Analisis Kesalahan penggunaan bahasa ejaan pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo



Analisis Kesalahan penggunaan bahasa ejaan pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu
Mata Kuliah Seminar Pembelajaran Bahasa








Oleh

Panji Pradana
(092110144)

SEMESTER VIID

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012

  Latar Belakang

Komunikasi merupakan proses penyampaian lambang-lambang antara komunikator dan komunikan untuk mencapai persamaan makna. Komunikasi tidak hanya dilakukan secara verbal, tetapi juga dapat dilakukan secara non verbal dengan memerhatikan lambang atau simbol juga gerak tubuh seorang individu saat berkomunikasi. Seiring dengan perkembangan jaman, dan juga pengetahuan manusia, saat ini komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara demi mencapai tujuannya. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara menggabungkan gambar, simbol atau lambang, serta warna sehingga menarik bagi yang melihat atau juga membacanya.
Makna bahasa, atau isi bahasa ialah pikiran yang terkandung dalam bentuk bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan. Fungsi atau tugas bahasa yang utama adalah sebagai alat bergaul sehingga kita dapat berhubungan atau berkomunikasi dengan sesama (Tim Widya Gama, 2000: 15)
Sebagai alat komunikasi, bahasa harus mampu menampung perasaan dan pikiran pemakainya, serta mampu menimbulkan adanya saling mengerti antara penutur dan petutur, antara penulis dan pembacanya.
Seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dalam suatu bahasa, apabila orang tersebut menguasai sistemnya dan dilakukan dengan orang lain yang juga menguasai sitem bahasa itu. sempurna atau tidaknya bahasa sebagai alat komunikasi umum, sangat ditentukan oleh kesempurnaan sistem atau aturan bahasa dari masyarakat pemakainya.
Oleh karena itu, pengguna bahasa perlu dibina dan dimanfaatkan kemampuan berbahasanya secara terus-menerus. Atas dasar itu, para pengguna bahasa sebaiknya mempunyai bekal yang berkaitan dengan bahasa itu sehingga dapat berbahasa dengan baik dan benar, pengguna bahasa dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan bahasa Indonesia dan selain itu juga pengguna dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.
Salah satu keterampilan berbahasa yang mempunyai fungsi sebagai sarana untuk berkomunikasi adalah menulis. Komunikasi yang dimaksudkan adalah komunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Dalam lingkungan kampus terdapat tulisan yang tercantum dalam sebuah panflet.
 Media eksternal perusahaan seperti pamflet termasuk dalam sebuah proses komunikasi yang menggabungkan gambar, simbol/ lambang dan juga warna. Pamflet merupakan salah satu dari media publisitas yang ditujukan pada masyarakat. Pamflet adalah tulisan yang dapat disertai dengan gambar atau tidak, tanpa penyampulan maupun penjilidan, yang dicantumkan pada selembar kertas di satu sisi atau kedua sisinya, lalu dilipat atau dipotong setengah, sepertiga, atau bahkan seperempatnya, sehingga terlihat lebih kecil (dapat juga disebut selebaran).
Menurut penulis ada beberapa faktor yang menjadikan kurang berhasil dalam membuat panflet. Diduga faktor yang mempengaruhinya adalah kurang menguasai Ejaan Yang Disempurnakan, kurang menguasai kaidah-kaidah bahasa baku dalam bahasa Indonesia, para siswa kurang pengetahuan dan kemampuan berbahasa Indonesia secara baik dan benar.
Berdasarkan uraian diatas, ada beberapa alasan peneliti mengambil judul “Analisis Kesalahan penggunaan bahasa ejaan pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo” dengan alasan :
1.  Penulisan di dalam panflet adalah konsumsi mahasiswa yang sudah tidak asing lagi.
2. sang penulis panflet mampu mengguakan bahasa ejaan yang baik dan benar.
3. Penulis membuat tulisan yang menympang dari kaidah bahasa
4. Sepengetahuan peneliti, belum pernah ada penelitian mengenai analisis kesalahan penggunaan bahasa ejaan pada panflet.   
   Hal tersebut akan dikaji tentang penggunaan bahasa ejaan pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

B.     Penegasan Istilah
Supaya tidak terjadi salah tafsir, terlebih dahulu akan dijelaskan istilah yang digunakan dalam penulisan ini. Judul penelitian ini adalah “Analisis Kesalahan penggunaan bahasa ejaan pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo”. Pada bagian ini akan dapat dipaparkan istilah-istilah tersebut.
1.      Berbahasa adalah memakai (menggunakan) bahasa (KBBI, 1993: 67). Kata berbahasa sama artinya dengan pemakaian bahasa, untuk itu penulis menggunakan kata berbahasa sebagai penegasan istilah untuk pemakaian berbahasa. 
2.      Pamflet adalah tulisan yang dapat disertai dengan gambar atau tidak, tanpa penyampulan maupun penjilidan, yang di cantumkan pada selembar kertas di satu sisi atauun kedu sisinya, lalu dilipat atau dipotong setengah, sepertiga ataupun seperempat. (Ekoparingin : 2012)
4. Tahun Penelitian 2012/2013
Tahun ajaran 2012/2013 merupakan tahun ajaran saat penelitian dilaksanakan.
C.    Identifikasi istilah
Masyarakat sebagai mahluk social, mahasiswa, Siswa Kabupaten Purworejo terdiri atas anak-anak dari berbagai yang memiliki pengetahuan dan latar belakang yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan kemampuan berbahasa berbeda, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis beragam pula. Jadi sangat mungkin munculnya kesalahan atau masalah dalam karangan siswa. Masalah-masalah yang muncul antara lain:
(1)  ragamnya pengetahuan dan kemampuan setiap individu;
(2) kemungkinan pemakaian bahasa tulis mereka tidak efektif dalam arti belum dapat menyampaikan informasi secara akurat;
(3) kemungkinan bahasa tulis mereka tidak normatif dalam arti kalimat mereka belum memenuhi unsur-unsur subjek, predikat, objek dan pelengkap;
(4)        kekurang-sempurnaan bahasa mereka berbeda-beda mengingat pengetahuan dan berbeda pula.

D.    Batasan masalah
Sebenarnya selain masalah-masalah yang telah diidentifikasi, masih ada masalah lain yang peneliti belum sampaikan. Namun demi efisien dan memperjelas sistem penelitian ini. Penulis tidak akan meneliti semua permasalahan tersebut tetapi membatasi pada masalah bahasa tulis yang belum baik dan benar dalam arti sesuai dengan kaidah penulisan huruf kapital, preposisi, dan tanda hubung.
Adapun objek penelitian ini di fokuskan pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

E.     Rumusan Masalah
1.      bagaimana pemakaian huruf kapital pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo?
2.       bagaimana pemakaian kesalahan preposisi pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo?
3.       bagaimana pemakaian tanda symbol pada panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo?
F.     Tujuan Penelitian
Pada prinsipnya, segala aktivitas manusia mempunyai tujuan yang akan dicapai. Sesuai dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, penulis bertujuan:

a.       Mendeskripsikan pemakain huruf kapital atau huruf  besar dalam panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo;
b.      mendeskripsikan pemakaian preposisi atau kata depan di, ke, dari, dalam panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo;
c.       mendeskripsikan pemakaian tanda simbol dalam panflet di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo;

G.    Manfaat Penelitian
a.       Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan untuk memberi sumbangan bagi perkembangan linguistik dan dapat menambah karya penelitian dalam bidang linguistik.
b.      Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan kepada para penulis panflet, masyarakat umum, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo ataupun siswa-siswa SMA dan SMP pada khususnya dan Sekolah-sekolah lainnya, pada umumnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORITIS
A.    Tinjauan Pustaka
Pamphlet yang dijadikan sebagai objek penelitian ini sudah pernah dalam penelitian ini sudah pernah dilakukan, hanya saja permasalahannya berbeda-beda. Makalah yang berjudul “Bagaimana Daya Tarik Isi Pamflet Event oleh Public Relations (PR) Score Bandung Sebagai Media Publikasi?”.
Peneliti melakukan penelitian di lokasi yang berbeda-beda, diantaranya dengan datang langsung ke Score yang terletak di Jalan Cihampelas, juga peneliti berkunjung ke tempat tinggal informan yang berlokasi di Jalan Cemara No. 3, Bandung. Score Bandung, Alamat: Jl. Cihampelas no 160 blok SL03A, Bandung 40131, Telepon: (022) 2061155/56, Fax: 0222061178, Website: www.scoreindonesia.com
Peneliti melakukan penelitian pada Bulan Februari sampai dengan Bulan Juli 2011. Waktu penelitian dilakukan pada hari dimana para karyawan sedang libur yang biasanya dilakukan pada hari senin dan selasa. Adapun waktu penel

B. Kajian Teoritis
1. Pengertian Pamflet
Sebelum merumuskan pengertian pamflet, perlu dipahami terlebih dahulu makna kata pamflet, Kata pamflet dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Inggris, yakni pamphlet. Pamphlet tanpa sampul sampai di Inggris Tengah pada tahun 1387 dengan sebutan awal pamphilet atau panflet, yang diambil dari sebuah puisi lama berjudul Pamphilus: seu de Amore (Pamphilus: Concerning Love) yang ditulis dalam Bahasa Latin. Nama Pamphilus sendiri berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “teman semuanya”. Puisi ini sangat terkenal di masanya dengan penyebaran yang sangat luas.
Pamflet menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah perusahaan, karena dapat digunakan untuk menyalurkan informasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, daya tarik memiliki pengertian kekuatan atau tenaga untuk menarik perhatian orang. Menurut Onong Uchjana Effendy, daya tarik adalah “Kekuatan, penampilan komunikator dalam memikat perhatian, sehingga seseorang mampu untuk mengungkapkan kembali pesan yang ia peroleh dari media komunikasi”.(Effendy, 1989: 33).
Definsi daya tarik dari Onong Uchjana Effendy lebih merupakan daya tarik yang ada pada komunikator. Dalam penelitian ini, pamflet menjadi objek penelitian sehingga definisi daya tarik dari Kotler merupakan definisi yang lebih tepat. Daya Tarik menurut Kotler dalam Sindoro:
“Daya tarik isi pesan sebuah tayangan meliputi daya tarik rasional, emosional dan moral. Daya tarik rasional menunjukan bahwa kegiatan tersebut menghasilkan manfaat, sedangkan daya tarik emosional mencoba membangkitkan motivasi terhadap suatu kegiatan atau produk, dan daya tarik moral di arahkan pada perasaan seseorang sehingga sering digunakan untuk mendorong orang mendukung masalah-nasalah social.” (Sindoro, 1996:81) 

2.      Pengertian ejaan
Ejaan ialah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi bahasa, pemisahan, penggambungan, dan penulisannya dalam suatu bahasa. Batasan tersebut menunjukkan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengaja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata, sedangkan ejaan adalah suatu system aturan yang jauh lebih luas dari sekedar maslah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai saranannya.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yanag Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972 ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat ejaan itu diresmikan pada tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan pertama bahasa Indonesia, yaitu Ejaan Van Ophuijsen, yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Dan tidak berlaku lagi pada tahun 1947. Di bawah ini merupakan sebagian dari ruang lingkup Ejaan yang Disempurnakan  yaitu:
a. Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar
1) Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya :
Dia membaca buku. 
Apa maksudnya? 
Kita harus bekerja keras.  
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam. 
2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya :
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Oarang itu menasehati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
Kemarin engkau telambat, “Dia akan berangkat.”
“Besok pagi,” kata Ibu, “Dia akan berangkat.”
3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dlam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya :
Islam                Quran
Kristen             Alkitab
Hindu              Weda
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya :
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanudin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
5) Huruf kapital dipakai sebgai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
Misalnya :
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
6) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya : 
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya :
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya :
mengindonesiakan kata asing keinggris-inggrisan
8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
Misalnya :
bulan Agustus              hari Natal
bulan Maulid               Perang Candu
hari Galungan              tahun Hijrah
hari Jumat                               tarikh Masehi
hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya :
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.
9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.
Misalnya :
Banyuwangi                Asia Tenggara
Cirebon                       Amerika Serikat  
Eropa                           Jawa Barat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya :
berlayar ke teluk
mandi di kali
menyeberangi selat
paergi ke arah Tenggara
10) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi, negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Misalnya :
Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawarahan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Misalnya :
Perserikatan Bangsa-Bnagsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya :
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelasaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.
13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Misalnya :
Dr.       doktor
S.E.      sarjana ekonomi
S.H      sarjana hukum
S.S       sarjana sastra
S.Kp    sarjana keperawatan
M.A     master of arts
M.Hum            magister humaniora
Prof.    profesor
14) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacauan.
Misalnya :
“Kapan bapak berangkat?” tanya Harto
Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
Surat saudara sudah saya terima
“Silahkan duduk, Dik!” kata Ucok.
Besok Paman akan datang
Mereka pergi ke rumah Pak Camat
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacauan atau penyapaan.
Misalnya :
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga
15) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
Misalnya :
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
b. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. (Lihat juga Bab II, Huruf D, Butir 3.)
Misalnya :
Bermalam sajalah di sini.
Di mana dia sekarang?
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Kawan-kawan bekerja di dalam gedung.
Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Mari kita berangkat ke kantor.
Saya pergi ke sana kemari mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Saya sudah tahu dari mana dia berasal
Cincin itu terbuat dari emas
Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Misalnya:
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Dia lebih tua daripada saya.
Dia masuk, lalu keluar lagi.
Bawa kemari gambar itu.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
c. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama diterapkan juga cara baru....
Sebagaimana kata peribahasa, tak ada gading yang tak retak.
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.
Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk mengukur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita mengukur kepala.
Senjata ini merupakan sarana pertahanan yang canggih.
3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
4. Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
8-4-2008
p-a-n-i-t-i-a.
5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.
Misalnya:
ber-evolusi
dua-puluh ribuan (20 x 1.000)
tanggung-jawab-dan-kesetiakawanan sosial (tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan sosial)
Karyawan boleh mengajak anak-istri ke acara pertemuan besok.
Bandingkan dengan:
be-revolusi
dua-puluh-ribuan (1 x 20.000)
tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
b. ke- dengan angka,
c. angka dengan –an,
d. kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital,
e. kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
f. gabungan kata yang merupakan kesatuan.
Misalnya:
se-Indonesia
peringkat ke-2
tahun 1950-an
hari-H
sinar-X
mem-PHK-kan
ciptaan-Nya
atas rahmat-Mu
Bandara Soekarno-Hatta
alat pandang-dengar
7. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahan bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya:
di-smash 
di-mark-up
pen-tackle-an
III. METODE PENELITIAN
A.    Objek penelitian
        Objek penelitian merupakan pokok penelitian. Dalam penelitian ini pokok penelitiannya yaitu pamphlet yang terdapat di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo, peneliti membutuhkan kurang lebih 10 pamflet.
B.     Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah semua pamphlet yang berada di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo, yang berjumlah 10 jenis buah pamphlet.
C.     Sumber Data
Sumber data merupakan asal data tersebut. Sumber data penelitian ini adalah pamphlet yang berada di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo, yang berjumlah 10 jenis buah pamphlet.

D.    Desain Penelitian
Desain penelitian yang penulis gunakan dari hasil pamphlet yang berada di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo, yang berjumlah 10 jenis buah pamphlet.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data juga bisa disebut penjaringan data. Penjaringan data digunakan dalam dalam pengertian pengumpulan dan sekaligus pengklasifikasian data penelitian.
Dalam penelitian linguistik, data kebahasaan itu harus ditranskripsikan secara tepat sesuai dengan sifat masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pustaka.
Teknik pustaka mempergunakan sumber-sumber tertulis yang digunakan dipilih yang mencerminkan pemakaian bahasa sinkronis. Sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah pamphlet yang berada di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purworejo, yang berjumlah 10 jenis buah pamphlet.
F.     Teknik Analisis Data
Dalam analisis data, dilaksanakan sesudah data yang terjaring atau terkumpul itu diklasifikasikan. Klasifikasikan data itu dilakukan sesuai dengan pokok persoalan yang teliti. Yang perlu diperhatikan ialah hasil klasifikasi data itu harus memberikan manfaat dan kemudahan dalam pelaksanaan analisis data.
Dalam analisis data, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode agih. Istilah lain untuk metode agih adalah distribusional. Menurut Sudaryanto, metode agih adalah metode analisis yang alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian bahasa yang diteliti. Kelebihan metode agih adalah analisis data dengan menggunakan alat penentu berupa bagian dari bahasa yang diteliti. Perhatikan contoh kalimat di bawah ini.
(1) Ayo buruuuuuan daftar                                                    
Dengan menerapkan teknik ganti dalam kasus interferensi bahasa gaul di atas, dapat diketahui bahwa kata buruuuuan artinya sama dengan segera. Jadi, pemakian kata buruuuuan dapat digantikan dengan kata segera.
(1a) Ayo segera daftar
Teknik berikutnya ialah teknik sisip. Teknik sisip ialah teknik data dengan cara menyisipkan satuan kebahasaan lain di antara konstruksi yang dianalisis. Perhatian kalimat di bawah ini.
(2) Anda pesan kami hantar.
Dalam kalimat tersebut terjadi kesalahan pengacauan induk kalimat dan anak kalimat. Teknik sisip memberikan tanda baca koma (,) untuk memberikan tanda antara induk kalimat dan anak kalimat yang mendahuluinya.
Menurut Sudaryanto, penyajian hasil analisi data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa.
Dalam penyajian ini, rumus-rumus atau kaidah-kaidah yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata biasa, kata-kata yang apabila dibaca dengan serta merta dapat langsung dipahami. Sehubungan dengan hal tersebut, teknik penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini adalah teknik informal.







DAFTAR PUSTAKA
    Alwi. Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. . Jakarta : Balai Pustaka
   Finoza, Lamuddin. 2002. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Diksi Insan Mulia
   Novianto. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surakarta: Bringin SS.
  
Sudaryanto. 1998. Metode Linguistik. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
   Tim Widya Gamma. 2000. Sari Materi Penting Bahasa Indonesia. Bandung : CV. Yrama Widya.
 










Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger