PUISI “DONGENG SEBELUM TIDUR” KARYA GOENAWAN MUHAMAD DAN CERITA RAKYAT “ANGKLINGDHARMA” DALAM KAJIAN INTERTEKSTUAL



Oleh :
Panji Pradana
NIM: 092110144
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012 /2013

Abstrak

Tulisan ini mengkaji puisi “ Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad dengan cerita rakyat “Angkling Dharma” secara intertekstual. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sastra seringkali berkaitan dengan unsur kesejarahan karya sastra tersebut, sehingga pemaknaan karya sastra tersebut akan lebih mendalam. Metode intertekstual dalam analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengkontraskan teks-teks sastra yang mentransformasikan dari teks yang lain yang merupakan teks hipogramnya. Dalam hal ini teks puisi mentransformasi teks cerita rakyat “ Angkling Dharma”.
Kata kunci: analisis, teks sastra, intertekstual, transformasi, hipogram.



I
 PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah
Kehadiran suatu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari karya sastra sebelumnyayang pernah direspon oleh sastrawan. Pengarang tidak semata-mata memproduksi karya sastra. Akan tetapi, terlebih dahulu juga merespon sebuah karya. Dari proses resepsi pengarang memiliki langkah bijak untuk mereproduksi karya yang baru. Jadi pengarang tidak berangkat dari kekosongan. Melalui karya terdahulu, pengaang mempelajari gagasan yang tertuang dalam karya itu, memahami konvensi sastranya, konvensi estetiknya, kemudian mentransformasikannya ke dalam suatu karya sastra.
Karya sastra kapan pun ditulis tidak mungkin ditulis dari situasi kekosongan budaya (Teeuw, 1983:63). Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahului atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini berupa persamaan atau petentangan. Dengan demikian, sebaiknyamembicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum , atau sesudahnya (Pradopo, 2003:167). Jadi, dalam menciptakan karya sastra tidak dapat melepaskan diri dari teks-teks sastra lain.
Karya sastra akan muncul pada masyarakat yang telah memiliki konvensi, tradisi, pandangan tentang estetika, tujuan berseni, dan lain-lain yang kesemuanya dapat dipandang sebagai wujud kebudayaan dan tidak mustahil sastra merupakan rekaman terhadap pandangan masyarakat tentang seni. Hal itu berarti bahwa sesungguhnya sastra merupakan konvensi masyarakat karena masyarakat menginginkan adanya suatu bentuk kesenian yang bernama sastra. Wujud konvensi budaya yang telah ada di masyarakat secara konkret  antara lain berupa karya-karya yang ditulis atau diciptakan sebelumnya. Namun, ia dapat juga berupa cerita-cerita rakyat yang berwujud cerita lisan (folklore) yang mewaris secara turun temurun (Nurgiyantoro, 1998:15)
Julia Kristeva dalam Nurgiyantoro (1998:15) menjelaskan bahwa tiap teks itu merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan (transformasi) teks-teks lain. Maksudnya, tiap teks itu mengambil hal-hal menarik yang kemudian diolah kembalidalam karyanya, atau ditulis setelah melihat, meresapi, menyerap hal yang menarik, baik sadar maupun tidak sadar. Setelah menanggapi teks lain dan menyerap konvensi sastra, konsep estetik, atau pikiran-pikirannya, kemudian mentranformasikannya ke dalam karya sendiri sehingga terjadi perpaduan yang baru. Konvensi dan gagasan yang diserap itu dapat dikenali apabila kita membandingkan teks yang menjadihipogramnya dengan teks baru, yakni teks transformasi.
Puisi “ Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad yang diciptakan pada tahun 1971 mengangkat tema pendidikan yang bersifat filosofius. Yakni pendidikan yang berhubungan dengan posisi seorang raja. Sebagai seorang pemimpin dan seorang suami. Puisi “Dongeng Sebelum Tidur” merupakan hipogram dari cerita rakyat “Angkling Dharma”.
Pada dasarnya penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada tataran penelitian diakronis, yang mencoba melakukan penelitian terhadap karya-karya lama yang dihubungkan dengan karya-karya baru. Berkaitan dengan hal itu, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori intertekstual.

b. Rumusan Masalah
Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah kajian sastra intertekstual puisi “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad dengan cerita rakyat “Angkling Dharma”?

c. Tinjauan Penulisan
Tujuan kajian intertekstual itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sastra sering ada kaitannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan tersebut (Nurgiyantoro,1998:15).
Dari penulisan ini diharapkan peneliti mampu mendeskripsikan kajian sastra intertekstual puisi “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad dengan cerita rakyat “Angkling Dharma”.

d. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu secara teoritis dan praktis.
·         Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat antara lain:
1.      Menambah khasanah penelitian sastra;
2.      Mengaplikasikan teori struktural di dalam sebuah puisi;
3.      Menambah wawasan pembaca dalam memahami karya sastra puisi “Dongeng Sebelum Tidur”
·         Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat antara lain:
1.      Memperkenalkan pengarang dan karyanya;
2.      Mengembangkan daya apresiasi sastra kepada masyarakat.

  



II
LANDASAN TEORI
Secara luas intertekstual diartikan sebagai jaringan hubungan antara suatu teks dengan teks yang lain. Lebih dari itu teks itu sendiri secara etimologis (textus, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, gabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks yaitu melalui proses proposisi, permutasi dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara mencari hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Teks-teks yang dikerangkakan sebagai persamaan gendre, interteks memberikan kemungnan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hipogram. Interteks dapa dilakukan anatara novel dengan novel, novel dengan puisi, novel dengan mitos. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan. Tetapi juga sebaliknya pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi (Ratna, 2004:173)
Mengenai keberadaan suatu hipogram dalam interteks, selanjutnya (Ratna, 2005:222) mendefisinikan hipogram sebagai struktur prakteks, generator teks puitika lebih lanjut, Hutomo (Haryanto, 2008, 2001:118) merumuskan hipogram sebagai unsur cerita (berupa ide, kalimat, ungkapan, peristiwa, dan lain-lain) yang terdapat dalam suatu teks sastra pendahulu yang kemudian teks sastra yang dipengaruhinya.
Teori intrtekstual memandang bahwa sebuah teks yang ditulis lebih kemudian mendasarkan diri pada teks-teks lain yang telah ditulis orang sebelumnya. Tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti penciptaanya dengan konsekuensi pembacanya juga, dilakukan tanpa samasekali berhubungan teks lain yang dijadikan semacam contoh, teladan, kerangka atau acuan (Teeuw, 2003:145)






III
PEMBAHASAN

a.      Tinjauan terhadap Cerita Rakyat “Angklingdharma”

Prabu Anglingdarma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.
Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.[rujukan?]
Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma.
Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.
Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.
Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.
Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.
Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.
Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.
Setelah dewasa, Anglingdarma membawa ibunya pindah ke sebuah negeri yang dibangunnya, bernama Malawapati. Di sana ia memerintah dengan bergelar Prabu Anglingdarma, atau Prabu Ajidarma.
Anglingdarma sangat gemar berburu. Pada suatu hari ia menolong seorang gadis bernama Setyawati yang dikejar harimau. Setyawati lalu diantarkannya pulang ke rumah ayahnya, seorang pertapa bernama Resi Maniksutra. Tidak hanya itu, Anglingdarma juga melamar Setyawati sebagai istrinya.
Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim telah bersumpah barangsiapa ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya. Maka terjadilah pertandingan yang dimenangkan oleh Anglingdarma. Sejak saat itu, Setyawati menjadi permaisuri Anglingdarma sedangkan Batikmadrim diangkat sebagai patih di Kerajaan Malawapati.
Pada suatu hari ketika sedang berburu, Anglingdarma memergoki istri gurunya yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar. Anglingdarma pun membunuh ular jantan sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka.
Nagagini kemudian menyusun laporan palsu kepada suaminya, yaitu Nagaraja supaya membalas dendam kepada Anglingdarma. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati dan menyaksikan Anglingdarma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah. Ia pun muncul dan meminta maaf kepada Anglingdarma.
Nagaraja mengaku ingin mencapai moksa. Ia kemudian mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepada Anglingdarma. Ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia. Setelah mewariskan ilmu tersebut Nagaraja pun wafat.
Sejak mewarisi ilmu baru, Anglingdarma menjadi paham bahasa binatang. Pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung. Anglingdarma menolak berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng, membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi. Anglingdarma berjanji lebih baik menemani Setyawati mati, daripada harus membocorkan rahsia ilmunya.
Ketika upacara pembakaran diri digelar, Anglingdarma sempat mendengar percakapan sepasang kambing. Dari percakapan itu Anglingdarma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati adalah keputusan emosional yang justru merugikan rakyat banyak. Maka, ketika Setyawati terjun ke dalam kobaran api, Anglingdarma tidak menyertainya.
Perbuatan Anglingdarma yang mengingkari janji sehidup semati dengan Setyawati membuat dirinya harus menjalani hukuman buang sampai batas waktu tertentu sebagai penebus dosa. Kerajaan Malawapati pun dititipkannya kepada Batikmadrim.
Dalam perjalanannya, Anglingdarma bertemu tiga orang putri bernama Widata, Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Anglingdarma dan menahannya untuk tidak pergi. Anglingdarma menurut sekaligus curiga karena ketiga putri tersebut suka pergi malam hari secara diam-diam.
Anglingdarma menyamar sebagai burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut. Ternyata setiap malam ketiganya berpesta makan daging manusia. Anglingdarma pun berselisih dengan mereka mengenai hal itu. Akhirnya ketiga putri mengutuknya menjadi seekor belibis putih.
Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara. Di sana ia dipelihara seorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Pada saat itu Darmawangsa raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan di mana seorang wanita bernama Bermani mendapati suaminya yang bernama Bermana berjumlah dua orang.
Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka. Atas keberhasilannya itu, Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan Ambarawati, putri Darmawangsa.
Anglingdarma yang telah berwujud belibis putih bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia. Mereka akhirnya menikah tanpa izin orang tua. Dari perkawinan itu Ambarawati pun mengandung.
Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat itu muncul seorang pertapa bernama Resi Yogiswara yang mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati.
Yogiswara kemudian menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Setelah melalui pertarungan seru, belibis putih kembali ke wujud Anglingdarma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim adalah untuk menjemput Anglingdarma yang sudah habis masa hukumannya.
Anglingdarma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan kedua itu lahir seorang putra bernama Anglingkusuma, yang setelah dewasa menggantikan kakeknya menjadi raja di Kerajaan Bojanagara. iya pun mempunyai musuh yang bernama durgandini dan sudawirat
Pada suatu saat kerajaan Angling Dharma berjaya dan mampu menaklukan musuh-musuhnya, dan saat itulah sudawirat terbuka hatinya untuk mengabdi kepada Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma

b.      Tinjauan terhadap Puisi “Dongeng Sebelum Tidur” Karya Goenawan Muhamad


Dongeng Sebelum Tidur
(GoenawanMohamad)

“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei
“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembalikain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?”



Untuk menjelaskan makna puisi “Dongeng Sebelum Tidur”, kita perlu memparafrasekan seperti berikut:
Bait pertama berisi ucapang Angklingdharma kepada permaisurinya yang memberikan jawaban mengapa ia tertawa setelah mendengarkan pembicaaan dua cica di kamar tidurnya. Raja memberitahu kepada permaisurinya bahwa cikcak itu berbicara tentang mereka berdua. Pembicaraan itu isinya nonsens. Raja harus menyembunyikan rahasia pembicaraan itu sebab jika dibocorkan, raja akan mendapatkan kutukan dewa
Bait kedua merupakan penjelasan tentang pembicaraan baginda dan akibat dari keduanya. Hubungan antara Angklingdharma dan permaisurinya menjadi dingin. Permaisuri tersinggung, merasa diremehkan, mengira ditertawakan, dikhianati, dan merasa bahwa baginda menyembunyikan rahasia. Maka segala perkataan dan bujuk rayu baginda tidak dipercayainy, sehingga baginda perlu memberi penegasan pada bait berikutnya
Bait ketiga pembicaraan Angingdharma kepada permaisuri. Baginda menjelaskan bahwa kata-katanya tidak bohong. Cikcak itu hanya omong kosong berbicaratentang dirinya. Namun, permaisuri tidak percaya akan kata-kata baginda. Ia tetap merasa diremehkan. Permaisuri sangat tersinggung atas sikap Angklingdharma
Bait keempat berisi cerita penyair tentang keadaan permaisuri. Dalam perasaan tersinggung ia menangis tersedu-sedu. Hati permaisuri lebih luka setelah dirasa bahwa baginda mengabaikan dirinya. Kemesraan antara keduanya pun luruh.
Bait kelima berisi tentang nasib tragis yang dialami permaisuri. Dalam memilih antara mempertahankan martabat dirinya sebagai permaisuriyang diremehkan dengan mempertahankan kesetiaannyasebagai wanita utama. Wanita itu membuat keputusan yang tragis, ia bunuh diri dalam api. Wanita itu memilih bunuh diri untuk menunjukan harkatmartaatnya daripada memilih kesetiaan kepada suami yang meremehkannya.
Bait keenam menceritakan kisah baginda setelah permaisuri bunuh diri. Ia hendak melarikan diri dari kutukan dewa. Betapapun ia sudah membuka ilmunya yang menguasai bahasa binatang. Ia tidak dapat lepas dari kutukan dewa. Rajapun mengembara disamping sang raja menjalani kutukan juga untuk mencari permaisuri. Jika permaisuri ditolong oleh dewa, ia dapat kembali ke dunia dalam wujud penitisan. Kepergian raja melarikan diri itu adalah perbuatan melanggar kesetiaan, baik kepada permaisuri yang bunuh dirimaupun kepada raja yang dipimpinnya. Raja berpikir mengapa harus setia? Mengapa setia dianggap segala-galanya?
Bait ketujuh merupakan pertanyaan filosofis Angklingdharma kepada patihnya, Batik Madrim. Pertanyaan itu berhubungan dengan keputusan raja untuk tidak setia.

c.       Interteks puisi “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad dan cerita rakyat “Angklingdharma”

Angklingdharma adalah cerita rakyat yang mengisahkan kehidupan seorang prabu yang bernama prabu Angklingdharma. Prabu Anglingdarma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.
Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.
Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma.
Sedangkan pada puisi “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad berisi tentang suatu peritiwa yang dialami prabu Angklingdharma saat bersama permaisurinya yang berakibat fatal terhadap dirinya, permaisurinya, dan rakyatnya. Dalam fragmen tersebut, diceritakan bahwa pada suatu malam, Anglingdarma yang sedang bermesraan dengan istrinya memperhatikan percakapan sepasang cicak hingga membuatnya tertawa. Sontak istri tercintanya pun terkejut dan bertanya perihal tawa itu. “Kenapa baginda tertawa? Bukankah di kamar ini hanya ada kita berdua?”
Dengan spontan, Anglingdarma pun menjawab, “Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita ….” Belum selesai berbicara, dia tiba-tiba terdiam. Dia tersadar bahwa hampir saja ia membuka rahasia ilmunya. Maka, selanjutnya sang baginda pun berucap, “Yaitu nonsens.”
Mendengar jawaban itu, sang permaisuri justru semakin penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh suaminya. Namun, sang suami tak juga mau membuka rahasia sehingga malam yang seharusnya berlangsung indah itu berubah menjadi dingin. Karena, nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei. Mereka saling diam.
Karena malam telah berubah tak kondusif, Anglingdarma pun angkat bicara dan meyakinkan istrinya dengan berkata, “Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.” Selanjutnya, Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Sang permaisuri pun tak mampu membendung air matanya. Malam itu, ia merasa telah disakiti oleh suaminya sendiri. “Inikah balasan dari kesetiaanku selama ini, duhai cintaku?” batinnya.
Alih-alih dilupakan, tampaknya rasa sakit itu masih dibawanya hingga terbitnya sang mentari. Karena merasa sangat tersakiti, permaisuri membunuh diri dalam api.
Melihat kejadihan pahit itu, sebenarnya Anglingdarma hampir saja ikut menyusul istrinya untuk terjun di dalam jilatan api (Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia). Namun, niatan itu diurungkannya karena mendengar percakapan sepasang kambing yang berkata bahwa keputusan untuk ikut bunuh diri adalah satu keputusan konyol.
Akhirnya, Anglingdarma hanya bisa mencurahkan isi hatinya yang tak menentu itu kepada kawan dan sekaligus patih setianya, Batik Madrim. “Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?”
Mendapat pertanyaan yang demikian, Batik Madrim hanya membeku, diam. Tampak kesedihan yang mendalam di raut wajahnya. Karena, permaisuri dari rajanya itu adalah adik kandung dia sendiri.

d.      Interteks Tema Puisi “Dongeng Sebelum Tidur” dan Cerita Rakyat “Angklingdharma”
Tema yang diusung pada puisi “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad adalah pendidikan yang bersifat filosofius. Yakni pendidikan yang berhubungan dengan posisi seorang raja. Raja di sini memegang dua posisi, yakni sebagai seorang pemimpin dan sebagai suami, sebagai suami di rumah hendaknya berfungsi sebagai suami dan bukan sebagai raja kepada istrinya, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan jabatan, rahasia kesaktian tidak dibicarakan di rumah. Banyak terjadi malapetaka kerajaan akibat permaisuri mengetahui rahasia raja dan rahasia negara. Raja sebagai suami hendaknya bersikap jujur dan terbuka kepada permaisurinya. Seharusnya raja memberi penjelasan kepada permaisuri bahwa rahasia kecakapanya balam hal bahasa binatangitu tidak boleh dikaakan kepada siapa pun. Sebab bila dikatakan kepada siapapun, raja akan mendapatkan kutukan dari dewa. Jika raja menjelaskan rahasianya dengan baik, pasti permaisurinya akan menerimanya dan tidak perlu bunuh diri.
Hal tersebut di atas sama halnya dengan cerita rakyat “Angklingdharma”, Setyawati adalah istri pertama dari raja Angklingdharma yang bunuh diri demi mempertahankan harga diri sebagai seorang istri raja. Sikap Angklingdharma yang sering tersenyum sendiri mendengar percakapan binatang membuat Setyawati tersinggung.
e.       Interteks Amanat puisi “Dongeng Sebelum Tidur” Karya Goenawan Muhamad dan Cerita Rakyat “Angklingdharma”
Amanat yang disampakan Goenawan Muhamad dalam puisi “Dongeng Sebelum Tidur” dan  juga dalam cerita rakyat “Angklingdharma yang berhubungan dengan tema, yakni: (1) sebagai pemimpin hendaknya bisa membedakan tugas negara dan tugas rumah tangga; (2) keterbukaan antara suami istri akan menimbulkan sikap saling percaya sehingga tidak menimbulkan salah pengertian; (3) kesombongan yang tidak beralasan hendaknya dipikirkan dengan matang.
KESIMPULAN
Dalam puisi “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Muhamad yang mentransformasi dari teks cerita rakyat “Angklingdharma”. Mengisahkan Prabu Angklingdharma yang mahir berbahasa binatang. Menjelang tidur bersama permaisurinya, raja mendengar percakapan cikcak yang lucu. Permaisuri tidak memahami makna pebicaraan cikcak tersebut. Tanpa sadar raja tersenyum. Hal itu menimbulkan kecurigaan sang permaisuri, sang permaisuri mengira bahwa raja menertawakannya. Akan tetapi, raja tidak menceritakan rahasia pengetahuanya itu sebab takut mendapat kutukan dewa, walaupun permaisurinya harus bunuh diri.

Daftar Pustaka
Ilyas, Adel. 2010. Dongeng Sebelum Tidur dan Nilai Sebuah kesetiaan. [Online]. Tersedia: http://www.LJ.com/dongeng-sebelum-tidur-dan-nilai-sebuah-kesetiaan [ 20 November 2012, pukul 20.00].
Nurgianto, B. 1998. Tranformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
____________. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universita Press.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia
________. 2003. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wahyunistyas, Sri, dan Wijaya Heru Santosa. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka. 
Wikipedia
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pieka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger