TENTANG PUJANGGA BARU



Pujangga baru

Seperti halnya Balai Pustaka, Pujangga Baru pun merupakan sebuah momentum penting dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia. Kata itu dapat diartikan sebagai majalah yang aslinya tertulis Poedjangga Baroe, dan dapat juga diartikan gerakan kebudayaan Pujangga Baru tahun 1930-an yang tidak terpisahkan dari tokoh-tokoh pemuda terpelajar Muhammad Yamin, Rustam Effendi, S. Takdir Akisjahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, J.E. Tatengkeng, dan Amir Hamzah. Majalah Pujangga Baru terbit pertama kali pada Mei 1933 dengan tujuan menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai dengan semangat zamannya dan mempersatukan para sastrawan dalam satu wadah karena sebelumnya boleh dikatakan cerai berai dengan menulis di berbagai majalah.
Sebenarnya usaha menerbitkan suatu majalah kesusastraan sudah muncul pada tahun 1921, 1925, dan 1929, tetapi selalu gagal. Baru pada tahun 1933 atas usaha S. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane dapat diterbitkan majalah bernama Pujangga Baru.
Tujuannya tampak pada keterangan resmi yang berbunyi, “majalah kesusastraan dan bahasa serta kebudayaan umum” kemudian berubah menjadi “pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan soal masarakat umum”, dan berganti lagi menjadi “pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia” (Rosidi, 1969: 35).
Menurut Mantik (2006: 4) subjudul “Majalah Kesusastraan dan Bahasa serta Kebudayaan Umum” berlangsung tahun 1933-1934, kemudian berubah menjadi “Majalah Bulanan Kesusastraan dan Bahasa serta Seni dan Kebudayaan” tahun 1934-1935, dan pada tahun 1935-1936 menjadi “Pembawa Semangat Baru dalam Kesusastraan, Seni, Kebudayaan, dan Soal Masyarakat Umum”. Pada penerbitan selanjutnya subjudulnya adalah “Majalah Bulanan Pembimbing Semangat Baru yang Dinamis untuk Membentuk Kebudayaan Persatuan Indonesia”.
Dengan demikian, tujuan yang semula terbatas kesusastraan dan bahasa meluas ke masalah-masalah kebudayaan umum sejalan dengan maikin maraknya kesadaran nasional untuk membangun kebudayaan indonesia baru. Hal itu dapat dipahami karena pada 28 Oktober 1928 telah tercetus Sumpah Pemuda yang merupakan momentum penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Tentu saja pada waktu itu belum terdengar atau tertulis kata-kata Indonesia Raya, apalagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, semangat mereka masih terbatas pada harapan membangun masyarakat yang makin sadar pada nasionalisme.
Majalah Pujangga Baru mendapat sambutan hangat dan sejumlah terpelajar, seperti: Adinegoro, Ali Hasjmy, Amir Sjarifuddin, Aoh K. Hadimadja, H.B. Jassin, I Gusti Nyoman Panji Tisna, J. E. Tatengkeng, Karim Halim, L. K. Bohang, Muhamad Dimjati, Poerbatjaraka, Selasih, Sumanang, Sutan Sjahrir, dan W.J.S. Poerwadarminta. Namun, di sisi lain, majalah itu tidak ditanggapi oleh kaum bangsawan Melayu, dan bahkan dikritik keras oleh para guru yang setia kepada pemerintah kolonial Belanda. Kata mereka, majalah tersebut merusak bahasa Melayu karena memasukkan bahasa daerah dan bahasa asing.
Majalah itu bertahan terbit hingga tahun 1942, kemudian dilarang oleh penguasa militer Jepang karena dianggap kebarat-baratan dan progresif. Akan tetapi, setelah Indonesia merdeka dapat diterbitkan lagi pada tahun 1949-1953 di bawah kendali S. Takdir Alisjahbana dengan dukungan tenaga-tenaga baru, seperti Achdiat K. Mihardja, Asrul Sani, Chairil Anwar, Dodong Djiwapradja, Harijadi S. Hartowardojo, dan Rivai Apin. Tentu saja semangatnya sudah berbeda dengan semangat tahun 1930-an karena kondisi sosial politik pun sudah berubah.
Sumbangan Pujangga Baru terhadap perkembangan pemikiran kebudayaan Indonesia pantas dihargai tinggi karena memberikan kesempatan para sastrawan dan budayawan untuk menyalurkan pendapat-pendapatnya sehingga berkembang polemik yang semarak sebagaimana tampak pada buku Polemik Kebudayaan susunan Achdiat K. Mihardja (1977). Tokoh-tokoh yang terlibat dalam polemik itu antara lain S. Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, R.M, Ng. Poerbatjaraka, Dr. Sutomo, Adinegoro, Dr. M. Amir, clan Ki Hadjar Dewantara. Identitas mereka itu dapat dibaca pada bagian akhir Polemik Kebudayaan, sedangkan kelengkapannya dapat dirunut pada berbagai sumber lain.
1. Adinegoro (lahir di Talawi, Sumatra Barat, 14 Agustus 1904, meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967) keluaran sekolah jurnalistik di Jerman, pernah menjadi Pemimpin Redaksi Harian Pewarta Deli, Kepala Jawatan Penerangan Sumatra, dan Redaksi Mimbar Indonesia. Namanya dikenal luas di kalangan jurnalistik.
2. Ki Hadjar Dewantara (lahir tahun 1889) berpendidikan STOVIA dan mendapat Akte LO di Den Haag. Pernah duduk sebagai pucuk pimpinan Indische Partij, pernah diasingkan ke Belanda tahun 1913, pendiri Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, pernah menjadi Menteri Pengajaran di awal revolusi dan dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
3. M. Amir adalah tamatan STOVIA tahun 1924 dan tahun 1928 meraih gelar doktor obat-obatan di Eropa, kemudian dikenal sebagai psikiater dan wartawan.
4. Poerbatjaraka (lahir tahun 1884) tahun 1926 mendapat gelar Doktor Ilmu Bahasa dan Filsafat di Universitas Leiden Belanda. Dikenal sebagai filolog dan pernah menjadi guru besar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
5. Sanusi Pane (lahir tahun 1905) berpendidikan MULO dan sekolah guru Gunung Sari di Jakarta. Pernah memimpin Perguruan Rakyat di Bandung tahun 1933-1934, Pimpinan Redaksi Harian Kebangsaan 1936-1941, Kepala Redaksi Balai Pustaka, dan dikenal sebagai penyair.
6. S. Takdir Alisjahbana (lahir di Natal, Sumatra Utara, 11 Februari 1908, meninggal di Jakarta 17 Juli 1994) adalah lulusan Sekolah Tinggi Kehakiman Jakarta tahun 1941 dan dikenal luas sebagai pengarang, budayawan, dan pendidik. Pernah menjadi Kepala Redaksi Balai Pustaka, kemudian menjadi pimpinan redaksi majalah Pujangga Baru, dan pada usia Ianjutnya dikenal sebagai pemikir kebudayaan, serta pernah memimpin Universitas Nasional Jakarta.
7. Dr. Sutomo (lahir tahun 1888, meninggal di Surabaya, tahun 1938) ikut mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo tahun 1908. Berpendidikan Universitas Amsterdam, pernah menjadi guru NIAS di Surabaya, mendirikan Indonesische Studiclub, Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), menerbitkan majalah Suluh Indonesia, Suluh Rakyat Indonesia, dan harian Suara Umum.
Dari catatan kecil itu saja jelaslah bahwa mereka adalah kaum terpelajar yang sadar terhadap masalah kehidupan bangsa, kemudian mampu menjabarkan pemikiran yang bersungguh-sungguh melalui artikel-artikel yang matang, bahkan dapat mengembangkan polemik yang konstruktif. Sekarang pun sulit dijelaskan pendapat siapakah yang paling benar atau terhebat karena yang dicari bukanlah pendapat-pendapat pribadi, melainkan sumbangan pikiran mereka terhadap pembangunan konsep kebudayaan Indonesia, termasuk kesusastraan.
Menurut Takdir Alisjahbana, istilah Indonesia telah dipergunakan secara luas dengan pengertian yang kabur sehingga tidak secara tegas menunjuk pada semangat keindonesiaan yang baru sebagai awal pembangunan kebudayaan Indonesia Raya. Keindonesiaan baru itu tumbuh setelah bangsa atau masyarakat Nusantara bertemu dengan kebudayaan Barat yang ditandai dengan kesadaran kaum intelektual untuk membangun suatu kehidupan baru yang semangatnya berbeda dengan masa lampau sebelum abad ke-19 yang disebutnya sebagai pra-Indonesia, bahkan disebut sebagai zaman jahilliah keindonesiaan yang hanya mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin, dan lain-lain. Takdir Alisjahbana menegaskan bahwa pandu-pandu kebudayaan Indonesia harus bebas dan zaman praIndonesia agar tidak timbul perselisihan tentang landasannya, apakah Melayu, Jawa, dan sebagainya. Semangat keindonesiaan yang baru itu seharusnya berkiblat ke Barat dengan menyerap semangat atau jiwa intelektualnya sehingga wajahnya berbeda dengan masyarakat kebudayaan pra-Indonesia.
Pendapat yang teoretis dan idealis itu dikritik oleh Sanusi Pane yang berpendapat bahwa keindonesiaan itu sebenarnya sudah ada sejak sekian abad yang silam dalam adat dan seni. Yang belurn terbentuk adalah natie atau bangsa Indonesia, tetapi perasaan kebangsaan itu sebenarnya sudah ada walaupun belum terwujud. Sanusi Pane berpendapat bahwa kebudayaan Barat yang mengutamakan intelektualitas untuk kehidupan jasmani tidak dengan sendirinya istmewa karena terbentuk oleh tantangan alam yang keras sehingga orang harus berpikir dan bekerja keras juga. Sementara itu, kebudayaan Timur pun memiliki keunggulan, yaitu mengutamakan kehidupan rohani karena urusan jasmani sudah dimanjakan oleh alam yang serba berlimpah. Tawaran Sanusi Pane adalah mempertemukan semangat intelektual Barat dengan semangat kerohanian Timur seperti mempertemukan Faust dengan Arjuna.
Pendapat tersebut di mata Takdir Alisjahbana masih kabur dalam soal istilah Indonesia karena Sanusi Pane dianggap mencampuradukkan arti Indonesia yang dipakai ahli ilmu bangsa-bangsa (etnologi) dengan konsep yang dipakai kaum politik di awal kebangkitan nasional. Takdir menegaskan bahwa di zaman Majapahit, Diponegoro, Teuku Umar, belum ada keindonesiaan yang disadari oleh masyarakat.
Sementara itu, Poerbatjaraka berpendapat bahwa sumbangan kesejarahan itu sudah ada dan tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian tentang jalannya sejarah sehingga orang bisa menengok ke belakang sebagai landasan mengatur hari-hari yang akan datang.
Dengan pandangan yang segar mereka tampil sebagai pemikir-pemikir kebudayaan Indonesia baru, termasuk kesusastraan, sehingga membedakan posisinya dengan para tokoh yang telah lebih dahulu menerbitkan karyanya di Balai Pustaka. Oleh karena itu, wajar apabila kemudian mereka disebut Angkatan Pujangga Baru sebab mereka memiliki kesamaan visi atau pandangan tentang kesusastraan yang menawarkan nilai-nilai baru dengan gaya bahasa yang memperlihatkan potensi perseorangan.
Tokoh-tokoh Angkatan Pujangga Baru adalah S.Takdir Alijahbana, Amir Hamzah, Annijn Pane, Sanusi Pane, Muhammad Yamin, Rustam Effendi, J.E. Tatengkeng, Asmara Hadi, dan lain-lain.
Riwayat singkat mereka dapat disimak dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Eneste, 2001b), Antologi Biografi Tiga Puluh Pengarang Sastra Indonesia Modern (Atisah, 2002), dan sumber-sumber lain.
1. Amir Hamzah (1911-1946) berpendidikan HIS, MULO Medan, AMS-A Solo, dan sempat masuk Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta. Dia dikenal sebagai penyair religius dengan kumpulan sajak Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941). Telaah H.B. Jassin tentang kepenyairannya telah menghasilkan Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1963).
2. Armijn Pane (1908-1970) berpendidikan HIS, ELS, STOVIA Jakarta (1923), NIAS Surabaya (1927) dan AMS-A Solo (1931). Pernah menjadi wartawan di Surabaya, guru Taman Siswa di Kediri, Malang, dan Jakarta, sekretaris dan redaksi Pujangga Baru (1933-1938), redaktur Balai Pustaka (1936), dan Ketua Bagian Kesusastraan Pusat Kebudayaan (1942-1945), dan redaktur Indonesia (1948-1955). Tahun 1969 menerima hadiah tahunan dari Pemerintah Republik Indonesia. Dia terkenal dengan roman Belenggu (1940) yang pada zaman itu ditanggapi berbagai pihak dengan pro dan kontra. Karyanya yang lain: kumpulan cerpen Kisah antara Manusia (1953), sandiwara Jinak-Jinak Merpati (1954), dan sajak-sajak Jiwa Berjiwa (1939).
3. Asmara Hadi (1914-1976) berpendidikan MULO Taman Siswa Bandung, pernah giat di pers dan politik, sempat menjadi anggota Konstituante dan anggota MPRS (1966). Dia terkenal dengan sajak-sajak perjuangan yang penuh keyakinan. Kepenyairannya telah dibahas J.U. Nasution dalam Asmara Hadi Penyair Api Nasionalisme (1965).
4. J.E. Tatengkeng (1907-1968) berpendidikan HIS Manganir, Christelijk Middakweekschool Bandung, dan Christelijk HKS Solo, pernah menjadi guru bahasa Indonesia di Tahuna (1932), Kepala Schakelschool Ulu Siau, Kepala HIS Tahuna, Menteri Pengajaran (1948), Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (1949), dan Kepala Jawatan Kebudayaan Kementerian P & K Perwakilan Sulawesi, ikut sebagai pendiri Universitas Hasanuddin, dan memimpin majalah Sulawesi (1958). Dia dikenal dengan kumpulan sajaknya Rindu Dendam (1934).
5. Muhammad Yamin (1903-1962) berpendidikan HIS (1918), Sekolah Pertanian Bogor (1923), AMS Yogyakarta (1927), dan Sekolah Hakim Tinggi (1932). Pernah menjadi Ketua Jong Sumatra Bond (1926-1928), Ketua Indonesia Muda (1928), anggota Volksraad (1938-1942), Menteri Kehakiman RI (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan RI (1952¬1955), Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara (1961-1962), dan Ketua Dewan Perancang Nasional (1962). Dia dikenal sebagai perintis puisi Indonesia dengan sajaknya “Tanah Air” (1922), kumpulan sajak Indonesia Tumpah Darahku (1928), drama Ken Arok dan Ken Dedes (1930), dan sejumlah buku sejarah, politik, dan undang-undang.
6. Rustam Effendi (1903-1979) berpendidikan HIS dan HKS Bandung (1924), pernah menjadi guru Perguruan Islam Adabiah Padang, dan selama bermukim di Belanda (1928-1947) pernah menjadi anggota Tweede Kamer (Majelis Rendah) mewakili Partai Komunis (1933-1946). Rustam Effendi menghasilkan kumpulan sajak Percikan Permenungan (1925) dan drama bersajak Bebasari (1926).
7. Sanusi Pane (1905-1968) adalah abang Armijn Pane, berpendidikan HIS, ELS, Kweekschool Jakarta (1925), setahun di Sekolah Hakim Tinggi Jakarta, dan belajar kebudayaan Hindu di India (1929-1930). Pernah menjadi guru Kweekschool Gunung Sahari Jakarta, HIK Lembang, HIK Gubernemen Bandung, dan Sekolah Menengah Perguruan Rakyat Jakarta. Pernah bergiat dalam Jong Sumatra, Gerindo, dan PNI. Pernah menjadi redaktur Tinzbul (1931-1933), Kebangunan (1936), dan Balai Pustaka (1941). Karyanya yang terkenal adalah prosa liris Pancaran Cinta (1926), kumpulan sajak Puspa Mega (1927), kumpulan sajak Madah Kelana (1931), drama Kertajaya (1932), drama Sandyakala Ning Majapahit (1933), dan drama Manusia Baru (1940). Kepengarangannya pernah ditelaah oleh J.U. Nasution dalam Pujangga Sanusi Pane (1963).
8. S. Takdir Alisjahbana (1908-1994) adalah sosok pribadi terpelajar yang tinggi semangat intelektualnya sejak masih pelajar Holandsch Inlandsche School (HIS) di Bengkulu, kemudian Hogere Kweekschool (HKS) di Bandung (1928) sambil ber¬kursus malam Hoofdakte Cursus, berlanjut ke Rechte Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) hingga datangnya tentara pendudukan Jepang tahun 1942. Dalam keadaan darurat itulah Takdir dan kawan-kawan seangkatannya menerima ijazah Meester in de Rechten (Sarjana Hukum). Takdir juga pernah menempuh kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1940-1942), dan pada tahun 1979 menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia karena kesetiaannya menulis terus-menerus selama 50 tahun sejak terbitnya Pujangga Baru, dan pada tahun 1987 menerima gelar kehormatan yang sama dari Universitas Sains Malaysia. Riwayat jabatan dan pekerjaannya terlalu panjang ditulis di sini. Yang jelas, Takdir pernah menjadi guru (1928-1929), kemudian menjadi redaktur Balai Pustaka (1930-1942) dan menghasilkan roman Layar Terkembang (1936), roman Tak Putus Dirundung Malang (1929), roman Dian yang Tak Kunjung Padatn (1932), roman Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941), kumpulan sajak Tebaran Mega (1936), antologi Puisi Lama (1941) dan Puisi Baru (1946).
Masa jaya majalah Pujangga Baru surut karena datangnya bala tentara Jepang pada Maret 1942. Janganlah dibayangkan kejayaan majalah tersebut seperti majalah sastra Horison yang dewasa ini tercetak bagus dan tersebar luas. Menurut pengakuan H.B. Jassin sebagaimana disampaikan dalam wawancara Wahyu Wibowo dan Kasijanto yang termuat di Basis Juli 1983, majalah Pujangga Baru tidak terdukung modal keuangan dan sedikit saja peminatnya. Pada zaman itu tercetak paling banyak 400 eksemplar dengan persebaran terbatas ke kalangan guru dan mereka yang dianggap memiliki perhatian terhadap masalah kebudayaan dan kesusastraan. Pernah juga dikirimkan kepada para sultan, tetapi tidak disambut hangat. Di antara yang terbatas itu ada juga yang sampai ke Malaya sehingga ikut berpengaruh terhadap perkembangan sastra Melayu di sana.
Majalah Pujangga Baru ternyata tidak menyediakan honorarium untuk para penyumbang, bahkan tidak juga menggaji redaksinya, termasuk. H.B. Jassin yang pada tahun 1940-1942 menjadi Sekretaris Redaksi. Namun, pengaruhnya terhadap semangat para penulis dan pengarang pantas dibanggakan, terbukti banyak tulisan yang mengalir ke redaksi Pujangga Baru. Kebanyakan tergugah oleh tulisan-tulisan Takdir Alisjahbana yang pada waktu itu selalu bersemangat menawarkan gagasan-gagasan menuju Indonesia baru. Di mata Jassin, majalah yang profilnya sederhana itu ibarat perambah jalan atau pelopor.
Kesederhanaan majalah Pujangga Baru masih dapat dinikmati atau disaksikan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Jakarta. Perihal ketergantungannya kepada sumbangan pembaca dapat disimak dalam salah satu edisi sebagai berikut.
Kepada pelanggan Pujangga Baru jang belum mengirimkan sumbangannya untuk kwartal kedua tahun ini, bersama ini kami kirimkan postwissel-formulier. Setelah diisi haraplah segera kirimkan kepada kami kembali. Sudilah mengingatkan bahwa Pujangga Baru semata-mata bergantung kepada bantuan orang yang cinta kepada bahasa dan kesusasteraan Indonesia dan hendak menolong berdaya upaya memberi kedudukan jang selayaknya kepadanya di antara bahasa dan kesusasteraan bangsa lain di dunia ini. Disisi itu kami berharap kepada segala pembaca menolong memperluas jumlah teman Pujangga Baru agar lambat laun madjalah kita dapat diperbaiki seperti semestinya. (Pujangga Baru Nomor 9 Tahun I Maret 1934)
Apa pun riwayatnya, selama hampir sepuluh tahun Pujangga Baru bertahan terbit (1933-1942) telah berjejak kesuksesan yang pantas dibanggakan. Menurut Faruk H.T., majalah tersebut telah memberi dasar bagi terbentuknya masyarakat sastra dan bahasa Indonesia.
Lewatnyalah sesungguhnya masyarakat bahasa dan kesusastraan Indonesia yang berikutnya belajar. Penemuan-penemuan bahasa seperti misalnya pemasukan kata-kata asing, kata-kata Melayu kuno, dan kata-kata dari ragam bahasa sehari-hari, telah memberikan kemungkinan baru bagi masyarakat bahasa dan sastra Indonesia yang kemudian, Tugas masyarakat yang berikutnya tinggal memperkaya lebih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan bahasa dan sastra Indonesia sesuai dengan kebutuhan yang timbul pada zaman mereka sendiri.
Kesuksesan majalah Pujangga Baru karena terpenuhinya semangat idealisme dan kemampuan membaca kenyataan di atas juga telah memungkinkan terbangunnya konsep kebudayaan Indonesia yang baru. Konsep ini penting karena bagaimanapun masyarakat Indonesia waktu itu berada dalam perubahan sosial yang besar dan ganda. (Faruk H.T, 1983: 263).
Mungkin posisi majalah Pujangga Baru yang sederhana pada waktu itu hanya di celah-celah sekian surat kabar dan majalah umum yang lebih populer. Kalaupun kemudian semangatnya ternyata menembus zaman adalah bukti bahwa semangat dan pemikiran budaya yang berwawasan jauh ke depan sungguh merupakan roh kehidupan masyarakat. Semangat atau roh itulah yang eksistensinya lebih kekal daripada hingar-bingar kehidupan sesaat. Jadi, wajarlah apabila nama Angkatan Pujangga Baru pun menjadi mapan dalam sejarah sastra Indonesia karena telah mewariskan semangat kebudayaan baru melalui roman, puisi, drama, kritik, dan esai.
Adapun sejumlah buku yang terkenal dari angkatan tersebut tercatat antara lain sebagai berikut:
1. Anak Perawan di Sarang Penyamun (roman S. Takdir Alisjahbana),
2. Andang Teruna (roman Sutomo Djauhar Arifin),
3. Bebasari (drama bersajak Rustam Effendi),
4. Belenggu (roman Armijn Pane),
5. Buah Rindu (kumpulan sajak Amir Hamzah),
6. Dian yang Tak Kunjung Padam (roman S. Takdir Alisjahbana),
7. Jinak-Jinak Merpati (drama Armijn Pane),
8. Kertajaya (drama Sanusi Pane),
9. Layar Terkembang (roman S. Takdir Alisjahbana),
10. Madah Kelana (kumpulan sajak Sanusi Pane),
11. Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak Amir Hamzah),
12. Percikan Permenungan (kumpulan sajak Rustam Effendi),
13. Puspa Mega (kumpulan sajak Sanusi Pane),
14. Rindu Dendam (kumpulan sajak J.E. Tatengkeng), dan
15. Tebaran Mega (kumpulan sajak S. Takdir Alisjahbana).
Tentu saja masih banyak tulisan yang tersebar di luar buku-buku tersebut, tetapi sulitlah disajikan dalam artikel ini. Masalah itu lebih tepat dipercayakan kepada para peneliti yang boleh menggarap persoalan terbatas, misalnya perihal dinamika sastra Pujangga Baru tahun 1930-an itu. Yang jelas, seperti halnya roman-roman Balai Pustaka tahun 1920-an, sastra masa Pujangga Baru pun bukan barang kuno yang boleh dilupakan, melainkan khazanah budaya yang selalu terbuka terhadap penafsiran baru. Di dalamnya terkandung nilai-nilai atau semangat zaman yang tetap relevan dikaji dalam hubungannya dengan kepentingan zaman sekarang dan masa depan.
Dari pengamatan sementara ini tampaklah Layar Terkembang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Belenggu, Nyanyi Sunyi, Puspa Mega, Rindu Dendam, Bebasari, dan Jinak-Jinak Merpati telah dibicarakan banyak pakar (kritikus). Apa pun hasilnya, pastilah relevan dengan perkembangan sastra Indonesia masa-masa berikutnya.
Masa lanjutan yang terdekat dengan Pujangga Baru adalah masa pendudukan militer Jepang, Maret 1942 hingga Agustus 1945. Dari pelajaran sejarah di sekolah lanjutan sudah dapat diperoleh gambaran betapa masa itu penuh penderitaan akibat perang Jepang melawan Amerika. Dalam tempo singkat seluruh wilayah Hindia-Belanda dikuasai militer Jepang dan terjadilah banyak perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang berawal dari janji-janji manis Jepang mengenai masa depan Indonesia, tetapi yang terjadi justru kepahitan yang meruyak seluruh sendi kehidupan. Barangkali derita masa silam itu menjadi sepenggal sejarah bangsa yang pantas dipahami sebagai salah satu modal ruhaniah dalam pembangunan moral dan karakter bangsa. Tentu saja masalah itu merupakan pokok bahasan tersendiri, misalnya dalam pelajaran kewarganegaraan, sedangkan dalam buku ini hanya ditawarkan pemahaman secukupnya mengenai kehidupan sastra Indonesia pada masa pendudukan Jepang yang tidak terpisahkan dari peranan Keimin Bunka Shidosho.

Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger