MORFOGI



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                                                                                                     i
KATA PENGANTAR                                                                                                      ii
PRAKATA                                                                                                                       iii
DAFTAR ISI                                                                                                                    iv






BAB I

PENDAHULUAN

Pada bagian ini mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian morfologi, morfologi dan leksikologi, morfologi dan etimologi, morfologi dan sistaksis.

A.   Pengertian Morfologi

                  Perhatikan contoh-contoh berikut  berdasarkan strukturnya atau unsur-unsur yang membentuknya:
a.       sepatu
bersepatu
sepatu-sepatu
sepatu kulit

b.      satu
bersatu
persatuan
satu-satu
satu-satuan
satu buah
c.       lari
berlari
berlari-lari
lari-lari
pelarian
melarikan
                  Kalau kita perhatikan contoh-contoh diatas, yang bisa disebut kata akan ternyata bahwa strukturnya berbeda-beda. Hal itu terbukti apabila kata-kata tersebut dianalisis dan diuraikan kedalam bentuk yang bermakna. Kata ‘sepatu’ terdiri atas suku bentuk bermakna tidak dapat diuraikan menjadi lebih dari satu bentuk yang masih mengandung makna, sama halnya dengan kata ‘satu’ dan ‘lari’, kata ‘bersepatu’ terdiri atas dua bentuk bermakna yakni ber- dan sepatu; sama halnya dengan kata ‘satu’ dan ‘lari’ masing-masing terdiri dari atas dua bentuk bermakna yakni ‘satu’ dan ‘lari’ sebagai bentuk dasarnya dan ‘satu’ serta ‘lari’ sebagai bentuk ulangannya. Kata ‘sepatu berkulit’ terdiri dari dua kata bermakna yakni sepatu dan kulit, sama halnya dengan satu buah yang terdiri atas satu dan buah. Kata ‘persatuan’ terdiri atas dua bentuk bermakna yakni per- an sebagai imbuhan dan satu sebagai bentuk dasarnya, sama halnya dengan ‘pelarian’ yang terdiri atas imbuhan per- an dan lari sebagai  bentuk dasarnya. Kata ‘satu-satuan’ terdiri atas tiga bentuk yakni satu sebagai bentuk dasar, satu sebagai bentuk ulangannya dan –an sebagai imbuhan. Juga kata ‘berlari-lari’ terdiri dari tiga bentuk yakni ber- sebagai imbuhan, lari sebagai bentuk dasar yang pertama dan kedua. Kata ‘melarikan’ juga terdiri dari tiga bentuk yakni meN-, lari dan –kan. Hal-hal yang berhubungan dengan struktur kata seperti ini merupakan objek suatu ilmu yang biasa disebut tata bentuk kata atau morfologi tersebut.
                  Kalau diperhatikan, bentuk kata-kata itu ternyata dapat berubah karena suatu proses. Misalnya kata ‘sepatu’ dapat berubah menjadi kata ‘bersepatu’ karena adanya penambahan ber-, dapat pula menjadi ‘sepatu-sepatu’ karena adanya pengulangan, atau menjadi ‘sepatu kulit’ karena adanya proses pemajemukan atau penggabungan dengan kata kulit. Perubahan bentuk atau struktur kata tersebut dapat diikuti dengan perubahan bahan jenis kata atau arti kata. Golongan kata ‘sepatu’ misalnya, berbeda dengan golongan kata ‘bersepatu’. Secara tradisional sepatu tergolong jenis ‘kata benda’, sedangkan bersepatu merupakan ‘kata kerja’. Demikian pula misalnya dengan kata ‘satu’ dan ‘bersatu’, kata satu termasuk ‘kata benda’ dan bersatu merupakan ‘kata benda’. Makna kata sepatu jelas berbeda dengan bersepatu, demikian pula kata satu jelas berbeda dengan kata bersatu. Kata sepatu berarti semacam alat sedangkan bersepatu berarti memakai suatu macam alat. Satu berarti ‘urutan pertama sebelum kedua’ dan bersatu berarti ‘berkumpul menjadi satu’. Sehubungan dengan ini, morfologi juga menyelidiki perubahan-perubahan golongan dari arti atau makna kata-kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk atau struktur kata itu. (Prawirasumantri, 1985:107-108)
                  Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk kata serta pengaruh, perubahan-perubahan bentuk kata terhadap terhadap golongan dan arti kata, atau dapat pula dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (Ramlan,1985:19) ; atau studi tentang morfem-morfem dan penyusunan dan penyusunan dalam rangka pembentukan kata (Nida, 1974:1 dalam prawirasumantri, 1985:108). Pada garis besarnya morfologi membicarakan (1) morfem-morfem yang terdapat dalam sebuah bahasa, (2) proses pembentukan kata, (3) fungsi-fungsi proses pembentukan kata, (4) makna proses pembantukan kata, (5) penjenisan kata.

B.   Morfologi dan Leksikologi

                  Leksikolgi mempelajari seluk-beluk kata, ialah mempelajari pembendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. Misalnya kata masak. Kata ini mempunyai berbagai arti dalam pemakaiannya, seperti yang dijelaskan dalam kamus, sebagai berikut:
1.      “Sudah sampai tua sampai boleh dipetik, dimakan, dsd”, misalnya Buah yang masak di pohon.
2.      “Sudah jadi (tentang makanan)”, misalnya Meskipun sudah sejam direbus, belum masak juga ubi ini.
3.      “Sudah selesai, sudah dipikirkan”, misalnya Adonan ini belum masak; Bangsa kita dianggapnya belum masak.
4.      “Mengolah, membuat panganan”, misalnya Masak kue lapis.

Selanjutnya diterangkan pula arti kata bentukan dari katatersebut. Kata masak-memasak berarti ‘hal atau urusan masak-memasak, dan sebagainya’; memasakan berarti ‘memasakan untuk orang lain’; mungkin juga berarti ‘menjadikan masak’; masakan berarti ‘barang apa saja yang dimasak’ seperti lauk-pauk, makanan, dan sebagainya. Pemasak berarti ‘orang yang memasak’; mungkin juga berarti ‘alat untuk memasak’; pemasakan berarti ‘hal memasak’
            Meskipun leksikologi maupun morfologi mempelajari masalah arti, tetapi terdapat perbedaan antara keduanya. Perbedaannya ialah bahwa morfologi mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik (Gramatical meaning) atau makna, sedangkan Leksikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap terkandung dalam kata, atau yang lazim disebut arti leksikal (lexical meaning). Sebagai contoh misalnya, di samping kata satu terdapat kata bersatu. Kedua kata tersebut memilik arti lexical. Kata satu berarti ‘urutan pertama sebelum kedua’, ‘bangunan pada umumnya ‘, dan kata bersatu berarti ‘berkumpul menjadi satu’, atau ‘sepakat’. Arti leksikal dan pemakaian kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya, dari satu menjadi bersatu, perubahan golongannya, dari kata nominal menjadi kata verbal, serta perubahan arti yang timbul sebagai akibat melekatnya afiks ber- pada berumah, ialah timbulnya makna ‘mempunyai’ atau ‘memakai’, ‘mempergunakan’. (Ramlan, 1985:19-20)

C.   Morfologi dan Etimologi

                  Jika di bidang arti ada pendekatan antara morfologi dan leksikologi, maka bidang bentuk ada pendekatan antara morfologi dan etimologi.
                  Disamping kata kena, terdapat kata nerkenan; disamping kata ia, terdapat kata dia, yang, dan nya; disamping kata tuan terdapat kata tuhan. Adakah perubahan-perubahan benetuk seperti kelihatan pada kata-kata tersebut termasuk dalam morfologi.
      Memang morfologi dan etimologi sama-sama menyelidiki perubahan bentuk kata, namun keduanya tidak sama. Morfologi menyelidiki seluk beluk bentuk kata, dan perlu ditambahkan kesini bahwa yang diselidiki oleh morfologi adalah peristiwa-peristiwa umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi , yang boleh dikatakan merupakan sistem dalam bahasa; sedangkan etimologi menyelidiki perubahan bentuk-bentuk kata yang khusus yang hanya terjadi pada kata-kata itu saja dan perubahan itu tidak merupakan sistem dalam bahasa yang bersangkutan.
Kita ambil contoh kata kena disamping kata berkenan, ia disamping kata dia, yang , dan nya., kata tuan disamping kata tuhan. Kalau kita selidiki, antara pasangan kata tersebut terdapat persamaan baik bentuk maupun makna hingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kata-kata yang disebut belakangan merupakan perubahan bentuk dan makna kata yang disebut lebih dahulu, yakni kata berkenan berasal dari kata kena, kata dia, yang, dan –nya berasal dari kata ia, dan kata tuhan berasal dari kata tuan. Akan tetapi alua penyelidikan itu diteruskan, maka akan ternyata bahwa perubahan-perubahan itu tidaklah merupakan peristiwa yang umum merupakan sistem dalam bahasa Indonesia karena hanya terjadi pada kata itu saja. Perubahan seperti terjadi pada kata-kata tersebut tidak diselidiki dalam morfologi, melainkan dalam bidang ilmu yang lain yang bisa disebut etimologi (ilmu yang mempelajari seluk-beluk asal suatu kata).

D.   Morfologi dan Sintaksis

                  Baik morfologi maupun sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata. Satuan yang paling kecil yang yang diselidiki oleh morfologi ialah morfem. Sedangkan yang paling besar berupa kata. Berbeda dengan sintaksis, yang mempelajari hubungan antara kata/frasa/klausa/kalimat yang satu dengan kata/frasa/klausa/kalimat yang lain, atau tegasnya mempelajari seluk beluk frasa, klausa, kalimat dan wacana. Jadi kata yang dalam morfologi merupakan satuan yang paling besar, dalam sintaksis merupakan satuan yang paling kecil.
                  Sebagai contoh misalnya kalimat Ia akan mengadakan perjalanan jauh. Pembicaraan tentang kata ‘Ia’ yang terdiri dari satu morfem, tentang kata ‘akan’ yang terdiri dari satu morfem, kata ‘mengadakan’ yang terdiri dari tiga morfem, ialah meN-, ada dan –kan, tentang kata ‘perjalanan’ yang terdiri dari dua morfem ialah per- an dan jalan, dan tentang kata ‘jauh’ yang terdiri satu morfem termasuk dalam morfologi ; akan tetapi pembicaraan mengenai hubungan antara kata ia sebagai ‘subjek’ dengan frasa akan mengadakan sebagai predikat, serta hubungan antara frasa akan mengadakan sebagai predikat dengan frasa perjalanan jauh sebagai objeknya termasuk dalam bidang sintaksis. Demikian pula pembicaraan tentang hubungan antara kata akan dengan kata mengadakan, dan hubungan antara kata perjalanan dengan kata jauh dalam frasa akan mengadakan dan perjalanan jauh.
                  Jelasnya demikian; jika diurutkan dari atas  ke bawah keenam satuan gramatik, ialah wacana, kalimat, kalusa, frasa, kata dan morfem, dapat dituliskan sebagai berikut :
wacana
kalimat
klausa
frasa
kata
morfem
Dari satuan wacana sampai satuan frasa dibicarakan dalam sintaksis, atau termasuk bidang sintaksis, sedangkan satuan kata dan morfem termasuk bidang morfologi. Perhatikan diagram berikut :
wacana
kalimat
klausa
frasa
kata
morfem

                  Dari uraian diatas, seolah-olah dapat dilihat adanya batas yang tegas antara morfologi dan sintaksis, tetapi sebenarnya tidak selalu demikian keadaannya. Misalnya pada kata-kata ketidakadilan, ketidakmampuan, ketidakhadiran, ketidakserasian dan sebagainya; pembicaraan tentang kata-kata tersebut sebagai satuan yang terdiri dari unsur ke-an dan tidak adil, tidak mampu, tidak hadir, dan tidak serasi termasuk bidang morfologi tetapi pembicaraan tentang hubungan kata tidak dengan kata-kata adil, mampu, hadir, dan serasi termasuk bidang serasi termasuk dalam bidang sintaksis. Jadi jelaslah bahwa morfologi tidak selalu merupakan lanjutan dari sintaksis, tidak selalu terletak dibawah sintaksis.
            Dapat dikemukakan disini bahwa pembicaraan tentang satuan gramatik yang salah satu dari unsurnya berupa afiks termasuk dalam pembicaraan morfologi, sedangkan pembicaraan tentang satuan gramatik semua unsurnya berupa kata/frasa/klausa/kalimat termasuk bidang sintaksis.
                  Kata majemuk adalah kata yang unsurnya berupa kata atau pokok kata. Dilihat bahwa semua unsurnya berupa kata atau pokok kata, misalnya panjang tangan, kepala batu, kepala dingin, daya juang, lomba lari, kolam renang, pasukan tempur, tentu saja pembicaraan tentang satuan-satuan itu termsauk dalam bidang sintaksis, tetapi dilihat bahwa satuan-satuan itu mempunyai sifat sebagai kata, maka tentu saja pembicaraannya termasuk dalam bidang morfologi.
                  Untuk itu pembicaraan tentang kata majemuk dimasukan dalam bidang morfologi mengingat bahwa kata majemuk masih termasuk golongan kata. (Ramlan, 1985:21-23)

Latihan 1

1.      Sebutkan definisi morfologi menurut Ramlan dan Nida !
2.      Sebutkan hal-hal yang merupakan objek pembicaraan morfologi !
3.      a.   Apakah yang dimaksud dengan leksikologi ?
b.      Sebutkan persamaan dan perbedaan leksikologi dengan morfologi !
4.      a.   Apakah yang dimaksud dengan etimologi ?
b.      Sebutkan persamaan dan perbedaan etimologi dengan morfologi !
5.      jelaskan batas morfologi dengan sintaksis !

Rangkuman

                  Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
Garis besar yang dibicarakan dalam morfologi adalah sebagai berikut:
1)      morfem-morfem yang terdapat dalam bahasa,
2)      proses pembentukan kata,
3)      fungsi proses pembentukan kata,
4)      makna proses proses pembentukan kata,
5)      penjenisan kata.
                  Morfologi sebagai bagian dari ilmu bahasa yang mengandung persamaan, disamping perbedaan, dengan cabang ilmu bahasa yang lain; diantaranya leksikologi, etimologi, dan sinaksis. Morfologi dan leksikologi keduanya mempelajari arti kata; morfologi mempelajari arti gramatik, sedangkan leksikologi mempelajari arti leksikal. Morfologi dan etimologi keduanya mempelajari perubahan kata; morfologi mempelajari perubahan-perubahan yang umum yang merupakan suatu sistem dalam bahasa yang bersangkutan, sedangkan etimologi mempelajari perubahan–perubahan khusus yang berlaku pada kata-kata yang bersangkutan saja. Morfologi dan sintaksis keduanya mempelajari kata; morfologi mempelajari kata sebagai satuan terbesar sebagai hasil pembentukan, sedangkan sintaksis mempelajari kata sebagai satuan terkecil dalam hubungannya dengan dengan pembentukan frasa, klausa, dan kalimat.











 


BAB II

SATUAN-SATUAN GRAMATIK


                        Pada bab II ini mahasiswa akan diharapkan dapat memahami pengertian satuan gramatik, bentuk tunggal dan bentuk  kompleks, bentuk bebas dan bentuk terikat, bentuk asal dan bentuk dasar.

A.   Pengertian Satuan Gramatik

      Jika kita mendengar tuturan seseorang atau tuturan seorang informan dengan seksama, ternyata bahwa ada satuan-satuan yang berulang-ulang dapat kita dengar, misalnya sepeda bersepeda, bersepeda keluar kota, ia membeli sepeda dan sebagainya. Satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatik seperti bentuk diatas, disebut satuan gramatik atau disingkat satuan.
            Satuan gramatik atau satuan itu mungkin berupa ‘morfem’, misalnya ber-, ke, ke-an, –wan, maha-, jalan, akan, rumah, dating, sedang, baca, baru; mungkin berupa ‘kata’ misalnya rumah, membawa, kelupaan, diketahui, lempar lembing, mereka, dari; mungkin berupa ‘frasa’, misalnya akan datang, ke rumah teman, akan minum, sudah sehat, sehat sekali, usaha yang baik; mungkin berupa ‘klausa’, misalnya Ia berkunjung ke rumah tema…., usaha itu sangat baik…, orang tuanya sudah sehat…, ; mungkin berupa ‘kalimat’ misalnya, Ia sedang berkunjung ke rumah teman., usaha itu sangat baik., orang tuanya sudah sehat dan sudah bekerja lagi.; dan mungkin juga berupa ‘wacana’. (Ramlan, 1985:24).

B.   Bentuk Tunggal dan Bentuk Kompleks

Kalau satuan tani dibandingkan dengan bertani, maka akan ternyata bahwa kedua bentuk itu berbeda. Perbedaannya adalah bentuk ‘tani’ tidak mungkin dapat diuraikan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih kecil. Dengan kata lain, bentuk  tani tidak mempunyai bentuk yang lebih kecil lagi. Kita dapat menguraiakan bentuk tani menjadi ta dan ni akan tetapi dalam kaitannya dengan bentuk tani, ta dan ni tersebut tidaklah merupakan satuan-satuan yang mengandung arti. Jadi, bukan bentuk linguistik. Lain halnya dengan bentuk ‘bertani’. Bentuk tersebut dapat diuraikan menjadi bentuk-bentuk yang lebih kecil, yakni ber- yang berarti ‘mengusahakan’ atau tani yang berarti ‘mata pencaharian’. Jadi dapat dikatakan bahwa bentuk bertani terdiri dari dua bentuk yang lebih kecil daripada bentuk bertani itu sendiri (Prawirasumantri, 1985:115).
            Contoh lain : Jika satuan sepatu dibandingkan dengan bersepatu, sepatu ke sekolah, ia membeli sepatu baru, ternyata ada perbedaannya. Perbedaannya ialah bahwa satuan-satuan sepatu tidak mempunyai satuan yang lebih kecil lagi. Berbeda dengan satuan bersepatu yang sebenarnya terdiri dari satuan ber- dan sepatu; bersepatu ke sekolah, yang terdiri dari satuan ber-, sepatu, ke, sepatu dan sekolah dan berbeda pula dengan satuan Ia membeli sepatu baru, yang terdiri dari satuan ia, meN-, beli, sepatu dan baru.
Satuan gramatik yang terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi itu disebut dengan bentuk tunggal, sedangkan satuan yang terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil disebut satuan kompleks. Satuan-satuan ber-, sepatu, ke, sekolahan, ia, meN-, beli, dan baru, masing-masing merupakan bentuk tunggal, sedangkan satuan-satuan bersepatu, bersepeda ke sekolah, ia membeli sepatu baru., merupakan bentuk kompleks (Ramlan, 1985:25)

C.   Bentuk Bebas dan Bentuk Terikat

            Satuan-satuan atau bentuk-bentuk linguistik ada yang dapat berdiri sendiri atau selalu terikat pada bentuk lain. Bentuk buku, misalnya termasuk ke dalam bentuk yang dapat berdiri sendiri didalam tuturan biasa, umpamanya merupakan sebuah jawaban terhadap pertanyaan Anda menulis apa?, Anda menjual apa? Dan sebagainya. Berbeda dengan bentuk buku, misalnya bentuk ber-. Bentuk ber- tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, bentuk ber- selalu dipakai bersama-sama dengan bentuk lain. Umpamanya, bersama-sama dengan bentuk jalan, rumah, baju, bicara, lari dan sebagainya menjadi berjalan, berumah, berbaju, berbicara, berlari dan sebagainya.
            Satuan atau bentuk linguistik yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, seperti buku, jalan, rumah, baju, bicara, lari, dan sebagainya disebut bentuk bebas, sedangkan bentuk linguistik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, seperti ber-, disebut bentuk terikat. (Prawirasumantri, 1985:116)
Diantara bentuk-bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, ada yang secara gramatik mempunyai sifat bebas seperti halnya satuan-satuan yang dalam tuturan biasa dapat berdiri sendiri.bentuk-bentuk yang dimaksud ialah dari, kepada, sebagai, tentang, karena, meskipun, lah dan masih banyak lagi. Sifat bebas dari dan lah misalnya, dapat dilihat dari jajaran-jajaran sebagai berikut:
dari toko
dari suatu toko
dari dua buah toko
dari hampir semua toko
berjalanlah
berjalan cepatlah
berjalan ke utaralah
berjalan ke utara sajalah
Bentuk dari kelihatannya terikat pada bentuk toko, tetapi dengan adanya frasa dari suatu toko, dari dua buah toko, dan dari hampir semua toko, jelaslah bahwa bentuk dari secara gramatik dapat dipisahkan dari toko. Demikian pula bentuk lah pada berjalanlah. Bentuk ini kelihatan terikat pada berjalan, tetapi dengan adanya frasa berjalan cepatlah, berjalan keutaralah, berjalan keutara sajalah, jelaslah bahwa lah secara gramatik tidak terikat pada berjalan.
Bentuk-bentuk ber-, ter-, meN-, per-, -kan, -an, -I, ke-an, per-an, dan sebagainya jelas tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam tuturan biasa maupun secara gramatik. Bentuk-bentuk tersebut bersama dengan bentuk lain membentuk bentuk kata, misalnya ber- bersama dengan jalan membentuk kata bejalan, ter- bersama dengan pandai membentuk kata terpandai, meN- dengan alir membentuk kata mengalir, dan sebagainya. Dilihat dari sudut arti, bentuk-bentuk tersebut tidak memilik arti leksikal, akan tetapi memiliki arti gramatikal, sebagai akibat pertemuannya dengan bentuk lain. Karena itu, bentuk-bentuk seperti ber-, ter-, meN- dan sebagainya itu termasuk dalam golongan afiks.
Bentuk-bentuk ku, mu, nya, kau dan isme, dalam tuturan biasa juga tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatik juga tidak mempunyai kebebasan. Jelaslah bahwa bentuk-bentuk itu termasuk bentuk terikat. Namun demikian, ada perbedaan antara bentuk-bentuk itu dengan bentuk-bentuk ber-, ter-, meN- dan sebagainya. Perbedaannya ialah bentuk ku, mu, nya, dan sebagainya memiliki arti leksikal, sedangkan bentuk-bentuk ber-, ter-, meN- dan sebagainya tidak memiliki arti leksikal. Karena itu bentuk ku, mu, nya, dan sebagainya tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan afiks., melainkan ke dalam golongan yang biasa disebut dengan klitik. Klitik dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu proklitik dan enklitik. Proklitik terletak dimuka, misalnya ku pada kuambil, kau pada kau ambil, seangkan enklitik terletak dibelakang, misalnya ku pada rumahku, mu pada rumahmu, nya pada rumahnya.
Bentuk juang, misalnya dalam berjuang, perjuangan, pejuang, meperjuangkan bentuk temu misalnya dalam bertemu, pertemuan, menemukan, menemui, penemuan, juga merupakn bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, dan secara gramatik tidak memiliki sifat bebas. Namun demikian, bentuk-bentuk itu tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan bentuk afiks maupun klitik karena bentuk-bentuk itu mempunyai sifat-sifat tersendiri ialah dapat dijadikan bentuk dasar, seperti terlihat pada bentuk berjuang, bertemu, dan sebagainya. Karena itu, bentuk-bentuk itu merupakan golongan tersendiri yang disebut yang disebut pokok kata. Bentuk-bentuk lain yang dapat dimasukan ke dalam pokok kata ialah alir, ketahu, bandar puluh, rangkak, dan sebagainya. (Ramlan, 1985:25-28)

D.   Bentuk Asal dan Bentuk Dasar

Telah diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik ada yang berupa bentuk kompleks, yakni bentuk-bentuk yang terdiri atas lebih dari sebuah bentuk yang lebih kecil.
Dalam bentuk kompleks dapat ditemukan bentuk-bentuk yang menjadi asal, dan ada atau yang menjadi dasar terbentuknya bentuk kompleks itu.
            Bentuk asal ialah satuan yang paling kecil yang menjadi asal suatu kata kompleks. Misalnya kata ‘berpakaian’ terbentuk dari bentuk asal pakai mendapat bubuhan afiks –an menjadi pakaian, kemudian mendapat bubuhan ber- menjadi berpakaian. Contoh lain, misalnya kata ‘berkesudahan’, kata ini terbentuk dari bentuk asal sudah mendapat bubuhan afiks ke-an menjadi kesudahan, kemudian mendapat bubuhan afiks ber- menjadi berkesudahan.
Bentuk dasar ialah bentuk baik tunggal maupun kompleks yang menjadi dasar bentukan bagi bentuk yang lebih besar. Kata berpakaian misalnya, terbentuk dari bentuk dasar pakaian dibubuhi dengan afiks ber-, selanjutnya kata pakaian terbentuk dari kata dasar pakai dengan afiks –an. Kata berkesudahan terbentuk dari  bentuk dasar kesudahan  dengan afiks ber- dan selanjutnya kata kesudahan terbentuk dari bentuk dasar sudah dengan afiks ke-an.
Bentuk asal selalu bentuk tunggal, sedangkan bentuk dasar bisa bentuk tunggal dan bisa bentuk kompleks.  (Ramlan, 1985:44-45)

E.   Unsur dan Unsur Langsung

Bentuk-bentuk kompleks selalu terdiri atas lebih dari satu bentuk yang lebih kecil dari bentuk kompleks itu. Bentuk-bentuk yang menjadi pembangun bentuk-bentuk yang lebih besar disebut unsur(constituent) (Ramlan Prawirasumantri, 1985:118). Misalnya ber-, pakai, dan –an merupakan unsur bentuk kompleks berpakaian. Ber-, ke-an dan duduk merupakan unsur dari bentuk kompleks berkedudukan.
Tampaknya bentuk-bentuk yang menjadi unsur pembangun bentuk yang lebih besar sekaligus dalam satu deretan membangun bentuk itu. Jika bentuk yang lebih besar itu terdiri dari dua (unsur) yang lebih besar kecil, memang demikian. Akan tetapi, tidak sama halnya dengan bentuk-bentuk yang terdiri atas dua bentuk yang lebih kecil. Misalnya bentuk, ber-, pakai, dan –an tidaklah sekaligus (serempak) membentuk kata berpakaian, melainkan bertahap, yakni mulai menjadi pakaian dan seterusnya ber- pada pakaian menjadi berpakaian. Unsur yang langsung membentuk satuan lebih besar disebut unsur langsung (immediate constituent), misalnya pakai dan –an merupakan unsur langsung bentuk pakaian, ber- dan pakaian merupakan unsur langsung bentuk berpakaian.






Diagram pembentukannya sebagai berikut :

Contoh lain kata ‘berperikemanusiaan’. Proses pembentukannya lebih banyak lagi dibanding dengan kata berpakaian. Bentuk berperikemanusiaan terbentuk dari unsur ber- dan perikemanusiaan. Bentuk perikemanusiaan terbentuk dari unsur peri dan kemanusiaan. Selanjutnya kemanusiaan terbentuk dari ke-an dan manusia. Jadi proses terbentuknya kata berperikemanusiaan sebagai berikut :
Manusia …. Kemanusiaan .… Perikemanusiaan …. Berperikemanusiaan.
Diagramnya sebagai berikut :
berperikemanusiaan
 

Bagaimana unsur tersebut dapat ditentukan?
Apabila satuan yang diselidiki itu hanya terdiri dari dua bentuk, dengan mudah dapat ditentukan bahwa kedua bentuk itu merupakan unsurnya. Tetapi apabila satuan yang diselidiki itu terdiri dari tiga bentuk atau lebih, haruslah diperhatikan dua taraf berikut ini :
Taraf I
Pada taraf ini, dicari kemungkinan adanya satuan satu tingkat lebih kecil daripada satuan yang diselidiki. Pada berperikemanusiaan, bentuk yang setingkat lebih kecil ialah perikemanusiaan. Bentuk *berperikemanusia tidak ada. Maka dapat ditentukan bahwa berperikemanusiaan terdiri dari unsur ber- dan perikemanusiaan  selanjutnya bentuk yang satu tingkat lebih kecil dari perikemanusiaan adalah kemanusiaan; *perikemanusia tidak ada dan *rikemanusia juga tidak ada. Maka dapat ditentukan bahwa satuan perikemnusiaan terbentuk dari unsur peri dan kemanusiaan. Bentuk *ke- manusia memang tidak ada, tetapi ke di situ sebagai kata depan. Bila ke merupakan afiks, bentuk *kemanusia tidak ada; demikian pula *manusiaan juga tidak ada. Maka dapat ditentukan bahwa bentuk yang satu tingkat lebih kecil daripadanya ialah manusia. Jadi, kemanusiaan terdiri dari unsur  ke-an dan manusia.
Banyak bentuk dapat ditentukan unsurnya dengan mempergunakan taraf pertama. Misalnya kata kehujanan, kenamaan, peradaban, peradilan, keberlangsungan, pengairan, berpemimpin, yang masing-masing terdiri dari unsur ke-an , dan hujan, ke-an dan nama, per-an dan adab, per-an dan adil, ke-an dan berlangsung, pen-an dan air, ber- dan pemimpin.
Taraf II
Untuk menentukan unsur kata pembacaan memperhatikan faktor arti dan makna. Kata pembacaan mempunyai arti hal ‘membaca’. Kalau pembacaan terbentuk dari unsur pen- dan bacaan, tentulah makna pen- tidak sesuai dengan arti yang dinyatakan oleh kata pembacaan. Kalau kata pembacaan terbentuk dari unsur pembacaa dan –an, tentu makna –an tidak sesuai dengan arti yang dinyatakan oleh kata bacaan. (Ramlan, 1985: 40-44)

Latihan 2

1.      Apa yang dimaksud dengan satuan atau bentuk linguistik? Berilah contohnya!
2.      a. Apa yang dimaksud dengan bentuk tunggal dan bentuk kompleks?
b. Masing-masing berilah contohnya!
3.      Jelaskan dengan contoh dengan bentuk bebas dan bentuk terikat.
4.      Jelaskan perbedaan bentuk terikat secara morfologis dan bentuk terikat secara sintaksis!
5.      Jelaskan dengan contoh ciri-ciri bentuk terikat afiks, klitik dan pokok kata!
6.      Jelaskan dengan contoh pengertian bentuk dasar dan bentuk asal!
7.      a. Jelaskan dengan contoh pengertian unsur dan unsur langsung!
b. Bagaimanakah cara menentukan unsur-unsur pada kata kompleks?

Rangkuman

Satuan atau bentuk (bentuk linguistik adalah satuan bahasa yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal).
Satuan atau bentuk linguistik dapat dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk kompleks. Bentuk tunggal adalah bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri, sedangkan bentuk kompleks adalah bentuk yang memiliki bentuk yang lebih kecil.
Bentuk linguistik dapat pula dibedakan atas bentuk bebas dan bentuk terikat. Bentuk bebas yaitu bentuk yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan bahasa yang biasa, sedangkan bentuk terikat ialah bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan bahasa yang biasa. Bentuk terikat dapat dibedakan menjadi bentuk terikat morfologi dan bentuk terikat sintaksis.
Bentuk terikat morfologi ialah bentuk yang hanya dapat dipakai dalam tuturan biasa jika melekat pada bentuk lain dan bersama-sama dengannya membentuk sebuah kata misal meN- pada kata mendengar, sedangkan bentuk terikat sintaksis ialah bentuk kata yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa tetapi secara gramatis mempunyai sifat bebas dan pemakaiannya selalu terikat pada bentuk-bentuk lain yang bersama-sama dengannya membentuk satuan-satuan sintaksis. Misalnya, di pada bentuk di Bandung. Disamping itu bentuk terikat dapat dibedakan atas bentuk berupa : (1) afiks ialah bentuk yang terikat pemakaiannya yang selalu melekat pada bentuk lain dan bersama-sama memiliki arti gramatik tidak mempunyai kebebasan, (2) klitik ialah bentuk terikat yang mempunyai kebebasan dan mempunyai arti leksikal. (3) pokok kata ialah bentuk kata yang secara gramatik tidak memiliki sifat kebebasan, seperti afiks tetapi mempunyai makna leksikal dan dapat menjadi bentuk dasar sebuah kata.
Bentuk-bentuk kompleks disusun oleh lebih satu bentuk yang lebih kecil. Bentuk-bentuk yang membangun bentuk kompleks disebut dengan unsur, sedangkan bentuk-bentuk yang langsung membentuk bentuk kompleks disebut unsur langsung.
Menentukan unsur langsung sebuah bentuk kompleks dapat dilakukan dengan cara : (1) mencari kemungkinan adanya satuan yang satu tingkat lebih kecil. Dan (2) berdasarkan faktor arti dan makna.


















BAB III

MORFEM DAN CARA MENGENALNYA


Pada bab ini mahasiswa diharapkan memahami pengertian morfem, morf, alomorf, dan kata; deretan morfologik, prosedur pengenalan morfem, wujud morfem, jenis morfem, latihan analisis morfologi.

A.   Pengertian Morfem

Pada bab II telah diketahui apa yang dimaksud dengan bentuk linguistik. Diantara satuan atau bentuk itu ada yang morfem. Morfem adalah bentuk linguistik yang tidak mempunyai bentuk lain sebagai unsurnya. Misalnya bentuk-bentuk satu, lari, sepatu, ber-, pen-, di-, maha-, juang, dan sebagainya masing-masing merupakan sebuah morfem (Ramlan dalam Prawirasumantri, 1985:127) Bloch dan Tager (1942:54 dalam Prawirasumantri, 1985:127) menyebutkan bahwa morfem adalah segala bentuk baik bentuk bebas maupun bentuk terikat yang tidak dapat dibagi ke dalam bentuk terkecil yang mempunyai arti; sedangkan Samsuri (1981:170) menyebutkan bahwa morfem adalah komposit bentuk pengertian yang terkecil yang sama atau mirip yang berulang.
Bentuk satu adalah morfem karena tidak dapat dibagi menjadi bentuk kecil yang mengandung makna. Bentuk meN- sebuah morfem karena tidak dapat dibagi menjadi bentuk terkecil  yang mengandung makna. Dalam pemakaiannya, baik bentuk satu maupun meN- selalu berulang baik bentuk yang sama maupun yang mirip, sperti pemakaian pada satunya, persatuan, bersatu, menulis, membaca, mengarang dan sebagainya.
Seperti telah kita ketahui bahwa bentuk linguistik ada yang bentuk bebas ada yang merupakan bentuk terikat. Setiap bentuk linguistik yang berupa bentuk tunggal, baik itu bentuk bebas maupun bentuk terikat, merupakan sebuah morfem. Oleh sebab itu, morfem pu ada yang merupakan morfem bebas dan ada pula morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang berupa bentuk tunggal bentuk bebas, misalnya : lari, duduk, meja, kursi dan morfem terikat adalah  bentuk tunggal bentuk terikat misalnya di-, ke-, ber-, dan sebagainya.

B.   Morf, Alomorf, dan Kata.

Banyak morfem yang hanya mempunyai satu struktur fonologik, misalnya morfem ‘tulis’, yang fonem-fonemnya, banyak fonem serta urutan fonemnya selalu demikian, ialah terdiri dari lima fonem, ialah /t, u, l, i, dan s/ dengan urutan fonem /t/ dimuka sekali, diikuti /u/, diikuti /l/, diikuti /i/, dan terakhir diikuti /s/. Disamping itu, ada pula morfem yang mempunyai beberapa unsur fonologik. Misalnya morfem meN- yang mempunyai struktur fonologik mem-, meN-, meny-, meng-, menge, dan me-. Misalkan pada membawa, mendatang, menyuruh, menggali, mengebom, dan melepas.  Bentuk mem-, meN-, meny-, meng-, menge, dan me- itu masing-masing disebut morf, yang semuanya merupakan alomorf dari morfem meN-. Contoh lain morfem ber-, terdiri dari morf  ber-, be-, dan bel-, ; dan ketiganya merupakan alomorf morfem ber-.
Disamping istilah-istilah tersebut terdapat istilah kata. Kata merupakan dua macam satuan, ialah satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku, dan suku itu terdiri satu atau beberapa fonem. Misalnya kata belajar terdiri atas tiga suku kata; be, la, jar. Suku be terdiri dari dua fonem, suku kata la terdiri dua fonem, dan jar terdiri dari tiga fonem. Jadi kata belajar terdiri dari tujuh fonem; /b, e, l, a, j, a, r/. Sebagai satuan gramatik kata terdiri dari dari satu atau beberapa morfem. Kata ajar dan kata pelajaran terdiri dari dua morfem ialah morfem per-an dan ajar.
Yang dimaksud kata ialah satuan bebas yang paling kecil atau dengan kata lain, setiap satu satuan bebas merupakan kata. Jadi, satu-satuan rumah, perumahan, duduk, kedudukan, bercampur aduk, mencampuradukan dan sebagainya, masing-masing merupakan kata karena masing-masing merupakan satu-satuan bebas.
Satuan-satuan dari, kepada, sebagai, karena, lah, dan sebagainya, juga termasuk golongan kata. Satu-satuan tersebut, meskipun tidak merupakan satuan bebas, tetapi secara gramatik mempunyai sifat bebas..
Satuan-satuan rumah makan, kamar mandi, keras kepala, dan sebagainya, sekalipun terdiri dari dua satuan bebas., juga termasuk golongan kata, karena satuan-satuan tersebut memiliki sifat sebagai kata. (Ramlan, 1985:28:30)

C.   Deretan Morfologi

Yang dimaksud deretan morfologis ialah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Misalnya kita dapati kata ‘kejauhan’. Utnuk mengetahui apakah kata itu terdiri atas satu morfem atau beberapa morfem haruslah kata itu diperbandingkan dengan kata-kata lain dalam deretan morfologik. Disamping kita kejauhan, terdapat menjauhkan, dijauhkan , terjauh, berjauhan, menjauhi, dijauhi; jadi deretan morfologiknya sebagai berikut:
kejauhan
menjauhkan
dijauhkan
terjauh
berjauhan
menjauhi
dijauhi
…………..
jauh
Dari perbandingan kata-kata yang terdapat dalam deretan morfologik diatas dapat disimpulkan adanya morfem, jauh sebagai unsur yang terdapat daalam tiap-tiap anggota deretan morfologik, sehingga dapat dipastikan bahwa kata kejauhan terdiri dari morfem jauh dan morfem ke-an., menjauhkan terdiri dari morfem meN-, jauh dan –kan, dijauhkan terdiri dari morfem di-, jauh, dan –kan, terjauh terdiri dari ter-, dan jauh, berjauhan terdiri dari morfem ber-, jauh, dan –an, menjauhi terdir dari meN-, jauh, -I serta dijauhi terdiri dari morfem di-, jauh, dan –i.
Deretan morfologik amat berguna dalam penentuan morfem-morfem. Kata terlantar  misalnya, apakah terdiri dari satu morfem atau dua morfem, dapat dikethaui dari deretan morfologik. Kata itu haruslah dibandingkan dengan kata-kata lain yang berhubungan dalam bentuk dan artinya dalam deretan morfologik :
terlantar
menterlantarkan
ditelantarkan
keterlantaran
……………….
terlantar
Dari deretan morfologik diatas dapat dipastikan bahwa kata terlantar hanya terdiri dari satu morfem. Memang dalam peristiwa bahasa dijumpai kata lantaran, dan jika terlantar dibandingkan dengan lantaran, niscaya dapat ditentukan adanya morfem lantar :
terlantar
lantaran
……………..
lantar
Tetapi secara deskriptif kedua kata itu hanya memiliki pertalian bentuk; pertalian arti tidak ada. Maka sesuai dengan yang dimaksud dengan deretan morfologik, kedua kata itu tidak dapat diletakkan dalam satu deretan morfologik, dan berarti juga tidak dapat diperbandingkan.
Kesimpulan : kata terlantar hanya terdiri dari satu morfem, dan kata lantaran dipandang sebgai kata lain, yang secara deskriptif tidak dapat diletakkan dalam satu deretan morfologik dengan kata-kata terlantar, menelantarkan, ditelantarkan, dan keterlantaran. (Ramlan, 1985:30-32)




D.   Prosedur Pengenalan Morfem

Pengenalan morfem dilakukan dengan membanding-bandingkan bagian yang berulang, dan dengan mengadakan subtitusi. Perhatikan bentuk-bentuk berikut : tergigit, termakan, terminum. Bagian ter- berulang yang mempunyai pengertian yang sama yaitu ‘tak sengaja dilakukan’ dan bagian-bagian yang lain, yang bisa saling disubtitusikan sehingga bisa dimasukkan ke dalam rangka”:

ter-

Bila bagian-bagian itu disubtitusikan terdapat rangka:

ter-                                           gigit
                                                makan
minum
           
Dan dapat dikatakan bahwa suatu perubahan pengertian serentetan ……………………………………………………………………………………
tak pada tiap ucapan pada tiap subtitusi tersebut. Bila hal demikian itu terdapat, bagian-bagian itu disebut di dalam kontras. Dengan cara membanding-bandingkan demikian itu dapat mengenal morfem-morfem suatu bahasa.

Sering juga bagian yang terdapat didalam suatu rangka berkontras dengan ‘kekosongan’, artinya dapat terjadi atau tidak, umpamanya :

jawab                               # =

Cobalah membanding-bandingkan dan mensubtitusikan bagian yang terulang pada data berikut ini dengan cara seperti diatas itu :
1.      a.  ika.ma                                 ‘ladangnya’
b.  iko.ya                                 ‘kelincinya’
c.  iway                                                ‘rambutnya’
d.  ika.pay                               ‘iparnya’
2.      a.  a ka.ma                               ‘ladangku’
b.  a ko.ma                               ‘kelinciku’
c.  a way                                  ‘rambutku’
d.  a ka.pay                              ‘iparku’
3.      isilah b, c, d, berikut ini jika a. diketahui
a.  i ka.ma                                ‘ladangmu’
b.  ………..                             ‘kelincimu’
c.  ………..                             ‘rambutmu’
d.  ……….                              ‘iparmu’

Cara mengenal morfem-morfem itu didasarkan atas prinsip-prinsip berikut :
1.      Bentuk-bentuk yang berulang yang mempunyai pengertian yang sama, termasuk morfem yang sama.
Untuk menerapkan prinsip pertama ini kita coba latihan permulaan dengan soal-soal seperti berikut :
Bahasa A
a.       kaye                             ‘pohon’
b.      kayezi                          ‘pohon-pohon’
c.       pakaye                         ‘ada pohon’
d.      pakayezi                      ‘ada pohon-pohon’
e.       makapaye                    ‘itu adalah pohon’
f.       maka pakayezi             ‘itu adalah pohon-pohon’
Bahasa B
a.       ko.ma        ‘burung’
b.      iko’ma       ‘burungnya’
c.       inko’ma     ‘burungmu’
d.      ankoma      ‘burungku’
e.       ko’ya         ‘itik’
f.       iko’ya        ‘itiknya’
g.      inko’ya      ‘itikmu’
h.      enko’ma    ‘itikku’
i.        pey            ‘jari’
j.        ipey           ‘jarinya’
k.      inpey         ‘jarimu’
l.        anpey        ‘jariku’

Contoh dalam bahasa Indonesia
Bentuk baju dalam berbaju, baju biru, baju batik, bantuk baca dalam membaca, dibaca, membaca, membacakan, dibacakan, pembaca, pembacaan, terbaca, bacaan, ruang baca; bentuk di dalam dipukul, disuruh, ditulis, diambil, dibuat dan sebagainya (Ramlan, 1985:53)
            Didalam menentukan morfem-morfem yang sesuai dengan prinsip 1 itu agaknya mudah karena segalanya jelas, yaitu bahwa persamaan bentuk pengertian tidak menimbulkan persoalan apa-apa. Akan tetapi, prinsip 1 itu tidak akan menyelesaikan penemuan semua morfem bahasa. Contoh bentuk-bentuk mem-, meN-, meny-, meng-, dan me- pada ucapan membaca, mendengar, menjadi, menggali, merata dan melihat dapat dipisahkan :





I
mem
men
meny
meng
me
II
baca
dengar
jadi
gali
rata
lihat

Perbedaan bentuk-bentuk I dapat ditentukan secara fonologis, oleh sebab itu kelima bentuk itu dapat dimasukan ke dalam morfem yang sama, dan bentuk-bentuk itu adalah alomorf-alomorf sebuah morfem.
2.      Bentuk-bentuk yang mirip (susunan fonem-fonemnya), yang mempunyai bentuk pengertian yang sama, termasuk morfem yang sama apabila perbedaan-perbedaannya dapat diterangkan secara fonologis.
Contoh (Ramlan, 1985:34-35)
Bentuk-bentuk mem-, men-, meny-, meng-, menge-, dan me-, pada kata-kata membawa., mendukung, menyuruh, menggali, mengecat, dan melerai, mempunyai makna yang sama ialah menyatakan ‘tindakan aktif’. Struktur fonologisnya jelas berbeda. Yang menjadi masalah disini ialah apakah perbedaan struktur fonologis satuan-satuan itu dapat jelas dijelaskan secara fonologis atau tidak. Jika perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologis, maka satuan-satuan itu merupakan satu morfem atau dengan kata lain merupakan alomorf dari morfem yang sama, tetapi sebaliknya, jika perbedaan itu tidak dapat dijelaskan secara fonologis maka bentuk-bentuk tersebut merupakan morfem yang berbeda.
            Dari kata-kata tersebut diatas, jelaslah perbedaan struktur fonologis mem-, men-, meny-, meng-, menge-, dan me- disebabkan oleh konsonan awal satuan yang mengikutinya, atau dengan kata lain disebabkan oleh kondisi bentuk yang mengikutinya. Karena itu, satuan-satuan atau bentuk-bentuk tersebut merupakan suatu morfem atau merupakan alomorf dari morfem yang sama ialah morfem men-, karena kondisi bentuk yang mengikutinya, morfem ini berwujud mem-, men-, meny-, meng-, menge-, dan me-.
3.      Bentuk-bentuk yang berbeda susunan fonem-fonemnya, yang tidak dapat diterangkan secara fonologis perbedaan-perbedaannya, masih bisa dianggap sebagai alomorf-alomorf dari morfem yang sama atau mirip, asal perbedaan-perbedaan itu bisa diterangkan secara morfologis.
Contoh :
Bentuk-bentuk bertanam, bergaram, berangkat, berangkat, bekerja, beternak, belajar. Bentuk-bentuk tersebut perhatikan dalam dua kolom berikut:

I
ber-


be-

bel-
II
tanam
garam
angkat
kerja
ternak
ajar

Perbedaan ber- dan be- agaknya dapat diterangkan secara fonologis yaitu be- tidak mendapat jika suku yang mengikuti ialah pepet dan berakhirnya pada r. Akan tetapi jika kita   tidak mendapat keterangan fonologis mengapa ajar mendapat bel-, sedangkan angkat tidak. Satu-satunya keterangan ialah disebabkan oleh morfem ajar itu sendiri, dan kondisi inilah disebut kondisi morfologis. Dengan kata lain, perbedaan antara ber- dan be- di satu pihak dengan bel- dipihak lain hanya disebabkan oleh perbedaan-perbedaan morfem yang mengikutinya. Keadaan ini bisa disebut bahwa distribusi ber- dan be- di satu pihak dan bel- dipihak lain itu komplementer, artinya ber- atau be- tidak pernah mendahului ucapan-ucapan tanam, garam, angkat, dan lain sebagainya.
*Prinsip satu, dua dan tiga sebagai prinsip pokok.



Prinsip-prinsip tambahan

4.      Bentuk-bentuk yang sembunyi (homofon) merupakan :
1)      morfem-morfem yang berbeda apabila berbeda pengertiannya;
2)      morfem yang sama, apabila pengertiannya yang berhubungan (atau sama) diikuti oleh distribusi yang berlainan.
3)      morfem-morfem yang berbeda, biarpun pengertiannya berhubungan, tetapi sama distribusinya.
Contoh kondisi (1) dalam bahasa Indonesia terdapat bentuk-bentuk seperti bisa ‘racun’ dan bisa ‘dapat’, sedang ‘sukupan’ dan sedang ‘lagi’, buku ‘kitab’, dan buku ‘sendi’. Demikian pula bentuk-bentuk seperti –i pada kata mencabuti (rumput) dan –i pada menanami (sawah) yang berbeda yang satu dari yang lain; -kan pada membacakan yang berbeda dari –kan pada mendengarkan. Contoh kondisi (2) bentuk ‘kaki’ dalam bahasa Indonesia, kaki tersebut berdiri di depan bentuk-bentuk kuda, amat, orang, dll. Sebagai kaki1, dan yang berdiri didepa bentuk gunung sebagai kaki2. tidak pernah terapat mdistribusi *terpelocok (luka, patah, dll) kaki gunung itu dan juga tidak pernah *keluarga itu tinggal di kaki kuda, melainkan sebaliknya. Oleh sebab itu, karena kaki1 dan kaki2 mempunyai pengertian yang berhubungan yaitu bagian ‘bawah sesuatu’, maka kedua buah bentuk bisa dianggap morfem yang sama.
Contoh (3) ialah bentuk kursi ‘tempat duduk’ yang mempunyai juga arti kelanjutan ‘kedudukan’. Di dalam kalimat ‘mereka berebut kursi itu’ orang yang tidak tau apa arti kursi itu, artinya bisa yang satu atau yang lainnya. Oleh sebab itu, bentuk-bentuk kursi itu hendaknya dianggap sebagai dua morfem yang berlainan
5.      Suatu bentuk bisa dinyatakan sebagai morfem apabila :
1)      berdiri sendiri
2)      merupakan perbedaan yang formal dalam suatu deretan struktur;
3)      terdapat dalam kombinasi-kombinasi dengan unsur lain yang terdapat berdiri sendiri atau dalam kombinasi-kombinasi yang lain pula.
Menurut kondisi pertama itu tiap bentuk yang berdiri sendiri (tentulah dengan arti yang sendiri pula) dianggap sebagai morfem. Bentuk-bentuk seperti jelas, yang, pun, barang, lama, dan sebagainya. Segera kita nyatakan sebagai morfem=morfem, karena berdiri sendiri dan tidak terdapat kombinasi dengan bentuk-bentuk lain. Contoh (2) bentuk –an pada deretan struktur tanaman, tulisan, makanan, dan sebutan, biarpun –an sendiri tidak pernah berdiri sendiri, dapatlah dison dirikan (isolasikan) dengan mengingat bentuk-bentuk tanam, makan, tulis, dan sebut sehingga –an merupakan perbedaan yang formal dari bentuk tanam dan tanaman, makan dan makanan, tulis dan tulisan serta sebut dan sebutan, dengan pengertian yang sama.
Jelaslah bahwa bentuk baru bisa dianggap suatu morfem apabila benar-benar mempunyai arti tersendiri.
Contoh (3) bentuk-bentuk dalam bahasa Inggris conceive, receive, conduce, reduce, produce; contain, retain, portain.
Secaea mudah dapatlah dinyatakan bentuk-bentuk diatas itu dalam kolom-kolom berikut :
con                              ceive
re                                 duce
per/                              tain
pro

Sehingga dengan demikian terdapatlah morfem-morfem con-, ref-, per/pro-, -ceive, -duce, -tain.



6.      Suatu bentuk;
a.       jika suatu bentuk terdpat dalam kombinasi satu-satunya dengan bentuk lain, yang pada gilirannya terdapat berdiri sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dengan bentuk-bentuk lain, bentuk diatas itu dianggap morfem juga.
b.      jika suatu deretan struktur terdapat perbedaan yang tidak merupakn bentuk, melainkan suatu kekosongan, maka kekosongan tersebut dianggap sebagai :
1)      morfem tersendiri apabila deretan struktur itu berurusan dengan morfem-morfem;
2)      mlomorf dari suatu morfem, apabila deretan struktur itu berurusan dengan alomorf-alomorf suatu morfem.
Contoh 6.a  ialah bentuk ‘renta’, yang tidak pernah berdiri sendiri atau dalam kombinasi bentuk-bentuk lain kecuali bentuk tua, sehingga merupakan kombinasi tua-renta, ‘tua sekali’. Karena distribusi tua renta itu satu-satunya bagi bentuk renta itu, biasanya morfem semacam itu disebut morfem semacem itu disebut morfem unik.
Hendaknya kita jangan salah tafsir bahwa’morfem-morfem semacam renta’ itu adalah morfem unik sehingga menentukan bahwa morfem-morfem seperti padam, logam dan lain sebagainya yang seperti renta berdiri sesudah morfem-morfem merah dan hitam masing-masing, merupakan juga morfem-morfem unik.
Contoh 6.b.1) perhatikan deretan struktur bahasa Aztek dislek Verakrua berikut ini :
ni         kwa.                ‘aku makan’
ti          kwa.                ‘engkau makan’
            Kwa.               ‘dia makan’
ni         kwah               ‘kami makan’
ti          kwah               ‘kita makan’
an        kwah               ‘kamu makan’
            Kwah              ‘mereka makan’
Deretan struktur di atas itu terdapat bentuk kwa ‘ia makan’ dan kwah ‘mereka makan’. Jika dengan membanding-bandingkan kita bisa menemukan bahwa kwa adalah morfem ‘makan’, ni ‘aku’, ti ‘engkau’, h ‘jamak’, maka dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk yang berarti ‘ia makan’ dan ‘mereka’ makan’ bisa digambarkan masing-masing sebagai :
-    kwa
-    kwah
Tanda – itu menyatakan pengertian ‘ia’, sejajar dengan bentuk-bentuk ni, ti, dan an. Tanda – yang merupakan kekosongan bentuk, tetapi mempunyai arti ‘ia’ disebut morfem tanujud (biasa ditandai dengan Ø ).
Conntoh 6.b.2) perhatikan deretan struktur yang sejajar dalam bahasa Inggris :
Tunggal
1.      buk
2.      bæ g
3.      rows
4.      šiyp
Jamak
Buks
Bæ gz
Rosiz
šiyp
Arti
‘buku’
‘tas’
‘mawar’
‘domba’

Tampak pada deretan struktur 1, 2, 3 perbedaa antara tunggal dan jamak ditandai dengan bentuk –s, -z, dan –įz, sehingga dapatlah dikatakan bahwa morfem jamak dalam bahasa inggris (yang biasa ditandai dengan z1) mempunyai alomorf-alomorf /s/, /z/, /į/, ketiganya dapat diterangkan secara fonologis. Bentuk-bentuk (4), baik tunggal maupun jamak hanya ada bentuk šiyp saja. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, sesuai deretan struktur yang sejajar dengan bentuk. Dengan kata lain, bentuk jamak šiyp adalah kosong. Karena kita berurusan dengan alomorf-alomorf, seperti /s/, /z/, / į/. Maka / Ø/ pada šiyp itu hanyalah alomorf saja, dan bukan morfem. Untuk itu, ia termasuk alomorf tanujud.
(Samsuri, 1981:170-181)

E.   Wujud Morfem

            Dalam membicarakan wujud morfem orang segera diselewengkan oleh kebiasaannya dalam mempergunakan tulisan yang terdiri atas huruf-huruf yang menyatakan bunyi-bunyi, sedangkan tanda-tanda lain kurang atau hampir tidak diperhatikannya. Oleh karena itu, orang segera menyatakan bahwa wujud morfem hanyalah satu, yaitu terdiri atas unsur-unsur yang diwakili oleh huruf-huruf yaitu tiada lain adalah fonem-fonem.
Dalam tinjauan dibawah ini sangkaan itu dibuktikan kesalahannya, dan akan jelas terlihat bahwa morfem-morfem bisa mempunyai wujud yang bermacam-macam. Mungkin bagi pelajar-pelajar ilmu bahasa dari Siam, atau Afrika, atau beberapa bagian dari Filiphina, dan lain sebagainya akan segera menginsyafi hal ini.  Mungkin pula pelajar-pelajar dari Sumatra Timur dan Sulawesi Selatan akan lekas memahami bahwa wujud morfem tidaklah satu karena mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang membedakan wujud bentuk-bentuk kebahasaan itu. Sampai sekarang diadakan pada bahasa-bahasa di dunia ini hanya lima macam wujud morfem seperti berikut :
1.      Yang segera bisa disaksikan, seperti diterngkan di atas, ialah fonem-fonem atau urutan fonem-fonem. Jadi, wujud morfem-morfem itu terdiri atas sebuah fonem atau lebih. Bentuk-bentuk seperti /i/, /p/, /mata/, /amat/, /pohon/, /tetapi/, dls. Merupakan contoh wujud morfem yang hanya ditambahkan fonem-fonem prosodi pada morfem-morfem semacam itu, tak akan mengubah hakikat morfem-morfem itu.
Perlu diketahui bahwa wujud morfem-morfem yang terdiri atas fonem-fonem bukanlah suatu hal yang sudah sewajarnya. Mungkin bagi kebanyakan bahasa atau bahasa-bahasa adalah demikian, tetapi bagi bahasa-bahasa tertentu hal ini sukar dipahami, karena fonem-fonem atau urutan-urutan fonem saja belum sepenuhnya mengandung pengertian yang jelas. Bagi bahasa-bahasa semacam itu wujud morfem-morfem termasuk golongan yang berikut.
2.      Bagi bahasa Batak Toba, urutan-urutan fonem /botar/belum mengandung pengertian yang penuh, atau masih meragukan terhadap konsep yang dinyatakan urutan itu. Urutan itu akan jelas apabila ada tambahan tekanan pada suku pertama atau pada suku kedua, /bóttar/  atau /bottár/, yang pertama ialah ‘darah’ dan yang kedua ‘anggur’. Contoh diatas  agaknya jelas menerangkan bahwa pada bahasa-bahasa tertentu ada morfem yang tidak cukup terdiri dari  urutan fonem-fonem segmen saja, melainkan harus ada tambahan fonem-fonem memprosodi sehingga jelas yang dimaksdukan. Fonem-fonem segmen tersebut bersama-sama fonem-fonem tekanan membentuk morfem-morfem /bótter/ dan /bottár/
            Bahasa Bugis terdapat morfem-morfem yang terdiri atas fonem-fonem segmen dan fonem prosidi panjang, umpamanya /mab.atu/ ‘mencari batu’ dan /mabatu/ ‘berbatu-batu’. Bahasa-bahaa yang lain misalnya Filiphina, terdapat hal seperti ini yaitu morfem-morfem yang terdiri atas fonem-fonem segmen dan fonem-fonem panjang. Bahasa Ilokano terdapat kontras seperti berikut : /ida/ ‘mereka’ dan /idda/ ‘berbaring’.
Morfem-morfem bisa pula terdiri atas fonem-fonem segmen dan fonem nada, seperti pada bahasa Cina. Bentuk /ši/ belum bisa diberikan arti jika belum diberikan nadanya. Bentuk itu dengan nada datar berarti ‘hilang’, dengan nada naik berarti ‘sepuluh’, dengan nada turun naik berarti ‘sejarah’ dan dengan nada turun berarti ‘pasar’.
Jelaslah bahwa morfem-morfem bisa berwujud gabungan antara fonem-fonem segmen dan fonem-fonem prosodi.
3.      Morfem-morfem yang terdiri atas fonem-fonem prosodi melulu tidak banyak terdapat, dan apabila ada tentulah selalu bersama dengan fonem-fonem segmen. Dalam hal ini apabila ada urutan fonem-fonem segmen bersama-sama dengan fonem(-fonem) prosodi, pengertiannya tentulah rangkap yaitu fonem-fonem segmen menyatakan konsep yang lain lagi. Bahasa-bahasa Indian Amerika dan Bahasa-bahasa Afrika mempunyai morfem-morfem prosodi nada. Perhatikan bentuk-bentuk  barikut dalam bahsa Cuicatec dari Mexico :

Menulis
Membuat
saya
kita
kami
idahúú
idahuhu?
idahúuńu
iddi
idio?
idiino





Kita dapat mengetahui bahwa morfem ‘saya’ ialah nada tinggi, dan bisa ditandai dengan ύ .  contoh lain dari bahasa Nongbandi dari Kongo :

Bentuk dengan
subjek tunggal
Bentuk dengan
subjek jamak
‘pergi’
‘berenang’
gwè
ngbò
gwé
ngbó





Dengan begitu morfem ‘subjek tunggal ialah ύ , sedangkan morfem subjek jamak ialah ύ .
4.      Yang dimaksud dengan gabungan fonem-fonem prosidi dan keprosidian ialah intonasi atau lagu kalimat. Pada umumnya fonem-fonem prosidi yang dipakai adalah nada, yang digabungkan dengan persediaan. Perhatikan perbedaan berikut:
         2   3        3   1
( 1 ) #  amat       makan
        2   3        3    2
( 2 ) # amat         makan

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa intonasi #( 2 )3 ( 2 ) 3 1# adalah berita, sedangkan #( 2 ) 3 ( 2 ) 3 2# adalah tanya.
Yang lebih rumit, dan mungkin kera itu jarang dan tak pernah dipakai oleh bahasa-bahasa di dunia ini, ialah menggabungkan antara nada, tekanan, dan persendian yaitu bagi bahasa-bahasa yang mempunyai tekanan sebagai fonem. Fonem-fonem panjang tak pernah ,dipakai untuk mengadakan gabungan semacam ini. Demikian pula, fonem tekanan tanpa nada sehingga gabungan yang pertama yaitu antara nada dan persendian, itulah yang umum dipakai oleh bahasa-bahasa di dunia ini.
5.      Wujud yang terakhir ialah wujud morfem yang tanwujud, yaitu apabila bermanifestasikan kosong. Tanwujud ini hanya mungkin secara teoritis analitis saja. Secara umum bisa digambarkan hal sebagai berikut :
      Bentuk
1.      X + Y
2.      X
3.      X + Z
4.      X + U
Konsep
A + B
A + C
A + D
A + E

Jelas kelihatan bahwa bentuk (2)/ yaitu X yang mengandung konsep A + C bisa dikatakan rangkap. Jadi, jika dilihat pada (1), (2), (3), dan (4), X sendiri mengandung konsep A, mestinya konsep C dinyatakan dengan kosong atau tak ada bentuknya. Untuk memberikan pengertian ini ilmu bahasa memakai penandaan Ø, jadi Ø ‘C’ artinya bentuk tanwujud ini mengandung konsep ‘C’.
Contoh dalam bahasa Sieerra Azatec berikut ini :
1.      nitayi
2.      titayi
3.      tayi
4.      nantayi
‘aku minum’
‘engkau minum’
‘dia minum’
‘kamu minum’
            Morfem ‘dia’ ialah tanwujud pada datum (3) di atas.
Hendaklah diingat bahwa ahli bahasa tidak bisa secara manasuka saja menciptakan morfem-morfem tanwujud atau kosong atau tanwujud itu, sebab apabila morfem-morfem kosong boleh diciptakan semua ahli bahasa saja, sebuah bahasa akan penuh dengan morfem-morfem kosong belaka.
Dalam bahasa Inggris terdapat pula bentuk tanwujud seperti berikut ini :
Tunggal
Buk
haws
śiyp
Jamak
Buks
Bægz
Hawsez
śiyp

‘buku’
‘tas’
‘rumah’
‘domba’

Bentuk tanwujud pada / śiyp/ itu bukanlah morfem, melainkan hanyalah alomorf dari morfem jamak saja. (Samsuri, 1981:182-185)




F.    Jenis Morfem

            Jenis-jenis morfem bisa ditentukan oleh dua macam kriteria yaitu (1) kriteria hubungan dan (2) kriteria distribusi. Kriteria hubungan dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu (1) yang ditentukan oleh hubungan struktur dan (2) hubungan posisi, sedangkan kriteria distribusi hanya berupa dua macam, biarpun macam-macam ini bisa diberi lagi penggolongan-penggolongan lain.
1.      Secara Hubungan
1)      Menilik hubungan struktur morfem-morfem dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu morfem-morfem :
a.       Yang bersifat tambahan. Yang pertama ini sebenarnya morfem-morfem yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti urutan-urutan /rumah/, /ayah/, dan /besar/. Unsur-unsur morfem ini tidak lain ialah penambahan bahan (aditif) yang satu dengan yang lain.
b.      Yang bersifat penggantian (replasif). Bentuk kedua ini misalnya dalam bahasa inggris. Untuk menyatakan jamak, umpamanya, banyak alomorf yang terdiri atas bentuk-bentuk ini. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, mEn/, dan lain sebagainya merupakan dua morfem sebenarnya, yaitu /f…t/ dan /iy     - -u/, /m…s/,        /ay    - -aw/, serta /m…n/ dan E   a/. bentuk-bentuk yang pertama itu bisa diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’ dan ‘orang laki-laki’, sedangkan yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang akhir inilah merupakan morfem-morfem (lebih tepat alomorf-alomorf) yang bersifat menggantikan, Karen /u/ diganti dengan /iy/ pada kata foot dan feet. /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata-kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh /e/ pada man dan men.
c.       Yang bersifat pengurangan (substraktif). Morfem-morfem yang bersifat pengurangan terdapat , misalnya pada bahasa Perancis. Pada bahasa Perancis ada sederetan bentuk-bentuk yang adjektif yang dikenakan pada bentuk-bentuk yang bersifat betina, dan sederetan bentuk-bentuk yang bersifat jantan secara ketatabahasaan.
Contoh :
Betina
/movεz/
/fos/
/bon/
/sod/
/ptit/
Jantan
/movε/
/fo/
/bo/
/so/
/pti/

‘buruk’
‘palsu’
‘baik’
‘panas’
‘kecil’, dll.
Bentuk yang bersifat jantan itu terdiri atas bentuk-bentuk yang “bersifat betina” dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem “jantan”.
Kita boleh membalikkan hal di atas itu, yaitu menganggap bahwa konsonan akhir itu merupakan morfem “betina”. Akan tetapi, morfem-morfem ini akan mempunyai alomorf-alomorf yang bermacam-macam, dan yang paling penting, jika diketahui bentuk jantannya, misalnya /fraw/ ‘dingin’ kita tidak dapt memastikan dengan tegas dan segera bentuk betinanya yaitu /frawd/. Jika bentuk betinanya dinyatakan dengan menghilangkan konsonan akhirnya saja, misalnya bentuk /gras/ ‘gemuk’, bentuk jantannya ialah /gra/. Begitulah contoh morfem yang bersifat pengurangan.
2)      Hubungan posisi. Menilik hubungan posisi terdapat juga tiga jenis morfem yaitu yang bersifat urutan, yang bersifat sisipan, dan yang bersifat simultan. Ketiga jenis ini dengan mudah diketahui apabila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem yang lain.
a.       Yang bersifat urutan. Urutan morfem-morfem /mem/ + /baca/ + /kan/. Ketiga morfem itu posisinya bersifat urutan yaitu yang satu terdpat sesudah yang lain. Hal ini dapat dipertanggungjawabkan karena terdapat juga bentuk /baca/, bentuk /membaca/, bentuk /bacaan/ , dan bentuk /membacakan/. Bandingkan jenis ini dengan jenis yang ketiga dari jenis-jenis morfem ini.
b.      Yang bersifat sisipan. Morfem-morfem jenis ini misalnya /in/ dalam bahasa Jawa. Dari morfem /tuku/ ‘membeli’, kata /tinuku/ ‘terbeli/dibeli’ bisa diuraikan bahwa yang akhir itu terdiri atas /t…uku/ dan sisipan /in/ yang terdapat sesudah konsonan pertama dari dasar /tuku/.
Bahasa Kanhmuk terdapat pula sisipan seperti berikut :
toh
see
peey
hiip
‘memahat’
‘mengebor’
‘mengipas’
‘menyendok’
trnoh
srnee
prneey
hrniip
‘pahat’
‘bor’
‘kipas’
‘sendok’
Morfem /rn/ dalam bahasa ini tersisipkan sesudah konsonan pertamaa dari dasar. Morfem-morfem sisipan banyak terdapat dalam bahasa Indonesia, bahasa Tombulu (dari bahasa Filiphina) morfem-morfem sisipan itu mungkin menyatakan aspek-aspek aktivitas
c.       Yang bersifat simultan. Jenis morfem-morfem simultan (atau disebut juga morfem tak langsung) terdapat pada bentuk-bentuk seperti /kehujanan/, /kemalaman/, /kedenaran/, yang terdir atas dasar-dasar /hujan/, /malam/, /denar/, dan morfem simultan /ke…an/. Sebagai keterangan bahwa /ke…an/ itu memang morfem simultan, dapatlah diberikan bahwa tak ada bentuk-bentuk atau kata-kata */kehujanan/, */kemalaman/, atau kata-kata */hujanan/, */malaman/, dan */denaran/. Jadi satu-satunya penafsiran dari kata-kata /kehujanan/, /kemalaman/, dan /kedenaran/ seperti diatas.
2.      Secara Distibusi
Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa jenis-jenis morfem yang ditentukan oleh distribusi ada dua yaitu morfem-morfem bebas dan morfem-morfem terikat.
a.       Morfem-morfem bebas ialah morfem-morfem yang dapat diucapkan tersendiri seperti kursi, dinding dan sebagainya.
b.      Morfem-morfem terikat ialah morfem-morfem yang tak pernah diucapkan tersendiri. Bagian ini akan diuraikan lebih lanjut pada bab berikutnya. (Samsuri, 1981:186-189).

Latihan 3 :

1.      Jelaskan pengertian morfem !
2.      Jelaskan pengertian morf, alomorf, dan kata dengan contoh !
3.      Apakah yang dimaksud dengan deretan morfologis ?
4.      Apakah manfat deretan morfologis ?
5.      Bagaimanakah prosedur pengenalan morfem ? berilah contohnya !
6.      Sebutkan prinsip-prinsip pengenalan morfem ! masing-masing berilah contohnya !
7.      Sebutkan wujud morfem ! masing-masing berilah contohnya !
8.      Jelaskan jenis morfem berdasarkan kriteria hubungan !
9.      Jelaskan jenis morfem berdasarkan kriteria distribusi !

Rangkuman 5

Pada dasarnya morfem adalah bentuk terkecil yang mempunyai arti atau makna atau komposit bentuk pengertian yang terkecil yang sama atau mirip yang berulang.
Morf sering diartikan sebagai bentuk-bentuk tunggal  atau bentuk-bentuk yang tidak dapat dibagi lagi menjadi bentuk-bentuk yang lebih kecil, sedangkan alomorf adalah morf-morf yang mempunyai struktur fonologis yang mirip (hamper sama), mempunyai arti atau makna sama, serta merupakan anggota dari morfem. Disamping itu, morf diartikan juga sebagai realisasi morfem yang abstrak. Yang dimaksud kata adalah bentuk bebas yang terkecil, atau dengan kata lain kata adalah morfem bebas.

Deretan morfologis adalah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya, yang berfungsi untuk mencari dan menentukan suatu bentuk dasar suatu bahasa, serta dapat menentukan jumlah morfem pada suatu bentuk yang meragukan.
Pengealan morfem dilakukan dengan membanding-bandingkan bagian-bagian yang berulang dan dengan mengadakan subatitusi. Untuk dapat mengenal morfem-morfem suatu bahasa kita harus memahami keenam prinsip pengenalan morfem, kemudian kita mencoba menemukan morfem pada latihan yang telah  bersedia.
Wujud morfem ada lima macam ini yakni (1) urutan fonem-fonem yang merupakan morfem-morfem, (2) urutan fonem segmen yang bersama-sama fonem-fonem tekanan membentuk morfem-morfem atau dengan salah satu prosodi yang lain, (3) morfem-morfem yang terdiri dari atas fonem-fonem prosodi melulu tidak banyak terdapat, dan apabila ada tentulah selalu bersama-sama fonem-fonem, (4) gabungan fonem-fonem prosodi dan keprosodian ialah intinadi atau lagu kiamat, dan (5) morfem terwujud.
Jenis-jenis morfem bisa ditentukan oleh dua macam kriteria yakni (1) kriteria hubungan yang terdiri atas (a) yang ditentukan oleh hubungan struktur dan (b) hubungan posisi; (2) kriteria distribusi hanya terdiri atas dua macam meskipun penggolongan ini hanya dua akan tetapi masih dapat dirinci lagi. Kriteria hubungan ada tiga macam yakni (1) bersifat tambahan (adiktif), (2) penggantian (replasif), dan (3) pengurangan (subsraktif). Hubungan posisi ada 3 macam yakni (1) bersifat urutan dan (2) sisipan serta (3) simultan. Secara distribusi terdiri atas morfem bebas dan morfem terikat.

Latihan analisis Morfologi
1.      Bahasa Kawi :
Tugas : Daftarlah morfem-morfem yang terdapat dalam data ini :
/tukar/
/ken/
/weh/
/haruk/
/tapek/
/pinta/
/campur/
/tumbas/
/tulak/
‘berkelahi’
‘menyuruh’
‘memberi’
‘menyerang’
‘tapak kaki’
‘minta’
‘çampur’
‘membeli’
‘tolak’
/patukar/
/pakon/
/paweh/
/panharuk/
/panapak/
/paminta/
/panampur/
/panumbas/
/panulak/
‘perkelahian’
‘suruhan’
‘pemberian’
‘serangan’
‘penampakan’
‘permintaan’
‘penyempurnaan’
‘pembelian’
‘penolakan’




2.      Bahasa Makasar
Tugas : Daftarlah morfem-morfem yang terdapat dalam data di bawah ini
/menjana/
/pepeka/
/busia/
/bulana/
/metaya/
/limaya/
‘meja itu’
‘api itu’
‘pesi itu’
‘bulan itu’
‘mata itu’
‘tangan itu
/mejaku/
/pepe?nu/
/bassina/
/bulanta?/
/mataku/
/limanu/
‘mejaku’
‘apimu’
‘besinya’
‘bulan kita’
‘mataku’
‘tanganmu’

3.      Bahasa Banjar
Tugas      :    Daftarlah morfem-morfem yang terdapat dalam data ini bersama dengan alomorf-alomorf yang ada.
/tataban/
/tawani/
/tabunul/
/taganal/
/sinhebanan/
/sinwaniyan/
/sinbunulan/
/sinbunulan/
‘lebih merah’
‘lebih berani’
‘lebih bodoh’
‘lebih besar’
‘sangat merah’
‘sangat berani’
‘sangat bodoh’
‘sangat besar
/pahanna/
/pawanita/
/pambunulna/
/panganalna/
/kahabanan/
/kawinayan/
/kabumulan/
/kaganalan/
‘paling merah’
‘paling berani’
‘paling bodoh’
‘paling besar’
‘terlalu merah’
‘terlalu berani’
‘terlalu bodoh’
‘terlalu besar’

4.      Bahasa Dayak Ngaju
Tugas : Jelaskan morfem-morfem aktif dan pasif pada data di bawah ini :
/tena/
/basa/
/surat/
/ukeu/
/patey/
/dari/
/duwan/
‘beri’
‘baca’
‘tulis’
‘bukat’
‘bunuh’
‘lari’
‘ambil’
/manena/
/mambasa/
/menurat/
/mukey/
/mempatey/
/mandari/
/manduwah/
‘memberi’
‘membaca’
‘menulis’
‘membuka’
‘membunuh’
‘mengusir’
‘mengambil
/inena/
/imbasa/
/inurat/
/iukey/
/impaty/
/indari/
/induwan/
‘diberi’
‘dibaca’
‘ditulis’
‘dibuka’
‘dibunuh’
‘diusir’
‘diambil’

5.      Bahasa Dayak Kodam
Tugas         :           Tentukan bentuk afis nominal dan alomorf-alomorf di bawah ini :
/nopen/
/nasah/
/maca/
/miker/
/ampau/
/ancila/
‘mendengar’
‘menggosok’
‘membaca’
‘memikir;
‘memanggil’
‘mencela’
/ponopen/
/ponasah/
/pomaca/
/pomikir/
/pompaw/
/poncila/
‘pendengaran’
‘penggosokan’
‘pembaca’
‘pemikir’
‘seruan’
‘celaan’

6.      Bahasa Remboken (Hinabasa)
Tugas      :    Daftar morfem-morfem aspek serta anggota-anggotanya (jika ada) pada data di bawah ini :
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
/purut/
/murut/
/mapurut/
/minapurut/
/purrutan/
/mamurut/
/kapurut/
/pinurut/
/pimurut/
/pepurut/
/naypapurut/
/papapurut/
/naypamurut/
/papapurut/
/naypapapurut/
/naypapalutu?/
/papalutu?/
/naypapalutu/
/palutu?/
/naypalutu?/
/palutu/
/limutu?/
/linutu?/
/kalutu?/
/malutu?/
/litu?an/
/munalutu?/
/malutu?/
/lumutu?/
/lutu?/
‘pungut’
‘akan memungut’
‘sedang memungut’
‘sedang memungut (lampau)
‘akan dipungut’
‘memungut’
‘dapat memungut’
‘dipungut (lampau)
‘memungut (lampau)
‘sedang dipakai memungut’
‘sedang dipakai memungut (lampau)’
‘disuruh memungut’
‘disuruh memungut (lampau)’
‘diminta memungut’
‘diminta memungut (lampau)’
‘diminta memasak (lampau)’
‘diminta memasak’
‘disediakan masakan (lampau)’
‘disediakan masakan’
‘sedang disediakan masakan (lampau)’
‘sedang disediakan masakan’
‘memasak (lampau)’
‘dimasak (lampau)’
‘dapat dimasak”
‘memasak’
‘akan dimasak’
‘sedang memasak (lampau)’
‘sedang memasak’
‘akan memasak’
‘masak’



7.      Bahasa Indonesia
Tugas :    a.  Jelaskan morfem-morfem imbuhan (afiks) pada kata-kata kerja di bawah ini dengan mengingat dasar-dasarnya.
               b.  Berapa jumlah morfem-morfem verbal itu?
1)      Bulan purnama menerangi desa yang sunyi itu
2)      Bapak sedang mengairi sawah
3)      Embun pagi membasahi rumput yang kekuning-kuningan itu
4)       Dengan mudah pemburu itu menggeluti harimau yang telah mati
5)      Adik sedang menguliti bukunya yang baru
6)      Nenek menyayangi kucingnya yang hitam itu
7)      Pak guru memarahi muridnya yang malas
8)      Gadis itu asyik memandangi bunga melati
9)      Ia memukuli kasur dengan pemukul rotan
10)  Abu menciumi adik yang manis itu
11)  Mereka mendiami rumah gedung di tepi sungai
12)  Peladang itu menanami kebunnya sejak pagi tadi
13)  Perahu kontiki menjelajahi dua lautan
14)  Sebuah kompromi mengakhiri pertikaian itu

8.      Bahasa Sunda
Tugas      :    Tentukan awalan verba serta alomorf-alomorfnya pada daya di bawah ini :
/cendak/
/kumbah/
/akut/
/gantos/
/etan/
/ical/
/warah/
/debar/
/bina/
/penta/
/rampa/
/tampa/
/udeg/
‘ambil’
‘cuci’
‘angkut’
‘ganti’
‘hitung’
‘jual’
‘didik’
‘makan’
‘hina’
‘minta’
‘raba’
‘terima’
‘kejar’
/nandak/
/numbah/
/nakut/
/nagantos/
/neton/
/nical/
/nawarah/
/nadahar/
/nabina/
/menta/
/narampa/
/nampa/
/nudeg/
‘mengambil’
‘mencuci’
‘mengangkut’
‘mengganti’
‘menghitung’
‘menjual’
‘mendidik’
‘memakan’
‘menghina’
‘meminta’
‘meraba’
‘menerima’
‘mengejar’




9.      Bahasa Madura
Tugas : Terangkan morfofonemik yang terdapat di bawah ini :
/soroy/
/ajam/
/peren/
/kamar/
/otak/
/pe?let/
/cellap/
/lebar/
‘sikat’
‘ayam’
‘piting’
‘kamar’
‘otak’
‘pensil’
‘dingin’
‘menarik
/soroyyah/
/ajammah/
/perennah/
/kamarrah/
/atanggah/
/pe?addah/
/cellabbah/
/laborrah/
‘sikat itu’
‘ayam itu’
‘piring itu’
‘kamar itu’
‘otak itu’
‘pensil itu’
‘dinginnya’
‘menariknya’

10.  Bahasa Jawa
Tugas      :    Jelaskan morfofonemik yang disebabkan oleh perulangan pada data di bawah ini :
/siji/
/rene/
/turu/
/soto/
/loro.
/bebe?/
/manan/
/lon ton/
/bali/
/piro/
/patan/
‘satu’
‘ke sini’
‘tidur’
‘soto’
‘sakit’
‘itik’
‘makan’
‘lontong’
‘kembali’
‘berapa’
‘gelap’

/sijasiji/
/renarene/
/turaturu/
/sotasoto.
/loreloro/
/bebe?bebe?/
/mananmenen/
/lontanlontun/
/bolabali/
/pirapiro/
/patanpatan/

‘lagi-lagi satu’
‘lagi-lagi ke sini’
‘lagi-lagi tidur’
‘lagi-lagi soto’
‘lagi-lagi sakit’
‘lagi-lagi itik’
‘lagi-lagi makan’
‘lagi-lagi lontong’
‘lagi-lagi kembali’
 ‘lagi-lagi berapa’
‘lagi-lagi gelap’
(Samsuri, 1981 : 204 – 218)



IV.   PROSES MORFOLOGIS
Pada bagian keempat ini mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian proses morfologis, afiks, proses pengulangan, proses pemajemukan, konstruksi enodsentrik dan eksosentrik, derivasi dan infeksi, serta deverbal dan denominal.

A.    Pengertian Proses Morfologis
Proses morfologis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya itu mungkin berupa kata terjauh yang dibentuk dari kata jauh, kata menggergaji yang dibentuk dari bentuk dasar gergaji, rumah-rumah yang dibentuk dari dasar (BD) rumah, bentuk berjalan-jalan dari BD berjalan; mungkin berupa pokok kata, misalnya bertemu yang dibentuk dari bentuk dasar pokok kata (BDPK) temu, kata bersandar yang dibentuk dari BDPK sandar, kata mengalir yang dibentuk dari BDPK alir, mungkin berupa kata dan kata, misalnya kata rumah sakit yang dibentuk dari kata rumah dan kata sakit, meja makan yang dibentuk dari kata meja dan kata makan, kepala batu yang dibentuk dari kata kepala dan kata batu, mungkin berupa kata dan pokok kata, misalnya pasukan tempur yang dibentuk dari kata pasukan dan pokok kata tempur, kolam renang yang dibentuk dari kata kolam dan pokok kata renang, dan mungkin pula berupa pokok kata dan pokok kata, misalnya kata lomba tari yang dibentuk dari pokok kata lomba dan pokok kata tari, kata jual beli yang dibentuk dari pokok kata jual dan pokok kata beli.
Pada kata terjauh, kata jauh mendapat bubuhan ter-, pada menggergaji, kata gergaji mendapat bubuhan men-, pada bertemu, pokok kata temu mendapat bubuhan ber-, pada bersandar, pokok kata sandar mendapat bubuhan ber-, pada kata mengalir pokok kata alir mendapat bubuhan men-. Proses pembubuhan seperti itu disebut afikasi,
Pada  kata berjalan-jalan, kata berjalan yang menjadi bentuk dasarnya bukan mendapat bubuhan seperti halnya kata terjatuh, melainkan diulang. Demikian pula kata-kata sepeda-sepeda, bermain-main, terbolak-balik, berpukul-pukulan, sayur-sayuran, kereta-keretaan, dan sebagainya. Proses pembentukan kata dengan pengulangan bentuk dasarnya itu disebut proses pengulangan atau reduplikasi.
Pada lata waktu kerja, kata waktu dan kata kerja yang merupakan bentuk dasarnya digabungkan hingga kedua kata itu menjadi satu kata. Demikian pula kata kolam renang dan kaki tangan yang dibentuk dari kata kolam dan renang, kaki dan tangan. Proses pembentukan kata dengan penggabungan semacam itu disebut proses pemajemukan.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologis ialah proses pembubuhan afiks, proses pengulangan dan proses pemajemukan. (Ramlan. 1985:45-49)

B.     Afiksasi
Kata-kata bersandar dari ber- dan sandar, mengambil men- dan ambil, terbagi dari ter- dan bagi, dipukul di- dan pikul, bacakan dari kata baca dan -kan, pembawa dari pen- dan bawa, kuliti dari kulit dan –i. Bentuk-bentuk seperti ber-, men-, ter-, di-, -kan, pen-, -i disebut afiks. Maka dasar yang memiliki kesanggupan melekat pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata kompleks.
1.      Ciri-ciri afiks :
Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, banyak dijumpai bentuk-bentuk yang mengandung kemiripan-kemiripan seperti afiks, sehingga mungkin kita menduga bahwa bentuk-bentuk seperti contoh berikut termasuk afiks, misalnya ku-, -mu, -nya, -lah, -kah, -pun pada bentuk-bentuk kubawa, sepedamu, miliknya, pulanglah, bolehkah, diapun.
Untuk mengetahui bentuk itu afiks atau bukan, maka kita perlu mengetahui ciri-ciri afiks. Ciri-ciri afiks adalah sebagai berikut :
a.       Berupa bentuk terikat
b.      Arti afiks secara reatif tida k tetap
c.       Tidak mempunyai arti leksikal
d.      Tidak pernah bertindak sebagai bentuk dasar
e.       Secara gramatis terikat
f.       Fungsi afiks untuk membentuk kata kompleks
g.      Memiliki kesanggupan untuk melekat pada bentuk-bentuk dasar yang lain.

Keterangan :
a.       Berupa bentuk terikat
Afiks selalu bentuk terikat, maksudnya bahwa bentuk itu atau bentuk-bentuk itu tidak pernah muncul sendiri. Dengan kata lain munculnya afiks itu selalu bersama-sama atau bergabung pada bentuk lain, misalnya ber-, men-, ter-, -i, -kah, -an, sdb. Akan tetapi tidak semua atau setiap bentuk terikat itu afiks.
Bandingkan dengan sandar, temu, dsb, dan –ku, -nya, dsb. itu
b.      Arti afiks secara relatif tidak tetap
Yang dimaksud dengan relatif tidak tetap ialah bahwa arti afiks itu agar bervariasi dari konsep dasarnya. Istilah variasi maksudnya perubahan atau perbedaan-perbedaan arti itu masih bertalian dengan konsepnya. Ari afiks itu berubah-ubah dan perubahan-perubahan arti afiks itu ditentukan oleh kata dasar yang dilekatinya. Arti-arti afiks merupakan perkembangan atau pergeseran saja dari konsepnya, misalnya ber- pada :
Beruang, berumah – arti : mempunyai . . . .
Berbaju, berbedak – arti : memakai . . . .
Berkebun, berladang – arti : mengerjakan/mengusahakan . . . .
Berguru, berdukun – arti : meminta bantuan . . . .
Bertelur, bersiul – arti : menghasilkan/mengadakan . . . .
Oleh karena itu, bila bentuk yang kita maksudkan itu mengandung arti yang tetap, maka bentuk tersebut bukanlah afiks.
c.       Tidak mempunyai arti leksikal
Yang dimaksud dengan arti leksikal ialah arti yang didukung oleh kata asal itu sendiri. Oleh karena afiks tidak memiliki makna leksikal, maka afiks bukan kata. Untuk membuktikan suatu bentuk dari segi ini ialah dengan melihat kamus. Apabila arti bentuk tertentu ditemukan dalam kamus, berarti bentuk tersebut afiks.
d.      Tidak pernah bertindak sebagai bentuk dasar
Bentuk-bentuk yang bisa bertindak sebagai bentuk dasar dalam suatu konstruksi morfologis hanyalah kata, sedangkan afiks bukan. Oleh karena itu, afiks tidak pernah bertindak sebagai bentuk dasar. Bentuk dasar merupakan salah satu unsur langsungnya bentuk kompleks itu, dan afiks merupakan unsur langsungnya yang lain.
e.       Secara gramatis terikat
Yang dimaksud dengan secara gramatis terikat ialah bahwa berdasarkan sistem tata bahasa hubungan afiks dengan kata dasarnya itu sangat erat. Hubungan itu demikian eratnya sehingga tidak dapat dipisahkan lagi atau disisipi bentuk lain, misalnya : berjalan, melongo, tidak mungkin kita kayakan misalnya ber akan jalan, me saja longo.
f.       Fungsi afiks untuk membentuk kata kompleks
Yang dimaksud dengan kata kompleks di sini ialah kata atau bentuk atau konstruksi yang salah satu unsur langsungnya berupa bentuk terikat atau tegasnya afiks. Dengan kata lain, peristiwa ini adalah peristiwa morfologis, maka hasil bentukan itu akan berupa kata bentukan/kata. Untuk itu, fungsi afiks ialah untuk membentuk kata kompleks.
g.      Memiliki kesanggupan untuk melekat pada bentuk-bentuk dasar yang lain.
Jika bentuk itu tidak memiliki kesanggupan untuk melekat pada bentuk-bentuk dasar yang lain, jelaslah bahwa itu bukan afiks. Mungkin merupakan unsur yang unik atau mungkin suku kata.
Di samping menerapkan ciri-ciri tersebut di atas, untuk membuktikan apakah bentuk-bentuk tersebut afiks ataukah bukan, dapat juga kita gunakan suatu teori yang disebut teoroi paralelisme.
Di bawah ini akan disajikan beberapa contoh penerapan ciri-ciri tersebut di atas dan teori paralelisme sebagai ilustrasi. Misalnya : -ku, -mu, -nya seperti pada motorku, motormu, motornya.
Penerapan ciri-ciri :
a.       Memungkinkan untuk disebut afiks karena bentuk-bentuk tersbeut berupa bentuk terikat.
b.      Arti -ku, -mu, -nya tetap. Karena mendukung arti yaang tetap, maka –ku, -mu, -nya bukalah afiks.
c.       –ku, -mu, -nya mempunyai arti leksikal, karena mempunyai arti leksikal, maka bentuk-bentuk tersebut buka afiks. Walaupun kuta sudah tahu pasti bahwa –ku, -mu, -nya bukan afiks kita perhatikan ciri-ciri berikutnya.
d.      Kemungkinan untuk disebut afiks.
e.       –ku, -mu, -nya secara gramatis tidak terikat dengan bentuk dasarnya. Maksudnya bahwa antara bentuk dasar dan –ku, -mu, -nya bisa disisipkan bentuk lain,
Bandingkan :
Di samping                          kita jumpai
Motorkku                            motor mioku
Motormu                             motor miomu
Motornya                             motor mionya
Jika demikian, -ku, -mu, -nya untuk disebut afiks terbalang. Dengan demikian bentuk-bentuk tersebut bukan afiks.
f.       Bentuk-bentuk sepedaku, sepedamu, sepedanya bukanlah bentuk kompleks atau kata, melainkan frasa. Oleh karena itu, -ku, -mu, -nya bukan afiks.
Penerapan ciri-ciri tersebut sebenarnya tidaklah perlu semuanya digunakan. Pengingkaran terhadap satu ciri cukup untuk membuktikan bahwa bentuk tersebut bukan afiks.
Di atas telah disinggung teori paralelisme. Untuk itu berikut ini akan dijelaskan secara singkat. Yang dimaksud dengan paralelisme ialah paralel atau kesejajaran dalam distribusi. Suatu bentuk terikat umpamanya, akan tetapi dalam distribusi paralel dengan bentuk bebas, maka bentuk tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk bebas.
Pengertian bebas di sini perlulah kiranya diberi penjelasan lebih lanjut. Kebebasan bagi bentuk terikat tersebut sebenarnya bukanlah benar-benar bebas seperti kata sepeda, misalnya. Kebebasan bentuk-bentuk tersbeut tidaklah sama benar dengan bentuk-bentuk bebas yang lain. Kebebasannya itu hanya diparalelkan saja, jadi bebas tapi terikat. Kebebasan yang demikian itu disebut kebebasan yang potensial, sedangkan kebebasan bagi bentuk-bentuk bebas yang memang benar-benar bebas disebut kebebasan yang aktual. Contoh bebas potensial : -ku, -mun, -nya seperi yang telah dicontohkan di atas.

Macam-macam afiks berhubungan dengan posisinya :
Berhubungan dengan posisinya afiks dapat dibedakan atas :
a.       Prefiks
b.      Infiks
c.       Sufiks
d.      Simulfiks (yang akan diperjelas prinsip-prinsip penentuan relasi afiks)

a.       Prefiks
Prefiks ialah efiks yang dilekatkan atau digabungkan di depan bentuk dasar. Contoh :
men- pada :       menjual,  mendarat, menepi, mendatang, meluas, menyatu, dsb.
ber- pada      :    berluang, beralih, bertopi, belajar, berpadu.
di- pada        :    dibawakan, diresmikan, dilarikan, dikemasi, dibangun, dsb.
ter- pada       :    terbakar, terdorong, tertidur, tersenyum, teringat, dsb.
pen- pada      :    pencukur, pembela, peninju, penggarang, pembaca, pemotong.
pe- pada        :    penulis, pelerai, peramai, pewaris, pedagang, dsb.
se- pada        :    sebelum, sesudah, sedunia, sekarung, segunung, setinggi, dsb.
per- pada      :    persatu, pertuan, perbudak, perhalus, perkuda, dsb.
ke- pada        :    ke toko, ke rumah, ke sana, dsb.

b.      Infiks
Infiks ialah afiks yang disisipkan di tengah bentuk dasar.
Yang tergolong infiks misalnya :
-el- pada        :    geletar
-em- pada      :    gemilang, kemilau, gemuruh, temali, temeram, gemetar
-er- pada        :    gerigi, seruling
Infiks bahasa Indonesia itu sangat improduktif karena tidak ada bentukan baru atau langka terjadi pembentukan dengan infiks ini.

c.       Sufiks
Sufiks ialah afiks yang dilekatkan atau digabungkan di belakang bentuk dasar. Yang tergolong infiks misalnya :
-kan pada      :    jahitkan, tinggikan, ketikkan, datangkan, betulkan, dsb.
-i pada          :    panasi, lampaui, sakiti, naiki, gambari, atapi, sampuli, dsb.
-an pada        :    minuman, mingguan, timbangan, dsb.
-wan pada     :    gerilwayan, usahawan, rokhaniawan, negarawan, dsb.
-wati pada    :    seniwati, peragawati, biarawati, wartawati, dsb.

d.      Simulfiks/Konfiks
Simulfiks ialah afiks yang berposisi di awal dan di belakang bentuk dasar yang melekat bersama-sama atau berbareng. Contoh simulfiks sebagai berikut :
ke-an pada    :    keberangkatan, keberhasilan, kesinambungan, kedengaran, dsb.
pen-an pada  :    pendidikan, pemulangan, pembulatan, pendaratan, dsb.
per-an pada   :    perekonomian, perapian, peredaran, peralihan, perpaduan, dsb.
ber-an pada   :    berbatasan, berkeliaran, berpasangan, bergulingan, dsb.
se-nya pada  :    serajin-rajinnya, sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya, sepenuh-penuhnya, secepat-cepatnya, dsb.

Pantun simulfiks pada struktur morfologis kadang-kadang terjadi kesimpangsiuran. Misalnya bentuk berpakaian kemungkinan yang terjadi penentuan simultan atau bukan pada bentuk tersebut seperti terlihat berikut ini :
berpakaian →      1. ber + pakaian
                            2. berpakai + an
                            3. (ber-an) + pakai
Karena pada berpakaian terdapat dua afiks, maka teknik bertanyanya ialah bagaimanakah relasi posisi afiks-afiks itu?
Ber- dan –an itu bersama-sama atau berbareng atau simulfikakah prosesnya? Ataukah berturut-turut? Jadi, relasi posisi afiks itu akan dapat kita temuan, bila pada kata kompleks itu terdapat dua afiks atau lebih. Contoh sebagai penjelasan, misalnya : berpakaian dan berlompatan.
Dari kedua contoh tersebut ternyata bahwa ber –an pada berpakaian itu melekatnya secara berturut-turut.

Penentuan simulfiks pada struktur morfologiis kadang – kadang terjadi kesimpangsiuran. Misalnya bentuk perpakaian,kemungkinan yang terjadi penentuan simultan atua bukan pada bentuk tersebut seperti terlihat berikut ini :
Berpakaian        Ber + pakaian
  Berpakai + an
  (ber – an ) + pakai
Karena pada berpakaian terdapat dua afiks, maka teknik bertanyanya ialah Bagaimana relasi afiks-afiks itu?

ber- dan –an itu bersama-sama atau berbarengan atau simulfiklah prosesnya? Ataukah berturut-turut?  Jadi,relasi posisi afiks itu akan dapat kita temukan bila pada kata ompleks itu terdapat dua afiks atau lebih.












Jadi relasi posisi ber - dan -an itu secara barturut­-turut. Prosesnya= pakai ….  Pakaian…. Berpakaian; sedangkan (ber-an) pada berlompatan itu prosesnya atau  relasi oposisinya berbareng, atau simultan, yang prosesnya lompat … berlompatan.
Dengan demikian, afiksasi yang proses melekatnya itu ofiks itu secara  berturut-turut dan berturut-turut pula arti yang di dukungnya (seperti ber- dan- an pada berpakaian) relasi posisinya disebut berturutan; sedangkan ang prosesnya melekatnya afiks-afiks itu secara berbarengan dan secara berbareng pula mendukung satu arti relasi posisinya disebut berbareng atau simultan.
Untuk itu perlu memahami prinsip-prinsip penentuan relasi posisi afiks seperti diuraikan dibawah ini.
Untuk menetapkan apakah afiks-afiks itu merupakan afiks-afiks yang berurutan ataukoh merupakan afiks-afiks yang terikat terbagi perlu perlu kiranya menentukan prinsip-prinsip itu adalah :
I.         :  mencari bentuk yang satu tingkat lebih kecil
II.      : bentuk dasrnya terdapat dalam penggunaan bahasa sehari-hari
III.   : nosinya sejalan dengan bentuk dasarnya.
Penjelasan penerapan prinsip :
prinsip I: mencari bentuk yang satu tingkat lebih kecil, bentuk yang satu tingkat lebih kecil dari pada bentuk semula atau bentuk kompleks yang dianalisis. Ini berarti bahwa kita menganalisis bentuk itu atas dasar IC nya. Salah satu unsur langsungnya yang berupa afiks kita sisibkan, sedangkan unsur langsung yang lain yang berupa bentuk tunggal ataupun bentuk kompleks itulah bentuk dasarnya
misalnya : berpakaian Kemiungkinan – kemungkinan IC-nya ialah
1)        Berpakai + an
2)        (ber-an) + pakai
3)        Ber + pakaian
Jadi, bentuk – bentuk yang mungkin akan bertindak sebagai bentuk dasar ialah : berpakaian, pakai, pakaian.
Prinsip II:
Bentuk dasar itu terdapat daalm penggunaan bahasa sehari-hari Bentuk-bentuk yang bisa bertindak sebagai bentuk, dasar adalah kata, baik yang berupa kata, tunggal ataupun yang berupa kata kompleks. Karena bentuk tersebut berupa kata kompleks, maka bentuk tersebut harus mendukung arti dan terdapat dalam penggunaan bahasa sehari-hari Menurut analisis di atas bentuk-bentuk dasar itu ialah berpakai, pakai dan pakaian. Penerapan prinsip II:
Berpakaian : tidak mendukung arti dan tidak terdapat  Bahasa sehari-hari. Karena itu, kemungkinan ini kita kesam­pingkan.
Pakai dan pakaian kedua-duannya terdapat dalam penggunaan vbahasa sehari-hari Jika demikian keduanya itu mungkin.demikian keduannya itu mungkin.
Prinsip III
Nosinya sejalan dengan bentuk dasarnya. Maksudnya bahwa bentuk afiks yagn  ultima mendukung arti se­perti, yang tersebut pada bentuk dasarnya.
Misalnya ber-an pada pakai tersebut tidak mendukung arti secara simultan, sadangkan ofiks yang nendukung  arti ialah ber-yaitu memakai / menggunakan apa yang biasa pada bentuk dasarnya yaitu pakaian. Jadi arti berpakaian ialah memakai/menggunakan pakaian
Jika demikian proses melekatnya ber- dan -an pada berpakaian itu secara  berburut-turut.
Jadi prosesnya: pakai, pakaia, berpakaianini berarti bahwa relasi posisi afiks -afiks ber-an pada berpakaian ialah afiks  yang berturutan.
Contoh lain kata berlompatan
Prinsip I kemungkinan-kemungkinanya
1)   berlompat + -an
2)   ber  + lompatan
3)   (ber-an) + lompat

Prinsip II  kemungkinan-kemungkinanya
1)  
2)   lompatan
3)   lompat
Prinsip II 
kemungkinan-kemungkinanya
Afilks yang nosinya sejalan ialah (ber-an) yaitu melakukan seperti yang tersebut pada bentuk da­sarnya yaitu lompat dengan tidak teratur
Jika demikian, proses melakatnya (ber-an) pada berlompatan adalah secara simultan. Jadi prosesnya lompat  berlompatan ini berarti bahwa relasi  posisi afiks-afiks (ber-an) pada berlompatan adalah secara simultan  jika demikian afiks (ber-an) pada berlompatan adalahafiks yang terbagi-bagi atau  simulfiks
Satu contoh lagi kata berpandangan
Prinsip  I:
1)    berpandang + an
2)    ber-            + pandangan
3 ) (ber-an)     + pandang.
Prinsip  II:
Kemungkinan-kemungkinan :
1)    ……….
2)     pandangan
3 )  pandang.
Prinsip III
Nosinya yang sejalan
1)    -
2)    Mempunyai
3)    Saling


berdasarkan tinjauan secara morfologis. kedua-duanya itu benar. Untuk menentukan kemungkinan benar seperti yang kita maksudkan maka  bentuk-bentuk itu kita katakan dalam suatu konteks kalimatt. Jadi, nosi ofiks ultima pada kata berpandangan sifatnyo sangat situasional. Ini berarti menganalisis yang secara teksonomis hanyalah bersifat teoritis belaka karena hakekatnya ahasa itu merupakan suatu kebulatan.
Cobalah badingkan :
1)      Orang itu sangat berpandangan sangat luas
2)      Setelah berpandangan sebentar dengan Ibunya, keluarlah ia meninggalkan ruang itu.
Ber-an pada berpandangan dalam kalimat pertama adalah. afiks - afiks yang berurutan, sedangkan (ber-an) pada berpandangan dalam kalimat kedua afiks-afiks yang terikat-terbagi
afiks -afiks yang berturutan jumlahnya jauh lebih banyak, dan variasinya sangat beraneka ragam, antara lain:
1.         Ber – an                        :    Berpandangan –bersentuhan
2.        bekan                             :    bersenjatakan, bermenantukan
3.        ber – ke                         :    berkehendak.
4.        Ber-peran                      :    Berperawakan, berperalatan.
5.        Ber- (peNan)                 :    berpendirian, berpendidikan
6.        ber –(ke-an)                   :    berkeberatan, berkemauan
7.        meN – per                     :    memperbesar, memperluas
8.        meN-I                            :    menduduki, melunasi
9.        menper-I                        :    memperbaiki, memperbarui
10.    meN-kan                       :    menduduki, membawakan
11.    meN, per-kan                :    mempersatukan, memperlihatkan
12.    meN-ber-kan                 :    memberhentikan, memberlakukan
13.    meN-se-I                       :    menyetujui
14.    meN-se-kan                   :    menyesuaikan, menyeragamkan
15.    meN-ke-I                       :    mengetahui
16.    di – per                          :    dipersempit, dipertinggi
17.    di-per-I                          :    diperbaiki, diperbarui
18.    di-per-kan                      :    dipertunjukkan, diperlihatkan
19.    di-ber-kan                      :    diperhentikan, diberdirikan
20.    di-se-I                            :    disetujui
21.    di-se-kan                       :    disesuaikan, diseragamkan
22.    di, ke-I                          :    diketahui, diketaui
23.    di-meN                          :    dimengerti
24.    ter-I                               :    terlampaui, terlewati
25.    ter-kan                           :    tertahankan, terkirakan
26.    (per-an)                          :    persetujuan, persesuaian
27.    peN-an) se                     :    penyeragaman, penyesuaian
28.    (ke-an) se                       :    keseimbangan, keselaraasan
29.    (ke-an ter                       :    keterlambatan, ketergantungan
30.    (ke-an) ber                     :    keberhasilan, keberuntungan
31.    Per-kan                          :    perbesarkan, perebutkan
32.    peN-per                         :    pemerhati
33.    se-(peN-an)                   :    sepengetahuan








Pengulangan (reduplikasi)
1.      pengertian
proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk dasar atau satuan gramatik baik sebagian atau seluruhnya, baik dengan fariasi fonem maupun tidak hasil pengulangan itu disebut kata ulang misalnya:
sakit                   :    sakit-sakitan
pemikiran          :    pemikiran-pemikiran
bertemu             :    bertemu-temu
membaca           :    membaca-baca
menjalankan      :    menjalan-jalankan
orang                 :    orang-orangan
robek                 :    robak-robik
lauk                   :    lauk-pauk
kereta                :    kereta-keretaan
2.      prinsip-prinsip menentukan kata ulang
dalam ajaran sehari-hari banyak kirta jumpai bentuk yang mirip seperti kata ulang misalnya pipi, dada, pupu, sia-sia, lobi-lobi, mondar-mandir, huru-hara, pepaya, ditinjau deskriptik bentuk-bentuk tersebut tidak dapat digolongkan kata ulang mungkin tinjauan dari segi lain bisa misalnya : dari segi historis.
Oleh karena adanya peristiwa-peristiwa yang semacam itulah maka kita perlu mengenal prinsip-prinsip yang digunakan untuk menentukan kata ulang
Adapun prinsip-prinsip itu adalah :
I.         terdapat kata dasar yang diulang
II.      terdapatnya pertalian arti yang relevan antara bentuk ulang itu dengan kata dasarnya
III.   perulang itu tidak mengubah klas kata
IV.   reduplikasi merupakan proses penutup

Keterangan

I.         terdapat kata dasar yang diulang
berdasrkan prinsip ini berarti bahwa harus kita temukan adanya kata-kata dasar yang diulang misalnya
Bentuk yang selalu ditemukan dalam paradigma itu ialah terlantar Dengan demikian, kata dasarnya ialah terlantar
Untuk menentukan kata dasar sekunder, berprinsip bahwa kata dasar itu terdapat dalam penggunaan bahasa sehari-hari Misalnya: bentuk dasarnya itu tidak mungkin atau menjalan-jalan. Karena bentuk-bentuk  tersebut tidak pernah kita temukan dalam penggunaan bahasa, sehari hari.
Contoh lain digerak-gerakkan . Bentuk dasarnya tidak mung­kin gerak atau digerak-gerakkan karena bentuk bahasa tersebut tidak pernah kita temukan dalam penggunaan bahas sehari-hari.
II. Terdapatnya pertalian arti bentuk-ulang itu dengan kata dasarnya.
Berdasarkan prinsip-prinsip ini berarti bahwa perta­lian arti dan bentuk dasar itulah yang menentukan adanya reduplikasi Demikinn juga. sabaliknya. Pertalian arti itu haruslah relevan atau sesuai dengan kata dasarnyu. Misalnya: hati dengan hati-hati. Bentuk lirguistik hati memang ada, tetapi pertalian arti ternyota tidak ada. Hati adalah seje­nis organ kita, sedangkan hati-hati maksudnya ingat-ingat karena tidak adanya pertalian arti, maka hati-hati tidak dapat digolongkan kata ulang, melainkan kata dasar Kecuali  bila yang dimaksud dengan hati-hati ialah banyak hati. Contoh lain: kata tiba dengan tiba-tiba Bentuk  linlistiknya tiba  memang ada. , tetapi pertalian arti ternyata tidak ada. jika artinya ternyata tidak ada  tiba artinya sampai atau datang sedangkan tiba-tiba artinya sekonyong-konyong atau dengan mendadak. Dengan demikian tiba-tiba bukanlah bentuk ulang dari tiba.



III. Tidak Mengubah Klas Rata.
Maksudnya bahwa klas kata  ulang itu haruslah sama dengan  klas kata dasarnya, misalnya klas kata dasar itu kata benda /nomina maka demikian juga dengan klas kata dari kata ulang itu kata kerja /verba  maka kata ulang dari kata dasar yang berkals kata kerja  verba pula. Contoh;
Berjalan     kata kerja/verba  :  berjalan-jalan
senang       Kata sifat/adjektiva  senang-senang
membaca    kata kerja/verba --- membaca-baca
jauh            kata sifat/adjehtive – jauh-jauh
kebaikan    kata benda/nomina  perbaikan-perbaikan
Contoh lain hati- dan hati-hati. Klas katanya sifat atau mungkin kata benda, jika klas dengan kata dasar kata tidak ada persoalan tetapi jika kias kita berubah berarti bahwa hati-hati bukanlah reduplikasi yang simultas dengan kata ulang itu sama tidak ada persoalan tettapi jika klas kita berubah berarti hati-hati bukanlah reduplikasi dari kata dasar hati.

IV Reduplikasi merupakan Proses
Yang dimaksud reduplikasi merupakan proses penutup ialah bahwa dalam proses morfologis, reduplikasi pada umumnya menutup kemungkinan terjadinya morfologis lebih lanjut. Yang dimaksud pada umumnya ialah bahwa ada bebrapa reduplikasi yang simultas dengan afiksasi (akan dijelaskan pada bagian lain) oleh karena reduplikasi merupakan proses penutup selanjutnya berarti proses-proses morfologis yang lain terjasinya terlebih dulu dari pada reduplikasi, misalnya  afiksasi dan komposisi. Jadi. I.C. dari kata ulang ialah kata dasar plus reduplikasinya.
Contoh
Berpegang-pegangan, I.C.nya Berpegang plus reduplikasi. Jadi,bukanlah (ber-an) plus Berpegang-pegangan
berputar-putar, I,C.nya berputar plus reduplikasi menonjol - nonjolkan, I.C.nya menonjolkan plus redupli­kasi.
ditutup-tutupi, I.C.nya  ditutupi- plus reduplikasi
kapal-kapal terbang I.C. nya kapal terbang plus redu­plikasi
kepala-kepala sekolah, I.C. nya kepala sekolahPlus reduplikasi
tempat-tempat tidur, IC.nya tempat tidur plus reduplikasi.
macam-macam kata ulang.
Kata ulang dapat digolongkan menjadi. Empat golongan yaitu .
a.  Mengulang seluruh bentuk dasarnya
b. Mengulang sebagian bentuk dasarnya;
c.  Mengulang dengan pertambahan afiksasi
d. Mengulang dengan  variasi fonem.
Keterangan
a.       Mengulang seluruh bentuk dasarnya
Yang  dimaksud dengan mengulang seluruh bentuk dasarnya ialah bentuk dasar itu diulang secara utuh, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses  pembubuhan afiks. Bentuk ini dibedakan menjadi dua macam:
1) dwilingga  yakni pengulangan bentuk dasar  yang hanya
tardiri dua suku kata.
Contoh
Sepeda  :  sepeda-sepeda
Kebaikan  : kebaikan-kebaikan
Pengertian : pengertian-pengertian




2) Trilingga, pangulangan bentuk dasar dengan.jumlah fonem yens sama tetapi terjadi perubahan vokal
Contoh:
dag-dig-dug
Cas-Cis-Cus
ngak-ngik-nguk
b.      Mengulang sebagian bentuk dasar
Mengulang sebagian bentuk dasarnya ialah Mengulang bentuk baik bagian depan maupun mengulang bagian belakang bentuk dasarnya.
Pada umumnya peristiwa ini ini terjadi pada kata-kata dasar yang berupa kata kompleks atau kata majemuk. yang berupa kata asal pun ada tetapi jumlahnya tidak begitu banyak
Contoh yang berupa kata asal dan perulangannya
terjadi di depan (dwipurwa),:
la laki          : laki- laki  :  lelaki
tamu            :  tamu-tamu: tamu – tamu
tangga.        : tangga - tangga  : tetangga.
Adapun kata dasar yang berupa kata kompleks yang pengulangannya itu seacra sebagian saja, banyak terdapat dalam Bahasa Indonesia.
1)      Bentuk : men-i, men-kan, atau memper-kan serta dengan variasinya
melempari            melempari- melempari
mendekati   ---- > mendekati- mendekati
melontarkan---- >  melontarkan- melontarkan
melemparkan ---- > melemparkan -melemparkan
memperkatakan  memperkata-katakan
dan bentuk gabungan yang lain seperti di-kan, di-i diper-kan
2)      Bentuk simulfiks: ber-an, se-nya
berlompatan      berlompata-lompatan
berlarian            berlarian-larian
bersinggungan   bersinggung-singgungan
sepenuhnya ---- >sepenuh-penuhnya
serajinya---- >serajin-rajinnya
sekuatnya ---- > sekuat- kuatnya
setingginya ---- > setinggi-tingginya
3)   pengulangan bentuk dasar dua suku kata dari belakang
(dwiwasona).
Contoh;
mendorong ---- > mendorong -dorong
menembak ----- > menembak-nnembak
 diusap ----- > diusap-usap
dibelai ----- >  dibelai-belai
 berkata ----- > berkata-kata
berjalan   ----- > berjalan-jalan
tersenyum ----- > tersenyum-senyum
terbanting ----- > terbanting-banting
4)   Pengulangan  bentuk dasar dua suku kata bagian depan (dwipurwa) dan kemungkinan penngulanganseluruhnya , (trilinggo)
Minuman ----- >  minum-minuman
                             atau minuman-ninuman
makanan         --- - >  makan-makanan atau, makanan-makanan
tumbuhan ---- > tumbuh-tumbuhan atau;
tumbuhan-tumbuhnn        
tarian       ----- > atu tari-tarian
tarian-tarian
pohonon----- > pohon-pohohan atau pohonan-pohonan ntou pepohonan
nyanyian---- >nyanyi-nyonyian atau nyanyian-nyanyian
manisan- --- >  manis-manisan atau
 manisan-manisan 
kaitan ----- >  kait-kaitan
kaitan-kaitan
mengulang dengan penambahan afiks
Yang dimaksud dengan berbareng inilah bahwa terja­dinya reduplikasi itu serentak  simultan atau bersamaan atau bersama-sama mendukung satu arti
Contoh:
I.       Anakan plus reduplikasi
II.    Anak-anak plus –an
III. Anak plus reduplikasi dan afiksasi
Untuk membuktikon hal ini, kita mancoba menerapkan prin­sin-prinsip kata ulang:
Kemungkinan I  anakan 
Prinsip I: Bentuk linguistik anakan  dan memang ada.
Jika  demikian  anak-anak yang mungkinlah yang merupakan kata dasarnya.
Prinsip II: Pertalian arti kata dasar dan kata ulangnya ada, tetapi tidak relevan  karena pertaliannya itu tidal relevan maka kita katakan pertalian itu tidak ada
Jelasnya : anak-anak artinya banyak anak sedangkan anak-anakan menyerupai anak jadi bukanlah menyerupai banyak anak atau bukan menyerupai seperti apa yang tersebut pada akata dasarnya. Jika demikian bukanlah berarti bahwa kata dasarnya bukannlah anak – anak oleh karena itu kemungkinan \ii inipun tidak benar.
Kemungkinan III; annak
karena kemungkinan I don II itu tidok benar, maka tinggalah kemungkinan ke  III
Prinsip I  Bentuk lingistik anak jelas ada
Prinsip II : arti anak-anakan menyerupai seperti apa yang tersebut pada bentuk dasarnya yaitu menyerupai anak. Jika demikian yang mendukung arti menyerupai ialah perulangan
Kesimpulan : Anak-anakan pada bentuk tersebut kedua proses itu yaitu reduplikasi dan afiksasi terjadinya secara simultan. Prosesnya anak-anak
Untuk membuktikaa proses tarjadinya bentuk tersebut dapat pula digunakan prinsip-prinsip untuk monentukon afiks-afik terikat terbagi.
Penarapan prinsip-pririsip:
Prinsip, I     Bentuk-bentuk yang satu tingkat lebih kecil kemungkinan- kemungkinannya
a.       Anakan
b.      Anak-anak
c.       Anak
Prinsip II Bentuk dasar itu ter dapat dalam penggunaan bahasa sehari-hari
Ketiga bentuk tersebut ternyata terdapat dalam penggunaan bahasa seahri-hari. Jika demikian ketiga bentuk itu senuanya mungkin.
Prinsip III: Nosinya, sejalan dengan bentuk dasarnya. Seperti di depan telah dijelaskon, bahwa nosi itu diperoleh dori: arti kata turunan dikurangi (arti) kato dasar
Arti kata turunan menyerupai anak's. sedangkan arti kato dosarnyalonairl. Jodi nosinyo menyerupai
Arti kata keturunan (arti) kata dasar
Nosi menyerupai anak-nak.
Jika demikian nosi mempunyai itu bukanlah hanya didukung oleh perulangan itu saja, melainkan oleh afiks –an juga. Jadi reduplikasi dan – an muncul nya secara simultan dan secara serentak pula mendukung suatu arti
Beberapa  saju, moloinkon oloh ofiks -an~ jugs. Jodi, Ledun Impi don -on muncul­nyo socava simultan don secaro aerentak pula mcn­dukung satu orti.
Beberapa contoh lain yang mendukung kedua proses itu secara simultan antara lain :
Kuda : kuda-kudaan
Kereta : kereta-keretaan
Bentuk-bentuk tersebut prosesnya :
Makan : makan-makanan
Karang : karang-karangan
Perulangan sebagian seperti tersebut di atas, hanyalah merupakan variasi saja dari adat kelaziman penggunaan bahasa sehari-hari Oleh karena itu, dalam ujaran kita dengar minuman-minuman di samping minuman-minuman
Cara mengulang yang demikian itu terdapat pada beberapa kata majemuk, misalnya :
Kapal kering  ----- > kapal terbang-kapal terbang atau
                                 Kapal – kapal terbang
Kepala sekolah ----> kepala sekolah – kepala sekolah atau
                                 Kepala-kepala sekolah
Tempat tidur ----- > tempat tidur-tempat tidur atau
                                 Tempat-tempat tidur

d.      Mengulang dengan variasi fonem/dwilingga salin suara
Yang dimaksud dengan pengulangan dengan variasi fonem adalah bahwa mengulangnya bentuk dasaritu disertai oleh perubahan fonem. Perubahan itu mungkin konsonannya atau mungkin vokalnya.
Contoh :
1)      Variasi fonem vokal :
Gerak-gerik
Serba-serbi
Bolak-balik
Compang-camoing
2)      Variasi fonem konsonan
Lauk   ----- > lauk-pauk
Ramah ----- > ramah-tamah
Sayur  ----- > sayur-sayuran
Tali     ----- > tali-mali

Jika bentuk-bentuk diatas kita perbandingkan dengan bentuk – bentuk seperti : simpang siur, sunyi senyap, beras petas, tunggang langgang ds. Maka kedua golongan itu mengandung kemiripan. Akan tetapi, jika kita analisis lebih lanjut, akan akan terbukti bahwa golongan bentuk yang kedua bukanlah bentuk0bentuk ulang. Bentuk-bentuk simpang, sunyi, senyap, langsung memang terdaapt dalam penggunaan bahasa sehari-hari tetapi kiranya terlalu sukar diterangkan atau terlalu jauh dirunut untuk dikatakan bahwa bentuk siur adalah perubahan dari simpang.
bentuk senyap. adalah variasi sunyi, begitu pula bentuk-­bentuk petas dan langgang. Secara deskriptif tidak dapat dikataakan  demikian. Bentuk -bentuk tersebut lebih tepat dimasukkan dalam golongan kata majemuk dengan unique, constituent (unsur unik).
D. Pemajemukan
1.      Pengertian.
Dalam bahasa Indonesia kerapkali didapati gabungan dua kata yang  menimbulkan suata kata baru. kata yang.tevrjadi dari gabungan dua kata itu lazim disebut kata maje­muk, misalnya rumah sakit, meja makan kapala batu, keras kepala, panjang tangan dan sebagainya.
Dengan demikian, dapat dikatakan  babwa majemuk adalah gabungan dua unsur atau lebih yang membentuk katta baru.
2.      Ciri-ciri kata majemuk
kalau dilihat  sepintas lalu kelihatannya satuanmata kaki sama dengan mata orang keduanya terdiri dari dua unsur yang termasuk golongan klas kata nominal dan sifat.
Hasil panelitian wenunjukkan bahwa satuan yang terdiri dari nominal dan sifat mempunyai dua kemungkinan Kemungkinan pertama satuan itu merupakan satuan klausa ialah satuan yang terdiri predikat baik terdiri dari subyek, obyek, predikat  pelengkap, keterangan maupun tidak kemungkinan kedua sebagai frase yang termasuk tipe konstruksi endosentrik yang atributif ialah frasa yang terdiri dari unsur yang tidak setara
Jika kursi malas merupakan klausa, tentu kata kursi dapat diikuti kata itu menjadi kursi itu malas, kata malas dapat didahului kata tidak kata tidak, sangat atau agak menjadi kursi itu tidak malas kursi itu sangat atau agak menjadi kursi itu agak malas jelaaslah bahwa semua itu tidak mungkin berbeda halnya dengan adik malas yang dapat diperluas menjadi adik itu malas, adik itu sangat malas, adik itu agak malas.
Jika kursi malas itu merupakan frasa tentu dapat disela dengan kata yang menjadi kursi yang malas seperti halnya adik malasa yang diantara unsurnya dapat ditambah bahkan kata yang menjadi adik yang malas
Berdasarkan ciri-ciri yang diuraikan diatas daapt ditentukan bahwa kursi malas tidak merupakan klausa dan juga tidak merupakan frasa melainkanb merupakan kata yang lazim disebut kata majemuk (Ramlan 1985:69-71)
Dengan meneliti ciri-ciri tersebut diatas dapat ditentukan satuan yang tidak merupakan kata majemuk kita lihat ciri0ciri kata majemuk sebagai berikut

Ciri-ciri kata majemuk :
a.       Ciri konstruksi morfologis
b.      Ciri konstruksi sintaksis, dan sebagai ciri tambahan
c.       Ciri arti (Sugijo. 1975-47-54)

1)      Hilangnya Afiks
Bentuk-bentuk bertempur, berjuang, bekerja, bentuk tugas kita temukan bentuk-bentuk ditugaskan ditugasi, menugaskan, menugasi, bertugas. Bentuk-bentuk tersebut bukanlah bentuk kompleks dan hubungan sintaksisnya menandai bukan konstruksi frasa, dengan kata lain kilangnya afiks menandai bahwa kata itu kata majemuk bahwa hubungan sintaksis itu menandai hubungan yang senyawa.

Contoh :
Berjuang ………….. daya juang, tenaga juang
Bekerja ………….. kertas kerja, jam kerja
Bertugas ………….. meja tugas, bebas, tugas
Beerumah ………….. rumah sakit, rumah makan.

2)      Proses Pembubuhan afiks
Proses pembubuhan afiks dalam bahasa Indonesia bisa diletakkan didepan bentuk dasar dan bisa di letakkan di depan bentuk dasar dan bisa di letakkan di belakang bentuk dasarnya. Misalnya merupakan, membinasakan, menghancurkan, meleburkan, menyamakan, kenegaraan kebiasaan, kelesuan kemampuan dan sebagainya. Coba bandingkan dengan contoh-contoh berikut ini
Menghancurleburkan, merusakbinasakan, menjungkirbalikan, kewarganegaraan, ketidaksamaan, ketidakadilan dsb. Pada contoh tersebut kata-kata hancur lebur, rusak binasa, jungkirbalik, warganegara, tidak adil, tidak sama degnan proses pembubuhan afiks pada kata-kata yang lain. Jika demikian berarti bahwa hancurlebur, rusakbinasa, dsb. Itu dipandang sebagai satu kata, bukan frase, oleh karena itu, hancur lebur, rusak binasa dan sebagainya adalah majemuk.
b.      Ciri Konstruksi Sintaksis
Ciri-ciri konstruksi sintaksis yang menunjukkan hubungan sintaksis sebagai frase (baik sebagai konstruksi kelompok kata maupun konstruksi kalimat) ialah penyisipan kata tugas
Adapun kata-kata tugas yang bisa berfungsi sebagai penunjuk  hubungan sintaksis konstruksi frasa ialah :
A.    Katatugaas sebagai penunjuk hubungan sintaksis dalam konstruksi mendosentrik
B.     Kata-kata tugas sebagai penunjuk hubungan sintaksis dalam konstruksi eksosentris
Adapun kata-kata tugasnya :
A.    Yang, nya dan
B.     Itu/nya, sedang/mau/akan, dsb


Penjelasan
A.      Dengan dapatnya disisipi kata-t\kata tugas seperti : yang, nya, atau dan, berarti bahwa kontruksi frasa. Sebaliknya jika tidak dapat disisipi kata-kata tugas tersebut berarti bahwa konstruksi tersebut adaalh kata majemuk.
Ciri yang
Misalnaya : 1. Adik sakit                             1.a     rumah sakit           
 2  kakak mandi                        2.a.    kamar mandi
 3. kakak  bersalin                     3a.     kamar bersalin
Contoh-contoh 1-3 semuanya dapat disisipi yang sehingga menjadi
1.      Adik yang sakit
2.      Kaka yang mandi
3.      Kaka yang bersalin
Karena dapat disisipi yang, maka konstruksi 1-3 adalah konstruksi frasa. Contoh-contoh 1a.  – 3a  semuanya tidak dapat disisipin yang, maka bentuk – bentuk tersebut adalah kata majemuk
Ciri-cirinya
Misalnaya : 1. Kaki meja                             1.a     bola lampu            
 2  rumah paman                       2.a.    mata pelajaran 
 3. kakak  bersalin                     3a.     mata angin
Contoh-contoh 1-3 semuanya dapat disisipinya. Karena dapat disisipi-nya maka bentuk tersebut adaalh kata majemuk.
Ciri  dan
Misalnaya : 1. Kaki tangan                                  
 2  tikar bantal
 3. mata kaki
Contoh-contoh tersebut mempunyai dua kemungkinan. Maksud nya, bahwa disatu pihak kita bisa menytisipkan dan diantaranya dilain pihak tidak dapa. Jika demikian konstruksi itu kita stemukan
1.      Kaki dan tangan
2.      Tikar dan bantal
3.      Mata dan kaki

Jika demikian konstruksi 1-3 tersebut adalah konstruksi frase, sedangkan di lain pihak kita tidak mdapat mengatakan
1.      Kaki dan tangan
2.      Tikar dan bantal
3.      Mata dan kaki
Jika demikian, konstruksi – konstruksi 1.a. – 3.a. adalah konstruksi kata majemuk

B.       Dengan dapatnya kita sisipkan kata-kata tugas sebagai ciri-ciri penunjuk hubungan sintaksis konstruksi eksosentris predikatif seperti /-nya, sedang / mau / akan dsb. Itu berarti bahwa konstruksi itu adalah konstruksi frase. Sebaliknya jika tidak maka konstruksi itu adalah kata majemuk.

Penerapan ciri : itu/-ya
Suatu frase yang berkonstruksi endosentrik atributif yang unsur-unsurnya terjadi dari :
Kata benda + Kata sifat
Kata benda + Kata kerja
Bisa dibentituk menjadi suatu konstruksi eksosentrik predikatif degnan penyisipan kata – kata tugas seperti : itu /nya misalnya





KB
KS
KB + itu/ + KS 

1
Anak
Sakit
1.a
Anak
Itu/-nya
Sakit
2
Anak
Malas
2.a
Anak
Itu/-nya
Malas
3
Kamar
Gelap
3.a
Kamar
Itu/-nya
Gelap
4
Tugas
Berat
4.a
Tugas
Itu/-nya
berat
Konstruk-konstruksi 1-4 adalah frasa yang berkonstruksi endosentrik atributif. Kon1.a – 4.a  adalah eksosentrik predikatif, tetapi masih berupa frase a.
Bandingkan dengan :

1
Rumah sakit
1.a
rumah
Itu/-nya
Sakit
2
Kursi malas
2.a
kursi
Itu/-nya
Malas
3
Mata gelap
3.a
Mata
Itu/-nya
Gelap

Contoh – contoh 1-2 jelas tidak dapat disisipi : itu /-nya
Oleh karena itu, 1-2 adaalh kata majemuk, sedangkan contoh (3) ada kemungkinan untuk disisipkan : itu/-nya
Tetapi pengertiannya berbeda (hal ijni akan dibicarakan pada waktu membicarakanciri arti)
Contoh ciri lain : sedang



KB
KS
KB + itu/ + KS 

1
Adik 
Mandi
1.a
Adik
Sedang 
Mandi
2
Ayah
Tidur 
2.a
Ayah
Sedang
Tidur
3
Kakak
Bersalin
3.a
Kakak
Sedang
Bersalin 
4
Ibu
Makan
4.a
Ibu 
Sedang
Makan

Contoh-contoh  1-4 adalah frasa yang berkonstruksi eksosentrik predikatif. Demikian juga contoh-contoh 1.a-4.a bedanya hanyalah contoh-contoh 1-4 tanpa adanya kata keterangan (Kket) sedangkan 1.a-4.a menggunakan Kket jadi kedua-duanya masih berupa frase
Bandingkan



KB
KK
KB           +            sedang
KK
1
Kamar
Mandi
1.a
Kamar
Sedang 
Mandi
2
Tempat
Tidur 
2.a
Tempat
Sedang
Tidur
3
Kamar
Bersalin
3.a
Kamar
Sedang
Bersalin 
4
Meja
Makan
4.a
Meja
Sedang
Makan

Konstruksi-konstruksi aeperti 1.a- 4.a  tidak pernah kita temukan dalam Bahasa Indonesia jika demikian pennyisipan kata-kata tersebut tidak mungkin dan konstrusi-konstruksi 1-4  bukanlah frasa melainkan konstruksi kata majemuk

c.       Ciri – ciri
Jika arti kita masukan sebagai ciri pembeda, maka beda frasa dengan kata majemuk ialah bahwa frasa, kata-kata sebagai unsur-unsurnya itu masing – masing mendukungnya fungsi dan arti sendiri-sendiri sedangkan kata majemuk seluruh unsurnya hanyalah mendukung saatu arti saja. Karena dua kata atau lebih sebagai unsurnya itu, seluruhnya membentuk satu arti baru.
Contoh
1.      Orang tua                      1 a.  orang yang tua
b.     Ayah Ibu
2.       Raja muda                   2 a.  raja yang masih muda 
b.     Raja wakil
3.      Kaki tangan                  3 a.  kaki dan tangan 
b.     Pembantu
4.      Mata gelap                    4 a.  mata yang gelap 
b.     lupa diri, karena marah  

Jika arti yang didukung oleh 1-4 itu arti yang kita temukan seperti pada 1a., 2a.,  3a.,  4a.  maka konstruksi-konstruksi terseburt adalah frasa. Jika arti yang didukung itu seperti yang dimaksud pada 1a., 2a.,  3a.,  4a.   maka konstruksi – konstruksi tersebut adalah kata majemuk.

3.        Kata majemuk degnan unsur unik
Dalam morfologi kita temukan suatu prinsip yang mengatakan, jika suatu bentuk terdaapt didalam kombinasi satu-satunya degnan bentuk yang lain pada suatu ketika bentuk itu terdapat berdiri sendiri atau didalam kombinasi didalam bentuk-bentuk lain bentuk tersebut dianggapo morfem juga.
Agar jelas perhatikanlah bentuk-bentuk seperti renta, bangka, mentah, dan pukang. Bentuk-bentuk tersebut tidak pernah berdiri sendiri maupun didalam kombinasinya. Dengan bentuk-bentuk lain kecuali pada tuarenta, tuabangka, putihmentah dan lintangpukang, morfem renta hanya berkombinasi satu-satu dengan morfem tua demikian pula bangka hanya dengan tua mentah hanya dengan putih, dan pukang hanya dengan lintang. Konstruksi tuarenta hanya satu-satunya distribusi bagi renta. Demikian juga tuabangka, putihmentah, dan lintangpukang, maka morfem-morfem seperti renta, bangka, mentah, pukang merupakan unsur unik pada struktur itu (unique constituent)
Contoh-contoh lain : gegap gempita, sedu sedan, gundah gulana,, hutan belantara, sunyi senyap, kuning langsat, terang benderang, gelap gulitadan sebagainya (Sugiyo, 1975 : 54 – 55 )
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger