu dengan kata dasar + me + kata dasar  (+ i )  (saling menyaingi),  ber + kata ulang + an  (bersaing-saingan), atau dengan kata saling  + me  + kata dasar  (+ i )  (saling menyaingi).
Dengan demikian,  bentuk yang dapat digunakan adalah sebagai berikut.
tuduh-menuduh               lempar-melempari
bertuduh-tuduhan            berlempar – lemparan
saling menuduh                saling melempar
Yang menarik juga dalam pemakaian bahasa Indonseia dewasa ini adalah  kata baku/. Kata baku maknanya sama dengan ‘saling’. Kata baku diambil  dari bahasa Melayu dialek Manado . Kata baku itu diikuti kata kerja yang tidak berawalan seperti baku hantam, baku pukul, baku tuduh, baku marah, baku sayang, dsb. Baku hantam sejajar dengan saling menghantam.
Kesalahan yang sering juga dijumpai dalam koran atau majalah dewasa ini ialah pemakaian kata baku sekaligus dengan kata saling, seperti saling baku hantam. Di sini telah terjadi pula gejala pleonasme. Perhatikan: baku sayang artinya ‘saling menyayangi’ atau ‘saling mengasihi’; baku marah artinya ‘saling memarahi’ arti kiasannya ‘bermusuhan’.
Dengan demikian, ada dua patah kata baku dalam bahasa Indonesia dewasa ini. Yang pertama ialah kata baku yang  berasal dari bahasa Melayu dialek Manado yang berarti ‘saling’ dan yang ke dua ialah kata baku yang berasal dari bahasa Jawa yang  artinya ‘pokok’ atau ‘standar’. Bahasa Indonesia baku ialah ‘bahasa Indonesia standar’, yaitu bahasa Indonesia seperti yang diajarkan di sekolah – sekolah dan yang dipakai dalam situasi resmi.
Pemakaian kata agar supaya  juga merupakan gejala pleonasme karena agar sama maknanya dengan supaya. Contoh lain seperti itu ialah oleh karena  atau oleh sebab; salah satu makna kata oleh ialah ‘karena’. Misalnya, Bajuku basah oleh hujan, artinya ‘bajuku basah karena ( kena) hujan’.
Kita pindah sekarang ke gejala bahasa pleonasme jenis ke dua, yaitu penggunaan kata ke dua yang tidak diperlukan lagi karena makna yang dikandung oleh kata itu sudah terkandung dalam kata yang pertama. Sering orang mengatakan turun ke bawah, naik ke atas, mundur ke belakang, maju ke depan, atau tampil ke depan, dsb. Ungkapan seperti itu sudah dianggap sebagai suatu gaya bahasa saja walaupun sebenarnya kalau kita pikirkan, penggunaan kata ke dua itu tidak diperlukan lagi. Sudah jelas bahwa orang turun selalu ke bawah, orang naik selalu ke atas, orang mundur selalu ke belakang, dan orang maju selalu ke depan. Oleh karena itu, kata ke bawah, ke atas, ke belakang, ke depan, sebenarnya tidak usah dipergunakan lagi. Namun, sebagai saya katakan tadi, ungkapan seperti itu sering kita denganr diucapkan orang,
Kita sering juga mendengar orang mengatakan atau menulis menegadah ke atas, menundukkan kepala, melihat dengan mata kepala sendiri. Bukankah menengadah itu selalu ke atas, yang ditundukkan itu selalu kepala; dan orang melihat tentu  dengan menggunakan mata, mata yang melekat di kepala, dengan mata sendiri dan bukan melihat dengan meminjam mata orang lain?
Dalam kalimat:
Bagaimana mungkin aku berbohong, peristiwa itu aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.
            Sebenarnya cukup bila dikatakan peristiwa itu aku lihat sendiri, bukan aku dengar dari cerita orang lain’. Tetapi, untuk menegaskan pernyataannya itu ditambahkannya kata-kata dengan mata kepalaku sendiri.
            Anda tentu sering juga mendengar orang mengatakan, penyakitnya kambuh kembali, atau kesehatanya telah pulih kembali.
            Dalam kata kambuh dan pulih sudah terkandung pengertian ‘kembali’ atau ‘sekali lagi’, atau ‘seperti sedia kala’. Jika dikatakan penyakitnya kambuh, artinya ‘penyakitnya berulang lagi’. Mulanya dia sehat, kemudian jatuh sakit, sembuh, kemudian sakit lagi atau sakit kembali. Jadi, ungkapan kambuh kembali mengandung pengertian yang berlebihan.
            Begitu juga dengan kata pulih. Kesehatannya pulih artinya ‘kesehatannya kembali seperti sediakala sebelum dia sakit’. Orang itu sehat, kemudian jatuh sakit, kemudian sembuh dan kesehatannya kembali seperti sediakala. Itu arti kata pulih. Jadi, ungkapan pulih kembali mengandung makna yang berlebih-lebihan.
Di samping itu Anda tentu sering juga mendengar orang mengatakan namun demikian. Bentuk namun demikian merupakan bentuk yang pleonastis. Mungkin orang itu mengira, kata namun bersinonim dengan walaupun. Padahal yang benar tidak sperti itu. Kata namun bersinonim dengan tetapi, sedangkan walaupun bersinonim dengan meskipun. Jika orang menganggap bentuk yang benar adalah namun demikian, itu berarti ia juga harus berani menggunakan tetapi demikian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata namun sudah mengandung arti “walaupun demikian’ atau meskipun demikian. Jadi, kata namun sama dengan walaupun demikian atau meskipun demikian .
Pleonasme jenis ke tiga dinyatakan oleh bentuk kata yang mengandung makna gramatikal seperti kata yang membentuk ungkapan itu. Misalnya dikatakan:
  1. Para tamu-tamu berdiri ketika kedua mempelai memasuki ruangan.
  2. Dalam perjalanan ke luar negeri itu Menteri Luar Negeri mengunjungi beberapa negara-negara sahabat.
Perhatikan bentuk para tamu-tamu dalam kalimat pertama. Kata para mengacu kepada pengertian jamak, perulangan kata benda tamu-tamu juga menunjukkan penegertian jamak. Jadi, pengertian jamak dinyatakan dua kali. Berlebih-lebihan, bukan? Oleh karena itu, cukup bila dikatakan para tamu, atau dengan bentuk perulangan tamu-tamu.
Ungkapan beberapa negara-negara dalam kalimat ke dua tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia tidak terdapat gejala “concord”  (persesuaian) seperti dalam bahasa Inggris dan Belanda misalnya, bila kata bilangannya satu, kata bendanya pun berbentuk tunggal; bila kata bilangannya dua atau lebih, maka kata bendanya pun dalam bentuk jamak. Itu disebut dengan concord atau agreement. Misalnya one child ‘seorang anak’, tetapi five children ‘lima anak’. Dalam bahasa Belanda pun demikian : een kind dan vif kindren.
Dalam bahasa Indonesia, dikatakan seorang anak dan lima orang anak. Tidak perlu dikatakan lima orang anak-anak. Oleh karena itu, beberapa negara-negara juga tidak tepat; terlihat adanya gejala pleonasme dan bentukan seperti itu sebenarnya dipengaruhi oleh gejala “concord” dalam bahasa asing.
Gejala concord seperti itu tidak terdapat dalam bahasa Indonesia karena memang bahasa Indonesia lain strukturnya daripada bahasa-bahasa yang sudah disebutkan itu. Oleh sebab itu, dalam salah satu harian ditulis dipamerkan 200 buah lukisan-lukisan, pengungkapan itu  jelas tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bilangan 200 sudah melukiskan jumlah banyak. Oleh sebab itu, kata benda yang di belakangnya tidak perlu di ulang.
Dalam bahasa Indonesia, jika kata di depan kata benda itu sudah menyatakan jamak, maka kata bendanya tidak perlu dijamakkan dengan mengulangnya. Kita tidak perlu meniru bahasa asing. Tiap bahasa mempunyai kaidahnya sendiri-sendiri, bahasa yang satu tidak perlu sama dengan bahasa yang lain.
Bahasa yang hidup memang menerima pengaruh yang masuk dari bahasa asing. Tetapi, yang masuk selalu harus diseleksi. Yang perlu, yang dapat menambah kekayaan kosa kata  bahasa Indonesia patut diterima dan yang tidak, karena tidak ada keperluannya, tak perlu diterima. Pemakai bahasa Indonesia tidak perlu mengatakan, semua pejabat-pejabat, banyak gedung-gedung karena dalam bahasa Indonesia, kata benda tidak perlu diulang untuk menyatakan jamak apabila kata  yang di depan kata  benda itu sudah menyatakan jamak seperti semua, segala, banyak, beberapa, bentukan seperti  contoh di atas menyalahi kaidah bahasa Indonesia. Cukup bila dikatakan: semua pejabat, banyak gedung, beberapa negara, para tamu.
Ada persoalan mengenai kata-kata yang mengandung makna jamak, yaitu kata-kata pungut atau serapan dari bahasa asing. Dalam bahasa Indonesia ada ulama, anasir, arwah, yang diserap dari dari bahasa Arab. Kata ulama merupakan bentuk jamak kata alim; arwah merupakan bentuk jamak kata roh. Dalam bahasa Indonesia, telah terjadi pergeseran makna. Kata-kata yang dalam bahasa asalnya mengandung arti jamak, dalam bahasa Indonesia mengandung arti tunggal. Perhatikan pemakaiannya dalam kalimat berikut.
  1. Prof. Dr. Riza Anwar adalah seorang ulama yang disegani di negerinya.
  2. Gubernur Jawa Barat mengadakan pertemuan dari hati ke hati dengan ulama-ulama seluruh Jawa Barat.
Gejala bahasa pleonasme timbul karena beberapa kemungkinan:
1. Pembicara tak sadar bahwa apa yang diucapkannya itu mengandung sifat berlebih-lebihan. Jadi, dibuatnya tidak dengan sengaja.
2. Dibuat bukan karena tidak sengaja, melainkan karena tak tahu bahwa kata-kata yang digunakannya mengungungkapkan pengertian yang berlebih-lebihan.
3. Dibuat dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti (intensitas).

























7. SALAH KAPRAH
            Kata salah kaprah mungkin sering Anda dengar. Kata salah kaprah terdiri atas dua patah kata yaitu salah dan kaprah (dari bahasa Jawa). Salah kaprah dalam kebahasaan diartikan ‘salah atau kesalahan yang sudah sangat umum’ sehingga karena sudah terbiasa dengan yang salah seperti itu, orang tidak lagi merasakan bahwa itu salah. Bahasa Indonesia pada waktu akhir-akhir ini sangat cepat berkembang. Bermacam-macam unsur baru muncul, baik kata, istilah, maupun bentukan baru. Ada yang dimunculkan dengan sengaja karena dibuat, misalnya oleh ahli bahasa karena keperluannya. Ada juga yang muncul dari pemakai bahasa sebagai sumbangan spontan masyarakat bagi pemerkayaan bahasa kita.
Bentuk baru juga muncul sebagai analogi bentuk lama, tetapi sering karena pembentukan itu kurang disadari oleh pengetahuan yang cukup tentang kaidah bahasa, terjadilah kesalahan. Kadang-kadang lahir susunan kalimat yang kacau karena pentur atau penulis yang melahirkan tuturan itu kurang menguasai aturan penyusunan kalimat yang baik. Kesalahan yang disebutkan itu sering terjadi bukan hanya sekali, melainkan berulang-ulang, sehingga yang salah itu seolah-olah sudah benar dan karena itu dipakai terus-menerus. Kesalahan seperti inilah yang disebut salah kaprah itu. Marilah kita lihat  contoh yang sudah sangat dikenal.

1. Waktu dan tempat kami persilakan.
Dalam sebuah pertemuan pembawa acara berkata, “Sekarang kita tiba pada acara berikut, yaitu sambutan dari Bapak X. Waktu dan tempat kami persilakan.” Ketika itu, bapak X itu tetap duduk di kursinya, tidak juga memperlihatkan sikap akan meninggalkan tempat duduknya. Pembawa acara mengulang kembali permintaannya, “Bapak X, kami persilakan tampil ”. Barulah Bapak X itu  meninggalkan tempat duduknya, berjalan ke arah podium, berdiri di sana, dan sejenak kemudian memulai pembicaraannya.
            Kata bapak itu, “ Saya tadi tidak berdiri dan melakukan apa yang diminta oleh Saudara pembawa acara karena tadi saya dengar bukan saya yang dipersilakan. Tetapi, yang dipersilakan itu adalah waktu dan tempat. Hadirin tertawa, Gerrr,,,
            Ini bukan sebuah lelucon, tetapi benar-benar terjadi. Nah, Anda melihat bahwa apa yang dikatakan oleh pembawa acara itu juga diucapkan oleh sebagian besar  orang yang ditugasi menjadi pembawa acara dalam pertemuan-pertemuan. Mereka tidak lagi berpikir bahwa kalimat itu salah, tidak logis. Di mana ada waktu dan tempat yang dapat dipersilakan.

2. Bapak gubernur berkenan meninggalkan pertemuan ini karena tugas yang menanti beliau di tempat lain.
            Contoh lain penggunaan kata yang tidak tepat dan salah kaprah pula. Dalam sebuah perayaan hari raya tertentu. Bapak gubernur di wilayah itu diundang untuk memberikan sambutan. Setelah selesai memberikan kata sambutannya, beliau mohon diri kepada panitia agar dapat meninggalkan perayaan yang masih berlangsung itu. Gubernur itu meminta izin kepada panitia untuk meninggalkan perayaan itu. Tetapi, apa yang kita dengar dari pembawa acara melalui pengeras suara?
            “Saudara-saudara hadirin kami persilakan berdiri karena Bapak gubernur berkenan meninggalkan pertemuan ini karena tugas yang menanti beliau di tempat lain.”
            Penggunaan kata berkenan dalam kalimat pembawa acara itu benar-benar salah kaprah . Bekenan artinya ‘setuju, mau, bersedia dengan hati yang tulus tidak berkeberatan’, dalam hal yang baru saja dibicarakan itu, bapak gubernur yang bersangkutan tidak dimintai persetujuannya. Beliau sendiri malah yang meminta izin atau pekenan panitia untuk meninggalkan tempat itu karena tugas lain menanti beliau di tempat lain. Terlihat ada keinginan pada pembawa acara untuk memperhalus bahasanya tetapi ia salah dalam memilih kata. Kata berkenan pada kalimat di atas tidak tepat penggunaannya. Upaya memperhalus bahasa di sini tidak mengena. Kata akan yang seharusnya dipakai, dan kata ini tidak mengungkapkan ketidaksopanan.      

3. Atas bantuan Bapak, kami menghaturkan terima kasih.
Contoh lain yang dikemukakan di sini, yaitu mengenai penghalusan bahasa dengan mengganti kata dengan kata yang tidak tepat. Biasanya, kalau kita menulis  surat, setelah surat itu selesai, kita menutup surat itu dengan kalimat penutup misalnya sebagai berikut. “Atas bantuan Bapak, kami mengucapkan terima kasih” kata mengucapakan itu dianggap oleh sebagian orang kurang halus. Karena tu, kata itu diganti dengan menghaturkan, sehingga menjadi “Atas bantuan Bapak, kami menghaturkan terima kasih.” Kata hatur bukan kata bahasa Indonesia melainkan bahasa daerah. Dalam kamus bahasa Indonesia tidak terdapat kata hatur, menghaturkan yang seperti itu maknanya. Kata itu dipinjam dari bahasa daerah, kemudian dipergunakan dalam surat karena orang itu ingin menyatakan kehomatannya kepada orang yang dikrimi surat.
            Dalam bahasa Indonesia ada kata atur tetapi artinya lain sekali. Oleh karen itu, gunakanlah kata mengucapkan yang dapat berarti 1) mengatakan;2) menyampaikan. Jadi, kata-kata itu tidak terbatas pemakaiannya pada bahasa lisan saja. Bila berbahasa Indonesia perasaan bahasa Indonesialah yang dipakai. 

4. Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.
Sering juga kita melihat orang yang mengakhiri surat dengan kalimat sebagai berikut, “ Kami mengucapkan  terima kasih atas bantuan dan perhatiannya”. Dikatakan perhatiannya.  Perhatian siapa? Kalau yang dimaksud itu ialah orang yang menerima surat, maka bukan –nya yang seharusnya dipakai, melainkan Bapak, atau Ibu atau Saudara, atau Anda, dan sebagainya. Jadi, katakanlah.
            Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak.
            Kami ucapka terima kasih atas perhatian Ibu.
            Atas perhatian Saudara, saya ucapkan terima kasih.
            Orang yang disurati ialah Bapak, Ibu, Saudara atau Anda (orang ke dua) bukan –nya = ia atau dia (orang ke tiga). Oleh karena itu, dalam konteks itu bukan –nya yang dipakai.
           
5. Saya memenangkan dia dalam pertandingan itu.
            Kata memenangkan dalam pemakaian bahasa dewasa ini perlu mendapat perhatian kita karena yang menarik dari penggunaan kata ini ditinjau dari bentuk dan artinya. Mari kita bahas bentuk itu dengan makna yang dikandung oleh imbuhan yang melekat pada kata itu, yaitu me-kan.
Contoh:
            Saya memenangkan dia dalam pertandingan itu.
            Kalimat di atas mempunyai arti bahwa saya telah membuat dia, menjadikan dia, atau menyebabkan dia menang dalam pertandingan itu, misalnya, dengan sengaja mengalah karena tujuan tertentu yang ingin dicapai.  
            Kalau seperti di atas ini kata memenangkan itu digunakan dalam kalimat, maka penggunaannya betul-betul tepat dilihat dari segi makna. Tetapi sering kita melihat bahwa kata atau bentuk memenangkan itu digunakan dalam kalimat secara salah karena tidak memberikan makna seperti yang sudah dijelaskan di atas. Mari kita lihat contoh penggunaan yang salah.
            1. Suharyadi memenangkan pertandingan itu.
            2. Elyas Pikal memenangkan hadiah Rp100 juta.
            Coba perhatikan penggunaan kata memenangkan dalam kedua kalimat di atas baik-baik. Tadi sudah dijelaskan di atas bahwa memenangkan artinya ‘menjadikan menang’.
            Perhatikan kalimat 1: Suharyadi memenangkan pertandingan itu artinya Suharyadi menjadikan pertandingan itu menang. Mungkinkah pertandingan menang? Mungkinkah benda mati itu menang? Jelas tidak mungkin. Kalau begitu, penggunaan kata memenangkan dalam kalimat itu salah. Begitu juga dengan penggunaannya dalam kalimat 2 , sama saja salahnya: memenangkan hadiah berarti hadiah yang dibuat menang.
            Menilik makna kata bentukan itu dengan penjelasan makna imbuhan pada kata itu, Anda dapat mengambil kesimpulan bahwa kata itu selama ini sudah salah dipakai orang. Bukan hanya dalam bahasa tulisseperti pada contoh kalimat 1 dan 2 di atas. Cobalah Anda denganrkan komentar olahraga di TVRI. Komentator olah raga itu juga menggunakan kata memenangkan itu secara salah. Saya katakan salah kaprah karena kesalahan itu tidak lagi disadari oleh para pemakaianya dan bentuk yang salah itu diapakai terus seperti itu. Tentu sukar meluruskan kembali yang sudah “bengkok”. Usaha yang dapat ditempuh untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti itu ialah melalui pengajaran bahasa di sekolah-sekolah. Kita mengharapkan (hanya dapat mengharap) semoga generasi muda yang sudah mendapat pendidikan yang baik di sekolah akan dapat menghindari kesalahan umum yang disebut salah kaprah, yang dewasa ini banyak kita temukan dalam bahasa Indonesia.
            Kalimat di atas dapat diubah dengan beberapa cara sebagai berikut.
Kalimat 1:
1a. Suharyadi menang dalam pertandingan itu.
1b. Suharyadi menjuarai pertandingan itu.
1c. Suharyadi menjadi juara dalam pertandingan itu.
1d. Suharyadi meraih juara pertama dalam pertandingan itu.

 Kalimat 2:
2a. Elyas Pikal mendapat hadiah Rp 100 juta.
2b. Elyas Pikal menerima hadiah Rp 100 juta.
2c. Elyas Pikal meraih hadiah Rp 100 juta.
6. Dirgahayu RI atau Dirgahahayu HUT RI?
            Kita bicarakan  kali ini tentang penggunaan kata dengan makna yang tepat dalam kalimat. Sering kita membaca sebuah kalimat yang di dalamnya digunakan sepatah kata dengan makna yang kurang tepat. Hal itu tentu saja disebabkan oleh kurangnya pemahaman pemakai bahasa terhadap arti kata tersebut.
            Saya ingin membicarakan pemakaian kata dirgahayu yang tiap tahun dipakai oleh bangsa Indonesia dalam menghias gedung pemerintah atau menulisi kain rentang atau spanduk dsb. Tiap tahun dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus.
            Kita baca kalimat-kalimat berikut:
            DIRGAHAYU HUT RI KE-XXXVI
            DIRGAHAYU HUT KE –XXXVI RI
Penggunaan kata dirgahayu pada kalimat di atas ini jelas salah karena kata dirgahayu ditempatkan di depan kata hari ulang tahun (HUT). Jika Anda buka Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta, akan Anda temukan di dalamnya kata- kepala dirgahayu. Di belakang kata itu ada singkatan sl. Artinya, kata itu terdapat dalam sastra lama; arti kata itu ‘(mudah-mudahan) berumur panjang; hidup.
            Kalau kita alihkan kalimat di atas, maka kalimat itu dapat kita ganti menjadi:
            MUDAH-MUDAHAN BERUMUR PANJANG HUT RI KE-XXXVI
            atau
HIDUPLAH HUT RI KE-XXXVI
            Pada kalimat ini dapat dilihat bahwa yang  didoakan panjang usianya bukan negara Republik Indonesia, melainkan hari ulang tahunnya. Padahal, hari ulang tahun itu hanya berumur sehari. Yang diserukan agar hidup itu bukan negara RI, melainkan hari ulang tahun yang ke-36. Jelas, penggunaan kata dirgahayu seperti di atas tidak tepat.
            Sebenarnya mengenai kesalahan penggunaan kata dirgahayu, sudah sering  diulang kembali oleh pembawa acara  Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Stasiun Pusat. Dijelaskan dan diberikan contoh bagaimana menggunakan kata itu secara tepat sesuai dengan makna yang terkandung pada kata itu. Namun, setiap tahun pula kita membaca tulisan yang salah karena orang tidak memperhatikan arti kata itu.
 Dengan demikian, Anda dapat membuat kalimat sebagai berikut:
            DIRGAHAYU RI BER-HUT XXXVI
            atau
DIRGAHAYU RI BER-HUT KE-36
            atau
HUT RI KE-36
            DIRGAHAYU KEMERDEKAAN KITA
            Jadi, yang didoakan agar panjang usianya itu ialah negara Republik Indonesia yang berhari ulang tahun ke- 36. Atau, yang didoakan itu ialah kemerdekaan yang telah kita miliki itu panjang usianya, berlanjut sampai akhir zaman karena kita tidak mau penjajajhan oleh bangsa lain berulang lagi.
            Kesalahan yang kita lihat pada contoh di depan ialah penulisan bilangan yang menyatakan tingkat. Bukan ke-XXXVI, melainkan ke-36, atau memakai angka Romawi saja tanpa ke- di depannya. Selain itu, kalau itu memakai ke- di depan angka, haruslah dipakai pula  garis tanda hubung antara ke- dan angka Arab itu. Kalau angka Romawi yang digunakan, tak perlu dipakai ke- di depannya. Perhatikan contoh di atas.
            Mudah-mudahan kesalahan seperti di atas tidak terjadi lagi pada tahun-tahun yang akan datang.

7. Sampai jumpa di lain kesempatan
            Kalau anda seorang pemirsa yang setia, artinya tiap malam duduk di depan layar televisi, anda tentu akan tidak asing lagi dengan kalimat: Sampai jumpa di lain kesempatan. Kelihatannya kalimat itu sangat pendek, tetapi kalau kita teliti  dari segi bahasa ragam resmi baku, berpegang pada kaidah bahasa Indonesia, maka kita dapat mengatakan bahwa di dalam kalimat yang pendek itu terdapat tiga kesalahan.
            Pertama, frase sampai jumpa.  Kata jumpa bersinonim dengan temu, sua; berjumpa = bertemu = bersua. Dapatkah kita mengatakan sampai temu lagi, atau sampai sua lagi? Tidak dapat karena terdengarnya janggal, bukan? Seharusnya kita mengatakan Sampai bersua lagi. Nah, begitu juga dengan kalimat sapaan yang tertera pada judul di atas. Bukan sampai jumpa, melainkan sampai berjumpa.
            Kalau kita mengamati pemakaian bahasa Indonesia dewasa ini, kita akan segera dapat melihat bahwa ada gejala penghilangan awalan ber- pada beberapa kata kerja yang sebenarnya harus berawalan ber-.
Misalnya:
1. Para pemain sudah kumpul di lapangan
2. Setahu saya Amat dan Tina sudah cerai.  
            Semua kata yang bercetak miring dalam kalimat di atas ini hendaknya berawalan ber-: berkumpul, bercerai. Epai, mungkin karena kemalasan orang atau karena pengaruh bentukan kata bahasa daerah, awalan ber- itu ditanggalkan orang sehinga menjadi kata yang tidak berawalan ber-.
            Kedua, frase di lain kesempatan. Di sini terdapat dua kesalahan. Kesalahan pertama, tentang susunan lain kesempatan. Kita tahu bahwa salah satu aturan bahasa Indonesia ialah bahwa kata yang diterangkan selalu terletak di depan, sedangkan kata yang berfungsi menerangkan  terletak di belakang kata yang diterangkan itu. Jadi, susunannya diterangkan (D) menerangkan (M). Kata yang diterangkan pada frase itu ialah kesempatan, sedangkan kata lain berfungsi menerangkan. Jadi, susunannya bukan lain kesempatan, melainkan kesempatan lain atau kesempatan yang lain. Unsur yang  pada frase ini bersifat fakultatif artinya boleh digunakan dan boleh juga tidak karena tidak mengubah arti. Kesalahan kedua, pada frase itu ialah penggunaan kata depan di. Di depan kata keterangan waktu hendaknya digunakan kata depan pada. Kata depan di hendaknya digunakan di depan kata benda yang menyatakan tempat, misalnya di kantor, di sekolah, di pasar, dan lain-lain. Jadi, kalau kalimat di atas dikembalikan pada kalimat yang sesuai dengan ragam baku, maka kalimat itu seperti di bawah ini.
1. Sampai berjumpa pada kesempatan lain.
2. Sampai berjumpa lagi pada kesempatan lain.
3. sampai bersua lagi pada kesempatan lain.
4. sampai bertemu lagi pada kesempatan lain.





8. PENGHILANGAN UNSUR BAHASA

            Dalam pemakaian bahasa tampak dua hal yang bertentangan sering dilakukan oleh pemakaia bahasa. Kadang-kadang orang dengan sengaja menghilangkan unsur-unsur bahasa tertentu, padahal unsur bahasa itu perlu digunakan. Sebaliknya, kadang-kadang orang juga menambahkan unsur-unsur bahasa yang justru sebenarnya tidak diperlukan. Kedua hal itu akan dibicarakan sebagai berikut.   

Penghilangan Kata  
Akhir-akhir ini dalam pemakaian bahasa Indonesia sering kita jumpai penghilangan unsur kata depan dalam frase atau kalimat: dengan, atas, oleh, kepada, bagi.
1. Dengan  
            Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa ungkapan yang terdidi atas frase dengan kata depan dengan. Frase yang dibentuk dengan kata depan dengan adalah sebagai berikut.
  1. berhubung dengan
  2. berhubungan dengan
  3. bertalian dengan
  4. berkenaan dengan
  5. bertepatan dengan
  6. berkaitan dengan
  7. berelasi dengan
  8. berbeda dengan
  9. berlainan dengan
  10. selaras dengan
  11. sesuai dengan
  12. seiring dengan
  13. seirama dengan
  14. sejalan dengan
  15. bertentangan dengan
Frase itu sudah merupakan ungkapan tetap sehingga kata depan pada frase-frase itu tidak boleh dihilangkan begitu saja.
Contoh:
1. Berhubung saya sakit, saya tidak masuk kantor hari ini.
Dalam kalimat (1) di atas orang mengatakan berhubung saya sakit .......; kata depan dengan  di belakang kata berhubung dihilangkannya. Ini tidak tepat. Kata berhubung disamakannya dengan dengan kata karena, padahal kedua kata itu tidak sama Kata berhubung dengan digunakan bila peristiwa yang pertama ada hubungannya dengan peristiwa ke dua, sedangkan kata karena digunakan bila peristiwa yang disebutkan pada klausa pertama menyatakan sebab peristiwa yang disebutkan pada klausa yang satu lagi.
Kalimat tadi haruslah diubah menjadi:
1a. Karena saya sakit, saya tak dapat masuk kantor hari ini.
1b. Berhubung dengan kesehatan saya agak terganggu, saya tak dapat masuk kantor hari  ini

2. Sesuai keputusan rapat....  
            Sering juga orang mengatakan sesuai keputusan rapat…; seharusnya dikatakan sesuai dengan keputusan rapat…; Kata dengan mengeksplisitkan hubungan antara sesuai dan keputusan; jangan dihilangkan. Jadi, haruslah dikatakan, sesuai dengan keputusan rapat….
1. Sesuai tujuan pembicaraan, dalam makalah ini hanya dibicarakan peranan koperasi dalam pembangunan.
2. Hargailah orang lain sesuai kodratnya.
Dalam kalmat (2) dan (3) itu terdapat penghilangan kata depan dengan. Penghilangan itu sesungguhnya salah sebab sesuai dengan itu merupakan ungkapan tetap. Oleh karena itu, kata depan dengan tidak boleh dihilangkan, sehingga kedua kalimat tersebut harus diubah menjadi:
2a. Sesuai dengan tujuan pembicaraan, dalam makalah ini hanya dibicarakan peranan koperasi dalam pembangunan.
3a. Hargailah orang lain sesuai dengan kodratnya.

2. Atas  
            Akhir-akhir ini kita lihat kecenderungan orang menghilangkan kata depan atas pada frase terdiri atas. Frase ini biasa pula dijadikan orang terdiri dari. Jadi, alih-alih menggunakan kata depan atas, dan lebih sering orang sekarang menggunakan kada depan dari di belakang kata terdiri. Seperti sudah dikatakan di atas, frase itu sudah merupakan ungkapan tetap. Oleh karena itu, jangan dihilangkan atau dibuang kata depan atas yang menyertai kata itu.
            Perhatikan : Rumah itu terdiri tiga kamar tidur; penggunaan kata terdiri seperti itu tidak tepat. Seharusnya dikatakan Rumah itu terdiri atas tiga kamar tidur.

3. Bagi  
            Sering kita dengar kata depan bagi dalam frase diperuntukkan bagi dihilangkan orang saja. Misalnya dalam kalimat Zakat fitrah itu diperuntukkan bagi fakir miskin. Kata bagi di depan fakir miskin dihilangkan sehingga kalimat menjadi Zakat fitrah itu diperuntukkan fakir miskin. Hubungan gatra diperuntukkan dengan fakir miskin dalam kalimat itu seolah-olah menjadi lepas. Frase diperuntukkan bagi merupakan ungkapan tetap (frase berkata depan bagi). Oleh karena itu, jangan dihilangkan begitu saja kata depan bagi dalam frase itu.
            Kalimat Saya kurang  jelas yang sering juga diucapka orang jika ingin meminta agar keterangan yang diberikan orang lain diulangi sekali lagi. Kalau dikatakan demikian, berarti bahwa yang belum jelas itu saya . Padahal, yang belum  jelas itu ialah keterangan yang diberikan orang itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya adalah kata depan bagi di depan kalimat itu dihilangkan, sehingga makna kalimat menjadi lain. Seharusnya dikatakan Bagi saya kurang jelas. Lengkapnya kalimat itu  Keterangan itu bagi saya kurang  jelas. Kata depan bagi dalam kalimat itu sama sekali tidak boleh dihilangkan.

Penghilangan Imbuhan   
1. Awalan ber-  
Selain penghilangan kata dalam frase, kita juga sering melihat penghilangan imbuhan pada kata-kata bentukan yang seharusnya tidak boleh terjadi seperti pada kata-kata berikut ini.
            Kata jumpa seperti pada sampai jumpa lagi, seharusnya ditambah ber- sehingga menjadi berjumpa seperti pada sampai berjumpa lagi.
            Kata jumpa merupakan bentuk prakategorial, sama halnya dengan temu, sua, yang tidak pernah berdiri sendiri, seperti dalam sampai temu lagi atau sampai sua lagi. Kalau bentuk sampai temu lagi tidak pernah digunakan, maka  penggunaan sampai jumpa lagi dalam bahasa tulis atau bahasa lisan ragam resmi termasuk bentuk yang tidak benar. Perhatikan contoh berikut.

Kesalahan Umum
  1. Sampai jumpa lagi di ibu kota tercinta.
  2. Ketika saya datang, mereka sudah kumpul di rumah.
  3. Silakan Saudara bicara dengan terus terang di depan petugas.
  4. Keluarga kami akan musyawarah lagi tentang harta peninggalan kakek.
  5. Saya akan cerita tentang pengalaman saya ketika bertugas di Amerika.
  6. Kita harus rela korban jiwa untuk mempertahankan kedaulatan negara kita dari ganguan musuh
Kata-kata  jumpa, kumpul, bicara, musyawarah, cerita dan korban di atas merupakan kata dasar yang dijadikan predikat kalimat. Sementara itu, semua kalimat di atas termasuk kalimat aktif transitif. Seharusnya bentuk kata kerja intransitif dalam kalimat itu adalah berjumpa, bekumpul, berbicara, bermusyawarah, bercerita, berkorban, sehingga perbaikan kalimatnya menjadi sebagai berikut.

Bentuk yang Dianjurkan
1a. Sampai berjumpa lagi di ibu kota tercinta.
2a. Ketika saya datang, mereka sudah berkumpul di rumah.
3a. Silakan Anda berbicara dengan terus terang di depan petugas
4a. Keluarga kami akan bermusyawarah lagi tentang harta peninggalan kakek.
5a. Saya akan bercerita tentang pengalaman saya ketika bertugas di Amerika.
6a. Kita harus rela berkorban jiwa untuk mempertahankan kedaulatan Negara kita dari gangguan musuh

2. Awalan meN-
            Ada juga gejala penghilangan awalan meN- dalam pemakaian bahasa Indonesia. Penghilangan awalan meN- ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya, terjadilah pencampuradukan ragam lisan dan ragam tulisan yang menghasilkan suatu bentuk kata yang salah. Kita sering menemukan penggunaan kata-kata: nyuap, nabrak, nyubit, nangis, dan nyari. Dalam bahasa Indonesia baku, kita harus menggunakan awalam meN- secara eksplisit, sehingga kata-kata itu menjadi: menyuap, menabrak, mencubit, menangis, dan mencari. Perhatikan contoh di bawah ini.

Kesalahan Umum
  1. Penyelundup itu berusaha nyuap petugas, tetapi petugas menolaknya.
  2. Pengendara motor itu nabrak pejalan kaki.
  3. Ibu itu nyubit anaknya yang nakal.
  4. Anak itu menganggu temannya sampai nangis.

Bentuk baku
  1. Penyelundup itu berusaha menyuap petugas, tetapi petugas menolaknya.
  2. Pengendara motor itu menabrak pejalkan kaki.
  3. Ibu itu mencubit anaknya yang nakal.
  4. Anak itu mengganggu temannya sampai menangis.

Konsep awalan me- dan meN-
            Dahulu kita mengenal awalan  me-, dengan penjelasan sebagai berikut:
Awalan me- “memperoleh” /m/ di depan kata-kata yang berawal dengan /p/ dan /b/; “memperoleh” /n/ di depan kata-kata yang berawal dengan /d/, /t/; “memperoleh”  /ng/ di depan kat-kata yang berawal dengan /k/, /g/, /h/; “memperoleh” /ny/ di depan kata-kata yang berawal dengan /c/, /j/, dan /s/. Di depan /y/, /r/., /l/, /w/  me tetap  saja me.
            Konsep ini sekarang berubah. Kita melihat tadi bahwa me- itu tidak berubah atau tidak “memperoleh” apa-apa hanya di depan empat fonem saja, yaitu /y/, /r/, /l/, dan /w/. Di depan semua vokal dan sisa konsonan yang lain ternyata bahwa me- itu memperoleh /m/, /n/, /ng/, /ny/, semuanya adalah fonem Nasal. Karena penambahan ini terasa lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang tidak memperoleh apa-apa tadi, maka lebih “demokratis” kalau jumlahnya banyak ini dipakai sebagai pegangan dan yang jumlahnya sedikit tadi dianggap sebagai “kekecualian”. Berdasarkan konsep ini, maka kita sekarang tidak lagi mengatakan adanya awalam me-, melainkan awalan meN- (dengan catatan bahwa N- ini adalah singkatan dari Nasal, rangkuman dari semua bunyi nasal atau sengau yang empat tadi).
            Kalau dengan me- kita bertolak dari “tidak ada” menjadi “ada” (yaitu memperoleh nasal), maka dengan meN- kita bertolak dari “ada” (yaitu ada nasal di situ). Karena yang ada di situ tadi merupakan abstraksi (yaitu N) dari empat fonem, maka kita mengatakan bahwa meN- ini berubah menjadi “wujud” (realisasi) yang sebenarnya dari N itu, yaitu /m/, /n/, /ng/, /ny/.
            Tentang me-, sekarang kita mengatakan demikian. Di dalam ilmu pengetahuan kita memerlukan sistem yang ajeg. Karena terhadap yang nasal-nasal tadi kita mengatakan “N” berubah menjadi ...”, maka untuk me- kita harus mengatakan begitu, supaya tetap bersistem, tetap ajeg. Karena itu, kita berkata meN- berubah menjadi me0 (baca me- kosong atau zero), di mana “kosong” (yang ditandai dengan 0) itu berarti juga memperoleh “N” tetapi “tidak memperoleh apa-apa”.
            Akhir-akhir ini kita mengenal kata-kata bersuku satu, seperti tes, bom, pak, cek, yang kalau diberi awalan me- menjadi mengetes, mengebom, mengepak, mengecek.  Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa sekarang meN  bisa berubah menjadi menge- di depan kata-kata bersuku satu.
            Sejalan dengan perubahan yang terjadi pada meN-, awalan peN- pun mengubah konsep pe-. Sekarang kita bisa mengatakan awalan peN- berubah menajadi pem-, pen, peng, peny dan penge- (pengetesan, pengeboman, pengepakan, pengecekan).
            Karena kedua awalan ini bersangkutan dengan berubahnya nasal, dari abstraksi menjadi realisasi, maka kita bisa berbicara tentang proses nasal atau nasalisasi.
            Sampai sekian jauh kita masih berbicara tentang kata dasar dan imbuhan, khususnuya awalan dan akhiran, dan itu pun tidak kita bicarakan semua imbuhan.

Konfiks dan Simulfiks
Di samping itu, terdapat juga  konfiks dan simulfiks. Kedua istilah ini sering membingungkan karena keduanya sering dikacaukan. Saya ingin kembali kepada istilah dalam bahasa Inggris saja.
            Dalam bahasa Inggris ada istilah simultaneous afixes, disingkat menjadi simulfix yang kemudian diindonesiakan menjadi simulfiks. Sesuai dengan namanya yang simultaneous itu, maka di sana harus ada unsur simultan atau sekaligus. Artinya, yang disebut simulfiks itu adalah dua buah afiks (imbuhan ) yang hadir secara simultan atau sekaligus. Contohnya adalah ke-an (dalam misalnya kedudukan, kebiasaan). Dalam kata-kata ini tidak ada bentuk keduduk atau dudukan, kebiasa atau biasaan; per-an (dalam misalnya, perkebunan, perikanan). Tidak ada bentuk perkebun atau kebunan, perikan atau ikanan; se-nya (dalam misalnya sesungguhnya). Tidak ada sesungguh atau sungguhnya. Afiks-afiks  (imbuhan-imbuhan itu melekat secara simultan atau sekaligus. Dengan demikian, afiks itu disebut dengan simulfiks. Kata-kata tersebut terdiri atas dua morfem, yaitu morfem (ke-an) + duduk; (ke-an) + biasa; (per-an) + kebun, (per-an) + ikan; (se-nya) + sungguh.
            Di samping itu, ada istilah combination afixes (afiks kombinasi atau gabungan afiks), atau continuous afixes (afiks besinambung). Keduanya (continuous afixes) disingkat menjadi confix atau diindonesiakan menjadi konfiks. Sesuai dengan namanya itu, maka istilah konfiks itu mengacu kepada dua atau tiga afiks yang datangnya tidak simultan atau tidak sekaligus, melainkan berturut-turut, satu demi satu. Contohnya adalah ber-an (dalam misalnya berpakaian). Pada kata ini pada mulanya ada kata dasar pakai, kemudian  melekat akhiran –an, sehingga terdapat bentuk dasar pakaian. Selanjutnya dari bentuk dasar pakaian mendapat awalan ber- sehingga menjadi berpakaian. Dengan demikian, kata tersebut terdiri atas tiga morfem, yaitu ber+ pakai+ an.  Kata padu dibubuhi ter-, menjadi terpadu, kemudian diibuhi lagi ke-an sehingga menjadi keterpaduan.
            Dari adanya contoh-contoh tentang konfiks inilah muncul konsep tentang kata dasar dan bentuk dasar serta konsep tentang bagian langsung atau unsur langsung.
            Kita lihat bahwa dari kata dasar padu bisa dijadikan terpadu; dan dari terpadu dijadikan keterpaduan. Kita mengatakan terpadu adalah bentuk dasar dari bentukan keterpaduan. Kata padu di samping kata dasar juga bentuk dasar dari bentukan terpadu. Jelasnya: bentuk dasar adalah bentuk yang menjadi dasar bagi bentuk yang lebih besar.
            Berdasarkan proses itu, maka kalau kita menganalisis atau “memecah-mecah” bentukan yang “lebih besar” tadi menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang lebih kecil, maka prosesnya kita balik, sehingga akan ditemukan analisis seperti:
            padu --- > terpadu --- > keterpaduan
menjadi:
keterpaduan --- > terpadu  +  (ke – an)  --- > (ter + padu )  + (ke-an)
atau begini:
                                                       keterpaduan 
                                    ke-an                                                  terpadu

                                                                        ter-                               padu 


9. KATA DAN AKHIRAN ASING

Kata Asing
            Pemakai bahasa Indonesia yang memiliki kemahiran menggunakan bahasa asing tertentu sering menyelipkan kata-kata asing yang dikuasainya dalam pembicaraan atau tulisannya. Kemungkinannya adalah pemakai bahasa itu ingin memperagakan kebolehannya atau bahkan ingin meperlihatkan keintelekannnya kepada khalayak . Dia tidak sadar tindakannya itu kurang terpuji. Dalam hubungan ini, ada kaidah yang menyatakan bahwa jika kita berbahasa Indonesia, berbahasa Indonesialah dengan baik. Jika kita berbahasa asing , berbahasa asinglah dengan baik. Dengan kata lain, kita tidak boleh mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing sekaligus dalam suatu kesempatan.
Misalnya

Kesalahan Umum
  1. Dalam work shop ini akan dibahas working paper agar diperoleh input bagi kta semua.
  2. Kita harus segera menuyusun project proposal dan sekaligus butgeting-nya.
  3. At last, semacam task force perlu dibentuk dahulu untuk job ini
  4. Coba you kemukakan planning pementasan drama tersebut.
  5. Kita harus segera mengadakan cross check dengan dinas terkait.
  6. Pimpinan dan karyawan harus mengadakan approach untuk membicarakan masalah kepegawaian.
Memang kalimat-kalimat itu terasa hebat karena sudah dibumbui bahasa asing. Hanya sayang pembicara tersebut tuna harga diri terhadap bahasanya sendiri. Ia merasa lebih bangga menggunakan kata-kata asing daripada menggunakan kata-kata bahasanya yang sebenarnya harus lebih dibanggakan. Kalimat-kalimat seperti itu hanya dapat dipahami oleh segelintir orang yang sudah beruntung mengikuti pendidikan yang memadai, tetapi belum tentu dapat dipahami oleh orang-orang yang berpendidikan rendah, bahkan tidak mustahil bagi mereka yang tidak mengerti kata-kata asing tersebut. Akan lain kesan mereka jika kalimat itu diucapkan sebagai berikut.
Bentuk Yang Dianjurkan
  1. Dalam sanggar kerja ini akan dibahasa beberapa kertas kerja agar diperoleh masukan bagi kita semua.
  2. Kita harus segera menyusun rancangan kerja dan sekaligus rancangan biayanya.
  3. Akhirnya, semacam satuan tugas perlu dibentuk dahulu untuk pekerjaan ini
  4. Coba Anda /Saudara kemukakan rencana pementasan drama tersebut.
  5. Kita harus sering mengadakan saling koreksi dinas terkait
  6. Pimpinan dan karyawan harus mengadakan pendekatan untuk membicarakan masalah kepegawaian.
Ada gejala lain
Di setiap jalan raya di kota-kota banyak terpampang papan nama yang menggunakan kata asing, bahkan di desa terpencil pun terpampang papan nama yang mengunakan kata asing. Padahal, selama ini belum pernah seorang turis asing yang berkunjung ke desa itu. Alasan penggunaannya mungkin sama, yakni ingin agar papan nama itu bergengsi, atau sekadar gagah-gagahan, yang belum tentu pemasangnya sendiri mengerti betul arti tulisan yang dipampangkannya. Padahal, jika kita ingin menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, penggunaan kata-kat asing yang sudah ada padanannya itu dalam bahasa Indonesia tidak perlu. Kata asing hanya dapat digunakan jika memang betul-betul diperlukan dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Perhatikan kata-kata asing di bawah ini. 

Bentuk Tidak Baku                                                  Bentuk Baku 
1.                                                                                                                        Sederhana Taylor                       1. Penjahit Sejahtera
  1. Barber Shop                                     2.  Pemangkas Rambut
  2. Supermarket                                    3.  Pasar Swalayan
  3. Coffe Shop                                      4.  Kedai Kopi
  4. Video Rental                                   5.  Penyewaan Video
  5. Agung Shop                                    6 . Toko Agung
  6. Garuda Theater                               7.   Bioskop Garuda
  7. Royal Furniture                              8.   (Toko) Mebel Royal
  8. Computer Center                            9.   Pusat Komputer
Contoh lain:
1. Ranking
Adik ranking berapa?
            Kata ranking (Inggris) berarti ‘pemeringkatan’ yang berasal dari kata dasar rank yang berarti ‘peringkat’. Jika kata ranking yang digunakan dalam pengertian peringkat , seperti dalam kalimat pertanyaan  Adik ranking berapa? Pemakaian kata ranking itu tidak tepat. Ranking yang berarti ‘pemeringkatan’ atau berarti ‘hal atau perbuatan, cara menyusun urutan berdasarkan tolok ukur tertentu’, seperti juimlah nilai mata pelajaran dalam rapor seorang anak. Kedudukan anak tersebut dalam kelasnya disebut peringkat atau rank. Kalimat  Adik ranking berapa?, harus diubah menjadi Adik peringkat berapa?

2. Free parking
            Di halaman apotek, tempat praktek dokter, atau pasar swalayan terpampang tulisan free parking diartikan dengan ‘bebas parkir’.
            Kurang tepat jika free parking dipadankan dengan kata bebas parkir.
Yang benar untuk free parking adalah parkir gratis, parkir tanpa bayar.
Bebas parkir seharusnya diartikan dengan ‘dilarang parkir’ atau no parking. Dalam bentuk ekplisit bebas dari parkir.  

Akhiran Asing
            Ada beberapa akhiran asing yang perlu kita bicarakan karena bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia hasil pengindonesiaan kata-kata asing itu yang pemakaiannya masih belum mantap. Perubahan bentuk lama ke bentuk baru berdasarkan buku Pedomam Umum Ejaan yang Disempurnakan dan buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah belum ditaati oleh pemakai bahasa Indonesia secara menyeluruh, sehingga sampai saat ini kita masih melihat adanya bentuk kembar atau bersaing antara bentuk lama dengan bentuk baru. Secara rinci akhiran asing itu akan dpaparkan berikut ini.

 1. Akhiran –sasi atau -isasi
            Akhiran –isasi kita jumpai pada kata-kata bentukan seperti spesialisasi, modernisasi, liberalisasi, netralisasi. Bandingkan dengan bahasa Belanda : socialisatie, modrenisatie, liberalaisatie, netralisatie, dan bahasa Inggris specialization, modernization, neutralaization. Dalam buku Pedomamn Pembentukan Istilah dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ditentukan sebagai berikut: -(a)tie, (a) tion menjadi  -asi, si
            actie, action menjadi aksi
publicatie, publication menjadi publikasi
Dalam pemakaian bahasa, selalu tampak bahwa pemakai bahasa Indonesia sering lebih senang menggunakan kata asing walaupun dalam bahasa Indonesia telah ada kata Indonesia  yang searti dengan kata asing itu. Atau menggunakan bentukan yang meniru bentukan asing walaupun dalam bahasa Indonesia ada cara membentuk kata dengan pengertian seperti itu. Misalnya, orang lebih senang menggunakan bentuk modernisasi daripada pemodernan, netralisasi daripada penetralan; indonesianisasi daripada pengindonesiaan.  Oleh karena itu, muncul bentuk-bentuk seperti turinisasi ‘penghijauan dengan menanam pohon turi’, pompanisasi’ pemakaian pompa untuk mengairi sawah’.
 Analogi bentukan semacam itu sebaiknya dibatasi. Kalau bisa, gunakanlah cara asli dalam bentuk kata-kata Indonesia. Misalnya, dalam hal seperti itu, bila dapat gunakan imbuhan pe-an dan  tidak menggunakan bentukan dengan –sasi. Pengindonesiaan tidak usah dikatakan Indonesianisasi, dan sebagainya.

2. Akhiran –ir 
Pemakaian akhiran –ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini. Dalam bahasa Indonesia baku akhiran yang tepat untuk padanan akhiran –ir adalah –asi atau –isasi. Jadi bentuk yang baku adalah dilegalisasi, bukan dilegalisir. Mengapa dalam bahasa Indonesia dipilih dilegalisasi, bukan dilegalisir. Penjelasannya sebagai berikut.
Kata benda legalisasi diserap dari kata legalisatie (Belanda) atau dari kata benda legalization (Inggris). Jika kata benda legalisasi ini dijadikan kata kerja dengan ditambah imbuhan –me atau di-, hasilnya menjadi melegalisasi atau dilegalisasi.
Banyak orang menganggap bahwa legalisir yang benar karena katanya, kata tersebut diserap berdasarkan bunyinya legaliseren (Belanda). Memang dalam bahasa Belanda terdapat kata legaliseren, tetapi kelas katanya kata kerja yang artinya ‘mengesahkan’ . Jika kata kerja legalisir yang sudah berarti ‘mengesahkan’ itu ditambah lagi dengan imbuhan me- hasilnya menjadi melegalisir. Ini sama dengan me + mengesahkan, sehingga hasilnya menjadi memengesahkan. Demikian juga, jika legalisir yang sudah berarti ‘mengesahkan’ ditambah imbuhan –di sehingga hasilnya menjadi dimengesahkan. Ini merupakan bentuk tidak benar.
Sebagai bandingan, ikutilah penjelasan berikut tentang kata proklamasi dan proklamir. Kata yang baku ialah proklamasi, bukan proklamir. Kata proklamasi diserap dari kata benda proclamatie (Belanda) atau dari kata benda proclamation (Inggris). Jika kata proklamasi diberi imbuhan me- atau di-, hasilnya menjadi memproklamasikan atau diproklamasikan. Kata proclameren (Belanda) tidak diserap menjadi proklamir karena kata tersebut dalam bahasa aslinya diperlakukan sebagai kata kerja yang berarti ‘mengumumkan‘. Jadi, jika kata proklamir yang sudah berarti mengumumkan’ ditambah imbuhan me- yang hasilnya menjadi memproklamirkan, arti yang dikandungnya sangat tidak mungkin, yaitu ‘memengumumkan’, atau jika ditambah awalan di-, menjadi diproklamirkan, artinya tidak logis ‘dimengumumkan’. Itulah sebabnya kita menyerap dari proclamatie (Belanda) atau proclamation (Inggris) yang tergolong kata benda. Jika proklamasi ditambah me- atau di-, hasilnya menjadi memprokalmasikan atau diprokalmasikan yang berarti ‘mengumumkan  atau diumumkan’. Akhiran –ir yang sering dijumpai terdapat pada kata-kata berikut.
Bentuk salah
  1. Ijazah Saudara harus dilegalisir dahulu oleh Dekan Fakultas Ekonomi.
  2. Perbuatan maksiat sebaiknya tidak usah dilokalisir.
  3. Saya sanggup mengkoodinir kegiatan itu.
  4. Sukarno Hatta memproklamirkan negara Republik Indonesia.
Bentuk yang benar
  1. Ijazah Saudara harus dilegalisasi dahulu oleh Dekan fakultas Ekonomi.
  2. Perbuatan maksiat sebaiknya tidak usah dilokalisasi.
  3. Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu.
  4. Sukarno-Hatta memprokalmasikan negara Republik Indonesia.     
Contoh lain yang sering digunakan dalam bentuk yang salah: terealisir, teroganisir, mendominir, mengakomodir, dinetralisir. Bentuk tersebut haruslah diungkapkan: terealisasi, terorganisasi, mendominasi, mengakomodasikan, dinetralisasi



3. Akhiran –is
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata-kata ekonomis, praktis, logis. Kata-kata itu diserap dari dari bahasa Belanda : economisch, practisch, logisch. Jadi, akhiran bahasa Belanda –isch dijadikan is dalam bahasa Indonesia. Kata-kata dengan akhiran –ish seperti di atas dalam bahasa Belanda merupakan merupakan kata sifat, demikian juga kata-kata Indonesianya. Ekonomis artinya ‘bersifat ekonomi, maksudnya ‘mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi’, praktis artinya ‘mudah diterapkan di dalam praktek’.
Kata-kata di atas dalam bahasa Inggris: economical, practical, logical. Kalau kata-kata Inggris itu yang diserap, tentulah dalam bahasa Indonesia bentuknya ekonomikal, praktikal, logikal. Tetapi, bentuk-bentuk dengan akhiran –ikal seperti itu, pada umumnya, tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia . Dalam buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah, dikatakan bahwa kata-kata Inggris yang berakhir –ical, dalam bahasa Indonesia dijadikan kata dengan akhir -is.
Yang perlu diperhatikan ialah bahwa akhiran –is dalam bahasa Indonesia tidak diambil dari –isch saja (Belanda) sebab kita mengambil kata asing itu secara utuh, artinya kata itu diserap sekaligus dengan akhirannya. Kemudian ejaannya (cara penulisannya) disesuaikan dengan cara penulisan dalam bahasa Indonesia. Kebanyakana kata-kata dengan akhiran –is dalam bahasa Indonesia berasal; dari bahasa Belanda. Namun, dalam pekembangannya bahasa Indonesia akhir-akhir ini, kita melihat bahwa akhiran -is itu mulai melampaui batas asalnya. Maksudnya, akhiran –is mulai dipakai pada bentuk-bentuk dasar yang bukan bahasa Belanda saja, melainkan pada bentuk dasar dari bahasa lain.
Contohnya, dalam bahasa Indonesia, kita jumpai sekarang kata-kata seperti: Pancasilais yaitu (orang-orang) yang menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam tindak-tanduknya, tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau akhiran –is itu menjadi lebih produktif sehingga banyak kata Indonesia yang diberi akhiran –is dengan maksud menyatakan sifat, maka akhiran –is itu pastilah dapat dimasukkan dalam kelompok akhiran (sufiks) bahasa Indonesia; dengan perkataan lain, akan kita akui sebagai akhiran bahasa Indonesia seperti juga akhiran –wan dari bahasa Sanskerta.
Ada lagi akhiran -is yang dalam bahasa Indonesia seperti yang kita jumpai pada kata-kata: idealis, egois. Kata-kata itu pun diserap dari bahasa Belanda secara utuh yang ejaannya  disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Kata-kata itu berasal dari:  idealist, egoist. Jadi, akhiran –is pada kata-kata itu bukan kata sifat. Kata benda: idealis ialah ‘seseorang yang mementingkan cita-cita, seorang yang tinggi cita-cita; tidak mendasarkan pekerjaannya atas imbalan materi, tetapi atas suatu tujuan yang mulia. Seorang dikatakan egois apabila ia terlalu mementingkan “ego” nya, dirinya sendiri, keinginan dan kepentingan sendiri.  

4. Akhiran –al
            Di dalam buku Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan dikatakan sebagai berikut:
-eel, -aal, -al, menjadi –al
            structureel,                  structural                     à struktural
            formeel                        formal                          à formal
            rationeel                      rational                        à rasional
            ideaal                           ideal                            à ideal
            normaal                       normal                         à normal
           
            Kata-akata asing di atas dalam lajur sebelah kiri ialah kata-kata yang berasal dari bahasa Belanda dan yang pada lajur kanan berasal dari bahasa Inggris. Jadi, kata-kata dengan bentuk akhir –eel atau –aal dari bahasa Belanda sama maknanya dengan kata-kata Inggris yang berakhir –al. Sebelum EYD, kata-kata seperti itu yang berakhir –eel (Belanda) diindonesiakan menjadi kata dengan akhir –il karena bunyi akhiran bahasa Belanda cenderung ke bunyi –il. Jadi, kata-kata di atas menjadi strukturil, formil, rasionil. Berdasarkan ketentuan baru seperti yang tercantum dalam buku Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan dan buku Pedoman Pembentukan Istilah, maka kata-kata itu menjadi struktural, formal, rasional.
            Dengan mengambil bentuk –al bukan –il, kita melihat kesejajaran bentuk antara kata-kata bentukan yang seasal morfem dasarnya; bentuknya lebih mirip. Misalnya, formal dan formalitas.
            Anda mungkin bertanya. Apakah semua kata yang dahulu dibentuk dengan –il itu harus diubah menjadi kata dengan bentuk –al? Jawabannya, kata-kata yang dahulu berakhir –il seperti kata-kata yang dicontohkan di atas, harus diubah bentuknya menjadi kata dengan bentuk akhir –al. Namun ada juga kecualinya.
            Kalau ada dua bentuk yang berbeda karena yang satu berakhir –il dan yang satu lagi berakhir –al, mengandung arti yang berbeda, maka kedua bentuk tu tetap dibiarkan seperti itu, artinya kata dengan bentuk akhir –il tidak usah diubah menjadi kata dengan bentuk –al.
            Misalnya, kata moril dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Belanda moreel dan kata moral yang diserap dari bahasa Belanda moraal dan bahasa Inggris moral memiliki makna yang berbeda. Bantuan moril misalnya, tidak bisa diubah menjadi bantuan moral. Pendidikan moral (=pendidikan akhlak) tidak bisa diubah menjadi pendidikan moril. Tiap bentuk itu memiliki maknanya sendiri. Oleh karena itu, kedua bentuk itu tetap dipertahankan.
            Demiakian juga kata idiil (dari bahasa Belanda ideeel) tidak dapat diubah menjadi ideal (dari bahasa Belanda ideaal; bahasa Inggrisnya ideal) . Oleh karena masing-masing bentuk itu memiliki makna sendiri, maka kedua bentuk itu tetap dipertahankan. Misalnya,  suami yang ideal (yang sangat diidam-idamkan oleh setiap wanita), tentu tidak dapat dikatakan seorang suami yang idiil. Demikian juga, landasan idiil negara kita ialah Pancasila, tidak dapat diubah dengan mengatakan landasan ideal negara kita ialah Pancasila.

5. Akhiran –i atau –wi
Dalam bahasa Indonesia, dikenal kata-kata dengan akhiran –i atau –wi seperti badani, insani, alami, duniawi. Di samping itu, dikenal juga kata-kata badan, insan, alam, dunia. Jadi, ada dua macam bentuk yang diserap dari bahasa Arab yaitu bentuk dasar dan bentuk dengan akhiran –i atau –wi.
Akhiran –i atau –wi dari bahasa Arab itu bukan dua akhiran atau dua macam akhiran, melainkan satu akhiran karena keduanya mewakili satu morfem atau merupakan alomorf. Perbedaan bentuknya itu timbul karena lingkungan yang dimasukinya berbeda. Bila kata dasar berakhir dengan konsonan, seperti dalam contoh kata  di atas, yaitu /n/ dan /m/, maka akhiran yang muncul ialah /i/, sedangkan bila bentuk dasar itu berakhir dengan vokal /a/, maka akhiran yang muncul ialah –wi. Bandingkan dengan awalan me- yang dapat mengalami variasi bentuk : mem-, men-. meng-, meny-, me-, dan menge-.
Melihat penggunaan akhiran –i atau –wi dalam bahasa Indonesia dewasa ini, kita dapat mengatakan bahwa akhiran itu sudah menjadi akhiran bahasa Indonesia karena akhiran iu sudah dilekatkan pada bentuk-bentuk dasar yang tidak berasal dari bahasa Arab. Kita mengenal bentuk bahasa Indonesia manusiawi. Bentuk dasar kata itu bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan kata Indonesia yang berasal dari bahasa Sanskerta. Akhiran –i atau –wi ini mempunyai arti “’ mempunyai sifat’.  Manusiawi artinya ‘mempunyai sifat manusia’.

10. PEMAKAIAN BENTUK-BENTUK DI MANA, DALAM MANA,
DI DALAM MANA, DARI MANA, DAN YANG MANA SEBAGAI PENGHUBUNG

            Dalam bahasa Indonesia sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sebagai penghubung. Contoh-contohnya sebagai berikut:
(1) Rumah di mana ia tinggal sangat luas.
(2) Karmila membuka-buka album dalam mana ia menyimpan foto-foto barunya.
(3) Ia membuka almari di dalam mana ia meletakkan kunci sepeda motornya.
(4) Bila saya tidak bersekolah, saya tinggal di gedung kecil dari mana suara gamelan yang lembut dapat terdengar. 
(5) Sektor pariwisata yang mana merupakan tulang punggung perekonomian negara harus senantiasa ditingkatkan.
            Penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bentuk di mana sejajar dengan penggunaan where,
dalam mana dan di dalam mana sejajar dengan penggunaan in which, dari mana sejajajr dengan from which, dan yang mana sejajar dengan pemakaian which. Dikatakan dipengaruhi oleh bahasa Inggris karena dalam bahasa Ingris bentuk-bentuk itu lazim digunakan sebagai penghubung. Misalnya:
(6) The house where he lives is very large
(7) Karmila opened the album in which she had kept her new photographs.
(8) He opened the cupboard in which he put the key of his motorbike.
(9) If I have no class, I stay at the small building from which the sounds of gamelan can be listened smootly.
(10) The tourism sector which is the economoical back bone of the country must always be intensified.
Dalam bahasa Indonesia karena sudah ada penghubung yang lebih tepat, yaitu kata tempat dan yang sehingga contoh (!) – (5) di atas seharusnya diubah menjadi:
(1a) Rumah tempat ia tinggal sangat luas.
(2a) Karmila membuka-buka album tempat ia menyimpan foto-foto barunya.
(3a) Ia membuka almari tempat ia menaruh kunci sepeda motornya.
(4a) Bila saya tidak bersekolah, saya tinggal di gedung kecil tempat suara gamelan yang lembut dapat terdengar.
(5a) Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonimian negara harus senantiasa ditingkatkan.        
            Dalam bahasa Indonesia memang terdapat bentuk di mana, dari mana, dan yang mana, tetapi tidak lazim digunakan sebagai penghubung. Bentuk-bentuk itu lazimnya dipakai untuk menandai kalimat tanya. Bentuk di mana dan dari mana dipakai untuk menyatakan ‘tempat’, yaitu ‘tempat berada’ dan ‘tempat asal’, sedangkan yang mana untuk menanyakan ‘pilihan’. Misalnya:
(11) Saudara bekerja di mana?
(12) Di antara dua mesin tik ini menurut Anda yang mana yang terbaik?













.








11. KESALAHAN BAHASA DALAM SURAT RESMI

1. Pendahuluan
            Dalam pergaulan antarmasyarakat, kita tidak terlepas dari saling memberikan informasi atau saling berkomunikasi. Infomasi itu dapat berupa pemberitahuan, pertanyaan-pertanyaan, laporan, permintaan, dan lain-lain. Informasi itu dapat disampaikan kepada pihak lain dengan lisan atau tertulis.
            Informasi dapat disampaikan dengan lisan, jika pemberi informasi berhadap-hadapan atau bersemuka dengan penerima informasi. Menyampaikan informasi lewat telepon, radio, dan televisi dapat digolongkan ke dalam penyampaian informasi secara lisan, sedangkan menyampaikan informasi kepada orang lain dengan menggunakan surat digolongkan ke dalam penyampaian informasi secara tertulis.
            Surat sebagai sarana komunikasi tertulis mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan sarana komunikasi lisan karena surat merupakan bukti “ hitam di atas putih”. Di samping itu, kelebihan lainnya adalah pembaca dapat membacanya berulang-ulang apabila pembaca  belum paham dengan isi surat itu dan biaya yang diperlukan relatif murah bila dibandingkan dengan biaya yang diperlukan dengan mempergunakan sarana komunikasi yang lain, seperti telepon atau telegraf.
            Selain sebagai sarana komunikasi, surat juga mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai duta atau wakil penulis untuk berhadapan dengan lawan bicaranya. Oleh karena itu, sangat tepat jika dikatakan orang bahwa isi surat merupakan gambaran mentalitas pengirimnya.   

2. Format Surat
            Salah satu yang ikut juga menentukan baik atau kurang baiknya surat adalah formatnya. Yang dimaksud dengan format surat adalah tata letak atau posisi bagian-bagian surat. Dalam kegiatan surat-menyurat sehari-hari, kita melihat adanya berbagai bacam format surat yang digunakan oleh organisasi atau instansi. Hal ini menunjukkan bahwa dewasa ini belum ada pedoman yang baku. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dikemukakan beberapa format surat yang dianggap memadai dalam menulis surat resmi.
Format surat resmi pada instansi-instansi di Indonesia ada tiga macam variasi, yaitu
(1)   Format resmi Indonesia variasi I (setengah lurus).
(2)   Format resmi Indonesia variasi II (setengah lurus), dan
(3)   Format resmi Indonesia variasi III (lurus).
Perlu juga dikemukakan di sini bahwa format resmi variasi I tergolong format  resmi Indonesia yang lama. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa  dalam kegiatan surat- menyuratnya melazimkan penggunaan format resmi variasi II, yaitu format resmi Indonesia yang baru.
Perhatikan gambar berikut 
























FORMAT SURAT RESMI INDONESIA VARIASI   I
( Format surat resmi Indonesia lama)
Kepala Surat

Nomor      :                                                                              Tanggal
Lampiran  :                 
Hal           :
                                                                                                Yth. ...................
                                                                                                 .......................... Alamat
                                                                                                 ...........................
Salam pembuka,
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Pembuka
...................................................................................................................    
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Isi Surat
....................................................................................................................   
....................................................................................................................
            ........................................................................................................    Paragraf
....................................................................................................................    Penutup
...................................................................................................................                            

Tembusan:                                                                               Salam penutup                                   
.......................                                                                         Jabatan
.......................                                                                         tanda tangan
.......................                                                                        
Inisial                                                                                      Nama jelas


Format setengah lurus
FORMAT SURAT RESMI INDONESIA VARIASI   II
( Format surat resmi Indonesia Baru)
Kepala Surat

Nomor      :                                                                              Tanggal
Lampiran  :                 
Hal           :

Yth. ...................                                                                    
 ..........................                                                                                             Alamat
 ...........................

Salam pembuka,
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Pembuka
...................................................................................................................    
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Isi Surat
....................................................................................................................   
            ........................................................................................................    Paragraf
....................................................................................................................    Penutup
....................................................................................................................
Tembusan                                                                                            Salam penutup,
........................                                                                                    Jabatan
........................                                                                                    Tanda tangan
Inisial
Nama jelas

Format setengah lurus (format yang lazim digunakan oleh Pusat Bahasa)

FORMAT SURAT RESMI INDONESIA VARIASI   III
( Format surat resmi Indonesia Baru)
Kepala Surat

Nomor      :                                                                              Tanggal
Lampiran  :                 
Hal           :
Yth. ...................
 ..........................                                                                                             Alamat
 ...........................
Salam pembuka,
...................................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Pembuka
...................................................................................................................    
...................................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Isi Surat
....................................................................................................................    Paragraf
....................................................................................................................    Penutup
....................................................................................................................   
Salam penutup,
Jabatan
Tanda tangan
Nama jelas

Tembusan:                                                                  
......................................
......................................
Inisial
Format lurus

3. Kesalahan Penulisan Kepala Surat
            Sebaiknya, kepala surat disusun dan dicetak dalam bentuk yang menarik. Dalam kepala surat tercantum nama kantor, alamat, nomor telepon (apabila ada), nomor kotak pos (apabila ada); nama kantor cabang, nama bankir, bidang usaha, dan lambang instansi yang bersangkutan. Beberapa kesalahan bahasa dalam kepala surat terlihat dalam contoh berikut.
Misalnya:

Bentuk Salah
(1)   P.T. ASRI JAYA
Jln. Tanah Datar 5 – Ciledug – Tangerang – Jawa Barat
PO. Box 519/K.B.Y. Telp. 5.864.238
           
Kesalahan pertama dalam kepala surat di atas adalah penulisan P.T., yang menggunakan tanda titik. Singkatan itu merupakan singkatan  nama badan atau organisasi yang terdiri atas huruf awal kata . Oleh karena itu, singkatan itu  ditulis PT tidak diikuti tanda titik. Kesalahan berikutnya adalah penulisan Jln., yang mestinya dituliskan lengkap Jalan. Pembatas unsur-unsur alamat haruslah tanda koma, bukan tanda hubung seperti di atas  Yang benar adalah Jalan Tanah Datar 5, Cledug, Tangerang, Jawa Barat. PO Box merupakan kata asing yang berpadanan dengan bahasa Indonesia Kotak Pos. KBY juga harus ditulis tanpa titik. Kata Telepon. harus ditulis lengkap, bukan Telp. Dengan nomor telepon tanpa diberi tanda titik atau spasi, seperti 5.864.238 atau 5 864 238 karena bukan suatu jumlah, tetapi yang benar adalah 58624238. Kepala surat di atas disarankan dicetak sebagai berikut.
Seharusnya (Bentuk Baku)
(1a) PT ASRI JAYA
       Jalan Tanah Datar 5, Ciledug, Tangerang, Jawa Barat
       Kotak Pos 519/KBY Telepon 5864239  





4. Kesalahan Penulisan Nomor Surat
            Nomor surat sering disebut identitas surat sebab dalam penyimpanan atau pengarsipan surat cukup dengan disebut nomornya.
            Pada surat-surat dinas nomor surat sering dituliskan sebagai berikut.
Misalnya:
Bentuk Salah
1. Nomor: 456 / MKDU / ’87.-
Kesalahan penulisan nomor surat itu adalah penyingkatan angka dengan penggunaan tanda koma di atas 87 dan pencantuman titik dan tanda hubung setelah angka tahun. Kesalahan lain yang tampak dalam nomor surat itu adalah tanda garis miring yang didahului dan diikuti spasi. Menurut aturan yang berlaku, tanda garis mirng tidak didahului dan diikuti spasi. Perhatikan perbaikan yang disarankan.
Seharusnya  (Bentuk Baku)
(1a) Nomor: 456/MKDU/1987

5. Kesalahan Penulisan Lampiran
            Bagian lampiran tidak selamanya harus dicantumkan apabila misalnya, surat itu tidak melampirkan sesuatu. Jika bersama surat itu ada sesuatu yang dilampirkan, apa yang dilampirkan itu hendaknya dituliskan dengan lengkap. Akan tetapi, jika surat tersebut tidak melampirkan barang yang lain, seperti brosur, fotokopi, atau buku, kata lampiran tidak perlu dicantumkan dalam surat.
Miasalnya:
Bentuk Salah
(1) Nomor       : 221/U/1987
      Lampiran   : - ,, -
      Perihal: Rapat Penilaian
            Seperti tampak di atas, kata lampiran  dicantumkan tanpa memiliki fungsi yang jelas karena memang surat itu tidak melampirkan sesuatu. Pencantuman tanda hubung, tanda petik,atau mungkin angka nol (o) terasa sangat dipaksakan karena secara sekedar mengisi kekosongan tanpa tujuan yang jelas. Karena tanpa sesuatu yang dilampirkan, kata lampiran  tidak harus dicantumkan, seperti perbaikan berikut.
Bentuk Baku
(1a) Nomor: 221/U/1987
        Perihal: Rapat Penilaian 

6. Kesalahan Penulisan Hal Surat
            Hal atau perihal adalah bagian surat yang memuat pokok surat atau inti persoalan yang akan disampaikan dalam surat itu. Bagian ini berguna untuk memudahkan pembaca untuk mengetahui persoalan. Bagian ini tidak perlu ditulis panjang-panjang, tetapi singkat. Walaupun demikian pokok persoalan itu harus dapat mewakili keseluruhan maksud surat.
Misalnya:
Bentuk salah
(1) Perihal: Penentuan tentang Petugas Pameran dalam Dies
                         Natalis yang akan diadakan 2—3 Mei 1987.
                       
            Penerima surat akan banyak tersita waktunya hanya untuk membaca perihal surat yang ditulis panjang lebar dan lengkap. Padahal, informasi itu akan diulang lagi di dalam isi surat. Perhatikan perbaikannya.
Bentuk Baku
(1a) Perihal: Penentuan Petugas Pameran

7. Kesalahan Penulisan Tanggal Surat
            Dalam surat-surat dinas dan surat niaga, sebelum tanggal surat tidak perlu dicantumkan nama kota sebab nama kota itu sudah tercantum pada kepala surat.
            Dalam surat-surat pribadi atau surat dinas yang tidak menggunakan kepala surat, nama kota harus dicantumkan sebelum tangal surat. Selanjutnya, penulisan tanggal surat hendaknya, tanggal, bulan, dan tahun ditulis secra lengkap. Tanggal 28 Oktber 1985 tidak disingkat menjadi 28 Okt. 1985 atau diganti dengan lambang bilangan menurut urutannya, seperti (5) 28 -10 – ’85, (6) 10 – 11 – 1985, tetapi harus ditulis lengkap (5a) 28 Oktober 1985 dan (6a) 10 November 1985.


8. Kesalahan Penulisan Alamat Surat
            Selain dicantumkan pada sampul surat, alamat surat juga perlu dicantumkan pada lembar surat. Alamat surat hendaknya ditulis dengan jelas, singkat, dan lengkap.
            Penulisan alamat surat yang efisien dan efektif dapat dilakukan dengan aturan-aturan sebagai berikut.
(1) Alamat tidak diawali dengan kata kepada  sebab siapa pun sudah mengetahui bahwa alamat yang ditulis itu adalah alamat yang dituju. Selain itu, kata kepada    berfungsi sebagai kata penghubung intrakalimat yang menyatakan tujuan, sedangkan alamat surat bukan berupa kalimat, sama halnya dengan alamat pengirim yang tidak perlu menggunakan kata dari.
2)  Alamat pada lembar surat ditulis di sebelah kiri di antara perihal dan salam pembuka dengan tidak diikuti tanda baca apa pun.
(3) Kata sapaan seperti Bapak, Ibu, Saudara, dan Tuan tidak perlu ditulis di depan gelar, pangkat, dan jabatan. Kata sapaan digunakan jika diikuti langsung oleh nama orang yang dituju. 
Bentuk Salah
(1) Kepada Yth.
      Bapak Direktur CV Kencana
      Jln. Wonosobo No, 40
      SURABAYA
(2) Kepada Yth.
      Bapak Kepala Kantor Wilatah Ditjen Binaguna
      Propinsi Jawa Barat
      Jln. Taman Sari No. 32
BANDUNG  
(3) Kepada Yth.
      Bapak Drs. Edy Sanjaya
      Manjer Personalia PT Dahana
      Jln. Gajah Mada No. 127
      UJUNG PANDANG


(4) Kepada Yth.
      Bapak Kolonel Sumengkar
      Jl. Hasanudin IV/12
Kebon Kangkung
      BANDUNG

(5)Yth. Ibu Ir. Sulistiani
      Staf Bagian Perencanaan
      Direktorat Jalan Raya
      Depertemen Pekerjaan Umum
      Jalan Sutisna 15
      Jakarta

            Kesalahan pada (1) adalah penggunaan kata kepada dan Bapak. Selain itu, kata jalan hendaknya ditulis lengkap, tidak disingkat Jln. Nama kota Surabaya tidak perlu ditulis dengan kapital seluruhnya, tetapi awalnya saja yang kapital, yaitu Surabaya.
            Kesalahan pada (2) sama seperti pada (1). Garis bawah dan segala tanda baca pada nama kota Bandung  merupakan tanda yang tidak akan menambah informasi.
            Kesalahan pada (3) sama seperti (1). Gelar akademik Drs. Tidak perlu didahului kata Bapak. Kesalahan (4) adalah pengunaan kata kepada dan pemakaian kata sapaan Bapak yang berimpit dengan pangkat, kolonel. 
            Kesalahan pada (5) adalah penggunaan kata Ibu dan gelar akademik Ir. Yang berimpit. Perhatikan perbaikannya.
Seharusnya (Bentuk Baku)
(1a)      Yth. Direktur CV Kencana Wungu
            Jalan Wonosobo No. 40
            Surabaya
(2a)      Yth. Kepala Kantor Wilayah Ditjen Binaguna
            Propinsi Jawa Barat
            Jalan Taman Sari No. 32
            Bandung
(3a)      Yth. Drs. Edy Sanjaya
            Manajer Personalia PT Dahana
            Jalan Gajah Mada No. 127
            Ujung Pandang
(4a)      Yth. Kolonel Sumengkar
            Jalan Husada IV/12
            Kebon Kangkung
            Bandung 
(5a)      Yth. Ir. Sulistiani
            Staf Bagian Perencanaan
            Direktorat Jalan Raya
            Depertemen Pekerjaan Umum
            Jalan Sutisna 15
            Jakarta

9. Kesalahan Penulisan Salam Pembuka
            Ungkapan salam pembuka yang lazim digunakan adalah Dengan hormat (dengan d kapital, h kecil), diikuti tanda koma. Akan tetapi, dalam kenyataannya, penulisan salam pembuka tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Mungkin Anda bertanya “Mengapa diakhiri dengan tanda koma, padahal kalimat berikutnya dimulai dengan huruf kapital?  Bukankah lebih tepat dengan tanda titik?
            Memang apa yang dikemukakan itu beralasan, tetapi dalam hal ini ada kesepakatan bahwa salam pembuka surat dan salam penutup dituliskan dengan tanda koma di belakangnya.
Misalnya:
Bentuk Salah                                                 Bentuk Baku
(1)   Dengan hormat                                   (1a) Dengan hormat,
Yang perlu juga dingatkan di sini ialah agar kita tidak menyingkatkan kata sapaan dengan hormat, itu menjadi DH. Atau Dh., dan sebagainya.  Kita ingin menghomati orang dengan kata sapaan itu, tetapi dengan menyingkatkannya kita seolah-olah menarik kembali penghormatan kita itu karena penyingkatan seperti itu rasanya kurang sopan, kurang adab. 

10. Kesalahan Penulisan Paragraf Pembuka
            Kalimat-kalimat yang lazim dipakai oleh penulis surat sebagai paragraf pembuka sangat bervariasi.  Marilah kita amati satu per satu.
Bentuk Salah
  1. Bersama ini kami beritahukan bahwa ...
  2. Kami mohon bantuan daripada Tuan ...
  3. Bersama ini kami mengundang ...
  4. Dengan ini kami mengirimkan satu karung beras Cianjur untuk contoh.
Kesalahan pada (1) adalah penggunaan bersama ini, padahal surat tersebut hanya memberitahukan sesuatu, tidak melampirkan atau mengirimkan barang lain. Ungkapan bersama ini artinya ‘bersama-sama dengan ini atau ‘seiring dengan ini’. Jadi tidak dapat dikatakan seiring dengan surat ini kami beritahuka ... sebab pemberitahuan itu ridak diseiringkan dengan surat, melainkan dituliskan di dalam surat itu. Ungkapan bersama ini digunakan untuk surat pengantar sebab dalam surat pengantar, dituliskan apa yang dirimkan seiring dengan surat pengantar itu. Kebiasaan menulis ungkapan bersama ini, kemudian ditiru orang bila menulis surat biasa yang bukan surat pengantar.
Kesalahan pada (2) adalah penggunaan bantuan daripada Tuan. Sebenarnya,  cukup dituliskan bantuan Tuan karena kata depan daripada  digunakan untuk membandingkan dua hal atau masalah.
Kesalahan pada (3) adalah penggunaan kata bersama ini  karena surat tersebut hanya mengundang.
Kesalahan pada (4) adalah penggunaan dengan ini, yang seharusnya diganti dengan bersama ini karena surat tersebut mengirimkan sesuatu.
Seharusnya (Bentu Baku)
(1a) Dengan ini kami beritahukan …
(2a) Kami mohon bantuan Tuan …
(3a) Dengan ini kami mengundang …
(4a) Bersama  surat ini kami krimkan …



Isi Surat Sesungguhnya
            Isi atau pokok surat sesungguhnya memuat sesuatu yang diberitahukan, dilaporkan, ditanyakan, diminta, dan lain-lain. Untuk menghindari salah tafsir dan demi efisiensi, isi surat hendaknya singkat dan jelas. Hindari penulisan kalimat yang bertele-tele.

11. Kesalahan Penulisan Paragraf Penutup
Dalam paragraf penutup surat dijumpai pemakaian kalimat sebagai berikut.
Bentuk Salah
(1)   Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.
(2)   Atas bantuan dan perhatian Bapak, kami menghaturkan banyak terima kasih.
(3)   Demikian surat ini, atas perhatian bapak/ibu kami sampaikan terima kasih.
Kesalahan pada (1) adalah penggunaan bentuk perhatiannya. Perhatian siapa? Perhatian penerima surat yang dimintai batuan? Kalau ia yang dimaksud, maka bukan –nya   yang seharusnya dipakai, melainkan Bapak atau Ibu, atau Saudara, atau Anda karena orang yang disurati itu adalah Bapak, Ibu, Saudara, atau Anda (orang ke dua) bukan nya  = dia atau ia (orang ke tiga).
            Kesalahan pada (2) adalah penggunaan kata menghaturkan.  Kata menghaturkan bukan kata bahasa Indonesia. Dalam kamus tidak ada kata  hatur, menghaturkan yang seperti itu maknanya. Kata itu dipinjam dari bahasa daerah (Sunda, Bali) dipergunakan dalam surat karena orang ingin menyatakan kehormatannya kepada orang yang menerima surat. Kata mengucapkan menurut anggapannya mungkin tidak halus, atau kurang hormat, sehingga dipakainya kata bahasa daerah itu.
Kesalahan pada (3) adalah penggunaan kata bapak/ibu. Kata bapak/ibu pada kalimat ini digunakan sebagai kata sapaan. Oleh karena itu, kata bapak/ ibu semestinya ditulis dengan huruf kapital. Jadi, ditulis Bapak/Ibu. Kesalahan berikutnya adalah penghilangan tanda baca koma di antara bapak/ibu dan kami. Semestinya pada kalimat ini dibubuhi tanda baca koma untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.  
Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata hatur. Ada kata atur, tetapi artinya lain sekali. Oleh karena itu, gunakanlah kata mengucapkan yang dapat berarti 1) mengatakan, 2) menyampaikan. Jadi, kata itu tidak terbatas pemakaiannya pada pada bahasa lisan saja. Kalau barbahasa Indonesia, perasaan bahasa Indonesialah yang dipakai. Bila perasaaan dalam berbahasa daerah yang dibawa ke dalam bahasa Indonesia, maka ada kecenderungan untuk menggantikan kata-kata Indonesia dengan kata bahasa daerah.
            Ada yang menanyakan, kata anda dalam surat ditulis dengan A kapital (Anda) atau dengan huruf kecil (anda)? Pusat Bahasa telah mengambil keputusan bahwa kata anda yang dipakai dalam surat untuk menyapa orang yang menerima surat sebaiknya dituliskan dengan A kapital, Jadi, Anda, walaupun kata anda itu sejajar dengan kata engkau (dalam makna yang lebih halus, hormat).
            Pertimbangan mengunakan huruf kapital pada kata anda adalah jika kita menyapa seseorang yang lebih rendah kedudukannya dengan kita atau orang yang setara derajatnya dengan kita digunakan kata Saudara,(dengan S kapital), maka kurang pada tempatnya bila kita menyapa orang  yang lebih tinggi kedudukannya daripada kita dengan kata anda  (huruf a pertama huruf kecil). Oleh karena itu, diputuskan menuliskan kata itu dengan A kapital, yaitu Anda.
Perhatikan perbaikannya sebagai berikut.
Seharusnya (Bentuk baku)
(1a) Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan perhatian Bapak/ Ibu/ Saudara.
(2a)  Atas bantuan dan perhatian Bapak, kami mengucapkan banyak terima kasih.
(3a)  Demikian surat ini , atas perhatian Bapak/ Ibu, kami sampaikan terima kasih.

12. Kesalahan Penulisan Salam Penutup
            Salam penutup yang sering dipakai sebagai berikut.
Bentuk Tidak Baku                                                  Bentuk Baku
(1) Hormat kami                                                          (1a) Hormat kami,
(2) Wasalam                                                                (2a)  Wasalam,
Kesalahan pada (1) dan (2) adalah tidak menggunakan tanda baca koma, yang seharusnya menggunakan tanda baca koma (,). 
13 Kesalahan Penulisan Tembusan
            Penulisan kata Tembusan: (dengan tidak digarisbawahi) cukup efektif bila dibandingkan dengan ditulis Tembusan:  yang digarisbawahi atau Tembusan disampaikan kepada:   Selain itu, dalam rincian tembusan orang mencantumkan sebagai laporan, sebagai undangan, untuk diketahui, harap dilaksanakan, dan arsip. Semua tambahan itu tidak diperlukan karena tanpa embel-embel tersebut, yang ditembusi surat serta merta mengetahui apa yang harus dikerjakannya. Rincian terakhir dalam tembusan, arsip juga tidak perlu karena setiap surat dinas sudah lazim memiliki arsip.
Mari kita bandingkan bentuk salah dan bentuk benar berikut.
Bentuk salah
Tembusan: disampaikan kepada:
  1. Direktur Bank Indonesia Pusat (sebagai laporan)
  2. Kepala Pusdiklat Bank Indonsia (sebagai undangan)
  3. Drs. Mahaban, S.H. (harap dilaksanakan)
  4. Arsip.
Bentuk yang dianjurkan sebagai berikut.
Seharusnya (Bentuk Baku)
Tembusan:
  1. Direktur Bank Indonesia
  2. Kepala Pusdiklat bank Indonesia
  3. Drs. Marhaban, S.H.
Dalam surat resmi harus dicantumkan inisial.
Inisial adalah tanda pengenal nama penyusun konsep surat dan  pengetik surat tersebut. Inisial ini biasanya diambil dari huruf terdepan nama yang bersangkutan.
Misalnya:
            RK/YP
                        RK singkatan dari Rudi Kurniawan (pengonsep)
                        YP  singkatan dari Yuni Parwati (pengetik)








KATA DAN PEMAKAIANNYA

         Sering kata digunakan secara tidak tepat dalam kalimat baik karena artinya  yang tidak tepat  atau tidak tepat benar, atau karena penggabungan kata itu dengan kata lain dalam sebuah frase, atau kalimat. Kita perhatikan contoh-contoh beserta keterangannya di bawah ini.

1. hadirin
         Kata hadirin dipungut dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, artinya ‘semua yang hadir laki-laki’. Untuk perempuan, dalam bahasa Arab digunakan hadirat ( dengan lafal a panjang  pada suku  -rat). Dalam pemakaiannya bahwa kata  hadirin  yang berasal dari bahasa Arab  itu mengalami pergeseran makna dalam bahasa Indonesia. Kata hadirin dalam bahasa Indonesia  dipakai baik untuk laki-laki maupun perempuan. Orang yang berpidato  menyapa orang yang hadir  dalam pertemuan itu dengan kata : Hadirin  yang saya hormati, atau Hadirin yang saya muliakan.
         Seperti yang diklatakan di atas, kata hadirin berarti’semua  yang hadir’. Karena itu, tidak perlu diletakkan  kata para di depannya seperti kebiasaan sekarang ini. Sangat umum  kita mendengar pembawa acara  atau orang yang berpidato  mengucapkan kata sapaannnya : Para hadirin yang saya hormati. Penggunaan kata para di depan kata hadirin itu sifatnya pleonastic (berlebih-lebihan).
         Bentuk hadirat sebagai pasangan hadirin tidak dipakai dalam bahasa Indonesia. Namun, kadang-kadang orang yang biasa  menggunakan bahasa Arab menggunakan juga kata itu dalam  berpidato

2. suatu dan sesuatu
         Kata suatu dipakai untuk menyatakan benda yang belum tentu; dapat dibandingkan dengan one dalam bahasa Inggris  seperti dalam pemakaian berikut: one day (Inggris) = pada suatu hari  (Indonesia).
         Kata sesuatu dipakai untuk menggantikan  benda yang belum tentu  baik dalam fungsi sebagai subjek  maupun sebagai objek kata kerja transitif; dapat dibandingkan dengan something dalam bahasa Inggris. Kata sesuatu dipakai sebagai kata  yang berdiri sendiri dalam kalimat. Jadi, sebenarnya tidak dipakai di daam frase demgan kata benda di belakangnya seperti yang sering dijumpai dalam pemakaian bahasa dewasa ini.

Contoh pemakain suatu:
Guru bercerita tentang suatu peristiwa yang menarik.
Pada suatu kesempatan yang baik, akan kuceritakan hal itu kepadamu.
Suatu kesalahan yang terjadi tanpa disengaja masih dapat dimaafkan.

Contoh pemakaian sesuatu:
Kalu pekerjaanmu sudah selesai, aku akan menceritakan sesuatu yang menarik kepadamu.
Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Saya tak mengharapkan sesuatu dari Saudara.
         Perhatikan perbedaan pemakaiannya dalam kalimat-kalimat di atas. Ada dua kesalahan yang sering kita jumpai dewasa ini. Alih-alih mengatakan  suatu hal, suatu peristiwa, suatu kesalahan. Dewasa ini orang sring mengatakan  sesuatu hal, sesuatu peristiwa, sesuatu kesalahan. Seperti sudah dukatakan di atas, dengan contoh pemakaiannya dalam kalimat, awalan se- tidak perlu dilekatkan pada kata suatu bila kata itu diikuti  langsung oleh kata benda.

3. masing-masing dan tiap-tiap
         Kata masing-masing dewasa ini dipakai tidak seperti yang tercantum di dalam kamus. Kalau kita periksa Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta. Akan kita lihat keterangan sebagai berikut.
masing-masing, tiap-tiap orang; seorang-seorang; sendiri-sendiri; mis. Masing-   masing mengemukakan keberatannya; pulang ke ruimah masing-masing.
         Jelas dalam contoh di atas bahwa kata masing-masing  tidak dipakai di depan kata benda, melainkan dipakai sebagai kata yang berduri sendiri seperti tampak pada contoh pertama.
         Sekarang sudah umum orang mengatakan atau menulis masing-masing anak, masing-masing peserta, masing-masing negra alih-alih  mengatakan atau menulis tiap-tiap anak, tiap-tiap peserta, tiap-tiap negara. Jadi, kata tiap-tiaplah  yang seaharusnya dipakai bila di belakngnya diletakkan kata benda, bukan kata masing-masing.
Bandingkan kalimat-kalimat yang berpasangan di bawah.
1)            a. Tiap-tiap murid diberi oleh gurunya sebuah buku.
         b. Murid-murid itu masing-masing diberi oleh gurunya sebuah buku.
2)      a. Dalam konferensi itu , tiap-tiap negara diwakili oleh menteri luar negerinya.                       b. Dalam konferensi itu, negara-negara itu masing-masing diwakili oleh menteri
             luar negerinya.           
         Dalam contoh-contoh di atas dapat kita lihat bagaimana seharusnya kata masing-masing dan tiap-tiap digunakan. Kedua kata itu memang mengandung makna yang sama, tetapi pemakainnya tidak sama. Kalu diikuti oleh kata benda, maka kata tiap-tiaplah yang digunakan, sedangkan jika menggantikan kata benda yang sudah disebutkan sebelumnya, maka kata masing-masinglah yang digunakan.
         Kesalahan penggunaan kata masing-masing seperti yang telah  dikemukakan itu mula-mula merupakan  sebuah salah kaprah; lama kelamaan karena sering digunakan seperti itu, berubah pemakaiannya dari yang seharusnya. Kalau  kita ingin menggunakan bahasa secara cermat, hendaklah kita gunakan kata itu masing-masing seperti yang dicontohkan di atas.

4. nyaris  dan hampir
         Kata nyaris bersinonim dengan kata hampir, tetapi pemakainnya tidak sama. Artinya  tidak selalu kata hampir dalam sebuah kalimat  dapat diganti dengan kata nyaris.
Kata nyaris dipakai dalam pengertian ‘hampir’, tetapi dal;am arti yang kurang menguntungkan.
         Perhatikan contoh pemakaiannya dalam kalimat-kalimat di bawah.

         Karena kurang pandai berenang, anak itu nyaris tenggelam.
         Orang itu nyaris tertabrak mobil karena kurang hati-hati.
         Kata nyaris tak boleh dugunakan dalam pengertian yang menguntungkan  seperti nyaris menang, nyaris mendapat keuntungan.



5. takdir dan nasib
         Kedua kata itu biasanya dikacaukan orang saja pemakainnya. Mungkin hal itu timbul karena di dalam kamus biasanya diberikan arti bolak-balik : takdir=nasib, dan nasib=takdir, sehingga seolah-olah kedua patah kata itu sama saja artinya.
         Takdir adalah suatu ketetapan Tuhan, tidak dapat berubah dan tidak dapat diubah oleh manusia di luar kekuasaannya. Bahwa saya lahir sebagai laki-laki, sebagai orang Indonesia, berkulit sawo matang, sebagai anak pertama dalam keluarga, itu merupakan takdir. Tuhan memang sudah menetapkan demikian. Demikian juga hari kematian saya sudah ditetapkan oleh Tuhan saatnya, tidak akan bergeser sedetik ke depan atau ke belakang. Saat itu suatu rahasia yang tidak kita ketahui.
         Nasib dapat berubah. Tuhan berfirman  tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau mereka sendiri tidak mau mengubahnya. Orang selalu ingin lebih baik, tetapi hidup yang lebih baik itu tidak akan terwujud bila tiidak ada usaha ke arah itu. Kalau kita tetap miskin, tidak dapat kita mengatakan  memang beginilah  nasib saya ditentukan oleh Tuhan padahal tidak ada usaha untuk memperbaiki nasib itu; misalnya dengan bekerja keras, dengan menambah ilu. dsb.

1. ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

1. Pengertian
            Pembelajaran bahasa pada dasarnya adalah proses mempelajari bahasa. Dalam mempelajari bahasa tentu tidak luput dari kesalahan. Corder (1990:62) menyatakan bahwa semua orang yang belajar bahasa pasti tidak luput dari kesalahan. Ingatlah bahwa kesalahan itu sumber inspirasi untuk menjadi benar.
            Studi mengenai kesalahan dan hubungannya dengan pengajaran bahasa perlu digalakkan sebab melalui kegiatan kajian kesalahan itu dapat diungkapkan berbagai hal berkaitan dengan kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh siswa atau pembelajar. Apabila kesalahan-kesalahan itu telah diketahui, dapat dugunakan sebagai umpan balik dalam penyempurnaan pengajaran bahasa.
            Hubungan antara pengajaran bahasa dengan kesalahan berbahasa itu sangat erat. Bahkan Tarigan (1990: 67) mengatakan bahwa hubungan keduanya ibarat air dengan ikan. Sebagaimana ikan hanya dapat hidup dan berada di dalam air, begitu juga kesalahan berbahasa sering terjadi dalam pembelajaran bahasa.
            Para pakar linguistik dan para guru bahasa Indonesia sependapat bahwa kesalahan berbahasa itu mengganggu pencapaian tujuan pengajaran bahasa. Oleh sebab itu, kesalahan berbahasa yang sering dibuat siswa harus dikurangi dan dihapuskan.
            Kesalahan berbahasa merupakan suatu proses yang didasarkan pada analisis kesalahan siswa atau seseorang yang sedang mempelajari sesuatu, misalnya, bahasa. Bahasa itu bisa bahasa daerah, bahasa Indonesia, bisa juga bahasa asing.
            Kemampuan menguasai bahasa secara baik dapat dilakukan seseorang dengan cara mempelajarinya, yaitu berlatih berulang-ulang dengan pembetulan di sana-sini. Proses pembelajaran ini tentunya menggunakan strategi yang tepat agar dapat memperoleh hasil yang positif.
            Analisis kesalahan berbahasa, ditujukan kepada bahasa yang sedang dipelajari atau ditargetkan sebab analisis kesalahan dapat membantu dan bahkan sangat berguna sebagai kelancaran program pengajaran yang sedang dilaksanakan. Maksudnya, dengan analisis kesalahan para guru dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa.
            Kesalahan itu biasanya ditentukan berdasarkan kaidah atau aturan yang berlaku dalam bahasa yang sedang dipelajari. Jika kata atau kalimat  yang digunakan siswa atau pembelajar tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku, maka pembelajar bahasa dikatakan membuat kesalahan.
            Dalam kaitannya dengan pengertian analisis kesalahan, Crystal (dalam Pateda,1989:32) mengatakan bahwa analisis kesalahan adalah suatu teknik untuk mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan secara sistematis kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa yang sedang belajar bahasa kedua atau bahasa asing dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur berdasarkan linguistik.
            Tarigan (1990:68) juga mengatakan bahwa analisis kesalahan berbahasa adalah suatu proses kerja yang digunakan oleh para guru dan peneliti bahasa dengan langkah-langkah pengumpulan data, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat di dalam data, penjelasan kesalahan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan itu.     
            Kesalahan berbahasa itu bisa terjadi disebabkan oleh kemampuan pemahaman siswa atau pembelajar bahasa. Artinya, siswa memang belum memahami sistem bahasa yang digunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara sistematis. Kesalahan jenis ini dapat berlangsung lama bila tidak diperbaiki. Perbaikannya biasanya dilakukan oleh guru. Misalnya, melalui pengajaran remidial, pelatihan, praktik, dan sebagainya. Kadangkala sering dikatakan bahwa kesalahan merupakan gambaran terhadap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang sedang dipelajari. Bila tahap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang dipelajari ternyata kurang, kesalahan akan sering terjadi. Kesalahan akan berkurang bila tahap pemahamannya semakin baik.     









2. BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

Bahasa Indonesia yang Baik
            Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi, seperti dalam kuliah, dalam seminar, dalam sidang DPR, dan dalam pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi, yang selalu memperhatikan norma bahasa.

Bahasa Indonesia yang Benar
            Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata diperhatikan dengan saksama, dan penataan penalaran ditaati dengan konsisten, pemakaian bahasa Indonesia dikatakan benar. Sebaliknya, jika kaidah-kaidah bahasa itu kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar.

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
                  Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken bukanlah lafal bahasa Indonesia.
            Pemakaian lafal asing sama saja salahnya dengan pemakaian lafal daerah. Ada orang yang sudah biasa mengucapkan kata logis  dan sosiologi menjadi lohis dan sosiolohi. Jika demikian, bagaiman dengan kata gigi? Apa dilafalkan hihi?



3. KESALAHAN PENERAPAN KAIDAH EJAAN

            Pada bagian ini dibahas tentang kesalahan-kesalahan penerapan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang sering kita jumpai dalam pemakaian bahasa Indonesia. Setelah disajikan bentuk-bentuk yang salah (nonbaku), disajikan pula bentuk-bentuk yang benar (baku) sebagai perbaikanya. Mudah-mudahan bentuk-bentuk perbaikan itu akan mengingatkan kita semua, pemakai bahasa, selalu berhati-hati dalam menerapkan kaidah ejaan ini. Hal ini disajikan secara rinci di bawah ini.

1. Pelafalan
1. Memuaskan 
            Dalam bahadasa Indonesia terdapat akhiran –kan, bukan –ken. Sesuai dengan tulisannya, akhiran itu tetap dilafalkan dengan [-kan], bukan [-ken]. Sementara ini memang ada orang yang melafalkan kata seperti  memuaskan dengan [memuasken],  diharapkan dengan [diharapken], diperhatikan dengan [diperhatiken]. Akan tetapi, pelafalan seperti itu jelas tidak tepat karena dalam bahasa Indonesia apa yang ditulis itulah yang dilafalkan.
            Timbulnya pelafalan yang tidak tepat itu di samping dipengaruhi oleh idiolek seseorang, juga besar kemungkinan dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah. Sungguhpun demikian, pemakai bahasa yang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia tentu tidak akan mengikuti cara pelafalan yang tidak tepat. Sebaliknya akan terus berusaha meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia, termasuk dalam pelafalannya.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar memang tidak semudah yang diduga orang. Kendati demikian, dalam berbahasa, terutama dalam situasi yang resmi, lazimnya orang selalu berusaha menggunakan bahasa sebaik-baiknya, baik dalam penggunaan kaidah tata bahasa maupun pelafalannya.
            Masyarakat kita yang berlatar belakang bahasa pertama bahasa daerah tampaknya memang sering mengalami kesulitan dalam menghilangkan pengaruh bahasa daerahnya ketika berbahasa Indonesia. Pengaruh itu terutama terlihat jelas dalam pelafalannya. “Penyakit” itu agaknya tidak hanya terjadi pada masyarakat awam, tetapi juga pada orang tertentu yang kebetulan menjadi pejabat pemerintah. Contohnya tidak hanya pada kata tersebut di atas, tetapi juga pada kata lain, seperti makin, malam, kedudukan. Menurut aturan lafal bahasa Indonesia, kata-kata itu seharusnya dilafalkan dengan [makin],  [malam], [kedudukan], bukan dengan [mangkin], [malem], [kedudu’an].  Lafal yang terpengaruh bahasa daerah itu dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik harus kita hindari karena lafal bahasa Indonesia yang baik adalah lafal yang tidak menampakkan pengaruh atau atau ciri-ciri lafal daerah atau dialek tertentu.  

2. Energi
            Kata energi sering dilafalkan dengan  [energi], [enerkhi], dan [enerji]. Kata energi dalam bahasa Indonesia diserap dari kata asing energie (Belanda) atau energy (Inggris). Sesuai dengan nama huruf di dalam abjad bahasa Indonesia, huruf g  tetap dilafalkan dengan [g], bukan [kh] atau [j], begitu pula halnya dengan huruf g  yang terdapat pada kata energi. Oleh karena itu, pelafalan yang baku untuk kata energi adalah [energi], bukan [enerkhi] atau [enerji].
            Pelafalan g dengan [kh] diduga merupakan pengaruh dari lafal bahasa Belanda, sedangkan dengan [j] diduga merupakan pengaruh dari lafal bahasa Inggris. Dalam berbahasa Indonesia yang baik, pelafalan yang terpengaruh bahasa asing itu patut kita hindari karena lafal bahasa Indonesia yang baik adalah lafal yang tidak menampakkan pengaruh dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.
            Beberapa contoh pelafalan kata yang serupa dapat diperhatikan di bawah ini.
Kata                            Lafal Baku                   Lafal Tidak Baku
biologi                         [biologi]                       [biolokhi], [bioloji]
teknologi                     [teknologi]                   [tehnolokhi], [tehnoloji], [teknoloji]
filologi                         [filologi]                      [filolokhi], [filoloji]
sosiologi                      [sosiologi]                    [sosiolokhi], [sosioloji]
fonologi                       [fonologi]                    [fonolokhi], [fonoloji]

3. Huruf e
            Huruf e dalam bahasa Indonesia mempunyai tiga macam bunyi, yaitu [e], [ ], dan [ ]. Ktiga bunyi itu penulisannya tidak dibdakan dan dilambangkan dengan satu huruf, yaitu e. Oleh sebab itu, kemungkinan para pemakai bahasa melafalkan huruf itu secara tidak tepat sudah merupakan suatu hal yang dapat diduga.
            Kesalahan yang banyak kita dengar dewasa ini adalah bercampuraduknya bunyi e pepet
[ ] dan e benar [e] . Kata-kata yang seharusnya dilafalkan dengan e pepet dilafalkan orang dengan e benar, demikian juga sebaliknya. 
Pada kata teras  huruf e dapat dilafalkan dengan e benar/taling) [e] atau e pepet [ ]  dengan makna yang berbeda. Jika dilafalkan dengan dengan e taling, kata teras berarti serambi atau emper, sedangkan jika dilafalkan dengan e pepet kata teras berarti ‘inti’, misalnya pejabat teras berarti ‘pejabat inti’.
Kata-kata seperti pegang, kemana, mengapa yang seharusnya dilafalkan dengan e pepet,  sering dilafalkan dengan e keras/taling. Sebaliknya, kata-kata seperti lengah, ide yang semestinya dilafalkan dengan e keras, dilafalkan dengan e pepet.
Kata esa pada Tuhan Yang Maha Esa sering dilafalkan dengan orang dengan e benar. Lafal yang benar adalah dengan bunyi e pepet karena e pada awal kata itu lemah bunyinya. Bunyi e itu lama kelamaan hilang lalu esa menjadi sa. Dalam bahasa Indonesia sa itu berubah menjadi se dan karena terdiri atas satu suka kata, dittuliskan sebagai awalan seperti kita lihat pada kata-kata sebatang, sebuah, semalam, sehari; artinya ‘satu’.

 4. Pasca dan Civitas academika
            Kata pasca dan civitas academica berasal dari bahasa yang berbeda. Kata pasca berasal dari bahasa Sansekerta, sedangkan civitas academica dari bahasaLatin. Oleh karena asalnya berbeda, cara melafalkannya pun tidak sama.
            Huruf c  pada kata pasca, sesuai dengan bahasa asalnya, dilafalkan [c], bukan [k]. Sejalan dengan itu, kata pasca pun dalam bahasa kita dilafalkan dengan [pasca], bukan [paska], misalnya pada pascapanen [pascapanen] dan pascasarjana [pascasarjana]. Di dalam kamus pun tidak ada keterangan yang memberi petunjuk bahwa pasca harus dibaca dengan [paska]. Oleh karena itu, pascapanen dan pascasarjana tidak dilafalkan dengan [paskapanen] dan [paskasarjana], tetapi dilafalkan dengan [pascapanen] dan [pascasarjana]. Bandingkan pelafalan pasca dengan panca, yang juga merupakan unsur serapan dari bahasa yang sama, yaitu Sansekerta. Dalam hal ini panca pun dilafalkan dengan [panca], bukan [panka], misalnya pada kata pancasila dan pancakrida.
            Huruf c dari bahasa  Latin, seperti halnya dari bahasa Inggris, tidak dolafalkan dengan {c], tetapi di satu pihak huruf itu dapat dilafalkan dengan [s], dan di pihak lain dapat pula dilafalkan dengan [k]. Huruf c asing, sesuai dengan penyerapannya, dilafalkan dengan [s] jika huruf itu terdapat di muka e, i, oe, dan y. 
Misalnya:
            cent     ------                sen
            central             --------             sentral
            circulation -----            sirkulasi
            coelom --------              selom
            cylinder--------             silinder
Adapun c asing dilafalkan dengan [k] jika huruf itu terletak di muka a, u, o dan konsonan.
            corelation        ----------            korelasi
            calculation       ----------            kalkulasi
            cubic                ----------            kubik
            construction    ----------            konstruksi
            classification   ----------            klasifikasi
Sejalan dengan keterangan itu, huruf c pada civitas pun dilafalkan dengan [s] karena terletak di muka i, tetapi pada academica c dilafalkan dengan [k] karena terletak di muka a. Dengan demikian, civitas academica dilafalkan dengan [sivitas akademika], bukan [civitas academica].


5. Singkatan cm dan ca
            Cm dan ca merupakan singkatan dari centimeter dan calcium. Kedua istilah itu telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi sentimeter dan kalsium. Sungguhpun demikian, singkatannya tetap dipertahankan sesuai dengan singkatan asingnya karena pemakaian singkatan itu sudah bersifat internasional. Jadi, dalam bahasa Indonesia pun bentuk singkatan itu tetap cm dan ca, tidak diubah menjadi sm dan ka.
            Dalam kaitannya dengan pelafalan perlu diketahui bahwa singkatan lazimnya dilafalkan dengan dua cara, yaitu ada yang dilafalkan denga huruf demi huruf, misal SD dengan [es-de], dan ada pula yang dilafalkan dengan mengikuti bentuk lengkapnya, misalnya, dsb., dan a.n. Yang dilafalkan dengan [dan sebagainya] dan [atas nama], bukan [de-es,be] dan [a-en]. Sejalan dengan itu, cm dan ca termasuk singkatan yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Oleh karena itu, cm dan ca tidak dilafalkan dengan [ce-em] dan [ce-a], tetapi dengan mengikuti bentuk lengkapnya yang telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia, yaitu [sentimeter] dan [kalsium].
            Singkatan lain, yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya seperti di bawah ini.
            Singkatan                                            Pelafalannya
            Sdr.                                                     [saudara]
            dst.                                                      [dan seterusnya]
            ybs.                                                      [yang bersangkutan]
            tsb.                                                      [tersebut]
            d.a.                                                      [dengan alamat]
            dll.                                                       [dan lain-lain]


6. Singkatan dan Akronim Asing
            Singkatan dan akronim asing pelafalannya diperlakukan agak berbeda dengan singkatan dan akronin bahasa Indonesia. Sebagai singkatan, huruf dari bahasa mana pun dilafalkan menurut  abjad bahasa Indonesia. Oleh karena itu, singkatan asing pun dilafalkan seperti halnya lafal bahasa Indonesia.
Misalnya:
            Singkatan                    Lafal Baku                  Lafal Tidak Baku
            FAO                            [ef-a-o]                        [ef-ey-ow]
            IGGI                           [i-ge-ge-i]                    [ay-ji-ji-ay]
            DO                              [de-o]                          [di-ow]
            BBC                            [be-be-ce]                    [bi-bi-si], [be-be-se]
            AC                              [a-ce]                           [ey-si], [a-se]
            WC                              [we-ce]                        [we-se], [dablyu-si]
            TV                               [te-ve]                          [ti-vi]
            TVRI                           [te-ve-er-i]                   [ti-vi-er-i]
            Dahulu, ketika bahasa Indonesia masih menggunakan ejaan lama, singkatan BBC, AC, dan WC, pelafalannya [be-be-se], [a-se], dan [we-se] karena pelafalan itu sesuai dengan nama huruf  c dalam ejaan lama, yaitu se. Akan tetapi, sejak EYD diresmikan dan nama huruf c diubah menjadi [ce]. Dengan demikian, BBC, AC, dan WC, pelafalannya yang baku adalah [be-be-ce].[a-ce], dan [we-ce] karena disesuaikan dengan nama hurf c yaitu ce, sedangkan [be-be-se], [a-se], dan [we-se] dipandang sebagai lafal yang tidak baku.
            Dalam hubungan itu, singkatan asing tidak dilafalkan dengan lafal asingnya karena dapat menyulitkan para pemakai bahasa Indonesia. Jika singkatan dari bahasa Inggris harus dilafalkan menurut huruf dalam bahasa Inggris, misalnya, bagaimana kalau kita dihadapkan pada singkatan dari bahasa asing yang lain, seperti Prancis, Rusia, Jerman, dan Jepang? Berapa banyak masyarakat kita yang mengenal nama huruf di dalam bahasa-bahasa itu? Bagaimana pula melafalkan huruf dalam bahasa-bahasa itu, tentu tidak banyak yang tahu.
            Dengan pertimbangan bahwa orang Indonesia yang paham bahasa Indonesia dengan abjadnya lebih banyak daripada jumlah orang yang mengenal bahasa asing dengan abjadnya, sebaiknyalah singkatan dari bahasa mana pun, demi kejelasan informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat luas, dilafalkan menurut nama huruf yang terdapat dalam abjad bahasa Indonesia.  Jadi, singkatan asing yang terdapat dalam bahasa Indonesia tetap dilafalkan sesuai dengan lafal bahasa Indonesia.
            Berbeda halnya dengan singkatan, akronim lazimnya dipandang seperti kata biasa. Dalam hal ini, akronim asing pun dipandang identik dengan kata asing.  Kalau kata asing dilafalkan mengikuti lafal aslinya, akronim asing pun dilafalkan sesuai dengan lafal akronim itu dalam bahasa asalnya. Dengan demikian, akronim asing yang digunakan dalam bahasa Indonesia, terutama yang pemakaiannya sudah bersifat internasional, dilafalkan sesuai dengan lafal bahasa aslinya.
Misalnya”
            Akronim                      Lafal Baku                  Lafal Tidak Baku
            Unesco                        [yunesko]                    [unesko]
            Unicep                         [yunisyep]                   [unicep]
            Di samping  akronim dan kata asing, unsur serapan yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, yang masih ditulis dengan ejaan asing pelafalannya pun disesuaikan dengan lafal bahasa asingnya.
Misalnya:
            reshufle tetap dilafalkan [riesafel]
            shuttlecock tetap dilafalkan  [syatelkak]

7. Angka Tahun dan Angka 0
            Sampai saat ini pelafalan angka tahun dan angka memang cukup bervariasi. Tahun 1989, misalnya, ada yang melafalkan dengan [satu-sembilan-delapan-sembilan] atau angka demi angka, tetapi ada pula yang melafalkannya dengan [sembilan belas-delapan sembilan]. Di samping itu, juga tidak sedikit yang melafalkannya dengan [seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan]. Dari berbagai variasi itu, pelafalan yang dipandang resmi adalah yang terakhir, yaitu seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Pelafalan itu pulalah yang sebaiknya digunakan, sedangkan dua pelafalan lainnya dipandang tidak baku.
            Angka 0 berarti ‘kosong’ atau ‘tidak ada apa-apanya’. Dalam bahasa kita pelafalan angka itu yang sebaiknya digunakan adalah [nol], bukan [kosong]. Misalnya, nomor telepon 306039 dilafalkan dengan [tiga-nol-enam-nol-tiga-sembilan], bukan [tiga-kosong-enam-kosong-tiga-sembilan].
            Pelafalan angka 0 dengan [kosong] kemungkinan dipengaruhi oleh bahasa Inggris zero, yang dalam bahasa kita memang sering diterjemahkan dengan kosong.

8. Bank
            Kata bank  termasuk kata atau istilah asing yang telah diserap ke dalanm bahasa Indonesia. Namun ejaan asingnya masih dipertahankan untuk membedakannya dnegan kata Indonesia bang atau abang yang merupakan kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan.
            Kata bank dilafalkan dengan [bang] atau [bangk]. Bunyi [k] pada akhir kata itu sering tidak begitu jelas. Akan tetapi, apabila kata itu mendapat imbuhan per-an, bunyi [k] akan muncul kembali sehingga menjadi [perbangkan].

9. Masalah
            Kata masalah diserap dari bahasa Arab, Dalam bahasa Indonesia konsonan yang diapit oleh vokal, dilafalkan mengikuti vokal berikutnya. Oleh sebab itu, pelafalan kata masalah yang sesuai dengan lafal bahasa Indonesia adalah [ma-sa-lah], sedangkan [mas-a-lah] merupakan lafal dipengaruhi oleh bahasa asalnya, yaitu Arab.


2. Penulisan
1. Sudahkah anda membayar PBB?
            Penulisan kata anda di atas tidak sesuai dengan kaidah penulisan huruf kapital. Menurut aturan yang berlaku, kata tersebut mesti diawali dengan huruf kapital A sehingga menjadi Anda karena kata tersebut termasuk kata sapaan. Beberapa kaidah penulisan huruf kapital adalah sebagai berikut.
  1. Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kalimat yang berupa petikan langsung. Marilah kita lihat dahulu contoh yang salah.
Bentuk Salah
(1)   Adik bertanya, “kapan kakak pulang?”
(2)   Guru mereka menasihatkan,”rajin-rajinlah kamu belajar agar lulus dalam ujian.”
Huruf-huruf yang dicetak miring di atas (k pada kapan, r pada rajin) jelas tidak sesuai dengan kaidah ejaan karena huruf-huruf itu mengawali petikan langsunb. Perbaikannya adalah seperti di bawah ini.
Bentuk Benar
(1a) Adik bertanya, “Kapan Kakak pulang?”
(2a) Guru mereka menasihatkan, rajin-rajinlah kamu belajar agar lulus dalam ujian.”
Catatan:
Tanda baca sebelum tanda petik awal adalah tanda koma(,) bukan titik dua (:)












4. BENTUK BAKU DAN TIDAK BAKU
           
Bahasa yang mantap mengenal satu kata untuk konsep tertentu. Artinya, satu pengertian dinyatakan oleh satu kata atau satu bentuk tertentu, tidak boleh beberapa bentuk yang mirip. Haruslah ditentukan mana bentuk yang baku dan mana bentuk yang nonbaku, sehingga di dalam tuturan resmi, hanya bentuk baku itulah yang digunakan. Beberapa bentuk kembar disajikan sebagai berikut.

1. analisa dan analisis
Dewasa ini masih tetap dipertanyakan orang tentang bentuk kata yang berbunyi akhir –a atau –is seperti analisa dan analisis. Sampai sekarang ini masih tetap kita lihat dua bentuk itu dipakai orang secara bergantian. Ada orang yang menggunakan bentuk analisa, tetapi ada juga orang yang menggunakan analisis.
Secara historis, kata itu dahulu diserap dari bahasa Belanda: analyse. Karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/,  maka /e/ pada akhir kata itu diganti dengan bunyi /a/, lalu kedua patah kata itu dijadikan analisa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebuah lembaga di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Depetemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang “mengurus” bahasa dan pekerjaannya antara lain membentuk istilah, menetapkan : 1) sebaiknya dalam membentuk istilah yang mengambil dari bahasa asing, kita mendahulukan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama dalam pendidikan di Indonesia; 2) sebaiknya dalam mengindonesiakan kata asing (bila tidak ditemukan padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah) diusahakan agar ejaannya dekat dengan ejaan bahasa asalnya, artinya, yang diganti hanyalah yang perlu saja.  Pada saat ini ditetapkan bahwa yang digunakan sebagai acuan  adalah bahasa bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris terdapat bentuk analysis.  Oleh karena itu, bentuk analysis-lah yang diserap dan dindonesiakan menjadi analisis.
Alasan mengacu kepada bahasa Inggris ini didasarkan kepada pendirian bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sifatnya internasional dan dekat kepada generasi seakarang maupun generasi yang akan datang. Bahasa Belanda tidak lagi dikenal oleh generasi muda dan agar pembentukan kata-kata Indonesia nanti tidak menjadi bersifat mendua, lebih baik kita mengacu kepada satu bahasa saja, yaitu bahasa Inggris. Pendirian ini memang tidak selalu bertaat asas secara ketat sebab dalam kenyataannya banyak kata yang berasal dari bahasa Belanda tidak diubah lagi karena kata-kata itu sudah melembaga dalam bahasa Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang diubah.
Mengubah sesuatu yang sudah melembaga dan sudah sangat biasa digunakan oleh pemakai bahasa memang tidak mudah. Buktinya dapat kita lihat pada kedua patah kata yang sudah kita bicarakan itu. Bentuk analisis sudah tinggi kekerapan pemakaiannya di kalangan perguruan tinggi, tetapi di luar itu masih lebih banyak digunakan bentuk analisa. Jika bentuk analisis yang kita gunakan sebagai bentuk dasarnya, maka kata bentukannya dengan imbuhan bahasa Indonesia (awalan, akhiran) harus pula sejalan dengan bentuk dasar itu. Jadi, menganalisis, dianalisis, penganalisisan, bukan menganalisa, dianalisa, penganalisaan. Penggunaan bentuk baru yang sudah ditetapkan ini tentu perlu dipatuhi dan melalui pembiasaan, lama kelamaan kita akan terbiasa menggunakan bentuk yang baru itu.

2. anarkis dan anakistis
            Dalam berbahasa, kata anarkis tampaknya lebih banyak digunakan daripada anarkistis. Kedua kata itu sering digunakan dalam pengertian yang tertukar. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut.
1. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkis.
            Kata anarkis pada kalimat itu tidak tepat. Untuk mengetahui hal itu, kita perlu memahami pengertian kata anarkis.
            Kata anarkis (anarchist) berkelas nomina dan bermakna’penganjur (penganut) paham anarkisme’ atau’ orang yang melakukan tindakan anarki’. Dari pengertian tersebut ternyata anarkis bermakna ‘pelaku’, bukan ‘sifat anarki’. Padahal, kata yang diperlukan dalam kalimat tersebut adalah kata sifat untuk melambangkan konsep ‘bersifat anarki’. Dalam hal ini, kata yang menyatakan ‘sifat anarki’ adalah anarkistis, bukan anarkis. Kata anarkis sejalan dengan linguis ‘ahli bahasa’ atau pianis ‘pemain piano’, sedangkan anarkistis sejalan dengan optimistis ‘bersifat optimis’ dan pesimistis ‘bersifat pesimis’ Dengan demikian, kata anarkis pada kalimat tersebut lebih baik diganti dengan anarkistis sehingga kalimatnya menjadi sebagai berikut.
1a. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkistis. 


3. antri dan antre
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), kata yang baku adalah antre (dengan e) yang berarti ‘berdiri berderet-deret menunggu giliran. Penulisan antri’ (dengan i) adalah bentuk yang tidak baku.

4. anutan dan panutan
            Akhiran –an yang melekat pada kata kerja mengandung arti antara lain, ‘hasil atau ‘yang di’, seperti tampak pada kata tulisan ‘hasil menulis’ atau ‘yang ditulis’; karangan ‘hasil mengarang’ atau ‘yang dikarang’; rangkuman ‘hasil merangkum’ atau ‘yang dirangkum’; simpulan ‘hasil menyimpulkan’ atau ‘yang disimpulkan’. Kata anutan, bukan panutan sebab berasal dari kata anut yang mendapat akhiran –an, yang berarti ‘hasil menganut’ atau ‘yang dianut’. Dengan demikian, bentukan panutan merupakan bentukan yang salah kaprah.

5. ahli dan akhli
            Kata ahli merupakan serapan dari kata bahasa Arab. Kata akhli tidak baku karena mengandung konsonan k. Padahal dalam kata sumbernya tidak berhuruf konsonan k. Kata ahli berrati ‘orang yang mahir’ atau paham sekali dalam suatu ilmu.  

6. akta dan akte
            Kata akta merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu act. Penyerapannya dengan cara mengganti huruf  konsonan c dengan huruf konsonan k dan membubuhkan huruf vokal a pada akhir kata itu sehingga terbentuklah akta. Hal itu mengingatkan kita pada proses pembakuan sejumlah kata yang setipe, misalnya kata legenda sebagai kata baku merupakan serapan dari kata legend (Inggris), kata norma sebagai kata baku merupakan serapan dari kata norm (Inggris), sketsa sebagai kata baku merupakan serapan dari kata scats (Inggris).
            Kita ketahui bahwa kata akte merupakan serapan dari kata bahasa Belanda, yaitu akte. Dalam hal ini, yang dikembangkan pemakaiannya adalah akta, seperti halnya kata legenda. Padahal, dalam bahasa Belanda ditemukan kata legende. Atas dasar pertimbangan itu, diketahui bahwa kata yang baku ialah akta, sedangkan kata yang tidak baku adalah akte. Kata akta berrati ‘surat tanda bukti berisi pernyataan resmi yang dibuat menurut peraturan yang berlaku’.

7. cedera dan cidera
            Bentuk cedera merupakan kata bahasa Indonesia dan pemakaiannya sangat lazim. Oleh karena itu, kata yang baku ialah cedera. Kata cidera termasuk kata yang tidak baku karena tingkat kelazimannya di bawah kata cedera. Kata cedera berarti ‘cacat sedikit’.

8. colok pada menyolok dan mencolok
            Fonem /c/ pada kata dasar banyak yang menjadi luluh apabila mendapat awalan meN-, seperti pada bentuk menyolok. Padahal, fonem ini tidak luluh apabila mendapat awalan meN-, seperti kita juga tidak pernah mengatakan menyukur atau menyari, tetapi mencukur atau mencari.
            Dalam bahasa lisan yang tidak resmi memang sering digunakan bentuk-bentuk seperti itu. Akan tetapi, dalam ragam tulis baku, bentuk bentuk itu mencolok,mencuci, mencicil.

9. darma dan dharma  
            Kata darma merupakan kata yang diserap dari bahasa Sansekerta dharma. Kata ini disesuaikan ejaannya dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bentuk yang baku ialah darma. Sebaliknya, kata dharma tidak baku karena ejaannya belum sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Kata darma mengandung arti ’kewajiban’, ‘tugas hidup’, dan ‘kebajikan’. 

10. darmabakti, darma bakti, dan dharma bhakti
            Kebakuan dan ketidakbakuan pasangan kata itu terletak pada ejaannya. Karena merupakan sebuah kata, bentuk darma harus digabungkan dengan bentuk bakti. Oleh krena itu, kata yang baku ialah darmabakti. Sedikitnya ada dua alasan yang menyebabkan bentuk dharma bhakti bukan merupakan bentuk baku, yaitu (1) ejaannya belum benar dan (2) bentuk dharma dipisahkan dengan bentuk bhakti. Kata darmabakti mengandung arti ‘perbuatan untuk berbakti (kepada negara, agama)’.
            Dengan beranalogi pada  hal di atas, dapat diketahui bahwa darmasiswa, darmawisata, merupakan kata baku, sedangkan darma siswa, darma wisata ialah kata tidak baku. Kata darmasiswa mengandung arti ‘uang yang disediakan untuk mebiayai pelajar atau mahasiswa’. Kata darmawisata mengandung arti ‘perjalanan singkat dengan tujuan bersenang-senang’.

11. daya guna dan dayaguna
            Bentuk daya guna merupakan kata gabung. Oleh karena itu, penulisan bentuk daya harus dipisahkan dengan bentuk guna. Kata itu setipe dengan kata-kata hasil guna, tanda tangan, tepuk tangan, tumpang tindih, dan tanggung jawab (dalam arti sebagai gabungan yang unsur-unsurnya harus dipisahkan penulisannya). Dengan demikian, kata yang baku ialah daya guna. Jika dua bentuk itu mendapatkan awalan dan akhiran, maka penulisannya digabungkan. Misalnya mendayagunakan, didayagunakan. Kata dayaguna (digabungkan) merupakan kata yang tidak baku. Kata daya guna mengandung arti ‘kemampuan yang mendatangkan hasil dan manfaat’, ‘efisien’, dan ‘tepat guna’.

12. deskriptip dan deskriptif
            Anda mungkin bertanya? Manakah bentuk yang betul atau bentuk yang baku di antara kedua bentuk di atas. Bentuk dengan akhir /p/ atau /f/? Mari kita teliti bunyi ketentuan yang terdapat dalam  buku Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan.
            ive, ief menjadi if
            descriptive,                  descriptief        à deskriptif
            demonstrative,             demonstratief  à demonstratif
maksudnya, kata dari bahasa Inggris yang berakhir –ive, yang semakna dan mirip bentuknya dengan kata bahasa Belanda yang berakhir dengan –ief, dalam bahasa Indonesia menjadi kata dengan akhir –if. Jadi, v dan f yang dilafalkan dengan /f/. Itu ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf f. Jangan dijadikan atau diganti dengan p. Bentuk-bentuk aktip, positip, demonstratip, produktip, eksekutip, legislatip bukanlah bentuk-bentuk yang baku. Semua kata yang sudah disebutkan itu haruslah berakhir dengan –if, bukan –ip. Jadi, yang baku ialah aktif, positif, demonstratif, produktif, eksekutif, legislatif.

13. dukacita dan duka cita
            Kata dukacita merupakan sebuah kata. Oleh karena merupakan sebuah kata, penulisan bentuk duka harus digabungkan dengan bentuk cita. Dengan demikian, kata yang baku ialah dukacita. Bentuk duka yang dipisahkan penulisannya dengan bentuk cita merupakan bentuk yang tidak baku. Kata dukacita mengandung arti ‘kesedihan’ atau ‘kesusahan’
14. efektif dan efektip  
            Kata efektif merupakan serapan dari kata bahasa Belanda effectief atau dari kata bahasa Inggris effective. Di samping perubahan yang lain, yang perlu diperhatikan ialah bahwa bunyi -ief atau -ive pada kata asing itu menjadi –if setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah efektif, sedangkan  kata efektip merupakan kata yang tidak baku. Kata efektif mengandung arti ‘ada efeknya’, manjur tau mujarab, dan ‘berhasil guna’.

15. eksklusif dan exclusif
            Kata eksklusif merupakan serapan dari kata kata bahasa Inggris exclusive. Penyerapan dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabungan huruf ks, huruf konsona c dengan huruf konsonan k, dan mengganti bunyi ive dengan bunyi if. Karena ejaannya sudah benar, bentuk eksklusif merupakan kata baku, sedangkan exclusif merupakan kata yang tidak baku karena ejaannya masih salah. Kata eksklisif berarti ‘terpisah dari yang lain’ atau ‘tidak termasuk’.

16. ekspor dan eksport  
            Kata ekspor merupakan serapan dari kata bahasa Inggris export. Penyerapannya dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabunagn huruf konsonan ks dan menghilangkan konsonan t pada akhir kata itu. Benrtuk ekspor merupakan kata baku karena ejaannya sudah benar. Oleh karena pada kata eksport masih  mengandung huruf konsonan t, maka kata eksport tidak baku. Kata ekspor berarti ‘pengiriman barang ke luar negeri’.

17. eksporter dan eksportir  
            Kata eksporter merupakan serapan dari kata exporter (Inggris). Penyerapannya dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabungan huruf ks. Oleh karena itu, bentuk ekporter merupakan kata baku. Kata eksportir merupakan serapan dari kata exporteur (Belanda). Kita ketahui bahwa kata yang dikembangkan pemakaiannya ialah kata yang diserap dari bahasa Inggris, yaitu exporter. Dengan demikian, kata yang baku ialah eksporter, sedangkan kata  eksportir merupakan kata yang tidak baku. Kata eksporter mengandung arti ‘pengekspor’.



18. ekstrem  dan ekstrim
            Kata ekstrem merupakan serapan dari kata extreem (Belanda) atau serapan dari kata extreme (inggris). Di samping perubahan yang lain (misalnya huruf konsonan x berubah menjadi bagungan huruf konsonan ks), yang perlu diperhatikan bahwa deret huruf vokan ee atau vokal e yang mengikuti huruf konsonan r tetap menjadi e (bukan i) setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah ekstrem, sedangkan ekstrim merupakan kata yang tidak baku. Kata ekstrem mengandung arti ‘fanatik’, atau ‘sangat keras dan teguh’.

19. hipotesa dan hipotesis
Secara historis, kata-kata itu dahulu diserap dari bahasa Belanda: hypothese. Karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/,  maka /e/ pada akhir kata itu diganti dengan bunyi /a/, lalu kedua patah kata itu dijadikan hipotesa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebuah lembaga di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Depetemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang “mengurus” bahasa dan pekerjaannya antara lain membentuk istilah, menetapkan : 1) sebaiknya dalam membentuk istilah yang mengambil dari bahasa asing, kita mendahulukan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama dalam pendidikan di Indonesia; 2) sebaiknya dalam mengindonesiakan kata asing (bila tidak ditemukan padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah) diusahakan agar ejaannya dekat dengan ejaan bahasa asalnya, artinya, yang diganti hanyalah yang perlu saja.  Demikian juga halnya dengan kata hypothesis. Kata itu lalu diindonesiakan menjadi hipotesis.
Alasan mengacu kepada bahasa Inggris ini didasarkan kepada pendirian bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sifatnya internasional dan dekat kepada generasi seakarang maupun generasi yang akan datang. Bahasa Belanda tidak lagi dikenal oleh generasi muda dan agar pembentukan kata-kata Indonesia nanti tidak menjadi bersifat mendua, lebih baik kita mengacu kepada satu bahasa saja, yaitu bahasa Inggris. Pendirian ini memang tidak selalu bertaat asas secara ketat sebab dalam kenyataannya banyak kata yang berasal dari bahasa Belanda tidak diubah lagi karena kata-kata itu sudah melembaga dalam bahasa Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang diubah.
Mengubah sesuatu yang sudah melembaga dan sudah sangat biasa digunakan oleh pemakai bahasa memang tidak mudah. Buktinya dapat kita lihat pada kedua patah kata yang sudah kita bicarakan itu. Bentuk hipotesis dan analisis sudah tinggi kekerapan pemakaiannya di kalangan perguruan tinggi, tetapi di luar itu masih lebih banyak digunakan bentuk hipotesa dan analisa. Jika bentuk analisis yang kita gunakan sebagai bentuk dasarnya, maka kata bentukannya dengan imbuhan bahasa Indonesia (awalan, akhiran) harus pula sejalan dengan bentuk dasar itu. Jadi, menganalisis, dianalisis, penganalisisan, bukan menganalisa, dianalisa, penganalisaan. Penggunaan bentuk baru yang sudah ditetapkan ini tentu perlu dipatuhi dan melalui pembiasaan, lama kelamaan kita akan terbiasa menggunakan bentuk yang baru itu.

20. izin dan ijin
            Di dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari kita sering menemukan tulisan kata tertrtentu secara berbeda. Ambillah contoh kata izin I dan ijin. Kita tentu bertanya tulisan man yang baku di atara keduanya itu. Untuk menjawab pertanyaanitu, kita harus kembali pada aturan pengindonesiaan kata asing.
            Di dalam Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dinyatakan bahwa ejaan kata yang erasal dari bahasa asing hanya diubah seperlunya agar ejaannya dalam bahasa Indonesia masih dapat dibandingkan dengan ejaan bahasa asalnya. Kata itu di dalam bahasa asalnya, yaitu Arab dituliss dengan huruf <zal>   yang diindonesiakan menjadi <z> . Dengan demikian, penulisan yang benar adalah izin bukan ijin.  

21. jadual dan jadwal
            Ada orang beranggapan bahwa yang baku adalah kata jadual karena mereka beranalogi pada kualitas  atau pada kuitansi. Jalan pikiran seperti itu sepintas lalu benar, tetapi sayang sekali analogi itu tidak tepat. Kata kualitas dan kuitansi berasal dari bahasa Inggris yang memang menggunakan u bukan w, yakni quality dan quitance, sedangkan jadwal tidak dapat disejajarkan dengan kedua kata itu karena tidak seasal. Jadwal berasal dari bahasa Arab. Perhatikan pemakaian yang salah berikut ini.
Bentuk salah
  1. Sesuai dengan jadual, perkuliahan semester ganjil akan dimulai tanggal 10 Oktober 1998.
  2. Bersama ini kami kirimkan jadual kuliah semester ganjil tahun akademik 1998/1999.


Bentuk Baku
  1. Sesuai dengan jadwal, perkuliahan semester ganjil akan dimulai tanggal 10 Oktober 1998.
  2. Bersama ini kami kirimkan jadwal kuliah semester ganjil tahun akademik 1998/1999. 

22. komoditas dan komoditi  
            Kata komoditas merupakan serapan dari bahasa Inggris comodity. Penyerapannya dengan mengganti huruf konsonan c dengan huruf konsonan k, menyederhanakan gugus konsonan mm memjadi m, mengubah bunyi –ty menjadi tas, sehingga terbentuklah kata komoditas. Kata itu dapat mengingatkan kita pada beberapa kata yang setipe, misalnya universitas merupakan serapan dari kata university, kapasitas merupakan serapan dari kata kapacity, dan loyalitas merupakan serapan dari kata loyality. Oleh karena itu, kata yang baku ialah komoditas, sedangkan kata yang tidak baku ialah komoditi. Kata komoditas berarti ‘barang dagangan utama’, ‘benda niaga’.

23. kompleks dan komplek  
            Kata kompleks merupakan serapan dari kata bahasa Belanda complex atau dari bahasa Inggris complex. Penyerapannya dengan cara mengganti konsonan c dengan k dan konsonan x dengan gabungan huruf konsonan ks, sehingga terbentuklah kompleks. Oleh karena itu, kata yang baku ialah kompleks. Kata kompleks berarti ‘ mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit, dan saling berhubungan’.

24. konkret, kongkret,  konkrit, dan kongkrit   
            Kata konkret merupakan serapan dari bahasa Inggris concrete. Di samping perubahan konsonan c menjadi k, yang perlu diperhatikan juga adalah  huruf konsonan n pada kata asing itu tetap n atau tidak menjadi ng setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah konkret. Kata koncret berati ‘nyata’, ‘benar’, dan ‘benar ada’.

25. kontroversial dan kontraversial  
            Kata kontroversial merupakan serapan dari kata bahasa Inggris contovercial. Penyeranannya dengan mengganti huruf konsonan c dengan huruf huruf konsonan k, sehingga terbentuklah kata kontroversial. Dengan demikian, kata yang baku ialah kontroversial. Kata kontraversial merupakan kata yang tidak baku. Kata kontroversial berarti ‘bersifat menimbulkan pertentangan’. 

26. kualitas dan kwalitas
            Kata kualitas merupakan serapan dari kata bahasa Inggris quality. Penyerapan dengan cara mungubah qua menjadi kua dan –ty menjadi tas, sehingga terbentuklah kualitas. Oleh karena itu, bentuk yang baku ialah kualitas. Bentuk kwalitas ialah bentuk yang tidak baku. Kata kualitas berarti ’tingkat baik buruknya sesuatu’.

27. linguis dan lingguis
            Kata linguis merupakan serapan dari kata bahasa Belanda linguist atau dari bahasa Inggris linguist. Di samping penghilangan huruf konsonan t pada akhir kata itu, yang perlu diperhatikan ialah bahwa gusus huruf konsonan ngg tidak terkandung pada kata asing itu. Oleh karena itu, kata yang baku ialah linguis, sedangkan kata lingguis tidak baku. Kata linguis berarti ‘ahli ilmu bahasa’.

28. linguistik dan lingguistik  
            Kata linguistik merupakan serapan dari kata bahasa Belanda linguistie atau dari kata bahasa Inggris linguistic. Oleh karena itu, kata yang baku ialah linguistik, sedangkan lingguistik merupakan kata yang tidak baku. Kata linguistik berarti ‘ilmu tentang bahasa’ atau telaah bahasa secara ilmiah’.

29. lokakarya dan loka karya
            Kata lokakarya merupakan sebuah kata. Oleh karena itu, penulisan bentuk loka harus digabungkan dengan karya. Dengan demikian, kata yang baku ialah lokakarya. Karena penulisan bentuk loka dipisahkan dengan bentuk karya, kata loka karya tidak baku. Kata lokakarya berarti ‘pertemuan antarpara ahli untuk membahas suatu masalah dalam bidang keahliannya’, ‘sanggar kerja’.


30. mancanegara dan manca negara  
            Bentuk mancanegara merupakan sebuah kata. Oleh sebab itu, bentuk manca harus digabungkan dengan bentuk negara. Dengan demikian, kata yang baku ialah mencanegara. Bentuk manca negara merupakan bentuk yang tidak baku karena ejaannya salah. Kata mencanegara berarti ‘negara asing’

31. multibahasa dan multi bahasa
            Satuan multi merupakan bentuk terikat. Oleh kerena bentuk multi merupakan bentuk terikat, maka penulisannya harus digabungkan dengan bentuk yang mengikutinya, yaitu bahasa. Dengan demikian multibahasa merupakan bentuk yang baku. Bentuk multi bahasa merupakan bentuk yang tidak baku karena penulisannya salah. Kata multibahasa berarti ‘mengandung lebih dari satu bahasa’ atau ‘mampu menggunakan lebih dari satu bahasa’. 

32. pascasarjana, pasca sarjana dan paskasarjana
            Bentuk pasca- merupakan awalan yang artinya ialah ‘sesudah’. Ucapannya ialah /pasca/, bukan /paska/ karena diserap dari bahasa Sanskerta. Oleh karena itu kata yang baku ialah pascasarjana. Pascasarjan berarti ‘pengetahuan sesudah sarjana’.

33. penatar dan petatar
            Penatar ialah ‘orang yang menatar’; kata tatar – menatar diserap dari bahasa daerah. Kata bahasa Inggrisnya up grading  yang dipadankan dengan penataran, yaitu kata kerjanya menatar. Petatar artinya ‘orang yang ditatar’. Bentuk ini beranalogi kepada bentuk yang sudah ada.
Dalam bahasa Indonesia dikenal bentuk penyuruh dan pesuruh. Penyuruh ialah ‘orang yang menyuruh’, sedangkan pesuruh ialah ‘orang yang disuruh’.Berdasarkan bentuk itulah dibentuk kata penatar dan petatar yang berarti ‘orang yang menatar’dan ‘orang yang ditatar’. Dewasa ini dijumpai pula bentuk–bentuk yang beranalogi kepada bentuk-bentuk itu, yaitu penyuluh dan pesuluh. Penyuluh ialah ‘orang yang menyuluhi, sedangkan pesuluh ialah  ‘orang yang disuluhi’.

34. perajin dan pengrajin
            Kata dasar berfonem awal /r/ jika diberi awalan pe-, bentuk awalan itu tetap pe-, seperti pada kata perawat, peramal. Bila kata dasar berupa kata sifat diberi awalan pe- maka awalan pe- mengandung makna ‘orang yang sifatnya seperti yang disebutkan kata dasar itu’.; Misalnya, pemalas ‘orang yang sifatnya malas, pemarah ‘orang yang sifatnya suka marah’. Beranalogi kepada bentukan itu maka perajin ialah ‘orang yang sifatnya rajin, (walaupun kata ini jarang dipakai dalam tuturan).
Kata pengrajin tidak berarti ‘orang yang sifatnya rajin’, tetapi ‘orang yang mengerjakan pekerjaan industri rumah seperti membuat keranjang, membuat tikar, membuat sepatu, dan sebagainya.

35. pimpinan dan pemimpin  
            Sekarang ini kata pemimpin dan pimpinan digunakan seolah-olah dengan fungsi yang sama . Misalnya dalam frase pimpinan proyek dan pemimpin proyek. Singkatan yang biasa digunakan di departemen dewasa ini ialah pimpro (pimpinan proyek). Yang ditanyakan sebagian orang ialah “Benarkah makna pimpinan proyek sama dengan pemimpin proyek?”
            Mari kita bahas makna kedua bentukan itu dengan menentukan arti imbuhan awalan pem- dengan akhiran –an pada bentuk dasar pimpin. Kita tahu bahwa awalan pe-, pem, pen-, peng-, atau peny- seperti pada kata perawat, pembeli, penjual, penggali ialah 1) ‘orang yang meng-‘; dan 2) ‘alat untuk meng-‘. Jadi, perawat ‘orang yang merawat’, pembeli ‘orang yang membeli’, penggali ‘orang yang menggali’ atau alat untuk menggali. Berdasarkan analogi bentukan itu, kita dapat mengatakan bahwa pemimpin artinya ‘orang yang memimpin.
            Akhiran –an pada bentuk dasar kata kerja seperti kata tulisan mempunyai arti ‘hasil menulis’ atau ‘yang ditulis’, karangan  ‘hasil mengarang’, atau ‘yang dikarang’.
            Agar bahasa Indonesia yang kita gunakan dapat memberikan makna yang lebih tepat, sebaiknya kita membedakan kedua bentuk itu. Jadi, pemimpin ialah’ orang yang memimpin’, sedangkan pimpinan ialah ‘hasil kerja memimpin’. Dalam kalimat:
  1. Sudah dua tahun beliau memimpin partai itu.
  2. Pemimpin yang jujur sangat dibutuhkan bagi pembangunan bangsa dan negara.
  3. Karana pimpinannya yang baik, perusahaan itu maju.
Pimpinan proyek yang teratur dimungkinkan berkat rencana yang matang.

36. pirsawan dan pemirsa
            Sekarang ini kita dengar dua bentuk yang digunakan orang. Mana di antara kedua bentuk itu yang betul?
            Kita menyerap akhiran darai bahasa sanskerta –wan dan –man. Mulanya dipakai pada ata-kata seperti hartawan , bangsawan, yang mengandung arti ‘yang memiliki’. Jadi, hartawan  berarti ‘yang memiliki harta’.
            Dalam bahasa Indonesia, makna akhiran itu meluas. Dapat berarti ‘orang yang ahli tentang’ misalnya ilmuwan sastrawan; dapat berarti ‘orang yang pekerjaannya atau orang yang sering melakukan pekerjaan itu, misalnya wartawan. Umumnya bentuk dasar kata-kata yang berakhiran –wan itu ialah kata benda. Tetapi ada juga beberapa kata sifat seperti setiawan’ yang memiliki sifat setia, sukarelawan ‘yang memiliki sifat sukarela.
            Kita kembali pada pertanyaan di atas. Bentuk dasarnya adalah pirsa yang dipungut dari bahasa Jawa dan kata itu adalah kata kerja. Bentuk aktifnya dalam bahasa Jawa mirsa (baca: mirso). Jika kata itu kita bentuk menurut aturan bahasa Indonesia, maka kata kerja bentuk aktifnya ialah memirsa yang artinya’ melihat serta memperhatikan’. Jadi, orang yang memirsa itu mengikuti dengan aktif dengan jiwanya apa yang dilihatnya, lebih besar perhatiannya daripada orang yang menonton.
            Kalau kata kerjanya memirasa seperti keterangan di atas, maka orang yang memirsa ialah pemirsa, bukan pirsawan. Berdasarkan makna akhiran - wan seperti yang dijelaskan di atas tadi, maka pirsawan  dapat berarti ‘orang yang ahli pirsa) atau ‘yang memiliki pirsa’ (tidak mungkin). Dengan alasan itu, maka bentuk pirsawan yang sering   digunakan orang itu bentuk yang kurang tepat.

37. proklamsi dan proklamir   
            Kata diproklamasikan merupakan bentukan dari kata dasar proklamasi dan imbuhan di-kan. Kata prokalmasi merupakan serapan dari bahasa Belanda proclamtie atau dari bahasa Inggris proclamation. Kata diprokalmirkan merupakan bentukan dari kata dasar proklamir  dan imbuhan di-kan. Kata proklamir merupakan serapan dari kata bahasa Belanda poclameren yang berarti ‘mengumumkan’. Oleh karena proklamir sudah berkategori verba (kata kerja), maka pembubuhan imbuhan di–kan pada kata itu tidak tepat karena artinya ‘dimengumumkan’ Bentuk ini merupakan merupakan bentuk yang  tidak logis. Atas dasar itu, dapat diketahui bahwa kata yang baku ialah diprokalmasikan dan diprokalmirkan merupakan kata yang tidak baku. Kata diproklamsikan berarti ‘diumumkan’.

38. prosen dan persen
            Kata persen berasal dari bahasa Inggris percent. Seperti unsur serapan yang lain, kata percent atau percentage ini hanya diubah seperlunya agar bentuk serapannya masih bisa dibandingkan dengan bentuk aslinya. Serapan yanmg dimaksud adalah persen atau persentase. Jadi, yang diubah hanyalah /c/ menjadi /s/ dan huruf /t/ di akhir kata dibuang, dan age diubah menjadi  ase.

39. rohaniwan dan rohaniawan
            Kata rohani dan rohaniah semuanya diserap dari bahasa Arab. Rohani ialah kata benda lawan jasmani  dan rohaniah berarti ‘yang bersifat rohani’. Demikian juga dapat dibandingkan dengann ilmu dan ilmiah. Ilmu bersinonim dengan kata pengetahuan, sedangkan ilmiah berarti ‘yang bersifat ilmu’. Rohaniwan berarti ‘orang yang ahli tentang (ilmu) rohani, atau ilmu agama’. Itu sebabnya pendeta, pastur, nabi dan penghulu disebut rohaniwan.
            Kalau bentuk rohaniawan itu diterima, itu berarti bahwa bentuk itu diambil dari rohaniah yang ditambah dengan akhiran –wan. Dari segi makna, bentuk itu tak dapat dipertangungjawabkan sebab rohaniah dalam bahasa Arab (diserap juga dalam bahasa Indonesia) yang berarti ‘yang bersifat rohani’. Oleh karena kata itu berarti seperti itu, maka tak dapat kita tambahkan akhiran –wan di belakangnya sebab arti kata bentukan itu tidak tepat; rohaniawan berarti ‘orang yang memiliki bersifat rohani’. Apa maksudnya itu? Berdasarkan alasan inilah, maka bentukan rohaniawan bukanlan bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan.

40 relawan dan sukarelawan 
            Dalam pemakaian bahasa Indonesia sering kita temukan penggunaan kata relawan dan sukarelawan.  Penggunaan kedua kata itu menyebabkan sebagian pemakai bahasa mempertanyakan bentuk manakah yang benar dari kedua kata itu?
            Dalam hal ini, kita perlu memahami bahwa imbuhan –wan itu berasal dari bahasa Sankerta. Imbuhan itu digunakan bersama kata benda (nomina) seperti pada kata
            bangsa + -wan -----      bangsaawan
            harta    + -wan -----      hartawan
            rupa     + -wan  -----     rupawan
Imbuhan itu menyatakan tentang ‘orang yang memiliki seperti yang disebukan pada kata dasar’. Jadi, bangsawan berrati ‘orang yang memiliki bangsa’ atau ‘keturunan raja dan atau kerabatnya’; hartawan ‘oarng yang memiliki harta; rupawan ‘orang yang memiliki rupa yang elok’ atau ‘orang yang elok rupa’.
            Dalam perkembangannya, arti imbuhan meluas. Pada kata ilmuwan, negarawan, sastrawan, misalnya, imbuhan –wan menyatakan ‘orang yang ahli dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya. Dengan demikian, ilmuwan berarti ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu tertentu; negarawan ‘orang yang ahli dalam bidang kenegaraan; sastrawan ‘orang yang ahli dalam bidang sastra’.
            Pada kata seperti olahragawan, usahawan, imbuhan –wan berarti orang yang berprofesi dalam bidang yang disebutkan pada kata dasar’. Jadi, olahragawan berarti’ orang yang memiliki profesi dalam bidang olah raga, usahawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang usaha (tertentu)’.
            Pada contoh itu terlihat bahwa imbuhan –wan pada umumnya dilekatkan pada kata benda (nomina), seperti bangsa, harta, ilmu, olah raga, dan usaha. Imbuhan-wan tidak pernah dilekatkan pada kata kerja (verba).
Berdasarkan kenyataan itu, penggunaan imbuhan –wan pada kata relawan dipandang tidak tepat. Hal ini sama kasusnya dengan penambahan –wan pada kata kerja pirsa yang menjadi pirsawan. Dalam hal ini pilihan bentuk kata yang benar adalah pemirsa, yaitu orang yang melihat dan memperhatikan atau menonton siaran televisi.
            Kata sukarelawan mengandung pengertian orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa. Kata sukarela ini berasal dari kata dasar sukarela dan imbuhan –wan.
Dalam kamus Besar bahasa Indonesia (1996;070) pun, bentukan kata yang ada adalah sukarelawan, sedangkan kata relawan tidak ada. Oleh karena itu, kata yang sebaiknya kita gunakan adalah sukarelawan, bukan relawan.    



41. semena-mena dan tidak semena-mena
            Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta dicantumkan sebagai berikut.
mena, tidak semena-mena: tidak dengan kira-kira, semau-maunya, sewenang-wenang, tidak beralasan yang patut.
            Melihat yang tercetak di dalam kamus itu, Anda tahu bahwa ungkapan yang benar bukan semena-mena, melainkan tidak semena-mena. Kata tidak di depan kata semena-mena sama sekali tidak boleh dihilangkan, seperti pemakaiannya dalam kalimat kutipan dari surat kabar: Semua tamu sama di mata kami, kata karyawati yang telah berpengalaman tadi. “ Ada yang baik dan sopan, ada pula yang seme-mena dan kurang ajar, baik tamu domestik maupun tamu asing”. Ungkapan yang sama artinya dengan sewenang-wenang ialah tidak semena-mena bukan semena-mena. Berbuat sewenang-wenang terhadap seseorang sama artinya dengan’berbuat tidak semena-mena terhadap seseorang’. Kata tidak dalam ungkapan itu berfungsi menentukan arti ungkapan itu. Oleh karena itu kata tidak jangan dihilangkan. Tentu saja tidak pandai tidak sama dengan pandai saja tanpa tidak; tidak berwibawa tidak sama artinya dengan berwibawa. Yang pertama bersifat ingkar, sedangkan yang ke dua justru sebaliknya.
            Sengaja ungkapan tidak semena-mena ini dibicarakan di sini karena pemakaiannya kacau. Kadang-kadang orang mengatakan atau menulis tidak semena-mena, tetapi kadang-kadang juga hanya semena-mena. Ungkapan yang benar ialah yang menggunakan kata tidak dengan arti yang sama dengan sewenang-wenang, yaitu tidak semena-mena.

42. sistim dan sistem
            Kata systeem (Belanda) dan system (Inggris). Dahulu, kata Indonesianya sistim karena kita mengindonesiakan kata bahasa Belanda  systeem. Bunyi teem dekat dengan bunyi tim. Itu sebabnya kata itu dijadikan sistim. Pada saat ini ditetapkan bahwa yang digunakan sebagai acuan  adalah bahasa bahasa Inggris. Oleh karena itu, kata system-lah yang diambil dan diindonesiakan menjadi sistem.

43. standard dan standar
            Kata–kata di atas berasal dari bahasa asing bahasa Inggris. Ada dua pendirian yang kita pegang dalam mengindonesiakan kata asing: 1) bentuk yang dipungut itu disesuaikan dengan bentuk bahasa Indonesia (sistem fonologi dan morfologinya); 2) sedapat-dapatnya ejaannya dekat dengan ejaan aslinya (visual). Mari kita teliti kata yang ditanyakan di atas?
            Dalam bahasa Inggris ada kata standard. Kata itu diserap  dan diindonesiakan menjadi standar. Mungkin Anda bertanya, “Mengapa /d/ pada akhir kata itu dihilangkan?” jawabnya< “Bunyi itu tidak berfungsi dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dibuang saja. Contoh seperti itu dapat dilihat pada kata lain seperti impor dan ekspor yang berasal dari bahasa Inggris import dan export (sama dengan bahasa Belanda). Bunyi /t/ pada akhir kata dihilangkan karena tidak berfungsi” . Kalau bunyi akhir yang tidak berfungsi itu diambil, maka akan timbul kesulitan bila memberi akhiran pada kata itu. Misalnya, kata standard yang diserap, bila diberi imbuhan pen-an, maka hasilnya ialah penstandardan, padahal bila bentuk standar yang diambil, maka hasilnya ialah penstandaran. Bentuk ini lebih sesuai karena sama dengan bentuk lain dalam bahasa Indonesia: penggambaran, pelemparan. Bentuk menstandarkan lebih mudah diucapkan dibandingkan dengan menstandardkan karena terdapat tiga konsonan berurutan /rdk/. 

44. standardisasi dan standarisasi
            Sekarang kita beralih pada bentuk  standardisasi dan standarisasi. Mana yang betul atau baku? Kata itu diserap dari bahasa Inggris standardization. Dalam bahasa Indonesia, bunyi –ion pada akhir kata Inggris dijadikan –si. Hal ini terjadi karena banyak kata yang telah diserap dahulu dari bahasa Belanda yang berakhir –tie (ucapannya /si/ dan sama dengan –tion dalam bahasa Inggris itu). Bahasa Belanda untuk kata itu standardsatie. Bunyi /z/ dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Belanda /s/ dijadikan /s/ dalam bahasa Indonesia. Yang lain tidak diubah karena prinsip yang dipegang ” sedekat mungkin dengan ejaan bahasa asalnya”. Hasilnya standardisasi.

 45.Ubah pada  Merubah dan Mengubah
            Kata mengubah kata dasarnya adalah ubah.  Jadi, bila kata dasarnya ubah, maka bentuk awalan yang muncul ialah meng-, bukan mer-, sehingga bentukan yang betul ialah mengubah, bukan merubah..
            Hasil pekerjaan mengubah ialah pengubahan. Kata merubah mungkin timbul karena orang mengacaukannya dengan bentuk dengan berawalan ber- yaitu berubah. Bentuk berubah dibentuk dari kata dasar ubah yang mendapat awalam ber-, bukan kata dasar rubah dengan awalan be-. Hal, hasil atau cara berubah ialah perubahan.

46. zaman dan jaman
            Kata zaman merupakan serapan dari bahasa Arab.  Kata ini ini diserap secara utuh. Kata zaman berarti ‘jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu’ atau ‘masa’ dan ‘kala’ atau ‘waktu’. Kata jaman termasuk kata yang tidak baku. 
























6. KONTAMINASI
           
            Kontaminasi berasal dari bahasa Inggris contamination  yang dapat diberi arti ‘pencemaran’. Dalam bidang bahasa, kontaminasi dipadankan dengan kerancuan. Kata kerancuan diturunkan dari kata dasar rancu yang mendapat simulfiks ke-an; rancu bersinonim dengan kacau. Jadi, kerancuan berarti kekacauan . Bentuk-bentuk yang rancu atau kacau dianggap sebagai bentuk yang salah.
            Apa yang rancu atau dirancukan itu? Yang dirancukan orang adalah susunan dua unsur bahasa, entah unsur itu imbuhan, kata, atau kalimat. Oleh sebab itu, kontaminasi bahasa dapat dibedakan atas:
1. kontaminasi bentuk kata
2. kontaminasi bentuk frase
3. kontaminasi bentuk kalimat
            Dalam kontaminasi, selalu terjadi paduan dua unsur yang kacau, artinya kedua unsur itu tidak seharusnya berpasangan. Misalnya, unsur A pasangannya unsur B, sedangkan unsur C pasangannnya unsur D. Jadi, A – B dan C – D. Apabila yang muncul bukan pasangan yang seharusnya, misalnya A – D atau C – B, maka gabungan ini disebut rancu atau kacau. Bentuk gabungan yang rancu atau kacau itulah yang disebut kontaminasi  dan bentuk kontaminasi di dalam bahasa dianggap sebahgai bentuk yang salah.

1. Kontaminasi Bentuk Kata
            Dalam sebuah pameran pernah ditulis orang pada  kain rentang sebagai berikut.
            DI SEKOLAH KAMI DIPELAJARKAN BERBAGAI KEPANDAIAN WANITA
             Dengan memperhatikan tulisan itu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin ada bentuk dipelajarkan?
            Dalam deretan bentuk dengan kata dasar ajar terdapat bentuk-bentuk :
            mengajar  - mengajarkan  - mengajari
            diajar        - diajarkan        - diajari
            belajar      - mempelajari   - dipelajari
            pelajar      - pelajaran        - terpelajar
            terajar       -terajarkan        - terajari
            ajaran       - pengajaran
            Tidak terdapat bentuk dipelajarkan.  Jika diperhatikan baik-baik, akan terungkap bahwa bentuk dipelajarkan merupakan bentuk  kontaminasi dari dua bentuk asal: dipelajari dan diajarkan. Kalimat yang rancu di atas kain rentang itu dapat dikembalikan pada dua bentuk asalnya yang betul.
  1. Di sekolah kami diajarkan berbagai kepandaian wanita.
  2. Di sekolah kami dapat dipelajari berbagai kepandaian wanita.
 Gejala kontaminasi pada kata bentukan lainnya, yaitu bentuk mengenyampingkan . Mari kita tinjau bagaimana proses pembentukannya. Kalau diambil bentuk dasarnya samping, kemudian kata ini diberi imbuhan di  - kan, maka bentuknya disampingkan. Bila bentuk ini diubah menjadi bentuk me-, maka hasilnya ialah menyampingkan. Kata dasar yang dimulai dengan /s/ memunculkan bentuk meny- dan fonem /s/ itu sendiri luluh di dalam bunyi nasal /ny/ itu. Bila bentuk dasar ke samping yang diambil, kemudian diberi imbuhan di- kan, hasilnya dikesampingkan (ditulis serangkai karena diapit oleh di- dan –kan sekaligus). Bila bentuk dikesampingkan diubah menjadi bentuk dengan imbuhan me – kan, maka hasilnya mengesampingkan,  bukan mengenyampingkan  karena bentuk dasarnya dimulai dengan /k/. Bila bentuk dasar berfonem awal /k/ diberi awalan me-, maka muncullah bentuk meng;  sedangkan /k/ luluh di dalam bunyi nasal /ng/ itu. Fonem /s/ pada bentuk dasar ke samping terletak di tengah kata. Oleh karena itu, tidak terpengaruh dengan pemberian awalan me-.
Bandingkan dengan contoh-contoh berikut.
      kosong        -       mengosongkan  
            kotor           -       mengotorkan
Perhatikan bentuk-bentuk di atas. Yang mengalami peluluhan hanyalah fonem awal  bentuk dasar, yaitu /k/. Fonem yang terletak di tengah kata  /s/, dan /t/ tidak mengalami peluluhan.  Tetapi, bila fonem-fonem ini terletak di depan bentuk dasar, pastilah fonem itu mengalami peluluhan. Misalnya.
tangkap   -  menangkap       ( /t/ ---à/n/ )
potong     -  memotong         (/p/ ---à/m/ )
susul        -  menyusul          ( /s/ ---à /ny/ )
            Bandingkan bentukan kata mengesampingkan dengan kata-kata bentukan di bawah ini. Cara pembentukannya sejalan. 
            tengah    -   ke tengah    -  mengetengahkan
            tepi        -   ke tepi         -  mengetepikan
            bumi       -   ke bumi      -   mengebumikan
Imbuhan me – kan seperti pada kata-kata itu mengandung makna ‘ membawa ke...’; misalnya mengetengahkan artinya ‘membawa ke tengah’; arti kiasannya ‘mengemukakan, mengutarakan, menyampaikan’ (pendapat, pikiran, saran, usul).
Bentuk mengenyampingkan yang rancu dapat dikembalikan pada dua bentuk asalnya yang betul, yaitu menyampingkan dan mengesampingkan.

2. Kontaminasi Bentuk Frase
 Kontaminasi bentuk frase sering juga terjadi dalam pemakaian bahasa Indonesia seperti bentuk berulang kali. Dilihat dari segi penggabungan kata, ungkapan itu memperlihatkan bentuk yang rancu. Bentuk asalnya ialah berulang-ulang dan  berkali-kali. Kedua ungkapan tu dijadikan orang menjadi satu ungkapan baru dengan mengambil berulang dari ungkapan pertama dan kali dari ungkapan ke dua, sehingga lahirlah gabungan yang rancu  itu. Berulang-ulang sama artinya dengan berkali-kali.
            Di samping itu, orang sering mengatakan mengajar bahasa Inggris, mengajar ilmu pengetahuan alam, dsb. Kalau dikatakan Saya mengajar bahasa Inggris, tentu dapat dikatakan Bahasa Inggris saya ajar. Benarkah itu? Jawabnya, tidak, karena bahasa Inggris tidak bisa diajar. Yang bisa diajar hanyalah orang, binatang, ikan (misalnya ikan lumba-lumba). Mata pelajaran, mata kuliah tidak dapat diajar tetapi diajarkan. Jadi, seharusnya dikatakan Saya mengajarkan bahasa Inggris di sekolah itu. Kebalikannya ialah Bahasa Inggris saya ajarkan di sekolah itu.
            Perhatikan penggunaan kata mengajar, mengajari, diajarkan, diajari, dalam kalimat-kalimat berikut.
            Guru Zain mengajar murid-murid bernyanyi.
            Guru Zain mengajari murid-murid bernyanyi.
            Murid-murid diajar bernyanyi oleh Guru Zain.
            Murid-murid diajari bernyanyi oleh Guru Zain.
            Guru Zain mengajarkan nyanyian kerpada murid-murid.
            Nyanyian diajarkan oleh Guru Zain kepada murid-murid.
            Seorang Ibu Guru memimpin sekelompok anak dalam sebuah acara siaran di TVRI. Ibu Guru itu berkata kepada anak-anak asuhannya, “Anak-anak, tentu di sekolah engkau telah diajarkan mendeklamasikan sajak.”
            Kacau benar kalimat Ibu Guru itu. Ini sebuah kontaminasi pula, hasil gabungan dua buah frase yaitu 1) engkau telah diajar atau diajari; dan 2) kepadamu telah diajarkan.
            Dalam kalimat lengkap:
  1. Anak-anak, di sekolah engkau tentu telah diajar (i) cara mendeklamasikan sajak.
  2. Anak-anak, di sekolah, kepadamu tentu telah diajarkan bagaimana cara mendeklamasikan sajak.
Jika dibalikkan susunan kata-katanya, kalimat( b) itu tentu menjadi:
  1. Bagaimana cara mendeklamasikan sajak, tentu telah diajarkan guru kepadamu di sekolah.
Jelas kepada kita yang telah dirancukan dalam kalimat di atas ialah susunan kata-kata engkau telah diajar dan kepadamu telah diajarkan.
Dalam salah satu harian ibu kota ditulis tentang kasus perampokan di Bali sebagai berikut.
Terus terang saja perampokan itu dilakukan oleh lima orang tak dikenal dengan terlebih dahulu melempari batu, kemudian menyerbu dua rumah yang berdampingan itu.
            Susunan kata melempari batu  dalam kalimat di atas jelas tidak tepat karena yang dilempari oleh lima orang itu bukan batu, melainkan rumah. Rumah yang berdampingan itu mula-mula dilempari mereka dengan batu, kemudian diserbunya. Jadi, yang dirancukan di dalam kalimat itu ialah melempari rumah dengan batu dan melemparkan batu ke rumah itu. Dengan demikian, kalimat yang rancu di atas dapat dikembalikan ke dalam dua kalimat yang betul sebagai berikut.
  1. Terus terang saja perampokan itu dilakukan oleh lima orang tak dikenal dengan terlebih dahulu melempari rumah dengan batu, kemudian menyerbu dua rumah yang berdampingan itu.
  2. Terus terang saja perampokan itu dilakukan oleh lima orang tak dikenal dengan terlebih dahulu melemparkan batu ke rumah itu, kemudian menyerbu dua rumah yang berdampingan itu.

3. Kontaminasi Kalimat
            Dalam penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini, sangat sering dijumpai kontaminasi dalam bentuk kalimat. Perhatikan contoh-contoh berikut.
            Bantuan itu diharapkan dapat meringankan para korban bencana alam.
            Dalam kalimat di atas telah terjadi kerancuan pengertian. Sepintas lalu terasa kalimat di atas itu susunannya betul. Namun, kalau diperhatikan secara teliti akan diketahui bahwa bantuan itu akan meringankan para korban bukanlah ungkapan yang tepat. Kalau dikatakan para korban yang diringankan, maka yang berat itu adalah para korban. Padahal, yang dimaksud untuk diringankan ialah penderitaan para korban. Penderitaan mereka berat karena itu perlu diringankan. Bukan mereka sendiri yang mau diringankan . Jadi, telah terjadi kerancuan antara:
menolong para korban yang tertimpa bencana, dengan meringankan beban penderitaan para korban.
            Bandingkan dengan kalimat Untuk meringankan kapal itu, sebagian muatannya dibuang ke laut. Kapal itu dibuat menjadi ringan dengan membuang sebagian muatannya ke laut karena ombak besar. Kalau kapal tidak diringankan ada kemungkinan kapal itu tenggelam.
            Kalimat yang rancu di atas dapat dikembalikan pada kalimat  yang betul sebagai berikut.
a)      Bantuan itu diharapkan dapat menolong para korban yang ditimpa bencana alam.
b)      Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban penderitaan para korban yang ditimpa bencana alam.
Kalau kedua kalimat itu disatukan, maka hasilnya sebagai berikut.
c)      Bantuan itu diharapkan dapat menolong meringankan beban penderitaan para korban yang ditimpa bencana alam.
Contoh lain:
            Di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu bermandikan cahaya lampu-lampu neon.
            Orang yang pernah mempelajari tata bahasa pasti tahu yang disebut dengan pokok kalimat (subjek) dan sebutan kalimat (predikat). Tiap-tiap kalimat tentu mempunyai subjek (S) dan predikat (P) sebab tak ada kalimat tanpa kedua unsur bahasa tersebut. Bila kita bertutur, kita mengetengahkan sesuatu kepada lawan bicara kita. Yang kita ketengahkan itulah yang disebut dengan subjek kalimat dan keterangan tentang subjek itu disebut dengan predikat.
Susunan kata-kata anak yang sakit tidak bisa disebut kalimat karena tidak mengandung unsur subjek dan predikat. Susunan kata-kata  anak itu sakit  sudah merupakan kalimat karena  Anak itu sebagai subjek kalimat (sesuatu yang diterangkan/ diketengahkan) dan sakit sebagai predikat (keterangan tentang subjek anak itu).
            Bila penutur hanya mengucapkan anak itu, kemudian ia berhenti berbicara, tentu pendengar akan bertanya, “ Mengapa anak itu?” atau “Diapakan anak itu?” atau “Bagaimana anak itu?”  Jawaban atas pertanyaan itulah predikat kalimat yang dimaksud. Jika hanya dikatakan sakit,  orang akan bertanya, “Siapa yang sakit?’ atau “Apa yang sakit?” Jawaban atas pertanyaan itulah yang disebut subjek.
            Sekarang mari kta kembali pada kalimat contoh tadi. Jika kita bertanya,”Apakah yang bermadikan cahaya lampu-lampu neon?” Jawabnya tentu tidak mungkin “di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh lampu-lampu neon itu” sebab bagian kalimat yang dimulai dengan kata depan di  menunjuk pada keterangan tempat. Pertanyaan untuk jawaban itu haruslah di mana.
            Misalnya:
            Di mana kaubeli buku itu?  Jawabnya: di toko Guna Agung.
            Di mana kendaraan hilir mudik ?  jawabnya : di jalan-jalan di kota itu.
            Jawaban yang tepat untuk pertanyaan “Apakah yang bermadikan cahaya lampu-lampu neon?” ialah “jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu”. Jawaban ini merupakan subjek kalimat itu dan bermadikan cahaya lampu-lampu neon adalah predikatnya.
            Kalimat di atas  jelas sebuah kalimat yang rancu. Kalimat yang betul sebagai berikut.
  1. Jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu bermandikan cahaya lampu-lampu neon.
  2. Di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu tampak berpancaran cahaya lampu-lampu neon.
Jadi, di sini terlihat bahwa kalimat yang rancu, selalu dapat dikembalikan pada bentuknya yang betul, yaitu dua kalimat asalnya.
Mungkin Anda bertanya,  “Mengapa timbul kalimat-kalimat yang rancu sepertii itu?” Jawabnya ialah sebagai berikut.
a)      Pemakai bahasa tidak menguasai benar struktur bahasa Indonesia yang baku, yang baik dan benar.
b)      Pemakai bahasa tidak memiliki cita rasa bahasa yang baik, sehingga tidak dapat merasakan kesalahan bahasa yang dibuatnya.
c)      Dapat juga kesalahan itu terjadi tidak dengan sengaja karena ketika ia akan menuturkan suatu kalimat tertentu, muncul dalam pikirannya kalimat yang hampir sama struktur dan maknanya dengan kalimat yang akan dituturkan itu.




























6. PLEONASME
            Gejala bahasa pleonasme kita jumpai dalam pemakaian bahasa sehari-hari dalam berbagai bentuk. Kata itu berasal dari bahasa Latin pleonasmus  yang berarti ’kata yang berlebih-lebihan‘. Gejala bahasa ini memperlihatkan pemakaian kata yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan. Pleonasme ada beberapa macam, yaitu:
  1. Dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan.
  2. Dalam suatu ungkapan yang terdiri tas dua patah kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan lagi sebab maknanya sudah terkandung dalam kata yang pertama.
  3. Bentuk kata yang dipakai mengandung makna yang sama dengan kata lain yang dipakai bersama-sama dalam ungkapan itu.
Supaya jelas, marilah kita bicarakan satu per satu. Kita mulai dengan bentuk yang pertama.  
            Dalam buku cerita terutama dalam satra klasik, sering sebuah cerita atau dongeng dimulai dengan ungkapan pada zaman dahulu kala.  Mungkin, karena sudah terlalu biasa membacanya atau menggunakannya, tidak terasa lagi kepada kita bahwa ungkapan itu mengandung pernyataan yang berlebihan.
            Perhatikanlah! Kata zaman   yang dipungut dari bahasa Arab sama maknanya dengan kata kala  yang berasal dari bahasa Sanskerta. Kata-kata itu bersinonim pula dengan masa (Sanskerta) dan waktu  (Arab). Kalau kita alihkan ungkapan pada zaman dahulu kala  dengan memakai dua kata yang sama bentuk dan maknanya, maka ungkapan itu akan berubah menjadi pada masa dahulu masa  atau pada waktu dahulu waktu  atau pada kala dahulu kala.  Penggunaan seperti itu belebih-lebihan , bukan?
            Kalimat dengan menggunakan salah satu ungkapan yang tepat sebagai berikut.
  1. Pada zaman dahulu, dalam sebuah kerajaan, memerintah seorang ratu yang sangat arif.
  2. Dahulu kala, dalam sebuah kerajaan, memerintah seorang ratu yang sangat arif.
Ungkapan pada zaman dahulu = pada waktu dahulu = zaman purba = dahulu kala. Tiga ungkapan yang disebut mula-mula susunannya menurut Hukum DM, yaitu kata yang diterangkan terletak di depan kata yang menerangkan, sedangkan ungkapan dahulu kala  susunannya MD karena kata kala terletak di belakang kata yang menerangkannya. Sama dengan ungkapan pada zaman dahulu kala, ungkapan pada zaman purba kala pun memperlihatkan gejala pleonasme.
Contoh lain:
            Mulai sejak waktu itu, kelakuannya berubah.
            Penggunaan kata mulai sekaligus dengan kata sejak memperlihatkan pula gejala bahasa pleonasme  karena kata mulai sama artinya dengan sejak. Cukuplah dikatakan:
            Mulai waktu itu, kelakuannya berubah.
            Sejak waktu itu, kelakuannya berubah.
            Adakalanya orang menggunakan juga ungkapan dari sejak waktu itu. Di sini pun terlihat gejala bahasa pleonasme karena sejak waktu itu = dari waktu itu.
            Ungkapan yang sering juga kita jumpai adalah sebagai berikut: saling pukul-memuukul atau saling berpukul-pukuanl. Bentuik pukul-memukul   dan berpukul-pukulan sudah mengandung pengertian bahwa pekerjaan itu dilakukan timbal balik atau secara berbalasan oleh kedua belah pihak. Walaupun begitu, kata bentukan itu masih juga didahului oleh kata saling yang artinya juga menyatakan ‘pekerjaan itu dilakukan oleh dua belah pihak’. Oleh sebab itu, di sini telah terjadi gejala bahasa pleonasme. Seharusnya dipilih saja satu, pukul-memukul, berpukul-pukulan ,atau saling memmukul  Jadi, janganlah mengatakan saling pukul-memukul  atau saling berpukul-pukulan, melainkan  pukul-memukul, berpukul-pukulan, atau saling memukul. Demikian juga dengan bentuk : saling saing-menyaingi atau saling bersaing-saingan, melainkan saling menyaingi. Supaya tidak terjadi pleonasme, kita pilih salah satu bentuk, yaitu dengan kata dasar + me + kata dasar  (+ i )  (saling menyaingi),  ber + kata ulang + an  (bersaing-saingan), atau dengan kata saling  + me  + kata dasar  (+ i )  (saling menyaingi).
Dengan demikian,  bentuk yang dapat digunakan adalah sebagai berikut.
tuduh-menuduh               lempar-melempari
bertuduh-tuduhan            berlempar – lemparan
saling menuduh                saling melempar
Yang menarik juga dalam pemakaian bahasa Indonseia dewasa ini adalah  kata baku/. Kata baku maknanya sama dengan ‘saling’. Kata baku diambil  dari bahasa Melayu dialek Manado . Kata baku itu diikuti kata kerja yang tidak berawalan seperti baku hantam, baku pukul, baku tuduh, baku marah, baku sayang, dsb. Baku hantam sejajar dengan saling menghantam.
Kesalahan yang sering juga dijumpai dalam koran atau majalah dewasa ini ialah pemakaian kata baku sekaligus dengan kata saling, seperti saling baku hantam. Di sini telah terjadi pula gejala pleonasme. Perhatikan: baku sayang artinya ‘saling menyayangi’ atau ‘saling mengasihi’; baku marah artinya ‘saling memarahi’ arti kiasannya ‘bermusuhan’.
Dengan demikian, ada dua patah kata baku dalam bahasa Indonesia dewasa ini. Yang pertama ialah kata baku yang  berasal dari bahasa Melayu dialek Manado yang berarti ‘saling’ dan yang ke dua ialah kata baku yang berasal dari bahasa Jawa yang  artinya ‘pokok’ atau ‘standar’. Bahasa Indonesia baku ialah ‘bahasa Indonesia standar’, yaitu bahasa Indonesia seperti yang diajarkan di sekolah – sekolah dan yang dipakai dalam situasi resmi.
Pemakaian kata agar supaya  juga merupakan gejala pleonasme karena agar sama maknanya dengan supaya. Contoh lain seperti itu ialah oleh karena  atau oleh sebab; salah satu makna kata oleh ialah ‘karena’. Misalnya, Bajuku basah oleh hujan, artinya ‘bajuku basah karena ( kena) hujan’.
Kita pindah sekarang ke gejala bahasa pleonasme jenis ke dua, yaitu penggunaan kata ke dua yang tidak diperlukan lagi karena makna yang dikandung oleh kata itu sudah terkandung dalam kata yang pertama. Sering orang mengatakan turun ke bawah, naik ke atas, mundur ke belakang, maju ke depan, atau tampil ke depan, dsb. Ungkapan seperti itu sudah dianggap sebagai suatu gaya bahasa saja walaupun sebenarnya kalau kita pikirkan, penggunaan kata ke dua itu tidak diperlukan lagi. Sudah jelas bahwa orang turun selalu ke bawah, orang naik selalu ke atas, orang mundur selalu ke belakang, dan orang maju selalu ke depan. Oleh karena itu, kata ke bawah, ke atas, ke belakang, ke depan, sebenarnya tidak usah dipergunakan lagi. Namun, sebagai saya katakan tadi, ungkapan seperti itu sering kita denganr diucapkan orang,
Kita sering juga mendengar orang mengatakan atau menulis menegadah ke atas, menundukkan kepala, melihat dengan mata kepala sendiri. Bukankah menengadah itu selalu ke atas, yang ditundukkan itu selalu kepala; dan orang melihat tentu  dengan menggunakan mata, mata yang melekat di kepala, dengan mata sendiri dan bukan melihat dengan meminjam mata orang lain?
Dalam kalimat:
Bagaimana mungkin aku berbohong, peristiwa itu aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.
            Sebenarnya cukup bila dikatakan peristiwa itu aku lihat sendiri, bukan aku dengar dari cerita orang lain’. Tetapi, untuk menegaskan pernyataannya itu ditambahkannya kata-kata dengan mata kepalaku sendiri.
            Anda tentu sering juga mendengar orang mengatakan, penyakitnya kambuh kembali, atau kesehatanya telah pulih kembali.
            Dalam kata kambuh dan pulih sudah terkandung pengertian ‘kembali’ atau ‘sekali lagi’, atau ‘seperti sedia kala’. Jika dikatakan penyakitnya kambuh, artinya ‘penyakitnya berulang lagi’. Mulanya dia sehat, kemudian jatuh sakit, sembuh, kemudian sakit lagi atau sakit kembali. Jadi, ungkapan kambuh kembali mengandung pengertian yang berlebihan.
            Begitu juga dengan kata pulih. Kesehatannya pulih artinya ‘kesehatannya kembali seperti sediakala sebelum dia sakit’. Orang itu sehat, kemudian jatuh sakit, kemudian sembuh dan kesehatannya kembali seperti sediakala. Itu arti kata pulih. Jadi, ungkapan pulih kembali mengandung makna yang berlebih-lebihan.
Di samping itu Anda tentu sering juga mendengar orang mengatakan namun demikian. Bentuk namun demikian merupakan bentuk yang pleonastis. Mungkin orang itu mengira, kata namun bersinonim dengan walaupun. Padahal yang benar tidak sperti itu. Kata namun bersinonim dengan tetapi, sedangkan walaupun bersinonim dengan meskipun. Jika orang menganggap bentuk yang benar adalah namun demikian, itu berarti ia juga harus berani menggunakan tetapi demikian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata namun sudah mengandung arti “walaupun demikian’ atau meskipun demikian. Jadi, kata namun sama dengan walaupun demikian atau meskipun demikian .
Pleonasme jenis ke tiga dinyatakan oleh bentuk kata yang mengandung makna gramatikal seperti kata yang membentuk ungkapan itu. Misalnya dikatakan:
  1. Para tamu-tamu berdiri ketika kedua mempelai memasuki ruangan.
  2. Dalam perjalanan ke luar negeri itu Menteri Luar Negeri mengunjungi beberapa negara-negara sahabat.
Perhatikan bentuk para tamu-tamu dalam kalimat pertama. Kata para mengacu kepada pengertian jamak, perulangan kata benda tamu-tamu juga menunjukkan penegertian jamak. Jadi, pengertian jamak dinyatakan dua kali. Berlebih-lebihan, bukan? Oleh karena itu, cukup bila dikatakan para tamu, atau dengan bentuk perulangan tamu-tamu.
Ungkapan beberapa negara-negara dalam kalimat ke dua tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia tidak terdapat gejala “concord”  (persesuaian) seperti dalam bahasa Inggris dan Belanda misalnya, bila kata bilangannya satu, kata bendanya pun berbentuk tunggal; bila kata bilangannya dua atau lebih, maka kata bendanya pun dalam bentuk jamak. Itu disebut dengan concord atau agreement. Misalnya one child ‘seorang anak’, tetapi five children ‘lima anak’. Dalam bahasa Belanda pun demikian : een kind dan vif kindren.
Dalam bahasa Indonesia, dikatakan seorang anak dan lima orang anak. Tidak perlu dikatakan lima orang anak-anak. Oleh karena itu, beberapa negara-negara juga tidak tepat; terlihat adanya gejala pleonasme dan bentukan seperti itu sebenarnya dipengaruhi oleh gejala “concord” dalam bahasa asing.
Gejala concord seperti itu tidak terdapat dalam bahasa Indonesia karena memang bahasa Indonesia lain strukturnya daripada bahasa-bahasa yang sudah disebutkan itu. Oleh sebab itu, dalam salah satu harian ditulis dipamerkan 200 buah lukisan-lukisan, pengungkapan itu  jelas tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bilangan 200 sudah melukiskan jumlah banyak. Oleh sebab itu, kata benda yang di belakangnya tidak perlu di ulang.
Dalam bahasa Indonesia, jika kata di depan kata benda itu sudah menyatakan jamak, maka kata bendanya tidak perlu dijamakkan dengan mengulangnya. Kita tidak perlu meniru bahasa asing. Tiap bahasa mempunyai kaidahnya sendiri-sendiri, bahasa yang satu tidak perlu sama dengan bahasa yang lain.
Bahasa yang hidup memang menerima pengaruh yang masuk dari bahasa asing. Tetapi, yang masuk selalu harus diseleksi. Yang perlu, yang dapat menambah kekayaan kosa kata  bahasa Indonesia patut diterima dan yang tidak, karena tidak ada keperluannya, tak perlu diterima. Pemakai bahasa Indonesia tidak perlu mengatakan, semua pejabat-pejabat, banyak gedung-gedung karena dalam bahasa Indonesia, kata benda tidak perlu diulang untuk menyatakan jamak apabila kata  yang di depan kata  benda itu sudah menyatakan jamak seperti semua, segala, banyak, beberapa, bentukan seperti  contoh di atas menyalahi kaidah bahasa Indonesia. Cukup bila dikatakan: semua pejabat, banyak gedung, beberapa negara, para tamu.
Ada persoalan mengenai kata-kata yang mengandung makna jamak, yaitu kata-kata pungut atau serapan dari bahasa asing. Dalam bahasa Indonesia ada ulama, anasir, arwah, yang diserap dari dari bahasa Arab. Kata ulama merupakan bentuk jamak kata alim; arwah merupakan bentuk jamak kata roh. Dalam bahasa Indonesia, telah terjadi pergeseran makna. Kata-kata yang dalam bahasa asalnya mengandung arti jamak, dalam bahasa Indonesia mengandung arti tunggal. Perhatikan pemakaiannya dalam kalimat berikut.
  1. Prof. Dr. Riza Anwar adalah seorang ulama yang disegani di negerinya.
  2. Gubernur Jawa Barat mengadakan pertemuan dari hati ke hati dengan ulama-ulama seluruh Jawa Barat.
Gejala bahasa pleonasme timbul karena beberapa kemungkinan:
1. Pembicara tak sadar bahwa apa yang diucapkannya itu mengandung sifat berlebih-lebihan. Jadi, dibuatnya tidak dengan sengaja.
2. Dibuat bukan karena tidak sengaja, melainkan karena tak tahu bahwa kata-kata yang digunakannya mengungungkapkan pengertian yang berlebih-lebihan.
3. Dibuat dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti (intensitas).

























7. SALAH KAPRAH
            Kata salah kaprah mungkin sering Anda dengar. Kata salah kaprah terdiri atas dua patah kata yaitu salah dan kaprah (dari bahasa Jawa). Salah kaprah dalam kebahasaan diartikan ‘salah atau kesalahan yang sudah sangat umum’ sehingga karena sudah terbiasa dengan yang salah seperti itu, orang tidak lagi merasakan bahwa itu salah. Bahasa Indonesia pada waktu akhir-akhir ini sangat cepat berkembang. Bermacam-macam unsur baru muncul, baik kata, istilah, maupun bentukan baru. Ada yang dimunculkan dengan sengaja karena dibuat, misalnya oleh ahli bahasa karena keperluannya. Ada juga yang muncul dari pemakai bahasa sebagai sumbangan spontan masyarakat bagi pemerkayaan bahasa kita.
Bentuk baru juga muncul sebagai analogi bentuk lama, tetapi sering karena pembentukan itu kurang disadari oleh pengetahuan yang cukup tentang kaidah bahasa, terjadilah kesalahan. Kadang-kadang lahir susunan kalimat yang kacau karena pentur atau penulis yang melahirkan tuturan itu kurang menguasai aturan penyusunan kalimat yang baik. Kesalahan yang disebutkan itu sering terjadi bukan hanya sekali, melainkan berulang-ulang, sehingga yang salah itu seolah-olah sudah benar dan karena itu dipakai terus-menerus. Kesalahan seperti inilah yang disebut salah kaprah itu. Marilah kita lihat  contoh yang sudah sangat dikenal.

1. Waktu dan tempat kami persilakan.
Dalam sebuah pertemuan pembawa acara berkata, “Sekarang kita tiba pada acara berikut, yaitu sambutan dari Bapak X. Waktu dan tempat kami persilakan.” Ketika itu, bapak X itu tetap duduk di kursinya, tidak juga memperlihatkan sikap akan meninggalkan tempat duduknya. Pembawa acara mengulang kembali permintaannya, “Bapak X, kami persilakan tampil ”. Barulah Bapak X itu  meninggalkan tempat duduknya, berjalan ke arah podium, berdiri di sana, dan sejenak kemudian memulai pembicaraannya.
            Kata bapak itu, “ Saya tadi tidak berdiri dan melakukan apa yang diminta oleh Saudara pembawa acara karena tadi saya dengar bukan saya yang dipersilakan. Tetapi, yang dipersilakan itu adalah waktu dan tempat. Hadirin tertawa, Gerrr,,,
            Ini bukan sebuah lelucon, tetapi benar-benar terjadi. Nah, Anda melihat bahwa apa yang dikatakan oleh pembawa acara itu juga diucapkan oleh sebagian besar  orang yang ditugasi menjadi pembawa acara dalam pertemuan-pertemuan. Mereka tidak lagi berpikir bahwa kalimat itu salah, tidak logis. Di mana ada waktu dan tempat yang dapat dipersilakan.

2. Bapak gubernur berkenan meninggalkan pertemuan ini karena tugas yang menanti beliau di tempat lain.
            Contoh lain penggunaan kata yang tidak tepat dan salah kaprah pula. Dalam sebuah perayaan hari raya tertentu. Bapak gubernur di wilayah itu diundang untuk memberikan sambutan. Setelah selesai memberikan kata sambutannya, beliau mohon diri kepada panitia agar dapat meninggalkan perayaan yang masih berlangsung itu. Gubernur itu meminta izin kepada panitia untuk meninggalkan perayaan itu. Tetapi, apa yang kita dengar dari pembawa acara melalui pengeras suara?
            “Saudara-saudara hadirin kami persilakan berdiri karena Bapak gubernur berkenan meninggalkan pertemuan ini karena tugas yang menanti beliau di tempat lain.”
            Penggunaan kata berkenan dalam kalimat pembawa acara itu benar-benar salah kaprah . Bekenan artinya ‘setuju, mau, bersedia dengan hati yang tulus tidak berkeberatan’, dalam hal yang baru saja dibicarakan itu, bapak gubernur yang bersangkutan tidak dimintai persetujuannya. Beliau sendiri malah yang meminta izin atau pekenan panitia untuk meninggalkan tempat itu karena tugas lain menanti beliau di tempat lain. Terlihat ada keinginan pada pembawa acara untuk memperhalus bahasanya tetapi ia salah dalam memilih kata. Kata berkenan pada kalimat di atas tidak tepat penggunaannya. Upaya memperhalus bahasa di sini tidak mengena. Kata akan yang seharusnya dipakai, dan kata ini tidak mengungkapkan ketidaksopanan.      

3. Atas bantuan Bapak, kami menghaturkan terima kasih.
Contoh lain yang dikemukakan di sini, yaitu mengenai penghalusan bahasa dengan mengganti kata dengan kata yang tidak tepat. Biasanya, kalau kita menulis  surat, setelah surat itu selesai, kita menutup surat itu dengan kalimat penutup misalnya sebagai berikut. “Atas bantuan Bapak, kami mengucapkan terima kasih” kata mengucapakan itu dianggap oleh sebagian orang kurang halus. Karena tu, kata itu diganti dengan menghaturkan, sehingga menjadi “Atas bantuan Bapak, kami menghaturkan terima kasih.” Kata hatur bukan kata bahasa Indonesia melainkan bahasa daerah. Dalam kamus bahasa Indonesia tidak terdapat kata hatur, menghaturkan yang seperti itu maknanya. Kata itu dipinjam dari bahasa daerah, kemudian dipergunakan dalam surat karena orang itu ingin menyatakan kehomatannya kepada orang yang dikrimi surat.
            Dalam bahasa Indonesia ada kata atur tetapi artinya lain sekali. Oleh karen itu, gunakanlah kata mengucapkan yang dapat berarti 1) mengatakan;2) menyampaikan. Jadi, kata-kata itu tidak terbatas pemakaiannya pada bahasa lisan saja. Bila berbahasa Indonesia perasaan bahasa Indonesialah yang dipakai. 

4. Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.
Sering juga kita melihat orang yang mengakhiri surat dengan kalimat sebagai berikut, “ Kami mengucapkan  terima kasih atas bantuan dan perhatiannya”. Dikatakan perhatiannya.  Perhatian siapa? Kalau yang dimaksud itu ialah orang yang menerima surat, maka bukan –nya yang seharusnya dipakai, melainkan Bapak, atau Ibu atau Saudara, atau Anda, dan sebagainya. Jadi, katakanlah.
            Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak.
            Kami ucapka terima kasih atas perhatian Ibu.
            Atas perhatian Saudara, saya ucapkan terima kasih.
            Orang yang disurati ialah Bapak, Ibu, Saudara atau Anda (orang ke dua) bukan –nya = ia atau dia (orang ke tiga). Oleh karena itu, dalam konteks itu bukan –nya yang dipakai.
           
5. Saya memenangkan dia dalam pertandingan itu.
            Kata memenangkan dalam pemakaian bahasa dewasa ini perlu mendapat perhatian kita karena yang menarik dari penggunaan kata ini ditinjau dari bentuk dan artinya. Mari kita bahas bentuk itu dengan makna yang dikandung oleh imbuhan yang melekat pada kata itu, yaitu me-kan.
Contoh:
            Saya memenangkan dia dalam pertandingan itu.
            Kalimat di atas mempunyai arti bahwa saya telah membuat dia, menjadikan dia, atau menyebabkan dia menang dalam pertandingan itu, misalnya, dengan sengaja mengalah karena tujuan tertentu yang ingin dicapai.  
            Kalau seperti di atas ini kata memenangkan itu digunakan dalam kalimat, maka penggunaannya betul-betul tepat dilihat dari segi makna. Tetapi sering kita melihat bahwa kata atau bentuk memenangkan itu digunakan dalam kalimat secara salah karena tidak memberikan makna seperti yang sudah dijelaskan di atas. Mari kita lihat contoh penggunaan yang salah.
            1. Suharyadi memenangkan pertandingan itu.
            2. Elyas Pikal memenangkan hadiah Rp100 juta.
            Coba perhatikan penggunaan kata memenangkan dalam kedua kalimat di atas baik-baik. Tadi sudah dijelaskan di atas bahwa memenangkan artinya ‘menjadikan menang’.
            Perhatikan kalimat 1: Suharyadi memenangkan pertandingan itu artinya Suharyadi menjadikan pertandingan itu menang. Mungkinkah pertandingan menang? Mungkinkah benda mati itu menang? Jelas tidak mungkin. Kalau begitu, penggunaan kata memenangkan dalam kalimat itu salah. Begitu juga dengan penggunaannya dalam kalimat 2 , sama saja salahnya: memenangkan hadiah berarti hadiah yang dibuat menang.
            Menilik makna kata bentukan itu dengan penjelasan makna imbuhan pada kata itu, Anda dapat mengambil kesimpulan bahwa kata itu selama ini sudah salah dipakai orang. Bukan hanya dalam bahasa tulisseperti pada contoh kalimat 1 dan 2 di atas. Cobalah Anda denganrkan komentar olahraga di TVRI. Komentator olah raga itu juga menggunakan kata memenangkan itu secara salah. Saya katakan salah kaprah karena kesalahan itu tidak lagi disadari oleh para pemakaianya dan bentuk yang salah itu diapakai terus seperti itu. Tentu sukar meluruskan kembali yang sudah “bengkok”. Usaha yang dapat ditempuh untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti itu ialah melalui pengajaran bahasa di sekolah-sekolah. Kita mengharapkan (hanya dapat mengharap) semoga generasi muda yang sudah mendapat pendidikan yang baik di sekolah akan dapat menghindari kesalahan umum yang disebut salah kaprah, yang dewasa ini banyak kita temukan dalam bahasa Indonesia.
            Kalimat di atas dapat diubah dengan beberapa cara sebagai berikut.
Kalimat 1:
1a. Suharyadi menang dalam pertandingan itu.
1b. Suharyadi menjuarai pertandingan itu.
1c. Suharyadi menjadi juara dalam pertandingan itu.
1d. Suharyadi meraih juara pertama dalam pertandingan itu.

 Kalimat 2:
2a. Elyas Pikal mendapat hadiah Rp 100 juta.
2b. Elyas Pikal menerima hadiah Rp 100 juta.
2c. Elyas Pikal meraih hadiah Rp 100 juta.
6. Dirgahayu RI atau Dirgahahayu HUT RI?
            Kita bicarakan  kali ini tentang penggunaan kata dengan makna yang tepat dalam kalimat. Sering kita membaca sebuah kalimat yang di dalamnya digunakan sepatah kata dengan makna yang kurang tepat. Hal itu tentu saja disebabkan oleh kurangnya pemahaman pemakai bahasa terhadap arti kata tersebut.
            Saya ingin membicarakan pemakaian kata dirgahayu yang tiap tahun dipakai oleh bangsa Indonesia dalam menghias gedung pemerintah atau menulisi kain rentang atau spanduk dsb. Tiap tahun dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus.
            Kita baca kalimat-kalimat berikut:
            DIRGAHAYU HUT RI KE-XXXVI
            DIRGAHAYU HUT KE –XXXVI RI
Penggunaan kata dirgahayu pada kalimat di atas ini jelas salah karena kata dirgahayu ditempatkan di depan kata hari ulang tahun (HUT). Jika Anda buka Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta, akan Anda temukan di dalamnya kata- kepala dirgahayu. Di belakang kata itu ada singkatan sl. Artinya, kata itu terdapat dalam sastra lama; arti kata itu ‘(mudah-mudahan) berumur panjang; hidup.
            Kalau kita alihkan kalimat di atas, maka kalimat itu dapat kita ganti menjadi:
            MUDAH-MUDAHAN BERUMUR PANJANG HUT RI KE-XXXVI
            atau
HIDUPLAH HUT RI KE-XXXVI
            Pada kalimat ini dapat dilihat bahwa yang  didoakan panjang usianya bukan negara Republik Indonesia, melainkan hari ulang tahunnya. Padahal, hari ulang tahun itu hanya berumur sehari. Yang diserukan agar hidup itu bukan negara RI, melainkan hari ulang tahun yang ke-36. Jelas, penggunaan kata dirgahayu seperti di atas tidak tepat.
            Sebenarnya mengenai kesalahan penggunaan kata dirgahayu, sudah sering  diulang kembali oleh pembawa acara  Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Stasiun Pusat. Dijelaskan dan diberikan contoh bagaimana menggunakan kata itu secara tepat sesuai dengan makna yang terkandung pada kata itu. Namun, setiap tahun pula kita membaca tulisan yang salah karena orang tidak memperhatikan arti kata itu.
 Dengan demikian, Anda dapat membuat kalimat sebagai berikut:
            DIRGAHAYU RI BER-HUT XXXVI
            atau
DIRGAHAYU RI BER-HUT KE-36
            atau
HUT RI KE-36
            DIRGAHAYU KEMERDEKAAN KITA
            Jadi, yang didoakan agar panjang usianya itu ialah negara Republik Indonesia yang berhari ulang tahun ke- 36. Atau, yang didoakan itu ialah kemerdekaan yang telah kita miliki itu panjang usianya, berlanjut sampai akhir zaman karena kita tidak mau penjajajhan oleh bangsa lain berulang lagi.
            Kesalahan yang kita lihat pada contoh di depan ialah penulisan bilangan yang menyatakan tingkat. Bukan ke-XXXVI, melainkan ke-36, atau memakai angka Romawi saja tanpa ke- di depannya. Selain itu, kalau itu memakai ke- di depan angka, haruslah dipakai pula  garis tanda hubung antara ke- dan angka Arab itu. Kalau angka Romawi yang digunakan, tak perlu dipakai ke- di depannya. Perhatikan contoh di atas.
            Mudah-mudahan kesalahan seperti di atas tidak terjadi lagi pada tahun-tahun yang akan datang.

7. Sampai jumpa di lain kesempatan
            Kalau anda seorang pemirsa yang setia, artinya tiap malam duduk di depan layar televisi, anda tentu akan tidak asing lagi dengan kalimat: Sampai jumpa di lain kesempatan. Kelihatannya kalimat itu sangat pendek, tetapi kalau kita teliti  dari segi bahasa ragam resmi baku, berpegang pada kaidah bahasa Indonesia, maka kita dapat mengatakan bahwa di dalam kalimat yang pendek itu terdapat tiga kesalahan.
            Pertama, frase sampai jumpa.  Kata jumpa bersinonim dengan temu, sua; berjumpa = bertemu = bersua. Dapatkah kita mengatakan sampai temu lagi, atau sampai sua lagi? Tidak dapat karena terdengarnya janggal, bukan? Seharusnya kita mengatakan Sampai bersua lagi. Nah, begitu juga dengan kalimat sapaan yang tertera pada judul di atas. Bukan sampai jumpa, melainkan sampai berjumpa.
            Kalau kita mengamati pemakaian bahasa Indonesia dewasa ini, kita akan segera dapat melihat bahwa ada gejala penghilangan awalan ber- pada beberapa kata kerja yang sebenarnya harus berawalan ber-.
Misalnya:
1. Para pemain sudah kumpul di lapangan
2. Setahu saya Amat dan Tina sudah cerai.  
            Semua kata yang bercetak miring dalam kalimat di atas ini hendaknya berawalan ber-: berkumpul, bercerai. Epai, mungkin karena kemalasan orang atau karena pengaruh bentukan kata bahasa daerah, awalan ber- itu ditanggalkan orang sehinga menjadi kata yang tidak berawalan ber-.
            Kedua, frase di lain kesempatan. Di sini terdapat dua kesalahan. Kesalahan pertama, tentang susunan lain kesempatan. Kita tahu bahwa salah satu aturan bahasa Indonesia ialah bahwa kata yang diterangkan selalu terletak di depan, sedangkan kata yang berfungsi menerangkan  terletak di belakang kata yang diterangkan itu. Jadi, susunannya diterangkan (D) menerangkan (M). Kata yang diterangkan pada frase itu ialah kesempatan, sedangkan kata lain berfungsi menerangkan. Jadi, susunannya bukan lain kesempatan, melainkan kesempatan lain atau kesempatan yang lain. Unsur yang  pada frase ini bersifat fakultatif artinya boleh digunakan dan boleh juga tidak karena tidak mengubah arti. Kesalahan kedua, pada frase itu ialah penggunaan kata depan di. Di depan kata keterangan waktu hendaknya digunakan kata depan pada. Kata depan di hendaknya digunakan di depan kata benda yang menyatakan tempat, misalnya di kantor, di sekolah, di pasar, dan lain-lain. Jadi, kalau kalimat di atas dikembalikan pada kalimat yang sesuai dengan ragam baku, maka kalimat itu seperti di bawah ini.
1. Sampai berjumpa pada kesempatan lain.
2. Sampai berjumpa lagi pada kesempatan lain.
3. sampai bersua lagi pada kesempatan lain.
4. sampai bertemu lagi pada kesempatan lain.





8. PENGHILANGAN UNSUR BAHASA

            Dalam pemakaian bahasa tampak dua hal yang bertentangan sering dilakukan oleh pemakaia bahasa. Kadang-kadang orang dengan sengaja menghilangkan unsur-unsur bahasa tertentu, padahal unsur bahasa itu perlu digunakan. Sebaliknya, kadang-kadang orang juga menambahkan unsur-unsur bahasa yang justru sebenarnya tidak diperlukan. Kedua hal itu akan dibicarakan sebagai berikut.   

Penghilangan Kata  
Akhir-akhir ini dalam pemakaian bahasa Indonesia sering kita jumpai penghilangan unsur kata depan dalam frase atau kalimat: dengan, atas, oleh, kepada, bagi.
1. Dengan  
            Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa ungkapan yang terdidi atas frase dengan kata depan dengan. Frase yang dibentuk dengan kata depan dengan adalah sebagai berikut.
  1. berhubung dengan
  2. berhubungan dengan
  3. bertalian dengan
  4. berkenaan dengan
  5. bertepatan dengan
  6. berkaitan dengan
  7. berelasi dengan
  8. berbeda dengan
  9. berlainan dengan
  10. selaras dengan
  11. sesuai dengan
  12. seiring dengan
  13. seirama dengan
  14. sejalan dengan
  15. bertentangan dengan
Frase itu sudah merupakan ungkapan tetap sehingga kata depan pada frase-frase itu tidak boleh dihilangkan begitu saja.
Contoh:
1. Berhubung saya sakit, saya tidak masuk kantor hari ini.
Dalam kalimat (1) di atas orang mengatakan berhubung saya sakit .......; kata depan dengan  di belakang kata berhubung dihilangkannya. Ini tidak tepat. Kata berhubung disamakannya dengan dengan kata karena, padahal kedua kata itu tidak sama Kata berhubung dengan digunakan bila peristiwa yang pertama ada hubungannya dengan peristiwa ke dua, sedangkan kata karena digunakan bila peristiwa yang disebutkan pada klausa pertama menyatakan sebab peristiwa yang disebutkan pada klausa yang satu lagi.
Kalimat tadi haruslah diubah menjadi:
1a. Karena saya sakit, saya tak dapat masuk kantor hari ini.
1b. Berhubung dengan kesehatan saya agak terganggu, saya tak dapat masuk kantor hari  ini

2. Sesuai keputusan rapat....  
            Sering juga orang mengatakan sesuai keputusan rapat…; seharusnya dikatakan sesuai dengan keputusan rapat…; Kata dengan mengeksplisitkan hubungan antara sesuai dan keputusan; jangan dihilangkan. Jadi, haruslah dikatakan, sesuai dengan keputusan rapat….
1. Sesuai tujuan pembicaraan, dalam makalah ini hanya dibicarakan peranan koperasi dalam pembangunan.
2. Hargailah orang lain sesuai kodratnya.
Dalam kalmat (2) dan (3) itu terdapat penghilangan kata depan dengan. Penghilangan itu sesungguhnya salah sebab sesuai dengan itu merupakan ungkapan tetap. Oleh karena itu, kata depan dengan tidak boleh dihilangkan, sehingga kedua kalimat tersebut harus diubah menjadi:
2a. Sesuai dengan tujuan pembicaraan, dalam makalah ini hanya dibicarakan peranan koperasi dalam pembangunan.
3a. Hargailah orang lain sesuai dengan kodratnya.

2. Atas  
            Akhir-akhir ini kita lihat kecenderungan orang menghilangkan kata depan atas pada frase terdiri atas. Frase ini biasa pula dijadikan orang terdiri dari. Jadi, alih-alih menggunakan kata depan atas, dan lebih sering orang sekarang menggunakan kada depan dari di belakang kata terdiri. Seperti sudah dikatakan di atas, frase itu sudah merupakan ungkapan tetap. Oleh karena itu, jangan dihilangkan atau dibuang kata depan atas yang menyertai kata itu.
            Perhatikan : Rumah itu terdiri tiga kamar tidur; penggunaan kata terdiri seperti itu tidak tepat. Seharusnya dikatakan Rumah itu terdiri atas tiga kamar tidur.

3. Bagi  
            Sering kita dengar kata depan bagi dalam frase diperuntukkan bagi dihilangkan orang saja. Misalnya dalam kalimat Zakat fitrah itu diperuntukkan bagi fakir miskin. Kata bagi di depan fakir miskin dihilangkan sehingga kalimat menjadi Zakat fitrah itu diperuntukkan fakir miskin. Hubungan gatra diperuntukkan dengan fakir miskin dalam kalimat itu seolah-olah menjadi lepas. Frase diperuntukkan bagi merupakan ungkapan tetap (frase berkata depan bagi). Oleh karena itu, jangan dihilangkan begitu saja kata depan bagi dalam frase itu.
            Kalimat Saya kurang  jelas yang sering juga diucapka orang jika ingin meminta agar keterangan yang diberikan orang lain diulangi sekali lagi. Kalau dikatakan demikian, berarti bahwa yang belum jelas itu saya . Padahal, yang belum  jelas itu ialah keterangan yang diberikan orang itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya adalah kata depan bagi di depan kalimat itu dihilangkan, sehingga makna kalimat menjadi lain. Seharusnya dikatakan Bagi saya kurang jelas. Lengkapnya kalimat itu  Keterangan itu bagi saya kurang  jelas. Kata depan bagi dalam kalimat itu sama sekali tidak boleh dihilangkan.

Penghilangan Imbuhan   
1. Awalan ber-  
Selain penghilangan kata dalam frase, kita juga sering melihat penghilangan imbuhan pada kata-kata bentukan yang seharusnya tidak boleh terjadi seperti pada kata-kata berikut ini.
            Kata jumpa seperti pada sampai jumpa lagi, seharusnya ditambah ber- sehingga menjadi berjumpa seperti pada sampai berjumpa lagi.
            Kata jumpa merupakan bentuk prakategorial, sama halnya dengan temu, sua, yang tidak pernah berdiri sendiri, seperti dalam sampai temu lagi atau sampai sua lagi. Kalau bentuk sampai temu lagi tidak pernah digunakan, maka  penggunaan sampai jumpa lagi dalam bahasa tulis atau bahasa lisan ragam resmi termasuk bentuk yang tidak benar. Perhatikan contoh berikut.

Kesalahan Umum
  1. Sampai jumpa lagi di ibu kota tercinta.
  2. Ketika saya datang, mereka sudah kumpul di rumah.
  3. Silakan Saudara bicara dengan terus terang di depan petugas.
  4. Keluarga kami akan musyawarah lagi tentang harta peninggalan kakek.
  5. Saya akan cerita tentang pengalaman saya ketika bertugas di Amerika.
  6. Kita harus rela korban jiwa untuk mempertahankan kedaulatan negara kita dari ganguan musuh
Kata-kata  jumpa, kumpul, bicara, musyawarah, cerita dan korban di atas merupakan kata dasar yang dijadikan predikat kalimat. Sementara itu, semua kalimat di atas termasuk kalimat aktif transitif. Seharusnya bentuk kata kerja intransitif dalam kalimat itu adalah berjumpa, bekumpul, berbicara, bermusyawarah, bercerita, berkorban, sehingga perbaikan kalimatnya menjadi sebagai berikut.

Bentuk yang Dianjurkan
1a. Sampai berjumpa lagi di ibu kota tercinta.
2a. Ketika saya datang, mereka sudah berkumpul di rumah.
3a. Silakan Anda berbicara dengan terus terang di depan petugas
4a. Keluarga kami akan bermusyawarah lagi tentang harta peninggalan kakek.
5a. Saya akan bercerita tentang pengalaman saya ketika bertugas di Amerika.
6a. Kita harus rela berkorban jiwa untuk mempertahankan kedaulatan Negara kita dari gangguan musuh

2. Awalan meN-
            Ada juga gejala penghilangan awalan meN- dalam pemakaian bahasa Indonesia. Penghilangan awalan meN- ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya, terjadilah pencampuradukan ragam lisan dan ragam tulisan yang menghasilkan suatu bentuk kata yang salah. Kita sering menemukan penggunaan kata-kata: nyuap, nabrak, nyubit, nangis, dan nyari. Dalam bahasa Indonesia baku, kita harus menggunakan awalam meN- secara eksplisit, sehingga kata-kata itu menjadi: menyuap, menabrak, mencubit, menangis, dan mencari. Perhatikan contoh di bawah ini.

Kesalahan Umum
  1. Penyelundup itu berusaha nyuap petugas, tetapi petugas menolaknya.
  2. Pengendara motor itu nabrak pejalan kaki.
  3. Ibu itu nyubit anaknya yang nakal.
  4. Anak itu menganggu temannya sampai nangis.

Bentuk baku
  1. Penyelundup itu berusaha menyuap petugas, tetapi petugas menolaknya.
  2. Pengendara motor itu menabrak pejalkan kaki.
  3. Ibu itu mencubit anaknya yang nakal.
  4. Anak itu mengganggu temannya sampai menangis.

Konsep awalan me- dan meN-
            Dahulu kita mengenal awalan  me-, dengan penjelasan sebagai berikut:
Awalan me- “memperoleh” /m/ di depan kata-kata yang berawal dengan /p/ dan /b/; “memperoleh” /n/ di depan kata-kata yang berawal dengan /d/, /t/; “memperoleh”  /ng/ di depan kat-kata yang berawal dengan /k/, /g/, /h/; “memperoleh” /ny/ di depan kata-kata yang berawal dengan /c/, /j/, dan /s/. Di depan /y/, /r/., /l/, /w/  me tetap  saja me.
            Konsep ini sekarang berubah. Kita melihat tadi bahwa me- itu tidak berubah atau tidak “memperoleh” apa-apa hanya di depan empat fonem saja, yaitu /y/, /r/, /l/, dan /w/. Di depan semua vokal dan sisa konsonan yang lain ternyata bahwa me- itu memperoleh /m/, /n/, /ng/, /ny/, semuanya adalah fonem Nasal. Karena penambahan ini terasa lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang tidak memperoleh apa-apa tadi, maka lebih “demokratis” kalau jumlahnya banyak ini dipakai sebagai pegangan dan yang jumlahnya sedikit tadi dianggap sebagai “kekecualian”. Berdasarkan konsep ini, maka kita sekarang tidak lagi mengatakan adanya awalam me-, melainkan awalan meN- (dengan catatan bahwa N- ini adalah singkatan dari Nasal, rangkuman dari semua bunyi nasal atau sengau yang empat tadi).
            Kalau dengan me- kita bertolak dari “tidak ada” menjadi “ada” (yaitu memperoleh nasal), maka dengan meN- kita bertolak dari “ada” (yaitu ada nasal di situ). Karena yang ada di situ tadi merupakan abstraksi (yaitu N) dari empat fonem, maka kita mengatakan bahwa meN- ini berubah menjadi “wujud” (realisasi) yang sebenarnya dari N itu, yaitu /m/, /n/, /ng/, /ny/.
            Tentang me-, sekarang kita mengatakan demikian. Di dalam ilmu pengetahuan kita memerlukan sistem yang ajeg. Karena terhadap yang nasal-nasal tadi kita mengatakan “N” berubah menjadi ...”, maka untuk me- kita harus mengatakan begitu, supaya tetap bersistem, tetap ajeg. Karena itu, kita berkata meN- berubah menjadi me0 (baca me- kosong atau zero), di mana “kosong” (yang ditandai dengan 0) itu berarti juga memperoleh “N” tetapi “tidak memperoleh apa-apa”.
            Akhir-akhir ini kita mengenal kata-kata bersuku satu, seperti tes, bom, pak, cek, yang kalau diberi awalan me- menjadi mengetes, mengebom, mengepak, mengecek.  Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa sekarang meN  bisa berubah menjadi menge- di depan kata-kata bersuku satu.
            Sejalan dengan perubahan yang terjadi pada meN-, awalan peN- pun mengubah konsep pe-. Sekarang kita bisa mengatakan awalan peN- berubah menajadi pem-, pen, peng, peny dan penge- (pengetesan, pengeboman, pengepakan, pengecekan).
            Karena kedua awalan ini bersangkutan dengan berubahnya nasal, dari abstraksi menjadi realisasi, maka kita bisa berbicara tentang proses nasal atau nasalisasi.
            Sampai sekian jauh kita masih berbicara tentang kata dasar dan imbuhan, khususnuya awalan dan akhiran, dan itu pun tidak kita bicarakan semua imbuhan.

Konfiks dan Simulfiks
Di samping itu, terdapat juga  konfiks dan simulfiks. Kedua istilah ini sering membingungkan karena keduanya sering dikacaukan. Saya ingin kembali kepada istilah dalam bahasa Inggris saja.
            Dalam bahasa Inggris ada istilah simultaneous afixes, disingkat menjadi simulfix yang kemudian diindonesiakan menjadi simulfiks. Sesuai dengan namanya yang simultaneous itu, maka di sana harus ada unsur simultan atau sekaligus. Artinya, yang disebut simulfiks itu adalah dua buah afiks (imbuhan ) yang hadir secara simultan atau sekaligus. Contohnya adalah ke-an (dalam misalnya kedudukan, kebiasaan). Dalam kata-kata ini tidak ada bentuk keduduk atau dudukan, kebiasa atau biasaan; per-an (dalam misalnya, perkebunan, perikanan). Tidak ada bentuk perkebun atau kebunan, perikan atau ikanan; se-nya (dalam misalnya sesungguhnya). Tidak ada sesungguh atau sungguhnya. Afiks-afiks  (imbuhan-imbuhan itu melekat secara simultan atau sekaligus. Dengan demikian, afiks itu disebut dengan simulfiks. Kata-kata tersebut terdiri atas dua morfem, yaitu morfem (ke-an) + duduk; (ke-an) + biasa; (per-an) + kebun, (per-an) + ikan; (se-nya) + sungguh.
            Di samping itu, ada istilah combination afixes (afiks kombinasi atau gabungan afiks), atau continuous afixes (afiks besinambung). Keduanya (continuous afixes) disingkat menjadi confix atau diindonesiakan menjadi konfiks. Sesuai dengan namanya itu, maka istilah konfiks itu mengacu kepada dua atau tiga afiks yang datangnya tidak simultan atau tidak sekaligus, melainkan berturut-turut, satu demi satu. Contohnya adalah ber-an (dalam misalnya berpakaian). Pada kata ini pada mulanya ada kata dasar pakai, kemudian  melekat akhiran –an, sehingga terdapat bentuk dasar pakaian. Selanjutnya dari bentuk dasar pakaian mendapat awalan ber- sehingga menjadi berpakaian. Dengan demikian, kata tersebut terdiri atas tiga morfem, yaitu ber+ pakai+ an.  Kata padu dibubuhi ter-, menjadi terpadu, kemudian diibuhi lagi ke-an sehingga menjadi keterpaduan.
            Dari adanya contoh-contoh tentang konfiks inilah muncul konsep tentang kata dasar dan bentuk dasar serta konsep tentang bagian langsung atau unsur langsung.
            Kita lihat bahwa dari kata dasar padu bisa dijadikan terpadu; dan dari terpadu dijadikan keterpaduan. Kita mengatakan terpadu adalah bentuk dasar dari bentukan keterpaduan. Kata padu di samping kata dasar juga bentuk dasar dari bentukan terpadu. Jelasnya: bentuk dasar adalah bentuk yang menjadi dasar bagi bentuk yang lebih besar.
            Berdasarkan proses itu, maka kalau kita menganalisis atau “memecah-mecah” bentukan yang “lebih besar” tadi menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang lebih kecil, maka prosesnya kita balik, sehingga akan ditemukan analisis seperti:
            padu --- > terpadu --- > keterpaduan
menjadi:
keterpaduan --- > terpadu  +  (ke – an)  --- > (ter + padu )  + (ke-an)
atau begini:
                                                       keterpaduan 
                                    ke-an                                                  terpadu

                                                                        ter-                               padu 


9. KATA DAN AKHIRAN ASING

Kata Asing
            Pemakai bahasa Indonesia yang memiliki kemahiran menggunakan bahasa asing tertentu sering menyelipkan kata-kata asing yang dikuasainya dalam pembicaraan atau tulisannya. Kemungkinannya adalah pemakai bahasa itu ingin memperagakan kebolehannya atau bahkan ingin meperlihatkan keintelekannnya kepada khalayak . Dia tidak sadar tindakannya itu kurang terpuji. Dalam hubungan ini, ada kaidah yang menyatakan bahwa jika kita berbahasa Indonesia, berbahasa Indonesialah dengan baik. Jika kita berbahasa asing , berbahasa asinglah dengan baik. Dengan kata lain, kita tidak boleh mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing sekaligus dalam suatu kesempatan.
Misalnya

Kesalahan Umum
  1. Dalam work shop ini akan dibahas working paper agar diperoleh input bagi kta semua.
  2. Kita harus segera menuyusun project proposal dan sekaligus butgeting-nya.
  3. At last, semacam task force perlu dibentuk dahulu untuk job ini
  4. Coba you kemukakan planning pementasan drama tersebut.
  5. Kita harus segera mengadakan cross check dengan dinas terkait.
  6. Pimpinan dan karyawan harus mengadakan approach untuk membicarakan masalah kepegawaian.
Memang kalimat-kalimat itu terasa hebat karena sudah dibumbui bahasa asing. Hanya sayang pembicara tersebut tuna harga diri terhadap bahasanya sendiri. Ia merasa lebih bangga menggunakan kata-kata asing daripada menggunakan kata-kata bahasanya yang sebenarnya harus lebih dibanggakan. Kalimat-kalimat seperti itu hanya dapat dipahami oleh segelintir orang yang sudah beruntung mengikuti pendidikan yang memadai, tetapi belum tentu dapat dipahami oleh orang-orang yang berpendidikan rendah, bahkan tidak mustahil bagi mereka yang tidak mengerti kata-kata asing tersebut. Akan lain kesan mereka jika kalimat itu diucapkan sebagai berikut.
Bentuk Yang Dianjurkan
  1. Dalam sanggar kerja ini akan dibahasa beberapa kertas kerja agar diperoleh masukan bagi kita semua.
  2. Kita harus segera menyusun rancangan kerja dan sekaligus rancangan biayanya.
  3. Akhirnya, semacam satuan tugas perlu dibentuk dahulu untuk pekerjaan ini
  4. Coba Anda /Saudara kemukakan rencana pementasan drama tersebut.
  5. Kita harus sering mengadakan saling koreksi dinas terkait
  6. Pimpinan dan karyawan harus mengadakan pendekatan untuk membicarakan masalah kepegawaian.
Ada gejala lain
Di setiap jalan raya di kota-kota banyak terpampang papan nama yang menggunakan kata asing, bahkan di desa terpencil pun terpampang papan nama yang mengunakan kata asing. Padahal, selama ini belum pernah seorang turis asing yang berkunjung ke desa itu. Alasan penggunaannya mungkin sama, yakni ingin agar papan nama itu bergengsi, atau sekadar gagah-gagahan, yang belum tentu pemasangnya sendiri mengerti betul arti tulisan yang dipampangkannya. Padahal, jika kita ingin menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, penggunaan kata-kat asing yang sudah ada padanannya itu dalam bahasa Indonesia tidak perlu. Kata asing hanya dapat digunakan jika memang betul-betul diperlukan dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Perhatikan kata-kata asing di bawah ini. 

Bentuk Tidak Baku                                                  Bentuk Baku 
1.                                                                                                                        Sederhana Taylor                       1. Penjahit Sejahtera
  1. Barber Shop                                     2.  Pemangkas Rambut
  2. Supermarket                                    3.  Pasar Swalayan
  3. Coffe Shop                                      4.  Kedai Kopi
  4. Video Rental                                   5.  Penyewaan Video
  5. Agung Shop                                    6 . Toko Agung
  6. Garuda Theater                               7.   Bioskop Garuda
  7. Royal Furniture                              8.   (Toko) Mebel Royal
  8. Computer Center                            9.   Pusat Komputer
Contoh lain:
1. Ranking
Adik ranking berapa?
            Kata ranking (Inggris) berarti ‘pemeringkatan’ yang berasal dari kata dasar rank yang berarti ‘peringkat’. Jika kata ranking yang digunakan dalam pengertian peringkat , seperti dalam kalimat pertanyaan  Adik ranking berapa? Pemakaian kata ranking itu tidak tepat. Ranking yang berarti ‘pemeringkatan’ atau berarti ‘hal atau perbuatan, cara menyusun urutan berdasarkan tolok ukur tertentu’, seperti juimlah nilai mata pelajaran dalam rapor seorang anak. Kedudukan anak tersebut dalam kelasnya disebut peringkat atau rank. Kalimat  Adik ranking berapa?, harus diubah menjadi Adik peringkat berapa?

2. Free parking
            Di halaman apotek, tempat praktek dokter, atau pasar swalayan terpampang tulisan free parking diartikan dengan ‘bebas parkir’.
            Kurang tepat jika free parking dipadankan dengan kata bebas parkir.
Yang benar untuk free parking adalah parkir gratis, parkir tanpa bayar.
Bebas parkir seharusnya diartikan dengan ‘dilarang parkir’ atau no parking. Dalam bentuk ekplisit bebas dari parkir.  

Akhiran Asing
            Ada beberapa akhiran asing yang perlu kita bicarakan karena bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia hasil pengindonesiaan kata-kata asing itu yang pemakaiannya masih belum mantap. Perubahan bentuk lama ke bentuk baru berdasarkan buku Pedomam Umum Ejaan yang Disempurnakan dan buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah belum ditaati oleh pemakai bahasa Indonesia secara menyeluruh, sehingga sampai saat ini kita masih melihat adanya bentuk kembar atau bersaing antara bentuk lama dengan bentuk baru. Secara rinci akhiran asing itu akan dpaparkan berikut ini.

 1. Akhiran –sasi atau -isasi
            Akhiran –isasi kita jumpai pada kata-kata bentukan seperti spesialisasi, modernisasi, liberalisasi, netralisasi. Bandingkan dengan bahasa Belanda : socialisatie, modrenisatie, liberalaisatie, netralisatie, dan bahasa Inggris specialization, modernization, neutralaization. Dalam buku Pedomamn Pembentukan Istilah dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ditentukan sebagai berikut: -(a)tie, (a) tion menjadi  -asi, si
            actie, action menjadi aksi
publicatie, publication menjadi publikasi
Dalam pemakaian bahasa, selalu tampak bahwa pemakai bahasa Indonesia sering lebih senang menggunakan kata asing walaupun dalam bahasa Indonesia telah ada kata Indonesia  yang searti dengan kata asing itu. Atau menggunakan bentukan yang meniru bentukan asing walaupun dalam bahasa Indonesia ada cara membentuk kata dengan pengertian seperti itu. Misalnya, orang lebih senang menggunakan bentuk modernisasi daripada pemodernan, netralisasi daripada penetralan; indonesianisasi daripada pengindonesiaan.  Oleh karena itu, muncul bentuk-bentuk seperti turinisasi ‘penghijauan dengan menanam pohon turi’, pompanisasi’ pemakaian pompa untuk mengairi sawah’.
 Analogi bentukan semacam itu sebaiknya dibatasi. Kalau bisa, gunakanlah cara asli dalam bentuk kata-kata Indonesia. Misalnya, dalam hal seperti itu, bila dapat gunakan imbuhan pe-an dan  tidak menggunakan bentukan dengan –sasi. Pengindonesiaan tidak usah dikatakan Indonesianisasi, dan sebagainya.

2. Akhiran –ir 
Pemakaian akhiran –ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini. Dalam bahasa Indonesia baku akhiran yang tepat untuk padanan akhiran –ir adalah –asi atau –isasi. Jadi bentuk yang baku adalah dilegalisasi, bukan dilegalisir. Mengapa dalam bahasa Indonesia dipilih dilegalisasi, bukan dilegalisir. Penjelasannya sebagai berikut.
Kata benda legalisasi diserap dari kata legalisatie (Belanda) atau dari kata benda legalization (Inggris). Jika kata benda legalisasi ini dijadikan kata kerja dengan ditambah imbuhan –me atau di-, hasilnya menjadi melegalisasi atau dilegalisasi.
Banyak orang menganggap bahwa legalisir yang benar karena katanya, kata tersebut diserap berdasarkan bunyinya legaliseren (Belanda). Memang dalam bahasa Belanda terdapat kata legaliseren, tetapi kelas katanya kata kerja yang artinya ‘mengesahkan’ . Jika kata kerja legalisir yang sudah berarti ‘mengesahkan’ itu ditambah lagi dengan imbuhan me- hasilnya menjadi melegalisir. Ini sama dengan me + mengesahkan, sehingga hasilnya menjadi memengesahkan. Demikian juga, jika legalisir yang sudah berarti ‘mengesahkan’ ditambah imbuhan –di sehingga hasilnya menjadi dimengesahkan. Ini merupakan bentuk tidak benar.
Sebagai bandingan, ikutilah penjelasan berikut tentang kata proklamasi dan proklamir. Kata yang baku ialah proklamasi, bukan proklamir. Kata proklamasi diserap dari kata benda proclamatie (Belanda) atau dari kata benda proclamation (Inggris). Jika kata proklamasi diberi imbuhan me- atau di-, hasilnya menjadi memproklamasikan atau diproklamasikan. Kata proclameren (Belanda) tidak diserap menjadi proklamir karena kata tersebut dalam bahasa aslinya diperlakukan sebagai kata kerja yang berarti ‘mengumumkan‘. Jadi, jika kata proklamir yang sudah berarti mengumumkan’ ditambah imbuhan me- yang hasilnya menjadi memproklamirkan, arti yang dikandungnya sangat tidak mungkin, yaitu ‘memengumumkan’, atau jika ditambah awalan di-, menjadi diproklamirkan, artinya tidak logis ‘dimengumumkan’. Itulah sebabnya kita menyerap dari proclamatie (Belanda) atau proclamation (Inggris) yang tergolong kata benda. Jika proklamasi ditambah me- atau di-, hasilnya menjadi memprokalmasikan atau diprokalmasikan yang berarti ‘mengumumkan  atau diumumkan’. Akhiran –ir yang sering dijumpai terdapat pada kata-kata berikut.
Bentuk salah
  1. Ijazah Saudara harus dilegalisir dahulu oleh Dekan Fakultas Ekonomi.
  2. Perbuatan maksiat sebaiknya tidak usah dilokalisir.
  3. Saya sanggup mengkoodinir kegiatan itu.
  4. Sukarno Hatta memproklamirkan negara Republik Indonesia.
Bentuk yang benar
  1. Ijazah Saudara harus dilegalisasi dahulu oleh Dekan fakultas Ekonomi.
  2. Perbuatan maksiat sebaiknya tidak usah dilokalisasi.
  3. Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu.
  4. Sukarno-Hatta memprokalmasikan negara Republik Indonesia.     
Contoh lain yang sering digunakan dalam bentuk yang salah: terealisir, teroganisir, mendominir, mengakomodir, dinetralisir. Bentuk tersebut haruslah diungkapkan: terealisasi, terorganisasi, mendominasi, mengakomodasikan, dinetralisasi



3. Akhiran –is
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata-kata ekonomis, praktis, logis. Kata-kata itu diserap dari dari bahasa Belanda : economisch, practisch, logisch. Jadi, akhiran bahasa Belanda –isch dijadikan is dalam bahasa Indonesia. Kata-kata dengan akhiran –ish seperti di atas dalam bahasa Belanda merupakan merupakan kata sifat, demikian juga kata-kata Indonesianya. Ekonomis artinya ‘bersifat ekonomi, maksudnya ‘mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi’, praktis artinya ‘mudah diterapkan di dalam praktek’.
Kata-kata di atas dalam bahasa Inggris: economical, practical, logical. Kalau kata-kata Inggris itu yang diserap, tentulah dalam bahasa Indonesia bentuknya ekonomikal, praktikal, logikal. Tetapi, bentuk-bentuk dengan akhiran –ikal seperti itu, pada umumnya, tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia . Dalam buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah, dikatakan bahwa kata-kata Inggris yang berakhir –ical, dalam bahasa Indonesia dijadikan kata dengan akhir -is.
Yang perlu diperhatikan ialah bahwa akhiran –is dalam bahasa Indonesia tidak diambil dari –isch saja (Belanda) sebab kita mengambil kata asing itu secara utuh, artinya kata itu diserap sekaligus dengan akhirannya. Kemudian ejaannya (cara penulisannya) disesuaikan dengan cara penulisan dalam bahasa Indonesia. Kebanyakana kata-kata dengan akhiran –is dalam bahasa Indonesia berasal; dari bahasa Belanda. Namun, dalam pekembangannya bahasa Indonesia akhir-akhir ini, kita melihat bahwa akhiran -is itu mulai melampaui batas asalnya. Maksudnya, akhiran –is mulai dipakai pada bentuk-bentuk dasar yang bukan bahasa Belanda saja, melainkan pada bentuk dasar dari bahasa lain.
Contohnya, dalam bahasa Indonesia, kita jumpai sekarang kata-kata seperti: Pancasilais yaitu (orang-orang) yang menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam tindak-tanduknya, tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau akhiran –is itu menjadi lebih produktif sehingga banyak kata Indonesia yang diberi akhiran –is dengan maksud menyatakan sifat, maka akhiran –is itu pastilah dapat dimasukkan dalam kelompok akhiran (sufiks) bahasa Indonesia; dengan perkataan lain, akan kita akui sebagai akhiran bahasa Indonesia seperti juga akhiran –wan dari bahasa Sanskerta.
Ada lagi akhiran -is yang dalam bahasa Indonesia seperti yang kita jumpai pada kata-kata: idealis, egois. Kata-kata itu pun diserap dari bahasa Belanda secara utuh yang ejaannya  disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Kata-kata itu berasal dari:  idealist, egoist. Jadi, akhiran –is pada kata-kata itu bukan kata sifat. Kata benda: idealis ialah ‘seseorang yang mementingkan cita-cita, seorang yang tinggi cita-cita; tidak mendasarkan pekerjaannya atas imbalan materi, tetapi atas suatu tujuan yang mulia. Seorang dikatakan egois apabila ia terlalu mementingkan “ego” nya, dirinya sendiri, keinginan dan kepentingan sendiri.  

4. Akhiran –al
            Di dalam buku Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan dikatakan sebagai berikut:
-eel, -aal, -al, menjadi –al
            structureel,                  structural                     à struktural
            formeel                        formal                          à formal
            rationeel                      rational                        à rasional
            ideaal                           ideal                            à ideal
            normaal                       normal                         à normal
           
            Kata-akata asing di atas dalam lajur sebelah kiri ialah kata-kata yang berasal dari bahasa Belanda dan yang pada lajur kanan berasal dari bahasa Inggris. Jadi, kata-kata dengan bentuk akhir –eel atau –aal dari bahasa Belanda sama maknanya dengan kata-kata Inggris yang berakhir –al. Sebelum EYD, kata-kata seperti itu yang berakhir –eel (Belanda) diindonesiakan menjadi kata dengan akhir –il karena bunyi akhiran bahasa Belanda cenderung ke bunyi –il. Jadi, kata-kata di atas menjadi strukturil, formil, rasionil. Berdasarkan ketentuan baru seperti yang tercantum dalam buku Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan dan buku Pedoman Pembentukan Istilah, maka kata-kata itu menjadi struktural, formal, rasional.
            Dengan mengambil bentuk –al bukan –il, kita melihat kesejajaran bentuk antara kata-kata bentukan yang seasal morfem dasarnya; bentuknya lebih mirip. Misalnya, formal dan formalitas.
            Anda mungkin bertanya. Apakah semua kata yang dahulu dibentuk dengan –il itu harus diubah menjadi kata dengan bentuk –al? Jawabannya, kata-kata yang dahulu berakhir –il seperti kata-kata yang dicontohkan di atas, harus diubah bentuknya menjadi kata dengan bentuk akhir –al. Namun ada juga kecualinya.
            Kalau ada dua bentuk yang berbeda karena yang satu berakhir –il dan yang satu lagi berakhir –al, mengandung arti yang berbeda, maka kedua bentuk tu tetap dibiarkan seperti itu, artinya kata dengan bentuk akhir –il tidak usah diubah menjadi kata dengan bentuk –al.
            Misalnya, kata moril dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Belanda moreel dan kata moral yang diserap dari bahasa Belanda moraal dan bahasa Inggris moral memiliki makna yang berbeda. Bantuan moril misalnya, tidak bisa diubah menjadi bantuan moral. Pendidikan moral (=pendidikan akhlak) tidak bisa diubah menjadi pendidikan moril. Tiap bentuk itu memiliki maknanya sendiri. Oleh karena itu, kedua bentuk itu tetap dipertahankan.
            Demiakian juga kata idiil (dari bahasa Belanda ideeel) tidak dapat diubah menjadi ideal (dari bahasa Belanda ideaal; bahasa Inggrisnya ideal) . Oleh karena masing-masing bentuk itu memiliki makna sendiri, maka kedua bentuk itu tetap dipertahankan. Misalnya,  suami yang ideal (yang sangat diidam-idamkan oleh setiap wanita), tentu tidak dapat dikatakan seorang suami yang idiil. Demikian juga, landasan idiil negara kita ialah Pancasila, tidak dapat diubah dengan mengatakan landasan ideal negara kita ialah Pancasila.

5. Akhiran –i atau –wi
Dalam bahasa Indonesia, dikenal kata-kata dengan akhiran –i atau –wi seperti badani, insani, alami, duniawi. Di samping itu, dikenal juga kata-kata badan, insan, alam, dunia. Jadi, ada dua macam bentuk yang diserap dari bahasa Arab yaitu bentuk dasar dan bentuk dengan akhiran –i atau –wi.
Akhiran –i atau –wi dari bahasa Arab itu bukan dua akhiran atau dua macam akhiran, melainkan satu akhiran karena keduanya mewakili satu morfem atau merupakan alomorf. Perbedaan bentuknya itu timbul karena lingkungan yang dimasukinya berbeda. Bila kata dasar berakhir dengan konsonan, seperti dalam contoh kata  di atas, yaitu /n/ dan /m/, maka akhiran yang muncul ialah /i/, sedangkan bila bentuk dasar itu berakhir dengan vokal /a/, maka akhiran yang muncul ialah –wi. Bandingkan dengan awalan me- yang dapat mengalami variasi bentuk : mem-, men-. meng-, meny-, me-, dan menge-.
Melihat penggunaan akhiran –i atau –wi dalam bahasa Indonesia dewasa ini, kita dapat mengatakan bahwa akhiran itu sudah menjadi akhiran bahasa Indonesia karena akhiran iu sudah dilekatkan pada bentuk-bentuk dasar yang tidak berasal dari bahasa Arab. Kita mengenal bentuk bahasa Indonesia manusiawi. Bentuk dasar kata itu bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan kata Indonesia yang berasal dari bahasa Sanskerta. Akhiran –i atau –wi ini mempunyai arti “’ mempunyai sifat’.  Manusiawi artinya ‘mempunyai sifat manusia’.

10. PEMAKAIAN BENTUK-BENTUK DI MANA, DALAM MANA,
DI DALAM MANA, DARI MANA, DAN YANG MANA SEBAGAI PENGHUBUNG

            Dalam bahasa Indonesia sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sebagai penghubung. Contoh-contohnya sebagai berikut:
(1) Rumah di mana ia tinggal sangat luas.
(2) Karmila membuka-buka album dalam mana ia menyimpan foto-foto barunya.
(3) Ia membuka almari di dalam mana ia meletakkan kunci sepeda motornya.
(4) Bila saya tidak bersekolah, saya tinggal di gedung kecil dari mana suara gamelan yang lembut dapat terdengar. 
(5) Sektor pariwisata yang mana merupakan tulang punggung perekonomian negara harus senantiasa ditingkatkan.
            Penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bentuk di mana sejajar dengan penggunaan where,
dalam mana dan di dalam mana sejajar dengan penggunaan in which, dari mana sejajajr dengan from which, dan yang mana sejajar dengan pemakaian which. Dikatakan dipengaruhi oleh bahasa Inggris karena dalam bahasa Ingris bentuk-bentuk itu lazim digunakan sebagai penghubung. Misalnya:
(6) The house where he lives is very large
(7) Karmila opened the album in which she had kept her new photographs.
(8) He opened the cupboard in which he put the key of his motorbike.
(9) If I have no class, I stay at the small building from which the sounds of gamelan can be listened smootly.
(10) The tourism sector which is the economoical back bone of the country must always be intensified.
Dalam bahasa Indonesia karena sudah ada penghubung yang lebih tepat, yaitu kata tempat dan yang sehingga contoh (!) – (5) di atas seharusnya diubah menjadi:
(1a) Rumah tempat ia tinggal sangat luas.
(2a) Karmila membuka-buka album tempat ia menyimpan foto-foto barunya.
(3a) Ia membuka almari tempat ia menaruh kunci sepeda motornya.
(4a) Bila saya tidak bersekolah, saya tinggal di gedung kecil tempat suara gamelan yang lembut dapat terdengar.
(5a) Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonimian negara harus senantiasa ditingkatkan.        
            Dalam bahasa Indonesia memang terdapat bentuk di mana, dari mana, dan yang mana, tetapi tidak lazim digunakan sebagai penghubung. Bentuk-bentuk itu lazimnya dipakai untuk menandai kalimat tanya. Bentuk di mana dan dari mana dipakai untuk menyatakan ‘tempat’, yaitu ‘tempat berada’ dan ‘tempat asal’, sedangkan yang mana untuk menanyakan ‘pilihan’. Misalnya:
(11) Saudara bekerja di mana?
(12) Di antara dua mesin tik ini menurut Anda yang mana yang terbaik?













.








11. KESALAHAN BAHASA DALAM SURAT RESMI

1. Pendahuluan
            Dalam pergaulan antarmasyarakat, kita tidak terlepas dari saling memberikan informasi atau saling berkomunikasi. Infomasi itu dapat berupa pemberitahuan, pertanyaan-pertanyaan, laporan, permintaan, dan lain-lain. Informasi itu dapat disampaikan kepada pihak lain dengan lisan atau tertulis.
            Informasi dapat disampaikan dengan lisan, jika pemberi informasi berhadap-hadapan atau bersemuka dengan penerima informasi. Menyampaikan informasi lewat telepon, radio, dan televisi dapat digolongkan ke dalam penyampaian informasi secara lisan, sedangkan menyampaikan informasi kepada orang lain dengan menggunakan surat digolongkan ke dalam penyampaian informasi secara tertulis.
            Surat sebagai sarana komunikasi tertulis mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan sarana komunikasi lisan karena surat merupakan bukti “ hitam di atas putih”. Di samping itu, kelebihan lainnya adalah pembaca dapat membacanya berulang-ulang apabila pembaca  belum paham dengan isi surat itu dan biaya yang diperlukan relatif murah bila dibandingkan dengan biaya yang diperlukan dengan mempergunakan sarana komunikasi yang lain, seperti telepon atau telegraf.
            Selain sebagai sarana komunikasi, surat juga mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai duta atau wakil penulis untuk berhadapan dengan lawan bicaranya. Oleh karena itu, sangat tepat jika dikatakan orang bahwa isi surat merupakan gambaran mentalitas pengirimnya.   

2. Format Surat
            Salah satu yang ikut juga menentukan baik atau kurang baiknya surat adalah formatnya. Yang dimaksud dengan format surat adalah tata letak atau posisi bagian-bagian surat. Dalam kegiatan surat-menyurat sehari-hari, kita melihat adanya berbagai bacam format surat yang digunakan oleh organisasi atau instansi. Hal ini menunjukkan bahwa dewasa ini belum ada pedoman yang baku. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dikemukakan beberapa format surat yang dianggap memadai dalam menulis surat resmi.
Format surat resmi pada instansi-instansi di Indonesia ada tiga macam variasi, yaitu
(1)   Format resmi Indonesia variasi I (setengah lurus).
(2)   Format resmi Indonesia variasi II (setengah lurus), dan
(3)   Format resmi Indonesia variasi III (lurus).
Perlu juga dikemukakan di sini bahwa format resmi variasi I tergolong format  resmi Indonesia yang lama. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa  dalam kegiatan surat- menyuratnya melazimkan penggunaan format resmi variasi II, yaitu format resmi Indonesia yang baru.
Perhatikan gambar berikut 
























FORMAT SURAT RESMI INDONESIA VARIASI   I
( Format surat resmi Indonesia lama)
Kepala Surat

Nomor      :                                                                              Tanggal
Lampiran  :                 
Hal           :
                                                                                                Yth. ...................
                                                                                                 .......................... Alamat
                                                                                                 ...........................
Salam pembuka,
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Pembuka
...................................................................................................................    
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Isi Surat
....................................................................................................................   
....................................................................................................................
            ........................................................................................................    Paragraf
....................................................................................................................    Penutup
...................................................................................................................                            

Tembusan:                                                                               Salam penutup                                   
.......................                                                                         Jabatan
.......................                                                                         tanda tangan
.......................                                                                        
Inisial                                                                                      Nama jelas


Format setengah lurus
FORMAT SURAT RESMI INDONESIA VARIASI   II
( Format surat resmi Indonesia Baru)
Kepala Surat

Nomor      :                                                                              Tanggal
Lampiran  :                 
Hal           :

Yth. ...................                                                                    
 ..........................                                                                                             Alamat
 ...........................

Salam pembuka,
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Pembuka
...................................................................................................................    
            .......................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Isi Surat
....................................................................................................................   
            ........................................................................................................    Paragraf
....................................................................................................................    Penutup
....................................................................................................................
Tembusan                                                                                            Salam penutup,
........................                                                                                    Jabatan
........................                                                                                    Tanda tangan
Inisial
Nama jelas

Format setengah lurus (format yang lazim digunakan oleh Pusat Bahasa)

FORMAT SURAT RESMI INDONESIA VARIASI   III
( Format surat resmi Indonesia Baru)
Kepala Surat

Nomor      :                                                                              Tanggal
Lampiran  :                 
Hal           :
Yth. ...................
 ..........................                                                                                             Alamat
 ...........................
Salam pembuka,
...................................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Pembuka
...................................................................................................................    
...................................................................................................................     Paragraf
...................................................................................................................     Isi Surat
....................................................................................................................    Paragraf
....................................................................................................................    Penutup
....................................................................................................................   
Salam penutup,
Jabatan
Tanda tangan
Nama jelas

Tembusan:                                                                  
......................................
......................................
Inisial
Format lurus

3. Kesalahan Penulisan Kepala Surat
            Sebaiknya, kepala surat disusun dan dicetak dalam bentuk yang menarik. Dalam kepala surat tercantum nama kantor, alamat, nomor telepon (apabila ada), nomor kotak pos (apabila ada); nama kantor cabang, nama bankir, bidang usaha, dan lambang instansi yang bersangkutan. Beberapa kesalahan bahasa dalam kepala surat terlihat dalam contoh berikut.
Misalnya:

Bentuk Salah
(1)   P.T. ASRI JAYA
Jln. Tanah Datar 5 – Ciledug – Tangerang – Jawa Barat
PO. Box 519/K.B.Y. Telp. 5.864.238
           
Kesalahan pertama dalam kepala surat di atas adalah penulisan P.T., yang menggunakan tanda titik. Singkatan itu merupakan singkatan  nama badan atau organisasi yang terdiri atas huruf awal kata . Oleh karena itu, singkatan itu  ditulis PT tidak diikuti tanda titik. Kesalahan berikutnya adalah penulisan Jln., yang mestinya dituliskan lengkap Jalan. Pembatas unsur-unsur alamat haruslah tanda koma, bukan tanda hubung seperti di atas  Yang benar adalah Jalan Tanah Datar 5, Cledug, Tangerang, Jawa Barat. PO Box merupakan kata asing yang berpadanan dengan bahasa Indonesia Kotak Pos. KBY juga harus ditulis tanpa titik. Kata Telepon. harus ditulis lengkap, bukan Telp. Dengan nomor telepon tanpa diberi tanda titik atau spasi, seperti 5.864.238 atau 5 864 238 karena bukan suatu jumlah, tetapi yang benar adalah 58624238. Kepala surat di atas disarankan dicetak sebagai berikut.
Seharusnya (Bentuk Baku)
(1a) PT ASRI JAYA
       Jalan Tanah Datar 5, Ciledug, Tangerang, Jawa Barat
       Kotak Pos 519/KBY Telepon 5864239  





4. Kesalahan Penulisan Nomor Surat
            Nomor surat sering disebut identitas surat sebab dalam penyimpanan atau pengarsipan surat cukup dengan disebut nomornya.
            Pada surat-surat dinas nomor surat sering dituliskan sebagai berikut.
Misalnya:
Bentuk Salah
1. Nomor: 456 / MKDU / ’87.-
Kesalahan penulisan nomor surat itu adalah penyingkatan angka dengan penggunaan tanda koma di atas 87 dan pencantuman titik dan tanda hubung setelah angka tahun. Kesalahan lain yang tampak dalam nomor surat itu adalah tanda garis miring yang didahului dan diikuti spasi. Menurut aturan yang berlaku, tanda garis mirng tidak didahului dan diikuti spasi. Perhatikan perbaikan yang disarankan.
Seharusnya  (Bentuk Baku)
(1a) Nomor: 456/MKDU/1987

5. Kesalahan Penulisan Lampiran
            Bagian lampiran tidak selamanya harus dicantumkan apabila misalnya, surat itu tidak melampirkan sesuatu. Jika bersama surat itu ada sesuatu yang dilampirkan, apa yang dilampirkan itu hendaknya dituliskan dengan lengkap. Akan tetapi, jika surat tersebut tidak melampirkan barang yang lain, seperti brosur, fotokopi, atau buku, kata lampiran tidak perlu dicantumkan dalam surat.
Miasalnya:
Bentuk Salah
(1) Nomor       : 221/U/1987
      Lampiran   : - ,, -
      Perihal: Rapat Penilaian
            Seperti tampak di atas, kata lampiran  dicantumkan tanpa memiliki fungsi yang jelas karena memang surat itu tidak melampirkan sesuatu. Pencantuman tanda hubung, tanda petik,atau mungkin angka nol (o) terasa sangat dipaksakan karena secara sekedar mengisi kekosongan tanpa tujuan yang jelas. Karena tanpa sesuatu yang dilampirkan, kata lampiran  tidak harus dicantumkan, seperti perbaikan berikut.
Bentuk Baku
(1a) Nomor: 221/U/1987
        Perihal: Rapat Penilaian 

6. Kesalahan Penulisan Hal Surat
            Hal atau perihal adalah bagian surat yang memuat pokok surat atau inti persoalan yang akan disampaikan dalam surat itu. Bagian ini berguna untuk memudahkan pembaca untuk mengetahui persoalan. Bagian ini tidak perlu ditulis panjang-panjang, tetapi singkat. Walaupun demikian pokok persoalan itu harus dapat mewakili keseluruhan maksud surat.
Misalnya:
Bentuk salah
(1) Perihal: Penentuan tentang Petugas Pameran dalam Dies
                         Natalis yang akan diadakan 2—3 Mei 1987.
                       
            Penerima surat akan banyak tersita waktunya hanya untuk membaca perihal surat yang ditulis panjang lebar dan lengkap. Padahal, informasi itu akan diulang lagi di dalam isi surat. Perhatikan perbaikannya.
Bentuk Baku
(1a) Perihal: Penentuan Petugas Pameran

7. Kesalahan Penulisan Tanggal Surat
            Dalam surat-surat dinas dan surat niaga, sebelum tanggal surat tidak perlu dicantumkan nama kota sebab nama kota itu sudah tercantum pada kepala surat.
            Dalam surat-surat pribadi atau surat dinas yang tidak menggunakan kepala surat, nama kota harus dicantumkan sebelum tangal surat. Selanjutnya, penulisan tanggal surat hendaknya, tanggal, bulan, dan tahun ditulis secra lengkap. Tanggal 28 Oktber 1985 tidak disingkat menjadi 28 Okt. 1985 atau diganti dengan lambang bilangan menurut urutannya, seperti (5) 28 -10 – ’85, (6) 10 – 11 – 1985, tetapi harus ditulis lengkap (5a) 28 Oktober 1985 dan (6a) 10 November 1985.


8. Kesalahan Penulisan Alamat Surat
            Selain dicantumkan pada sampul surat, alamat surat juga perlu dicantumkan pada lembar surat. Alamat surat hendaknya ditulis dengan jelas, singkat, dan lengkap.
            Penulisan alamat surat yang efisien dan efektif dapat dilakukan dengan aturan-aturan sebagai berikut.
(1) Alamat tidak diawali dengan kata kepada  sebab siapa pun sudah mengetahui bahwa alamat yang ditulis itu adalah alamat yang dituju. Selain itu, kata kepada    berfungsi sebagai kata penghubung intrakalimat yang menyatakan tujuan, sedangkan alamat surat bukan berupa kalimat, sama halnya dengan alamat pengirim yang tidak perlu menggunakan kata dari.
2)  Alamat pada lembar surat ditulis di sebelah kiri di antara perihal dan salam pembuka dengan tidak diikuti tanda baca apa pun.
(3) Kata sapaan seperti Bapak, Ibu, Saudara, dan Tuan tidak perlu ditulis di depan gelar, pangkat, dan jabatan. Kata sapaan digunakan jika diikuti langsung oleh nama orang yang dituju. 
Bentuk Salah
(1) Kepada Yth.
      Bapak Direktur CV Kencana
      Jln. Wonosobo No, 40
      SURABAYA
(2) Kepada Yth.
      Bapak Kepala Kantor Wilatah Ditjen Binaguna
      Propinsi Jawa Barat
      Jln. Taman Sari No. 32
BANDUNG  
(3) Kepada Yth.
      Bapak Drs. Edy Sanjaya
      Manjer Personalia PT Dahana
      Jln. Gajah Mada No. 127
      UJUNG PANDANG


(4) Kepada Yth.
      Bapak Kolonel Sumengkar
      Jl. Hasanudin IV/12
Kebon Kangkung
      BANDUNG

(5)Yth. Ibu Ir. Sulistiani
      Staf Bagian Perencanaan
      Direktorat Jalan Raya
      Depertemen Pekerjaan Umum
      Jalan Sutisna 15
      Jakarta

            Kesalahan pada (1) adalah penggunaan kata kepada dan Bapak. Selain itu, kata jalan hendaknya ditulis lengkap, tidak disingkat Jln. Nama kota Surabaya tidak perlu ditulis dengan kapital seluruhnya, tetapi awalnya saja yang kapital, yaitu Surabaya.
            Kesalahan pada (2) sama seperti pada (1). Garis bawah dan segala tanda baca pada nama kota Bandung  merupakan tanda yang tidak akan menambah informasi.
            Kesalahan pada (3) sama seperti (1). Gelar akademik Drs. Tidak perlu didahului kata Bapak. Kesalahan (4) adalah pengunaan kata kepada dan pemakaian kata sapaan Bapak yang berimpit dengan pangkat, kolonel. 
            Kesalahan pada (5) adalah penggunaan kata Ibu dan gelar akademik Ir. Yang berimpit. Perhatikan perbaikannya.
Seharusnya (Bentuk Baku)
(1a)      Yth. Direktur CV Kencana Wungu
            Jalan Wonosobo No. 40
            Surabaya
(2a)      Yth. Kepala Kantor Wilayah Ditjen Binaguna
            Propinsi Jawa Barat
            Jalan Taman Sari No. 32
            Bandung
(3a)      Yth. Drs. Edy Sanjaya
            Manajer Personalia PT Dahana
            Jalan Gajah Mada No. 127
            Ujung Pandang
(4a)      Yth. Kolonel Sumengkar
            Jalan Husada IV/12
            Kebon Kangkung
            Bandung 
(5a)      Yth. Ir. Sulistiani
            Staf Bagian Perencanaan
            Direktorat Jalan Raya
            Depertemen Pekerjaan Umum
            Jalan Sutisna 15
            Jakarta

9. Kesalahan Penulisan Salam Pembuka
            Ungkapan salam pembuka yang lazim digunakan adalah Dengan hormat (dengan d kapital, h kecil), diikuti tanda koma. Akan tetapi, dalam kenyataannya, penulisan salam pembuka tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Mungkin Anda bertanya “Mengapa diakhiri dengan tanda koma, padahal kalimat berikutnya dimulai dengan huruf kapital?  Bukankah lebih tepat dengan tanda titik?
            Memang apa yang dikemukakan itu beralasan, tetapi dalam hal ini ada kesepakatan bahwa salam pembuka surat dan salam penutup dituliskan dengan tanda koma di belakangnya.
Misalnya:
Bentuk Salah                                                 Bentuk Baku
(1)   Dengan hormat                                   (1a) Dengan hormat,
Yang perlu juga dingatkan di sini ialah agar kita tidak menyingkatkan kata sapaan dengan hormat, itu menjadi DH. Atau Dh., dan sebagainya.  Kita ingin menghomati orang dengan kata sapaan itu, tetapi dengan menyingkatkannya kita seolah-olah menarik kembali penghormatan kita itu karena penyingkatan seperti itu rasanya kurang sopan, kurang adab. 

10. Kesalahan Penulisan Paragraf Pembuka
            Kalimat-kalimat yang lazim dipakai oleh penulis surat sebagai paragraf pembuka sangat bervariasi.  Marilah kita amati satu per satu.
Bentuk Salah
  1. Bersama ini kami beritahukan bahwa ...
  2. Kami mohon bantuan daripada Tuan ...
  3. Bersama ini kami mengundang ...
  4. Dengan ini kami mengirimkan satu karung beras Cianjur untuk contoh.
Kesalahan pada (1) adalah penggunaan bersama ini, padahal surat tersebut hanya memberitahukan sesuatu, tidak melampirkan atau mengirimkan barang lain. Ungkapan bersama ini artinya ‘bersama-sama dengan ini atau ‘seiring dengan ini’. Jadi tidak dapat dikatakan seiring dengan surat ini kami beritahuka ... sebab pemberitahuan itu ridak diseiringkan dengan surat, melainkan dituliskan di dalam surat itu. Ungkapan bersama ini digunakan untuk surat pengantar sebab dalam surat pengantar, dituliskan apa yang dirimkan seiring dengan surat pengantar itu. Kebiasaan menulis ungkapan bersama ini, kemudian ditiru orang bila menulis surat biasa yang bukan surat pengantar.
Kesalahan pada (2) adalah penggunaan bantuan daripada Tuan. Sebenarnya,  cukup dituliskan bantuan Tuan karena kata depan daripada  digunakan untuk membandingkan dua hal atau masalah.
Kesalahan pada (3) adalah penggunaan kata bersama ini  karena surat tersebut hanya mengundang.
Kesalahan pada (4) adalah penggunaan dengan ini, yang seharusnya diganti dengan bersama ini karena surat tersebut mengirimkan sesuatu.
Seharusnya (Bentu Baku)
(1a) Dengan ini kami beritahukan …
(2a) Kami mohon bantuan Tuan …
(3a) Dengan ini kami mengundang …
(4a) Bersama  surat ini kami krimkan …



Isi Surat Sesungguhnya
            Isi atau pokok surat sesungguhnya memuat sesuatu yang diberitahukan, dilaporkan, ditanyakan, diminta, dan lain-lain. Untuk menghindari salah tafsir dan demi efisiensi, isi surat hendaknya singkat dan jelas. Hindari penulisan kalimat yang bertele-tele.

11. Kesalahan Penulisan Paragraf Penutup
Dalam paragraf penutup surat dijumpai pemakaian kalimat sebagai berikut.
Bentuk Salah
(1)   Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.
(2)   Atas bantuan dan perhatian Bapak, kami menghaturkan banyak terima kasih.
(3)   Demikian surat ini, atas perhatian bapak/ibu kami sampaikan terima kasih.
Kesalahan pada (1) adalah penggunaan bentuk perhatiannya. Perhatian siapa? Perhatian penerima surat yang dimintai batuan? Kalau ia yang dimaksud, maka bukan –nya   yang seharusnya dipakai, melainkan Bapak atau Ibu, atau Saudara, atau Anda karena orang yang disurati itu adalah Bapak, Ibu, Saudara, atau Anda (orang ke dua) bukan nya  = dia atau ia (orang ke tiga).
            Kesalahan pada (2) adalah penggunaan kata menghaturkan.  Kata menghaturkan bukan kata bahasa Indonesia. Dalam kamus tidak ada kata  hatur, menghaturkan yang seperti itu maknanya. Kata itu dipinjam dari bahasa daerah (Sunda, Bali) dipergunakan dalam surat karena orang ingin menyatakan kehormatannya kepada orang yang menerima surat. Kata mengucapkan menurut anggapannya mungkin tidak halus, atau kurang hormat, sehingga dipakainya kata bahasa daerah itu.
Kesalahan pada (3) adalah penggunaan kata bapak/ibu. Kata bapak/ibu pada kalimat ini digunakan sebagai kata sapaan. Oleh karena itu, kata bapak/ ibu semestinya ditulis dengan huruf kapital. Jadi, ditulis Bapak/Ibu. Kesalahan berikutnya adalah penghilangan tanda baca koma di antara bapak/ibu dan kami. Semestinya pada kalimat ini dibubuhi tanda baca koma untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.  
Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata hatur. Ada kata atur, tetapi artinya lain sekali. Oleh karena itu, gunakanlah kata mengucapkan yang dapat berarti 1) mengatakan, 2) menyampaikan. Jadi, kata itu tidak terbatas pemakaiannya pada pada bahasa lisan saja. Kalau barbahasa Indonesia, perasaan bahasa Indonesialah yang dipakai. Bila perasaaan dalam berbahasa daerah yang dibawa ke dalam bahasa Indonesia, maka ada kecenderungan untuk menggantikan kata-kata Indonesia dengan kata bahasa daerah.
            Ada yang menanyakan, kata anda dalam surat ditulis dengan A kapital (Anda) atau dengan huruf kecil (anda)? Pusat Bahasa telah mengambil keputusan bahwa kata anda yang dipakai dalam surat untuk menyapa orang yang menerima surat sebaiknya dituliskan dengan A kapital, Jadi, Anda, walaupun kata anda itu sejajar dengan kata engkau (dalam makna yang lebih halus, hormat).
            Pertimbangan mengunakan huruf kapital pada kata anda adalah jika kita menyapa seseorang yang lebih rendah kedudukannya dengan kita atau orang yang setara derajatnya dengan kita digunakan kata Saudara,(dengan S kapital), maka kurang pada tempatnya bila kita menyapa orang  yang lebih tinggi kedudukannya daripada kita dengan kata anda  (huruf a pertama huruf kecil). Oleh karena itu, diputuskan menuliskan kata itu dengan A kapital, yaitu Anda.
Perhatikan perbaikannya sebagai berikut.
Seharusnya (Bentuk baku)
(1a) Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan perhatian Bapak/ Ibu/ Saudara.
(2a)  Atas bantuan dan perhatian Bapak, kami mengucapkan banyak terima kasih.
(3a)  Demikian surat ini , atas perhatian Bapak/ Ibu, kami sampaikan terima kasih.

12. Kesalahan Penulisan Salam Penutup
            Salam penutup yang sering dipakai sebagai berikut.
Bentuk Tidak Baku                                                  Bentuk Baku
(1) Hormat kami                                                          (1a) Hormat kami,
(2) Wasalam                                                                (2a)  Wasalam,
Kesalahan pada (1) dan (2) adalah tidak menggunakan tanda baca koma, yang seharusnya menggunakan tanda baca koma (,). 
13 Kesalahan Penulisan Tembusan
            Penulisan kata Tembusan: (dengan tidak digarisbawahi) cukup efektif bila dibandingkan dengan ditulis Tembusan:  yang digarisbawahi atau Tembusan disampaikan kepada:   Selain itu, dalam rincian tembusan orang mencantumkan sebagai laporan, sebagai undangan, untuk diketahui, harap dilaksanakan, dan arsip. Semua tambahan itu tidak diperlukan karena tanpa embel-embel tersebut, yang ditembusi surat serta merta mengetahui apa yang harus dikerjakannya. Rincian terakhir dalam tembusan, arsip juga tidak perlu karena setiap surat dinas sudah lazim memiliki arsip.
Mari kita bandingkan bentuk salah dan bentuk benar berikut.
Bentuk salah
Tembusan: disampaikan kepada:
  1. Direktur Bank Indonesia Pusat (sebagai laporan)
  2. Kepala Pusdiklat Bank Indonsia (sebagai undangan)
  3. Drs. Mahaban, S.H. (harap dilaksanakan)
  4. Arsip.
Bentuk yang dianjurkan sebagai berikut.
Seharusnya (Bentuk Baku)
Tembusan:
  1. Direktur Bank Indonesia
  2. Kepala Pusdiklat bank Indonesia
  3. Drs. Marhaban, S.H.
Dalam surat resmi harus dicantumkan inisial.
Inisial adalah tanda pengenal nama penyusun konsep surat dan  pengetik surat tersebut. Inisial ini biasanya diambil dari huruf terdepan nama yang bersangkutan.
Misalnya:
            RK/YP
                        RK singkatan dari Rudi Kurniawan (pengonsep)
                        YP  singkatan dari Yuni Parwati (pengetik)








KATA DAN PEMAKAIANNYA

         Sering kata digunakan secara tidak tepat dalam kalimat baik karena artinya  yang tidak tepat  atau tidak tepat benar, atau karena penggabungan kata itu dengan kata lain dalam sebuah frase, atau kalimat. Kita perhatikan contoh-contoh beserta keterangannya di bawah ini.

1. hadirin
         Kata hadirin dipungut dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, artinya ‘semua yang hadir laki-laki’. Untuk perempuan, dalam bahasa Arab digunakan hadirat ( dengan lafal a panjang  pada suku  -rat). Dalam pemakaiannya bahwa kata  hadirin  yang berasal dari bahasa Arab  itu mengalami pergeseran makna dalam bahasa Indonesia. Kata hadirin dalam bahasa Indonesia  dipakai baik untuk laki-laki maupun perempuan. Orang yang berpidato  menyapa orang yang hadir  dalam pertemuan itu dengan kata : Hadirin  yang saya hormati, atau Hadirin yang saya muliakan.
         Seperti yang diklatakan di atas, kata hadirin berarti’semua  yang hadir’. Karena itu, tidak perlu diletakkan  kata para di depannya seperti kebiasaan sekarang ini. Sangat umum  kita mendengar pembawa acara  atau orang yang berpidato  mengucapkan kata sapaannnya : Para hadirin yang saya hormati. Penggunaan kata para di depan kata hadirin itu sifatnya pleonastic (berlebih-lebihan).
         Bentuk hadirat sebagai pasangan hadirin tidak dipakai dalam bahasa Indonesia. Namun, kadang-kadang orang yang biasa  menggunakan bahasa Arab menggunakan juga kata itu dalam  berpidato

2. suatu dan sesuatu
         Kata suatu dipakai untuk menyatakan benda yang belum tentu; dapat dibandingkan dengan one dalam bahasa Inggris  seperti dalam pemakaian berikut: one day (Inggris) = pada suatu hari  (Indonesia).
         Kata sesuatu dipakai untuk menggantikan  benda yang belum tentu  baik dalam fungsi sebagai subjek  maupun sebagai objek kata kerja transitif; dapat dibandingkan dengan something dalam bahasa Inggris. Kata sesuatu dipakai sebagai kata  yang berdiri sendiri dalam kalimat. Jadi, sebenarnya tidak dipakai di daam frase demgan kata benda di belakangnya seperti yang sering dijumpai dalam pemakaian bahasa dewasa ini.

Contoh pemakain suatu:
Guru bercerita tentang suatu peristiwa yang menarik.
Pada suatu kesempatan yang baik, akan kuceritakan hal itu kepadamu.
Suatu kesalahan yang terjadi tanpa disengaja masih dapat dimaafkan.

Contoh pemakaian sesuatu:
Kalu pekerjaanmu sudah selesai, aku akan menceritakan sesuatu yang menarik kepadamu.
Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Saya tak mengharapkan sesuatu dari Saudara.
         Perhatikan perbedaan pemakaiannya dalam kalimat-kalimat di atas. Ada dua kesalahan yang sering kita jumpai dewasa ini. Alih-alih mengatakan  suatu hal, suatu peristiwa, suatu kesalahan. Dewasa ini orang sring mengatakan  sesuatu hal, sesuatu peristiwa, sesuatu kesalahan. Seperti sudah dukatakan di atas, dengan contoh pemakaiannya dalam kalimat, awalan se- tidak perlu dilekatkan pada kata suatu bila kata itu diikuti  langsung oleh kata benda.

3. masing-masing dan tiap-tiap
         Kata masing-masing dewasa ini dipakai tidak seperti yang tercantum di dalam kamus. Kalau kita periksa Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta. Akan kita lihat keterangan sebagai berikut.
masing-masing, tiap-tiap orang; seorang-seorang; sendiri-sendiri; mis. Masing-   masing mengemukakan keberatannya; pulang ke ruimah masing-masing.
         Jelas dalam contoh di atas bahwa kata masing-masing  tidak dipakai di depan kata benda, melainkan dipakai sebagai kata yang berduri sendiri seperti tampak pada contoh pertama.
         Sekarang sudah umum orang mengatakan atau menulis masing-masing anak, masing-masing peserta, masing-masing negra alih-alih  mengatakan atau menulis tiap-tiap anak, tiap-tiap peserta, tiap-tiap negara. Jadi, kata tiap-tiaplah  yang seaharusnya dipakai bila di belakngnya diletakkan kata benda, bukan kata masing-masing.
Bandingkan kalimat-kalimat yang berpasangan di bawah.
1)            a. Tiap-tiap murid diberi oleh gurunya sebuah buku.
         b. Murid-murid itu masing-masing diberi oleh gurunya sebuah buku.
2)      a. Dalam konferensi itu , tiap-tiap negara diwakili oleh menteri luar negerinya.                       b. Dalam konferensi itu, negara-negara itu masing-masing diwakili oleh menteri
             luar negerinya.           
         Dalam contoh-contoh di atas dapat kita lihat bagaimana seharusnya kata masing-masing dan tiap-tiap digunakan. Kedua kata itu memang mengandung makna yang sama, tetapi pemakainnya tidak sama. Kalu diikuti oleh kata benda, maka kata tiap-tiaplah yang digunakan, sedangkan jika menggantikan kata benda yang sudah disebutkan sebelumnya, maka kata masing-masinglah yang digunakan.
         Kesalahan penggunaan kata masing-masing seperti yang telah  dikemukakan itu mula-mula merupakan  sebuah salah kaprah; lama kelamaan karena sering digunakan seperti itu, berubah pemakaiannya dari yang seharusnya. Kalau  kita ingin menggunakan bahasa secara cermat, hendaklah kita gunakan kata itu masing-masing seperti yang dicontohkan di atas.

4. nyaris  dan hampir
         Kata nyaris bersinonim dengan kata hampir, tetapi pemakainnya tidak sama. Artinya  tidak selalu kata hampir dalam sebuah kalimat  dapat diganti dengan kata nyaris.
Kata nyaris dipakai dalam pengertian ‘hampir’, tetapi dal;am arti yang kurang menguntungkan.
         Perhatikan contoh pemakaiannya dalam kalimat-kalimat di bawah.

         Karena kurang pandai berenang, anak itu nyaris tenggelam.
         Orang itu nyaris tertabrak mobil karena kurang hati-hati.
         Kata nyaris tak boleh dugunakan dalam pengertian yang menguntungkan  seperti nyaris menang, nyaris mendapat keuntungan.



5. takdir dan nasib
         Kedua kata itu biasanya dikacaukan orang saja pemakainnya. Mungkin hal itu timbul karena di dalam kamus biasanya diberikan arti bolak-balik : takdir=nasib, dan nasib=takdir, sehingga seolah-olah kedua patah kata itu sama saja artinya.
         Takdir adalah suatu ketetapan Tuhan, tidak dapat berubah dan tidak dapat diubah oleh manusia di luar kekuasaannya. Bahwa saya lahir sebagai laki-laki, sebagai orang Indonesia, berkulit sawo matang, sebagai anak pertama dalam keluarga, itu merupakan takdir. Tuhan memang sudah menetapkan demikian. Demikian juga hari kematian saya sudah ditetapkan oleh Tuhan saatnya, tidak akan bergeser sedetik ke depan atau ke belakang. Saat itu suatu rahasia yang tidak kita ketahui.
         Nasib dapat berubah. Tuhan berfirman  tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau mereka sendiri tidak mau mengubahnya. Orang selalu ingin lebih baik, tetapi hidup yang lebih baik itu tidak akan terwujud bila tiidak ada usaha ke arah itu. Kalau kita tetap miskin, tidak dapat kita mengatakan  memang beginilah  nasib saya ditentukan oleh Tuhan padahal tidak ada usaha untuk memperbaiki nasib itu; misalnya dengan bekerja keras, dengan menambah ilu. dsb.

Share this article :
 

+ komentar + 3 komentar

17 Mei 2013 19.34

terima kasih atas ilmunya... semoga berguna untuk makalah saya

17 Mei 2013 22.39

sama", kita punya ilmu emg buat di sebarkan ke orang lain

4 Mei 2014 08.17

terimakasih atas informasinya, semoga mendapat berkah

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger