ANALISIS GAYA BAHASA PUISI TERATAI KARYA SANUSI PANE



ANALISIS GAYA BAHASA PUISI TERATAI KARYA SANUSI PANE
Disusun sebagai salah satu tugas dalam
Mata kuliah  Apresiasi Puisi
Dosen : Anjar setianingsih, M.Pd.


 











Disusun oleh :
Nama                  : PANJI PRADANA
Nim                    :092110144
Semester             : IVD





Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Purworejo
2011


ANALISIS GAYA BAHASA PUISI TERATAI KARYA SANUSI PANE
Karya sastra sebagai bahan analisis diambil salah satu puisi Sanusi Pane berjudul “Teratai” berikut ini.
                        Kepada Ki Hajar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
            Tumbuh sekuntum bunga teratai
            Tersembunyi kembang indah permai

Tiada terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia
            Daun berseri, laksmi mengarang
            Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah , o, Teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
            Biarkan sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat
            Engkau turut menjaga jaman
                                                                                    Sanusi Pane, 1957.


A. PEMBAHASAN
a. Pembahasan Heuristik
            Dalam pembacaan ini karya sastra dibaca secara linier, sesuai dengan struktur bahas sebagai system tanda semiatik tingkat pertama. Untuk menjelaskan arti bahasa bilamana perlu susunan kalimat dibalik seperti susunan bahasa secara normative, diberi tambahan kata sambung (dalam kurung), kata-kata dikembalikan ke dalam bentuk morfologinya yang normative. Bilamana perlu, kalimat karya sastra diberi sisipan-sisipan kata dan kata sinonimnya, ditaruh dalam tanda kurung supaya artinya menjadi jelas, seperti pembacaan puisi “Teratai” sebaqgai berikut.
Kepada Ki Hajar Dewantara.
(di) Dalam kebun di tanah airku (yang tercinta ini). (telah) Tumbuh sekuntum bunga teratai (yang indah). (dan) Tersembunyi (sekuntum) kembang (yang) indah (nan) permai.
Tiada terlihat orang yang (ber) lalu (lalang melintas).
            Akarnya (pun) tumbuh di hati dunia. (di) Daun (yang telah) berseri, (lalu) laksmi mengarang. Biarpun (karangan) dia diabaikan orang (lain). Saroja (tetap) kembang gemilang mulia.
            Teruslah, o, Teratai (yang ber) bahagia. (tetap) Berseri di kebun Indonesia. Biarkan (hanya) sedikit (para) penjaga taman.
            Biarpun engkau tidak (bisa) dilihat. Biarpun engkau tidak (bisa) diminta. Engakau (telah) turut menjaga jaman.
b. Pembacaan Retoriktif atau Hermeneutik
            Pembacaan heuristik itu baru memperjelas arti kebahasaan tetapi makna karya sastra atau sajak itu belum tertangkap. Oleh karena itu, pembacaan heuristic harus diulang lagi dengan pembacaan retroaktf dan diberi tafsiran (dibaca secara hermeneutik) sesuai dengan konvensi sastra sebagai system sematik tingkat kedua, sebagai berikut.
Judul “Teratai” bukan sebagi tanda sebagai bunga, namun sebagai lambang untuk tokoh yang dikagumi oleh penyair, yakni: Ki Hajar Dewanrtara.
            Kerendahan hatinya (terpancar) seperi bunga teratai yang tumbuh di kolam, tidak dikenal oleh banyak orang, diabaikan dan tidak diminati (tidak terlalu banyak orang yang tahu dan orang tidak menginginkan hal itu ), namun (biarpun seperti itu) gagasannya diterima secara umum bahkan menjadi dasar pemikiran tingkat dunia (peninggalannya bermanfaat bagi orang di seluruh dunia).
(segenap keinginan) Mengisyaratkan agar Ki Hajar Dewantara (selalu) Meneruskan gagasannya dan cita-citanya demi kemajuan bangsa Indonesia, sekalipun Ki Hajar Dewantara tidak dikenal dan tidak diminati orang (walaupun dalam kennyataannya tidak sebanding dengan apa yang diberikannya). Dengan cara itu Ki Hajar Dewantara (tetaplah menjadi) dan dapat turut menjaga jaman.
Proses pemaknaan dengan pembacaan retroaktif atau hermeneurik itu lebih lanjut akan tampak dalam analisis gaya bahasa berikut.
c. Analisis Gaya Bahasa
Untuk dapat menangkap makna karya sastra secara keseluruhan, lebih dahulu harap diterangkan gaya bahasa dalam wujud kalimat atau sintaksisnya, kemudian diikuti analisis gaya kata, dan yang terakhir analisis gaya bunyi.
d. Gaya kalimat atau Sintaksis
            Puisi memerlukan kepadatan dean ekspresivitas karena puisi itu hannya mengemukakan inti  masalah atau inti pengalaman. Oleh karena itu , terjadi pemadatan, hanya yang perlu-perlu saja dinyatakan, maka hubungan kalimat-kalimatnya implisit, hanya tersirat saja. Hal ini tampak dalam baris-baris atau kalimat-kalimat dalam bait pertama (dan bait lainnya). Jadi, gaya kalimat demikian dapat disebut gaya implisit, seperti tampak dalam baris ke-1 dan ke-2 dalam bait ke dua. Di antaranya dapat disisipkan kata penghubung memperjelas.
            Dalam kebun di tanah airku
                        (Telah) Tumbuh sekuntum bunga teratai
            Begitu juga hubungan antara baris ke-1,2 dengan baris ke-3 dan ke-4 dalam bait ke satu dan dua.
            Daun (yang telah) berseri, laksana mengarang
            Biarpun dia diabaikan orang
Begitu juga, hubungan implisit antara baris ke-2 dan ke-3 bait ketiga, dapat dijelaskan dengan sisipan ungkapan “Tetap” dan “hanya, para” sebagai berikut.
            (Tetap) Berseri di kebun Indonesia
                        Biarkan (hanya) sedikit (para) penjaga taman.
Baris ke- 1, 2, 5 bait keempat dapat juga dipandang sebagi sarana retorika klimaks, yaitu pernyataan yang menanjak.
“Biarpun engkau tidak dilihat,
  Biarpun engkau tidak diminat
                        Engkau turut menjaga jaman”
                                   
e. Gaya Bahasa dalam Kata
            Untuk menghidupkan lukisan dan memberikan gambaran yang jelas, dalam puisi ini banyak dipergunakan bahasa kiasan. Bahasa kiasan ini menyatakan suatu hal secara tidak langsung. Ekspresi secara tidak langsung ini merupakan konvensi sastra, khususnya puisi seperti dikemukakan oleh Riffaterre (1978:1). Ucapan tidak langsung itu menurut Riffaterree (1978:2) disebabkan oleh tiga hal: pemindahan atau penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan atau penggantian arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning).
            Pemindahan arti ini berupa penggunaan metafora dan metonimi. Istilah metafora itu sering kali untuk menyebut arti kiasan pada umumnya meskipun, metafora itu sesungguhnya merupakan salah satu ragam bahasa kiasan.
            Penyimpangan atau pemoncongan arti disebabkan oleh ambiguitas, koatradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti disebabkan oleh penggunaan bentuk visual: pembaitan, enjabement, persajakan, homologues (persejajaran bentuk), dan bentuk visual lainnya.
            Ungkapan tak langsung dalam puisi ini yang sangat penting terutama bahasa kiasan (penggantian arti: metafora dan metonimi dan ambiguitas (arti ganda). Demikian juga, untuk menghidupkan likisan dalam puisi ini digunakan ucapan tak langsung dengan citraan (imagery)
Bait ke- 1
            “Bunga taratai” adalah metafora untuk mengungkapkan kesan terhadap Ki Hajar Dewantara dengan kerendahan hatinnya, “indah permai” walaupun tidak dikenal oleh orang bannyak dan orang lain tidak ingin mengenalnnya (sosok yang sebenarnya dalam didri Ki Hajar)
Bait ke- 2
“Akarnya tumbuh” merupakan metafora untuk menunjukan gagasannya di pakai diseluruh dunia atau “hasil pemikiran yang mendunia” (untuk mennyangatkan)
            “Laksmi” ini merupakan ambiguitas berarti nma dewi atau molek, atau cantik.
“gemilang mulia” adalah gagasan yang terpakai walaupun si penggagas tidak dikenali oleh orang bannyak (karya yang penuh ke ikhlasan)
Bait ke- 3
“penjaga taman” adalah orang yang yang tiak mengenalinya dan tak ingin mengenali.
Bait ke- 4
“ menjaga jaman” adalah Ki Hajar telah meneruskan gagasan dan cita-citanya demi kemajuan jaman.

f. Gaya Bahasa dalam Bunyi
            Bunyi berfungsi untuk mendukung atau memperkeras arti kata ataupun kalimat. Gaya bunyi untuk memperdalam makna kata dan kalimat. Dalam puisi  ini tampak sebagai berikut.
Keseluruhan puisi menampakan berupa kesan dan kekaguman. Suasana itu di tampilkan, disamping oleh arti kata-kata dan kalimatnya, juga oleh bunyinya yang berat dan dominan, yaitu asonansi a dikombinasi i sajak akhir. Akan tetapi, efekrifitasnya ditunjang oleh variasi dan kombinasi bunyi yang menyebabkan berirama dan kagum.
Bait ke-1
Kombinasi bunyi a-i yang kuat tampak pada baris ke-1 , 3.
            Dalam kebun di….airku
            Tersembunyi kemban indah permai
Sajak akhir baris ke- 2 dan ke- 3: teratai-permai, bunyi i memberikan suasana kagum yang  merdu.
            Variasi bunyi ai dalm baris ke-1, 2 dan 3 menyiratkan makna kekaguman: kebun di tanah airku/ teratai/……indah permai.
Bait ke- 2
            Asonansi a yang dominan dikombinasikan bunyi n, m dan ng pada ke tiga barisnya memperkuat situasi dan suasana kagum.
            Daun berseri, Laksmi mengarang
            Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Bait ke- 3
Asonansi a dan sajak i memperkuat suasana kagum divariasi dengan bunyi e membuat berirama dan liris. Pola bunyi vocal tersebut sebagai berikut.
Baris ke- 1: a-ai-ai
Baris ke- 2:e-ia
Baris ke- 3:ia-a-a-a
Sajak akhir: bahagia – Indonesia – taman memperkeras makna kesan atau kagum
Bait ke- 4
Asonansi a yang dominan dikombinasikan bunyi n, m dan ng pada ke tiga barisnya memperkuat situasi dan suasana kagum.
Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat
            Engkau turut menjaga jaman
Sajak akhir baris ke- 1 dan ke-2 : dilihat – diminat membuat suasana sedikit muram. Bait di atas juga tampak bunyi sengau sebagai variasi membuat merdu.
                                               

B. KESIMPULAN
            Gaya bahasa sangat penting untuk pemaknaan karya sastra karena merupakan sarana satra yang turut menyumbangkan makna karya sastra dan untuk mencapai nilai seninya. Akan tetapi, sampai sekarang dalam kesusastraan Indonesia belumada penelitian gaya bahasa sastra, belum ada buku sitilistika yang khusus untuk sastra. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian gaya bahasa dalam kesusastraan Indonesia dan penulisan stilistika yang khusus untuk kesusastraan.
            Gaya bahasa, yang merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, ada beberapa jenis, yaitu gaya bahasa individu, gaya bahasa golongan sastrawan, aliran tertentu, dan gaya bahasa periode. Karena itu, penelitian gaya bahasa dapat dilakukan dalam bidang-bidang 6tersebut, sesuai dengan keperluan. Akan tetapi, dalam penulisan stilistika perlu diperhatikan gaya bahasa yang bersifat umum dan tidak hanya yang bersifat khusus. Untuk penulisan ini yang tepat adalah penelitian stilistika deskriptif.
            Pengertian gaya bahasa meliputi gaya dalam semua aspek bahasa: bunyi,kata, dan kalimat. Oleh karena itu, penelitian gaya bahasa meliputi gaya kalimat, gaya kata, dan gaya bunyi bahasa.
            Gaya bahasa merupakan unsure struktur karya sastra. Oleh karena itu, makna gaya bahasa tidak dapat terlepas dari unsur-unsur lainnya dan keseluruhannya. Dengan demikian, penelitian gaya bahasa dilakukan dalam kerangka teori dan metode strukturalisme-semiotik. Hal ini mengingat pula bahwa gaya bahasa itu merupakan system tanda yang bermakna a’au semiotik. Untuk memahami makna gaya bahasa diperlukan pembacaan karya sastra secara semitik, yaitu pembacaan heuristik dan retoraktif atau hermeneuutik.
            Penelitian gaya bahasa itu dapat dienal pada karya sastra jenis prosa atau jenis puisi sesuai dengan keperluan atau kepentingannya.
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger